Ihya Ulumuddin
Sebuah kitab Ihya Ulumuddin
PengarangImam Al-Ghazali
BahasaBahasa Arab dengan beragam terjemahan
GenreTazkiyatun Nafs
PenerbitBeragam
Tanggal terbit
circa 500-an H (1100-an M)
Diikuti olehMinhajul Qashidin, dll 

Ihya Ulumuddin (bahasa Arab: إِحْيَاء عُلُوم ٱلدِّين, har. 'Menghidupkan Ilmu Agama', terkadang disebut sebagai Al-Ihya) merupakan kitab yang membahas tentang kaidah dan prinsip dalam menyucikan jiwa (Tazkiyatun Nafs) yang membahas perihal penyakit hati, pengobatannya, dan mendidik hati. Kitab ini merupakan karya yang paling terkenal dari Imam Al-Ghazali. Hanya saja kitab ini memiliki kritikan oleh para pembencinya, yaitu meskipun Imam Ghazali merupakan seorang ulama tetapi ia dituduh bukanlah seorang yang pakar dalam bidang hadis, sehingga ikut tercantumlah hadis-hadis tidak ditemukan sanadnya, berderajat lemah maupun maudhu. Hal ini menyebabkan banyak ulama dan para ahli hadis yang kemudian berupaya meneliti, memilah dan menyusun ulang terhadap takhrij hadis yang termuat di dalam Ihya Ulumuddin. Di antara ulama ahli hadis yang menyusun ulang kitab hadis berdasarkan Ihya Ulumuddin ini adalah Imam Ibnul Jauzi dan Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi yang menulis kitab Minhajul Qashidin dan ikhtisarnya (Mukhtasar).[1]

Topik pembahasan

sunting

Kitab Ihya Ulumudin (احياء علوم الدين ) memiliki tema utama tentang kaidah dan prinsip dalam penyucian jiwa yakni menyeru kepada kebersihan jiwa dalam beragama, sifat takwa, konsep zuhud, rasa cinta yang hakiki, merawat hati serta jiwa dan sentiasa menanamkan sifat ikhlas di dalam beragama. Kandungan lain dari kitab ini berkenaan tentang wajibnya menuntut ilmu, keutamaan ilmu, bahaya tanpa ilmu, persoalan-persoalan dasar dalam ibadah seperti penjagaan thaharah dan salat, adab-adab terhadap al-Qur'an, dzikir dan doa, penerapan adab akhlak seorang muslim di dalam pelbagai aspek kehidupan, hakikat persaudaraan (ukhuwah), bimbingan memperbaiki akhlak, bagaimana mengendalikan syahwat, bahaya lisan, mencegah sifat dengki dan emosi, zuhud, mendidik rasa bersyukur dan sabar, menjauhi sifat sombong, ajakkan sentiasa bertaubat, pentingnya kedudukan tauhid, pentingnya niat dan kejujuran, konsep mendekatkan diri kepada Allah (muraqabah), tafakur, mengingati mati dan rahmat Allah, dan mencintai Rasulullah ﷺ.

Minhajul Qashidin

sunting
Mukhtasar Minhajul Qashidin, ringkasan kitab Minhajul Qashidin yang merupakan revisi dari Ihya Ulumuddin

Kitab Ihya Ulumuddin kemudian di teliti dan dikerjakan ulang oleh Imam Ibnul Jauzi (597 H) lalu hasil pengerjaannya tersebut diberi nama Minhajul Qashidin wa Mufidush Shadiqin. Usaha Ibnul Jauzi dalam melakukan pengerjaan ulang kitab terhadap Ihya Ulumuddin ini dianggap begitu penting dan kompeten. Karena selain Ibnul Jauzi memiliki kesamaan dengan Imam Al-Ghazali di dalam hal disiplin keilmuan yang dikuasai. Imam Ibnul Jauzi memiliki kelebihan penguasaan yang ahli terhadap ilmu hadis, baik dari sisi riwayah maupun dirayah; sanad maupun matannya. Pengerjaan ulang oleh Ibnul Jauzi berfokus kepada penelitian ulang derajat hadis-hadis yang ada, kemudian melakukan eliminasi terhadap hadis-hadis yang maudhu, dhaif dan mauquf dan kemudian dia gantikan dengan dalil yang shahih dan hasan, sehingga didapatkan sebuah kitab yang kokoh sebagai pegangan.

