Artikel ini memberikan informasi dasar tentang topik kesehatan. |
| Campak | |
|---|---|
| Nama lain | Morbilli, rubeola, measles, gabak, gabagen, campak merah, campak Inggris[1][2] |
| Seorang anak dengan ruam campak hari keempat | |
| Spesialisasi | Penyakit menular |
| Gejala | Demam, batuk, pilek, mata merah, ruam[3][4] |
| Komplikasi | Pneumonia, kejang, ensefalitis, panensefalitis sklerosis subakut, imunosupresi, hilang pendengaran, kebutaan[5][6] |
| Awitan umum | 10โ12 hari setelah paparan[7][8] |
| Durasi | 7โ10 hari[7][8] (tidak termasuk komplikasi) |
| Penyebab | Virus campak[3] |
| Pencegahan | Vaksin campak[7] |
| Pengobatan | Terapi suportif[7] |
| Frekuensi | 10 juta per tahun (dunia);[3] 63.769 kasus suspek pada tahun 2025 dan 10.453 kasus suspek sampai minggu ke-8 tahun 2026 (Indonesia)[9][10] |
| Kematian | 140.000+ (dunia, 2018);[11][12] 69 pada tahun 2025 dan 6 sampai minggu ke-8 tahun 2026 (Indonesia)[9][10] |
Campak (bahasa Inggris: measles, kemungkinan berasal dari istilah dalam bahasa Belanda Pertengahan atau bahasa Jerman Tinggi Pertengahan masel(e), yang berarti "bercak, luka lepuh berisi darah")[13][14] adalah penyakit yang sangat menular tetapi dapat dicegah dengan vaksin yang disebabkan oleh virus campak.[3][5] Penyakit ini juga dikenal dengan nama lain gabak, gabagen (dalam bahasa Jawa), morbili, rubeola, campak 9 hari, campak merah, dan campak Inggris.[1][3]
Gejala campak biasanya muncul 10โ12 hari setelah seseorang terpapar dengan orang yang terinfeksi campak dan berlangsung selama 7โ10 hari.[7] Gejala-gejala awal umumnya meliputi demam, sering kali lebih dari 40 ยฐC, batuk, pilek, dan peradangan mata.[3][4] Bintik-bintik putih kecil yang dikenal sebagai bercak Koplik dapat muncul di dalam mulut dua hingga tiga hari setelah timbulnya gejala-gejala.[4] Ruam kemerahan dan datar, yang biasanya muncul mulai dari wajah dan kemudian menyebar ke seluruh tubuh, umumnya mulai timbul di hari ketiga sampai kelima setelah gejala-gejala awal.[4] Komplikasi-komplikasi yang umum terjadi meliputi diare (dalam 8% kasus), infeksi telinga tengah (7%), dan pneumonia (6%).[5] Hal ini sebagian terjadi akibat imunosupresi yang disebabkan oleh campak.[6] Komplikasi-komplikasi lain yang jarang terjadi meliputi kejang, kebutaan, atau peradangan otak.[5][7]
Campak adalah penyakit bawaan udara yang sangat mudah menular dari satu orang ke orang lainnya melalui batuk dan bersin orang yang terinfeksi.[7] Penyakit ini juga dapat menular melalui kontak langsung dengan cairan sekreta mulut atau cairan ingus.[7] Campak sangat mudah menular: sembilan dari sepuluh orang yang tidak memiliki imunitas terhadap penyakit ini dan tinggal bersama orang yang terinfeksi akan ikut terinfeksi. Selain itu, perkiraan angka reproduksi dasar virus campak bervariasi mulai dari kisaran yang sering dikutip, 12โ18,[15] hingga, menurut sebuah artikel tinjauan ilmiah tahun 2017, kisaran 3,7โ203,3.[16] Orang-orang yang terinfeksi virus campak dapat menularkan penyakit ini sejak empat hari sebelum sampai empat hari setelah munculnya ruam.[5] Walaupun sering disebut sebagai penyakit pada anak, campak dapat menyerang orang-orang di segala usia.[17] Kebanyakan orang tidak akan terinfeksi campak lebih dari satu kali seumur hidupnya.[7] Pemeriksaan adanya virus campak dalam kasus-kasus terduga campak penting bagi upaya kesehatan masyarakat.[5] Campak tidak diketahui terjadi pada hewan lain.[18]
