Rudra
Dewa prahara, pengobatan, perburuan, dan pengorbanan
Bhagawaan Rudra
Genderpria
AfiliasiDewa, Siwa, Bayu
PustakaRegweda, Sri Rudram
Senjatabusur panah, trisula, angkusa
KepercayaanHindu
Keluarga
IstriRudrani
AnakMaruta, Ekadasarudra

Rudra (Dewanagari: เคฐเฅเคฆเฅเคฐ;ย ,IAST:ย Rudra, เคฐเฅเคฆเฅเคฐ) adalah salah satu dewa Hindu dari pustaka Regweda yang diasosiasikan sebagai Siwa, atau Bayu (dewa angin dan badai).[1][2] Dia juga dipuja sebagai dewa pengobatan dan perburuan.[3] Dalam pustaka Regweda, Rudra dipuja sebagai "yang paling perkasa di antara kumpulan para perkasa".[4]

Salah satu terjemahan dari kata rudra ialah 'yang bersuara menggelegar'.[5][6][7] Rudra juga berarti "yang menyelesaikan segala masalah sampai ke akarnya". Tergantung zaman, nama Rudra dapat dimaknai sebagai 'dewa yang suaranya menggelegar' atau 'dewa yang rupanya paling sangar'. Nama tersebut juga disebutkan dalam Siwasahasranama (kumpulan seribu nama lain Siwa), dan ahli Weda R. K. Sharma menyatakan bahwa nama tersebut sering dipakai sebagai nama lain Siwa dalam bahasa-bahasa yang berkembang di India. Nama Rudra disebutkan bersama kumpulan gita puja kepada para dewa-dewi lainnya dalam RV 7.40.5.

Gita puja "Sri Rudram" dari pustaka Yajurweda dipersembahkan secara khusus kepadanya, dan merupakan teks yang penting dalam aliran Saiwa dalam agama Hindu.[8][9] Dalam "Prathama Anuvaka" dari Namakam (Taittiriya Samhita 4.5), Rudra dihormati sebagai Sadasiwa ('Siwa yang perkasa') dan Mahadewa. Sadasiwa merupakan Tuhan, Paramasiwa, menurut kepercayaan sekte Siddhanta dalam Saiwa.

Para putra Rudra

sunting

Selain julukan bagi Dewa Siwa, nama "Rudra" juga digunakan sebagai nama lain bagi para Maruta.[10] Sang Rudra disebut sebagai 'Bapak para Maruta' (RV 2.33.1).[11] Para Maruta merupakan kumpulan dewa badai yang berkaitan dengan atmosfer.[12] Jumlah mereka bervariasi, mulai dari enam puluh, sebelas, tiga puluh tiga,[13] bahkan seratus delapan puluh ('tiga kali enam puluh'. Lihat RV 8.96.8.).

Selain para Maruta, Rudra memiliki sebelas putra yang disebut Sebelas Rudra atau Ekadasarudra.[14] Ekadasarudra dikenal sebagai kumpulan bagi sebelas dewa badai yang suaranya menggelegar. Kesebelas Rudra yang mengatur alam semesta di antaranya adalah: Kapali, Pinggala, Bima, Wirupaksa, Wilohita, Sasta, Ajapada, Abirabudnya, Sambu, Canda, dan Bawa.[15]

Pewayangan Jawa

sunting

Sebagai dampak dari penyebaran agama Hindu-Buddha di Nusantara sebelum era kerajaan Islam, banyak figur dewa-dewi agama Hindu yang diadaptasi menjadi tokoh dalam lakon wayang, khususnya di pulau Jawa. Rudra dalam agama Hindu juga diadaptasi menjadi tokoh wayang, dan diberi gelar "Batara" atau Sang Hyang yang setingkat dengan dewa. Dia dapat disebut Batara Rodra atau Sang Hyang Rodra. Menurut pewayangan Jawa, dia adalah putra ketiga Sang Hyang Tunggal dengan Dewi Dremani. Ia mempunyai dua orang kakak kandung masing-masing bernama Bathari Darmastuti dan Bathara Dewanjali. Batara Rudra juga mempunyai tiga orang saudara seayah lain ibu, putra Sang Hyang Tunggal dengan Dewi Rekatawati, masing-masing bernama: Batara Tejamaya alias Antaga (Togog), Batara Ismaya (Semar) dan Batara Guru (Manikmaya).

Sang Hyang Rudra mendapat julukan sebagai Dewa Angkara karena sifat dan perwatakannya yang kaku, keras hati, cepat marah, iri hati, serakah, dan mau menang sendiri. Karena sifat dan perwatakannya itulah Sang Hyang Rudraโ€”yang selalu merasa ingin melebihi para dewaโ€”memilih untuk sering ke Arcapada (dunia bawah), menjelma sebagai raksasa lalu meminta dukungan pada para denawa dan raksasa. Kemudian melakukan perkawinan gandarwa dengan para raksesi (raksasa betina) yang kemudian melahirkan para raksasa sakti karena mendapat ilmu kesaktian darinya. Namun, semua raksasa keturunan Rudra bertugas menebarkan keangkara murkaan tanpa tanding. Karena itulah di kalangan golongan raksasa, Sang Hyang Rudra dianggap sebagai dewa kebajikan, karena kepada raksasa yang bertapa memujanya Sang Hyang Rudra tidak segan-segan memberikan berbagai ilmu kesaktian, senjata pamungkas, bahkan kekuasaan dan harta yang melimpah. Namun di kalangan para dewa, Rudra adalah biang dari kejahatan.