Berkata Ibnul Jauzi tentang latar belakang dan metode penyusunan kitabnya: "Kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali memiliki beberapa kekurangan yang hanya pakar/ahli ilmu (hadis) yang menyadarinya (mengenalinya), seperti pada riwayat yang disandarkan kepada Nabi ﷺ namun ternyata maudhu atau tidak shahih. Oleh karena itu, aku menyusun sebuah buku yang terbebas dari masalah tersebut tadi, dengan tetap mempertahankan keutamaan (kebaikan) dari kitab aslinya (Al-Ihya). Dalam kitabku ini, aku bersandar hanya pada riwayat yang asli dan terkenal, dan aku hilangkan atau tambahkan dari kitab aslinya (Al-Ihya) apa yang dirasa perlu."[2]

Mukhtasar Minhajul Qashidin

sunting

Kitab Minhajul Qashidin merupakan sebuah kitab yang cukup tebal, sehingga mungkin tidak setiap kalangan mau dan mampu memanfaatkannya dengan baik. Kemudian kitab tersebut dibuat ringkasannya oleh Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi.

Bila dahulu Imam Ibnul Jauzi fokus kepada penelitian hadis-hadisnya, kitab mukhtasar ini sesuai dengan namanya, bertujuan kepada peringkasan dan membuat intisari dari kitab sebelumnya agar lebih ringkas, teratur, dan mudah dipahami. Juga ditambahkan penjelasan serta tambahan faedah yang diperlukan. Sehingga menjadi sebuah kitab yang mudah bagi para pelajar maupun masyarakat awam untuk memanfaatkannya.[3]

Ibnu Qudamah berkata tentang latar belakang dan metode penyusunan kitabnya: "Ketika aku membaca kitab Minhajul Qashidin karya Ibnul Jauzi, aku merasa bahwa kitab ini sangat bermanfaat bagi masyarakat. Jadi aku memutuskan untuk membacanya sekali lagi dengan tujuan untuk menyerap makna yang lebih dalam. Setelah membacanya untuk kedua kalinya, kekagumanku atas buku ini semakin bertambah. Aku mendapatinya begitu terstruktur dan aku ingin untuk memfokuskan pada poin-poinnya yang penting dan obyektif. Demi menempuh hal itu, aku tinggalkan beberapa topik, yang sudah banyak terdapat dalam kitab-kitab yang terkenal. Juga aku tidak menyusunnya sesuai urutan kitab aslinya, lalu aku tambahkan pula catatan tambahan yang diperlukan seperti hadis dan komentar".[2]

