Struktur glukosa
Struktur fruktosa

Gula pereduksi merupakan sebuah golongan gula (karbohidrat) yang dapat mereduksi senyawa-senyawa penerima elektron, contohnya adalah glukosa dan fruktosa.[1] Ujung dari suatu gula pereduksi adalah ujung yang mengandung gugus aldehida atau keto bebas. Semua monosakarida (glukosa, fruktosa, galaktosa) dan disakarida (laktosa,maltosa), kecuali sukrosa dan pati (polisakarida), termasuk sebagai gula pereduksi.[1] Umumnya gula pereduksi yang dihasilkan berhubungan erat dengan aktivitas enzim, yaitu semakin tinggi aktivitas enzim maka semakin tinggi pula gula pereduksi yang dihasilkan.[1] Jumlah gula pereduksi yang dihasilkan selama reaksi diukur dengan menggunakan pereaksi asam dinitro salisilat/dinitrosalycilic acid (DNS) pada panjang gelombang 540 nm.[1] Semakin tinggi nilai absorbansi yang dihasilkan, semakin banyak pula gula pereduksi yang terkandung.[2]

Lihat pula

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ a b c d Lehninger AL. 1982. Dasar-Dasar Biokimia Jilid 1. Suhartono MT, penerjemah. Jakarta: Erlangga.
  2. ^ Kanti A. 2005. Actinomycetes selulolitik dari tanah hutan Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi. Biodiversitas 6(2):85-89.


📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Dekstrosa ekuivalen

adalah sebuah pengukuran dari jumlah gula pereduksi yang ada dalam produk yang mengandung karbohidrat dan gula. Pengukuran ini dinyatakan dalam persentase

Hidrolisis

pereduksi yang dihasilkan berupa glukosa dan maltosa. Gula-gula pereduksi melakukan reduksi terhadap Cu2+ menjadi Cu+. Sisa Cu2+ yang tidak tereduksi

Larutan Benedict

menguji keberadaan gula pereduksi dalam suatu sampel. Prinsip pengujiannya sama dengan uji menggunakan larutan Fehling. Gula pereduksi yang dapat diuji

Redoks

menggunakan zat pereduksi yang sesuai, oksidasi logam dapat dikurangi menjadi besi di tanur tinggi dengan menggunakan karbon sebagai zat pereduksi. Fe2O3 + 3C

Trinatrium sitrat

sering digunakan dalam analisis organik untuk mendeteksi keberadaan gula pereduksi seperti glukosa. Pada tahun 1914, dokter Belgia Albert Hustin dan dokter

Titrasi redoks

pengganti pereaksi Fehling untuk mendeteksi keberadaan gula pereduksi. Kehadiran zat pereduksi lainnya juga memberikan hasil positif. Tes semacam itu

Ketosa

satu-satunya ketosa tanpa aktivitas optik. Semua ketosa monosakarida adalah gula pereduksi, karena mereka dapat melakukan tautomerisasi menjadi aldosa melalui

Kecap ikan

menyebabkan terjadinya reaksi Maillard antara senyawa amino dengan gula pereduksi yang membentuk melanoidin, suatu polimer berwarna coklat yang menurunkan