Pada kasus infeksi campak, tidak ada terapi spesifik yang tersedia, meskipun pemberian terapi suportif dapat meningkatkan angka kesembuhan.[7] Terapi suportif yang diberikan meliputi oralit (larutan dengan rasa sedikit manis dan asin), makanan bergizi, dan obat-obatan untuk mengendalikan demam.[7][8] Antibiotik harus diberikan jika terdapat infeksi bakteri sekunder seperti infeksi telinga atau pneumonia.[18] Suplementasi vitamin A juga direkomendasikan untuk anak-anak di bawah lima tahun.[7] Di antara kasus-kasus yang dilaporkan di AS antara tahun 1985 sampai 1992, kematian terjadi pada 0,2% kasus,[5] tapi dapat mencapai hingga 10% pada orang-orang dengan malnutrisi.[7] Sebagaian besar yang meninggal akibat infeksi campak adalah anak-anak berusia kurang dari lima tahun.[7]
Vaksin campak aman dan sangat efektif dalam mencegah terjadinya penyakit. Vaksin ini seringkali diberikan dalam bentuk kombinasi dengan vaksin-vaksin lain.[7][19] Karena campak sangat mudah menular dari satu orang ke orang lain dalam sebuah komunitas, lebih dari 95% anggota komunitas harus divaksinasi campak untuk mencapai kekebalan kelompok.[20] Vaksinasi telah menghasilkan penurunan angka kejadian kematian akibat campak sebesar 80% antara tahun 2000 dan 2017. Sampai tahun 2017, sekitar 85% anak-anak di seluruh dunia telah menerima dosis pertama vaksin campak.[7] Campak menyerang sekitar 10 juta orang setiap tahunnya,[3] terutama di wilayah-wilayah berkembang di Afrika dan Asia.[7] Di Indonesia sendiri, terdapat 63.769 kasus suspek pada tahun 2025, dan sampai minggu ke-8 tahun 2026, kasus suspek campak tercatat mencapai 10.453 kasus.[9][10] Penyakit ini adalah salah satu penyebab utama kematian akibat penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan vaksin.[21][22] Pada tahun 1980, 2,6 juta orang meninggal akibat campak,[7] dan pada tahun 1990, 545.000 orang meninggal akibat penyakit ini. pada tahun 2014. Melalui program vaksinasi global, angka kematian akibat campak berhasil diturunkan menjadi sebesar 73.000 pada tahun 2014.[23][24] Meskipun terdapat tren penurunan, angka kejadian penyakit dan kematian kembali meningkat sejak tahun 2017 akibat penurunan cakupan imunisasi.[25][26][27]
Tanda dan gejala
sunting
Gejala-gejala mulai timbul 7โ23 hari (paling sering 10โ14 hari) setelah paparan, diawali dengan fase prodormal berupa demam, malaise, dan batuk.[5][3][6][28] Demam meningkat secara bertahap dan dapat mencapai puncak pada 39 ยฐCโ41 ยฐC.[5] Setelah dua hingga empat hari fase prodormal, bercak Koplik timbul di bagian dalam pipi yang berhadapan dengan gigi geraham dengan tampakan sebagai sekumpulan lesi putih (seperti "butiran garam") di atas area yang kemerahan. Bintik-bintik ini adalah tanda patognomonik campak, tetapi mereka hanya muncul dalam waktu singkat sehingga tidak selalu didapatkan saat pemeriksaan.[3] Gejala klasik campak meliputi demam, batuk (cough), coryza (pilek disertai bersin), dan konjungtivitis (conjunctivitis), yang dikenal sebagai "tiga C", serta ruam makulopapular.[29] Diare dapat timbul setelah fase prodormal dan dapat berlangsung hingga satu bulan.[28]
Ruam khas campak secara klasik digambarkan sebagai ruam merah makulopapular generalisata yang mulai timbul tiga sampai lima hari setelah fase prodromal; rata-rata sekitar 14 hari setelah paparan, namun bisa muncul secepat 7 sampai 21 hari setelah paparan.[5][6] Ruam timbul mulai dari belakang kedua telinga atau wajah, kemudian menyebar ke seluruh tubuh. Timbulnya ruam disebabkan oleh respons sistem imun seluler dan humoral dalam membersihkan sel-sel kulit yang terinfeksi, sebagaimana yang terjadi pada konjungtivitis. Konjungtivitis pada campak juga sering kali menyebabkan fotofobia.[6] Ruam campak dikatakan seperti "meninggalkan noda" pada kulit, berubah warna dari merah menjadi cokelat tua, dan kemudian menghilang.
