Tanah Suci
אֶרֶץ הַקּוֹדֶשׁ (Ibrani)
Άγιοι Τόποι (Yunani)
Terra Sancta (Latin)
الأرض المقدسة (Arab)
Peta Tanah Suci karya kartografer Genoa Pietro Vesconte pada tahun 1321, yang digambarkan sebagai "peta non-Ptolemaik pertama dari suatu negara tertentu" oleh penjelajah Swedia Adolf Erik Nordenskiöld pada tahun 1889.[1]
Peta
JenisTempat suci
LokasiLevant Selatan
Penggunaan asliTanah Terjanji, yang diberikan kepada Abraham dan keturunannya (Bani Israil), menurut agama-agama Abrahamik
Penggunaan sekarangDestinasi ziarah utama bagi dunia Abrahamik, termasuk Yahudi, Kristen, dan Muslim

Tanah Suci (bahasa Ibrani: ארץ הקודש‎; Eretz HaQodesh ; Arab: الأرض المقدسة Al-Ard Al-Muqaddasah; bahasa Latin: Terra Sancta) adalah istilah yang merujuk pada wilayah geografis di Levant yang penting bagi agama Yudaisme, Kekristenan (baik Katolik maupun Ortodoks), Islam dan Bahá'í. Tanah Suci tidak memiliki batas yang pasti, dan kini secara kasar meliputi wilayah Israel, Palestina, dan sebagian Yordania dan Lebanon.[2] Tanah Suci telah menjadi tujuan peziarahan keagamaan sejak zaman dulu.[2]

Menurut Alkitab Perjanjian Lama, tanah suci atau tanah perjanjian merupakan tanah yang Allah janjikan kepada bangsa Israel sewaktu mereka berada di Mesir.[3] Allah berjanji melalui Abraham dan keturunannya untuk memberikan tanah tersebut, yang disebut tanah Kanaan.[3] Janji tersebut tidak diberikan kepada Abraham dalam waktu yang singkat, bahkan Abraham pun belum dapat mengklaim tanah itu menjadi miliknya sewaktu ia hidup.[3] Abraham dan keturunannya, termasuk bangsa Israel, selalu menunggu penggenapan janji itu, agar hidup mereka yang selama ini nomaden dapat segera berakhir.[3]

Signifikansi

sunting

Saat ini, istilah "Tanah Suci" biasanya merujuk pada wilayah yang kini menjadi negara Israel dan Palestina modern. Umat Yahudi, Kristen, Muslim, dan Baha'i menganggapnya suci.[4]

Signifikansi tanah suci umumnya tersebut berasal dari signifikansi keagamaan Yerusalem (kota tersuci bagi Yudaisme, dan lokasi Bait Suci Pertama dan Kedua), serta signifikansi historisnya sebagai latar bagi sebagian besar kisah Alkitab, lokasi historis pelayanan Yesus, lokasi Kiblat pertama sebelum Ka'bah di Mekah dan lokasi peristiwa Isra dan Mi'raj dalam Islam, dan lokasi tempat ziarah yang paling dihormati dalam Agama Baha'i.

Kesucian tanah tersebut sebagai tujuan ziarah Kristen turut memicu Perang Salib, karena umat Kristen Eropa berusaha merebut kembali Tanah Suci dari tangan umat Muslim, yang merebutnya dari Kekaisaran Romawi Timur pada tahun 630 M. Pada abad ke-19, Tanah Suci menjadi subjek pertikaian diplomatik karena tempat-tempat suci tersebut memainkan peran dalam Permasalahan Timur yang berujung pada Perang Krimea pada tahun 1850-an.

Banyak tempat di Tanah Suci telah lama menjadi tujuan ziarah bagi penganut agama Abrahamik, termasuk Yahudi, Kristen, Muslim, dan Baha'i. Para peziarah mengunjungi Tanah Suci untuk menyentuh dan melihat manifestasi fisik dari iman mereka, untuk menegaskan keyakinan mereka dalam konteks suci dengan kegembiraan kolektif,[5] dan untuk terhubung secara pribadi dengan Tanah Suci.[6]

Referensi

sunting
  1. ^ Nordenskiöld, Adolf Erik (1889). Facsimile-atlas to the Early History of Cartography: With Reproductions of the Most Important Maps Printed in the XV and XVI Centuries. Kraus. hlm. 51, 64.
  2. ^ a b Schweid, Eliezer. 1985. The Land of Israel: National Home Or Land of Destiny. Terj. Deborah Greniman. Fairleigh Dickinson Univ Press. Hal. 56.
  3. ^ a b c d Karman, Yonky. 2012. Bunga Rampai Teologi Perjanjian Lama. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hal. 77.
  4. ^ "Palestine | History, People, & Religion | Britannica". www.britannica.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-10-23.
  5. ^ Harris, David (2005). "Functionalism". Key Concepts in Leisure Studies. Sage Key Concepts series (Edisi reprint). London: Sage. hlm. 117. ISBN 978-0-7619-7057-6. Diakses tanggal 9 March 2019. Tourism frequently deploys metaphors such [as] pilgrimage [...] Religious ceremonies reinforce social bonds between believers in the form of rituals, and in their ecstatic early forms, they produced a worship of the social, using social processes ('collective excitation').
  6. ^ Metti, Michael Sebastian (2011-06-01). "Jerusalem - the most powerful brand in history" (PDF). Stockholm University School of Business. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2020-01-26. Diakses tanggal 1 July 2011.


📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Gerakan Perang Salib

ISBN 978-0-367-51127-2. Asbridge, Thomas (2012) [2010]. The Crusades: The War for the Holy Land. Simon and Schuster. ISBN 978-1-8498-3688-3. Backman, Clifford R. (2022)

Guy Le Strange

Guy (1890). Palestine Under the Moslems: A Description of Syria and the Holy Land from A.D. 650 to 1500. London: Committee of the Palestine Exploration

Syam

Arab Syam Utara Bahasa Arab Syam Selatan Levant Mustafa Abu Sway. "The Holy Land, Jerusalem and Al-Aqsa Mosque in the Qur'an, Sunnah and other Islamic

Frediano Giannini

tanggal 21 May 2020. Rossi, Berardo (1981). The Custody of the Holy Land. Custody of the Holy Land editions. hlm. 133. de Dreuzy, Agnes (2016). The Vatican

Fakhri Pasya

Muslim Holy Land. Princeton University Press. hlm. 375. ISBN 9781400887361. Peters, Francis. (1994). "Mecca: A Literary History of the Muslim Holy Land". PP376-377

Kekristenan di Israel

di Tel Aviv. Adriana Kemp & Rebeca Raijman, "Christian Zionists in the Holy Land: Evangelical Churches, Labor Migrants, and the Jewish State", Identities:

Perang Salib

berjudul History of the Crusades for the Recovery and Possession of the Holy Land (1820), dan sering kali digunakan sebagai bentuk pemilahan yang paling

Bethphage

19:29 Archaeological Encyclopedia of the Holy Land by Avraham Negev 2005 ISBN 0-8264-8571-5 page 80 The Holy Land: An Oxford Archaeological Guide from Earliest