Untuk melampiaskan nafsu angkara dan murkanya, beberapa kali Sang Hyang Rudra turun ke Madyapada (bumi) lalu menitis pada raja raksasa. Pada zaman Lokapala ia pernah menitis pada Prabu Hiranyakasipu (raja Alengka) dan pada Saksadewa (putra Rahwana). Pada zaman Mahabharata, Sanghyang Rudra pernah menitis pada Prabu Nilarudraka, raja raksasa negara Tanjung Parang yang menyerang kahyangan dan akhirnya tewas dalam peperangan melawan Batara Ganesa (Gana), manusia berkepala gajah, putra Batara Guru dengan Dewi Uma.

Lihat pula

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ The Rigveda, with Dayananda Saraswati's Commentary, Volume 1. Sarvadeshik Arya Pratinidhi Sabha. 1974. hlm.ย 717. Arti ketiga dari Rudra adalah Vayu atau udara yang menyebabkan kesakitan bagi orang jahat karena perbuatan jahat mereka ... Vayu atau udara disebut Rudra karena membuat seseorang menangis menyebabkan kesakitan akibat perbuatan buruknya.
  2. ^ C.P. Tiele (2005). Outlines Of The History Of Religion To The Spread Of The Universal Religions. Concept Publishing Company. hlm.ย 113. ISBNย 978-8172681234.
  3. ^ Charles Russell Coulter; Patricia Turner (4 July 2013). Encyclopedia of Ancient Deities. Routledge. ISBNย 978-1135963903.
  4. ^ A. B. Keith. "Yajur Veda". All Four Vedas. Islamic Books. hlm.ย 45. GGKEY:K8CQJCCR1AX.
  5. ^ Majumdar (1951), hlm.ย 162.
  6. ^ Zimmer (1972), hlm.ย 181.
  7. ^ Griffith (1973), p. 75, note 1.
  8. ^ For an overview of the ลšatarudriya see: Kramrisch (1993), pp. 71โ€“4.
  9. ^ For a full translation of the complete hymn see Sivaramamurti (2004), p. 13.
  10. ^ For the terms "Maruts" and "Rudras" as equivalent, see Flood (1996), hlm.ย 46.
  11. ^ Arya & Joshi (2001), vol. 2, p. 78. For Shiva as the head or father of the group see Apte (1965), hlm.ย 804. For Rudra as the head of a host of "storm spirits, the Maruts" see: Basham (1989), hlm.ย 14.
  12. ^ Flood (1996), hlm.ย 45-6.
  13. ^ Macdonell (1996), hlm.ย 256.
  14. ^ Flood (1996), hlm.ย 46.
  15. ^ Ekadash Rudra Shiva (dalam bahasa Inggris). Harinesh Jain. ISBNย 978-81-7525-615-6.


๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

HAL Rudra

HAL Rudra (Sanskerta: เคฐเฅเคฆเฅเคฐcode: sa is deprecated , Dewa Badai atau Dewa Perburuan) alias ALH-WSI adalah sebuah versi bersenjata dari HAL Dhruv. Rudra

Rudra Wikrama

Rudra Wikrama (atau mungkin juga Rudrawarman) merupakan Maharaja Sriwijaya yang mengirim dua kali utusan ke Tiongkok, yang pertama pada tahun 728 M dan

Rudra Soni

Rudra Soni (lahir 10 November 2004) adalah seorang aktor televisi India yang dikenal karena memerankan peran Manav dalam acara televisi fantasi anak-anak

Maruta

disamakan dengan Rudra) adalah kelompok dewa badai dalam pustaka Weda dan Purana dalam agama Hindu. Menurut Weda, mereka adalah putra-putra Rudra dan Presni

Daftar tokoh wayang

Mahayekti Batara Mahyati Batara Nagaraja Batara Narada Batara Patuk Batara Rudra (Rodra) Batara Sambo (Sambu) Batara Surya Batara Temboro (Tamburu) Batara

Hasrat Cinta

Nayantara "Nayan" Choudhary (nรฉe Iyer) (2022โ€“2023) Abrar Qazi sebagai Rudraksh "Rudra" Khurana (2019โ€“2022) Samrat "Sam" Choudhary (2022โ€“2023) Bhuvan Garg (2021)

The Accidental Prime Minister (film)

karya Sanjaya Baru. Film tersebut diproduksi oleh Bohra Bros di bawah label Rudra Production (UK), dalam asosiasi dengan Jayantilal Gada di bawah label Pen

Indra

Upanishad menjabarkan bahwa para dewa terdiri dari delapan Wasu, sebelas Rudra, dua belas Aditya, Indra, dan Prajapati). Sebagai pemimpin para Wasu, Indra