Kasus-kasus campak tanpa komplikasi umumnya membaik dalam beberapa hari sejak timbulnya ruam dan sembuh dalam waktu 7โ10 hari.[6] Virus campak dapat menular sejak empat hari sebelum hingga empat hari setelah munculnya ruam.[28]
Karena munculnya ruam dan konjungtivitis memerlukan sistem imun yang berfungsi dengan baik, pasien dengan kondisi imunokompromi mungkin lebih sulit terdiagnosis atau mengalami keterlambatan diagnosis.[6]
Orang-orang yang pernah menerima vaksin campak namun tidak memiliki kekebalan yang sepenuhnya efektif karena alasan apapun dapat mengalami bentuk modifikasi dari campak. Kondisi ini ditandai dengan masa inkubasi yang lebih lama serta gejala-gejala yang lebih ringan. Mereka mungkin mengalami ruam morbiliformis tanpa demam tinggi yang khas serta gejala-gejala pernapasan yang ringan.[5][28] Mereka juga lebih tidak bersifat menular dan memiliki muatan virus yang lebih rendah.[28] Campak atipikal berbeda dengan campak dalam bentuk modifikasi. Campak atipikal dilaporkan terjadi pada para penerima vaksin campak inaktif yang digunakan antara tahun 1963โ1967. Campak atipikal ditandai dengan ruam yang pertama kali muncul pada lengan dan kaki, bukan di kepala, serta dapat berupa petechiae alih-alih morbiliformis, disertai demam tinggi dan pneumonia berat.[28]
-
Seorang bayi Filipina dengan campak
-
Bercak Koplik pada hari ketiga pre-erupsi
-
Ruam makulopapular di perut pada hari ketiga penyakit
Komplikasi
suntingBeberapa komplikasi campak disebabkan langsung oleh virus, sedangkan beberapa komplikasi lainnya disebabkan oleh penekanan sistem imun oleh virus.
Komplikasi akut campak relatif umum terjadi, mengenai sekitar 30% kasus campak.[28] Bahkan pada anak-anak yang sebelumnya sehat, campak dapat menyebabkan penyakit serius yang membutuhkan perawatan di rumah sakit.[30]
Bentuk komplikasi langsung campak yang paling berat adalah pneumonia, ensefalitis, dan kebutaan. Satu hingga tiga dari setiap 1.000 anak yang terinfeksi campak akan meninggal akibat komplikasi pernapasan dan sistem saraf.[28][30] Komplikasi-komplikasi pada sistem pernapasan yang terkait langsung dengan virus meliputi campak dapat terkait langsung dengan infeksi virus - misalnya pneumonia viral (giant-cell), pneumonitis, dan laringotrakeobronkitis (krup) viral.[28] Pneumonia giant-cell dan pneumonitis paling sering terjadi pada anak-anak usia dini dan orang-orang dengan sistem imun yang lemah.[28] Pada tahun 1920-an, angka kematian akibat pneumonia campak adalah sekitar 30%.[31]
Ensefalitis akibat campak dapat terjadi pada berbagai tahap penyakit. Ensefalitis akut pascainfeksi biasanya terjadi pada minggu pertama infeksi.[28][32] Ensefalitis badan inklusi campak dapat terjadi 1โ6 bulan setelah infeksi akut.[28] Sementara itu, panensefalitis sklerosis subakut, bentuk ensefalitis yang sifatnya progresif dan fatal, dapat terjadi bertahun-tahun setelah terjadinya infeksi akut dan terjadi pada sekitar 1 dari 600 bayi berusia di bawah 15 bulan yang tidak divaksinasi dan terinfeksi campak.[6][28]
Ulkus kornea dapat mengakibatkan timbulnya jaringan parut atau perforasi pada kornea, yang menyebabkan kebutaan,[33] dan kondisi ini lebih berat pada pasien dengan defisiensi vitamin A.[28]
Infeksi sekunder yang sering terjadi adalah diare, pneumonia bakterial, dan otitis media.[6][28]
Anak-anak di bawah lima tahun dan mereka yang berusia lebih dari 20 tahun memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami komplikasi, terutama orang dewasa. Kondisi-kondisi yang melemahkan sistem kekebalan, seperti kehamilan, malnutrisi, kanker darah, HIV/AIDS, dan penggunaan obat-obat imunosupresan juga meningkatkan risiko terjadinya komplikasi.[17][30][34] Di Amerika Serikat, antara tahun 1987โ2000, angka kematian akibat campak adalah tiga kematian per 1.000 kasus campak (0,3%).[35] Di negara-negara berkembang dengan tingkat malnutrisi yang tinggi dan layanan kesehatan yang buruk, angka kematian dapat mencapai 28%.[35] Pada pasien-pasien dengan kondisi sistem imun yang lemah, angka kematian adalah sekitar 30%.[36]
Infeksi campak dalam kehamilan tidak secara langsung menyebabkan kecacatan pada janin (teratogenik), tetapi dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan janin dalam rahim dan kelahiran prematur, serta meningkatkan risiko kematian, yang berkisar antara 5โ30% tergantung pada tingkat penyebaran virus campak di suatu wilayah.[28]
