Kerajaan Arguni adalah salah satu kerajaan tradisional (petuanan)[1] yang berpusat di Pulau Arguni, Distrik Arguni, Kabupaten Fakfak, Papua Barat.[2][3][4] Kerajaan ini merupakan bagian dari sistem petuanan di Semenanjung Onin dan wilayah pesisir Kaimana,[5] serta memiliki peran penting dalam sejarah penyebaran Islam di Tanah Papua melalui proses akulturasi budaya lokal dengan pengaruh Islam dari Maluku Utara.[6][7][8]
Secara tradisional, kerajaan ini dipimpin oleh raja dari marga Pauspaus yang memegang kekuasaan secara turun-temurun.[9]
Geografi
suntingPusat pemerintahan Kerajaan Arguni terletak di Pulau Arguni, sebuah pulau karang di kawasan Teluk Berau yang memiliki karakteristik geografis berupa garis pantai berlekuk, tebing karst, serta gugusan pulau kecil di sekitarnya.[8][10] Wilayah kekuasaan kerajaan ini mencakup pesisir teluk yang kaya akan sumber daya laut dan sejak masa lalu dikenal sebagai bagian dari jalur perdagangan komoditas seperti pala.[11]
Sejarah
suntingKerajaan Arguni awalnya merupakan bagian dari Kerajaan Rumbati, salah satu kekuatan utama di Semenanjung Onin bersama Kerajaan Fatagar dan Kerajaan Atiati. Pada abad ke-16, wilayah ini mulai terintegrasi ke dalam jaringan perdagangan global melalui aktivitas pedagang dari Maluku, Makassar, dan Bugis.[5][1][12]
Islam masuk ke Semenanjung Onin sekitar abad ke-15 hingga ke-16 melalui pengaruh Kesultanan Tidore, Ternate, dan Bacan.[13] Penyebaran agama berlangsung secara damai melalui perdagangan, pernikahan, serta hubungan politik,[13][14] dan kemudian membentuk sistem kerajaan lokal berbasis Islam yang berakulturasi dengan budaya Papua.[15]
Kerajaan Arguni memperoleh status sebagai kerajaan independen pada tahun 1898, setelah sebelumnya berada di bawah kekuasaan Kerajaan Rumbati. Proses ini berkaitan dengan melemahnya Kerajaan Rumbati pasca-krisis internal setelah wafatnya Raja Newarisa sekitar tahun 1875. Pada masa tersebut, Arguni bersama Patipi, Sekar, dan Wertuar memperkuat posisi otonomnya dan kemudian mendapat pengakuan resmi dari pemerintah kolonial Belanda dalam kerangka zelfbesturende landschappen (wilayah swapraja).[16][11]
Kepemimpinan
suntingSistem pemerintahan di Kerajaan Arguni bersifat monarki absolut tradisional, di mana gelar raja disebut sebagai Rat atau disebut juga “bapa raja”. diwariskan secara turun-temurun dalam garis keturunan marga Pauspaus.[17][8][5] Raja Arguni memiliki otoritas tertinggi dalam urusan adat serta berperan sebagai pelindung agama bagi masyarakatnya.[18] Dalam menjalankan pemerintahan, raja dibantu oleh perangkat adat yang mencerminkan struktur sosial-politik lokal yang telah dipengaruhi oleh tradisi kesultanan di Maluku, seperti Jou Majau (Wakil Raja) dan Gura (Imam/Urusan Keagamaan) yang mencerminkan struktur birokrasi kesultanan di Maluku.[8][19]
Dalam tradisi lokal, raja-raja dari marga Pauspaus dikenal memiliki ciri fisik albino, sehingga dijuluki “Raja Bule”.[20] Rumah raja biasanya dibangun menggunakan bahan lokal seperti pelepah sagu, mencerminkan adaptasi terhadap lingkungan setempat.[8][10]
Akulturasi budaya