Catatan kaki

sunting
  1. ^ Selain mereka berdua, berikut kitab-kitab yang ditulis berdasarkan kitab Al-Ihya berupa komentar maupun takhrij (hadits); Al-Hafizh Ibnu Hajar telah mengarang sebuah kitab yang berjudul: ‘Al-Istidrak ala takhrijul Ihya” karangan gurunya Al'Iraaqi, yang telah disebut-kan oleh Al Hafizh As Sakhawi dalam kitab Al Jawahir Wad Durar (153 a). Al-Hafizh Al-'Iraaqi telah mengarang tiga buah kitab untuk mentakhrij (hadits-hadits yang ada) dalam Kitab Al Ihya: Ikhbarul ahya bi akhbaril ahya secara panjang lebar Alkasyful mu’min an takhrij Ihya Ulumuddin, yang sedang Al Mughni an Hamlil Asfar fil Asfar fi takhrij ma fil Ihya minal akhbar dan yang ini adalah ringkasannya, ketiga Kitab di atas telah disebutkan oleh Ibnu Fahd dalam kitab Lahzhul Al-Haazh (hal. 230-231). Ibnul Munayyir Al Iskandari telah menulis sebuah kitab yang berjudul: “Adh-Dhoyaul mutaka lii fii ta’aqqubi al-Ihya lil ghazali” sebagaimana yang telah disebutkan oleh Imam Az-Zabiidi dalam kitab Syahrul Ihya (1/33). Al-Hafizh Al Qasim bin Quthlubughaa pun telah mengarang sebuah kitab yang berjudul: Tuhfatul Ahya fii maa faata min takhrijil Ihya sebagaimana yang telah disebutkan oleh Al Haaj Khalifah dalam kitab Kasyfu Az Zunuun (I/24). Tajuddin As-Subki (771 H), Dia berkata dalam (kitab) Thabaqat Asy-Syafi'iyyah jilid 4 hal 145 dalam biografi Al-Ghazali: Di pasal ini aku kumpulkan semua hadits yang ada di kitab Al-Ihya yang belum aku dapatkan sanadnya.
  2. ^ a b Mukhtasar Minhajul Qashidin, Ibnu Qudamah; Daar Al-Manarah Mesir, bagian Mukadimah.
  3. ^ Berikutnya kitab inipun juga dikerjakan kembali oleh para ulama kontemporer, di antaranya oleh Ridwan Jami' yang memberikan takhrij bagi setiap hadits yang dibawakan di dalam Mukhtasar Minhajul Qashidin dengan takhrij hadits yang berasal dari kitab-kitab milik Al-Albani (1407 H).

Pranala luar

sunting
Daftar pustaka
  • Mukhtashar Minhajul Qashidin; Ibnu Qudamah.
Buku elektronik

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Al-Ghazali

menulis kitab Ihya Ulumuddin yang memberi sumbangan besar kepada masyarakat dan pemikiran manusia dalam semua masalah. Ihya Ulumuddin (Kebangkitan Ilmu-Ilmu

Pesantren

dari Tafsir Jalalain di bidang tafsir, Fathul Qarib di bidang fiqh, Ihya Ulumuddin di bidang tasawuf, Arbain Nawawi di bidang hadits, Imrithi di bidang

Minhajul Abidin

menjelang wafatnya Imam Al-Ghazali. Dengan kata lain, ditulis setelah Kitab Ihya Ulumuddin. Dalam kitab ini Imam Al-Ghazali menggunakan istilah 'aqobah yang artinya

Hamim Tohari Djazuli

penjabaran dari kitab Fatkhul Qarib), Shaban (kitab tata bahasa Arab) dan Ihya' Ulumuddin (kitab tasawuf).. Pada saat inilah orang tuanya menyadari adanya karomah

Abu Bakar bin Muhammad as-Segaf Gresik

kitab-kitab karya ulama salaf. Pengajian ini setidaknya telah mengkhatamkan Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali sebanyak 40 kali dan kitab-kitab lainnya. Setiap

Nahrawi Al Banyumasyi

hadapan Allah). Beliau mewasiatkan agar para muridnya membaca kitab Ihya’ Ulumuddin dan kitab Qutul Qulub. Manakib Syekh Ahmad Nahrowi al Banyumasi https://karyakarsa

Dar-al Musthafa

Riyadushhalihin Qawaid Asasiah Riyadhussalihin Tasawuf Bidayatul Hidayah Ihya Ulumuddin ar- Risalatul Mu'awwanah Metode pengajaran adalah sistem halaqah. Setelah

Muhammad Bakhiet

tulisan yang umumnya diambil dari karya-karya Imam al-Ghazali khususnya Ihya Ulumuddin, juga ada yang berupa buletin. Di samping itu berbagai kegiatan pengajian