suntingKerajaan Arguni dikenal sebagai salah satu pusat peradaban Islam tertua di Semenanjung Onin.[21] Islam masuk ke wilayah ini diperkirakan melalui jalur perdagangan pala yang menghubungkan Papua dengan pusat-pusat Islam di Nusantara Timur sejak abad ke-16.[22] Bentuk akulturasi di kerajaan ini terlihat jelas pada upacara-upacara adat yang mengintegrasikan pembacaan selawat dan penggunaan alat musik rebana bersama dengan tarian tradisional Papua. Selain itu, hukum adat di Arguni banyak mengadopsi nilai-nilai syariat Islam yang telah disesuaikan dengan kearifan lokal.[23] Proses islamisasi terjadi melalui interaksi dagang dan hubungan sosial dengan pedagang Muslim dari Maluku dan wilayah Nusantara lainnya.[15][24]
Akulturasi budaya terlihat dalam berbagai aspek kehidupan, seperti:[7][5][23]
- Arsitektur, khususnya masjid tua yang memadukan gaya lokal dan Islam Nusantara
- Upacara adat, yang menggunakan rebana dan selawat dalam prosesi kerajaan
- Hukum adat, yang mengintegrasikan nilai-nilai syariat Islam dalam aturan sosial masyarakat
Kerajaan ini juga sering dikaitkan dengan pengaruh politik Kesultanan Tidore, termasuk dalam jaringan aliansi tradisional yang dikenal sebagai Uli Siwa (Persekutuan Sembilan).[6]
Hubungan dengan Kolonial Belanda
suntingPada masa Hindia Belanda, Kerajaan Arguni termasuk dalam jaringan wilayah adat yang berada di bawah pengaruh sistem pemerintahan tidak langsung (zelfbesturende landschappen) di bawah administrasi Afdeeling West Nieuw-Guinea.[6] Pemerintah kolonial menjalin hubungan dengan pemimpin lokal guna menjaga stabilitas keamanan serta mendukung aktivitas perdagangan di kawasan pesisir Papua Barat.[22]
Situs bersejarah
suntingPulau Arguni memiliki sejumlah situs bersejarah, termasuk lukisan tebing berwarna merah yang menjadi salah satu bukti aktivitas manusia purba di Papua Barat.[25][26][17]
Referensi
sunting- ^ a b Suroto, Hari. "Kisah Kerajaan Islam di Fakfak Papua Barat, Ada Sejak Abad 16". detikTravel. Diakses tanggal 2026-04-23.
- ^ Sudayasa, I. Made; Frank, Simon Abdi K.; Rumansara, Enos H. (2021-12-22). "Pergeseran Sistem Kepemimpinan Tradisional pada Masyarakat Adat Kampung Ayapo Kabupaten Jayapura". CENDERAWASIH: Jurnal Antropologi Papua (dalam bahasa Inggris). 2 (2): 99–119. doi:10.31957/jap.v2i2.2024. ISSN 2774-552X.
- ^ Mansoben, Johsz R. (1995). Sistem politik tradisional di Irian Jaya. LIPI-RUL. ISBN 978-979-8258-06-0.
- ^ "Mengenal 7 Kerajaan di Kabupaten Fakfak, Papua Barat". Portal Papua. Diakses tanggal 2026-04-23.
- ^ a b c d Redaksi (2024-03-11). "Sejarah Kerajaan Islam di Fakfak Papua Barat". KabarPapua.co. Diakses tanggal 2026-04-23.
- ^ a b c Widjojo, Muridan Satrio (2009). The Revolt of Prince Nuku: Cross-Cultural Alliance-making in Maluku, C.1780-1810 (dalam bahasa Inggris). BRILL. ISBN 978-90-04-17201-2.
- ^ a b Laut;, Indonesia KKP Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang (Jakarta). Mengenal Masyarakat Hukum Adat di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (dalam bahasa Indonesia). KKP-Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)
- ^ a b c d e "Mengenal Pertuanan Arguni di Fakfak, Papua Barat, yang Dipimpin oleh Raja". kumparan. Diakses tanggal 2026-04-23.
- ^ Ballard, Chris (2002-01-01). "An annotated bibliography for the communities of Berau Gulf and Bintuni Bay, Papua (Irian Jaya), Indonesia".
- ^ a b "Pulau Arguni: Tebing Karst Prasejarah, Pasir Putih, dan Kambing". Tempo. 11 Juni 2020. Diakses tanggal 2026-04-23.
- ^ a b Der große Weltatlas: die kartographische Enzyklopädie des Planeten Erde ; in englischer und deutscher Sprache, Millennium House, 2010, ISBN 978-1-921209-31-4
- ^ "Kerajaan Fatagar dalam Sejarah Kerajaan-Kerajaan di Fak Fak Papua Barat". Kebudayaan Kemdikbud. Diakses tanggal 2024-04-23. [pranala nonaktif permanen]
- ^ a b Chauvel, Richard (2005). Constructing Papuan Nationalism: History, Ethnicity, and Adaption (dalam bahasa Inggris). East-West Center Washington. ISBN 978-1-932728-26-2.
- ^ "Sejarah Singkat - Pemerintah Kabupaten Fakfak". Pemerintah Kabupaten Fakfak. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-06-11. Diakses tanggal 2026-04-23.
- ^ a b Zulfikar, Fahri. "Kerajaan Islam di Fakfak Papua Barat dan Sejarahnya". detikedu. Diakses tanggal 2026-04-23.
- ^ Suroto, Hari (2019-05-30). "Sejarah Masuknya Islam di Fakfak, Papua Barat – Portal Sains". Portal Sains. Diakses tanggal 2026-04-23.
- ^ a b Bonauli. "Pulau Arguni, Sebuah Kampung Muslim di Fakfak". detikTravel. Diakses tanggal 2026-04-23.
- ^ Ph.D, Ismail Ali; Wekke, Ismail Suardi (2021-03-31). Budaya, Agama, dan Kepercayaan Suku Pelaut di Papua Barat, Indonesia. Samudra Biru. ISBN 978-623-261-206-8.
- ^ Nadaa, Hasna Nadaa; Soekarba, Siti Rohmah (2025-07-01). "Interkoneksi Sanad Keilmuan dalam Mujahadah Nihadlul Mustaghfirin dengan Sanad K.H Dalhar dan Pengaruh Ajarannya pada Masyarakat Muslim Indonesia". Jurnal Tamaddun: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam. 13 (1). doi:10.24235/tamaddun.v13i1.21038. ISSN 2528-5882.
- ^ author, Bonauli. "Pulau Arguni, Sebuah Kampung Muslim di Fakfak". detikTravel. Diakses tanggal 2026-04-23.
- ^ Slump, F. (1935). De zending op West-Nieuw-Guinea (dalam bahasa Belanda).
- ^ a b Miedema, Jelle (1998). Perspectives on the Bird's Head of Irian, Jaya, Indonesia: Proceedings of the Conference, Leiden, 13-17 October 1997 (dalam bahasa Inggris). Rodopi. ISBN 978-90-420-0644-7.
- ^ a b Eka Cipta, Samudra. "Islamisasi di Tanah Papua: Sejarah Perkembangan Kerajaan Fatagar Fakfak Papua Barat". Journal of Islamic Education Studies. 3 (2). ISSN 2962-0295.
- ^ Kusumo, Rizky (2024-07-22). "Sejarah Kerajaan Patipi, Penguasa Islam di Semenanjung Onin Fakfak Papua". Good News From Indonesia. Diakses tanggal 2026-04-23.
- ^ Mene, Bau (2023). "JEJAK HUNIAN GUA DUDUMUNIR DI PULAU ARGUNI, DI WILAYAH FAKFAK, PAPUA BARAT". Naditira Widya (dalam bahasa Inggris). 17 (2): 149–164. ISSN 2548-4125.
- ^ Media, Kompas Cyber (2009-03-03). "Menyibak Misteri Lukisan Darah di Kokas". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2026-04-23.