Amnesia imun
suntingVirus campak dapat menghapus memori sistem imun yang sebelumnya telah terbentuk dengan cara membunuh sel-sel yang menghasilkan antibodi, sehingga melemahkan sistem kekebalan tubuh dan dapat menyebabkan kematian akibat penyakit lain.[37][38][39] Penekanan sistem imun oleh campak dapat berlangsung sekitar dua tahun dan secara epidemiologis dikaitkan dengan meningkatnya angka kematian anak akibat penyakit infeksi lain selama periode ini.[40][41] Vaksin campak mengandung galur virus yang dilemahkan yang tidak menghapus memori sistem imun.[38]
Fenomena penekanan sistem imun ini, yang dikenal sebagai โamnesia imunโ, meningkatkan risiko terjadi infeksi berikutnya.[6][42][37][38] Tidak lama setelah pasien sembuh dari campak, terjadi penurunan signifikan antibodi terhadap bakteri dan virus lain yang sebelumnya telah diperoleh pasien sepanjang hidupnya sebelum terinfeksi campak.[39] Studi pada primata menunjukkan bahwa amnesia imun terjadi selama infeksi ketika virus menghancurkan limfosit memori yang sudah ada sebelumnya; setelah pasien pulih, tubuh membentuk sel-sel limfosit memori baru yang spesifik terhadap virus campak saja. Hal ini memberikan kekebalan jangka panjang terhadap infeksi campak berulang, tetapi menghilangkan kekebalan terhadap penyakit lain yang sudah ada sebelumnya.[37] Perbandingan angka kematian anak sebelum dan sesudah diperkenalkannya vaksin campak menunjukkan bahwa amnesia imun biasanya berlangsung selama 2โ3 tahun setelah infeksi campak.[37]
Penyebab
suntingArtikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia. |
Campak disebabkan oleh virus campak, sebuah virus RNA berselubung untai tunggal, sense negatif, tidak tersegmentasi dari genus Morbillivirus dalam famili Paramyxoviridae.[43][44] Virus ini memiliki kekerabatan paling dekat dengan sampar sapi, sebuah virus pada hewan ternak yang berhasil dieradikasi pada tahun 2001, dan distemper anjing, sebuah penyakit pada mamalia yang menimbulkan kerusakan saraf.[5] Terdapat 24 galur virus campak yang dibagi ke dalam delapan klad, AโH.[43]
Virus ini adalah salah satu patogen pada manusia yang paling mudah menular. Virus menyebar melalui batuk dan bersin, baik lewat kontak erat maupun kontak langsung dengan sekreta penderita campak.[30][44][43] Virus campak masih tetap menular hingga dua jam melalui percikan saluran pernapasan yang masih melayang di udara.[5] Virus ini tidak mudah menyebar melalui benda-benda mati karena virus ini menjadi inaktif dalam beberapa jam oleh sinar ultraviolet dan panas.[6] Virus ini juga terinaktivasi oleh tripsin, lingkungan yang bersifat asam, dan eter.[5] Campak sangat mudah menular; jika seseorang terinfeksi campak, 90% orang yang tidak memiliki kekebalan terhadap campak dan melakukan kontak erat dengan penderita campak (misalnya, anggota satu rumah) juga akan ikut terinfeksi.[5][45] Manusia adalah satu-satunya inang utama alami virus, dan tidak diketahui adanya reservoir binatang lainnya, meskipun gorila gunung dipercaya rentan terhadap virus ini.[5][46] Faktor-faktor risiko infeksi virus campak meliputi kondisi imunodefisiensi yang disebabkan oleh HIV/AIDS,[47] imunosupresi setelah menerima transplantasi organ atau sel punca,[48] agen alkilasi, atau terapi kortikosteroid, terlepas dari apapun status imunisasinya;[17] perjalanan ke wilayah di mana campak sering terjadi atau kontak dengan pelancong dari wilayah tersebut;[17] dan hilangnya antibodi pasif, bawaan sebelum usia pemberian imunisasi rutin.[49]
Patofisiologi
sunting

Setelah virus campak kontak dengan mukosa yang melapisi saluran pernapasan, virus tersebut akan berikatan dengan SLAM (signaling lymphocyte activation molecule, juga dikenal sebagai CD150) pada permukaan makrofag dan sel dendritik. Sel-sel ini kemudian memakan virus tersebut. Proses ini dimediasi oleh protein hemaglutinin (H) pada permukaan virus yag berikatan dengan SLAM dan menyebabkan perubahan bentuk protein fusi (F) di kapsul virus, sehingga memungkinkan selubung virus untuk berfusi dengan RNA virus dan protein virus masuk ke dalam sel. Protein L, sebuah RNA-dependent RNA polymerase, kemudian mentranskripsikan genom virus yang bersifat sense negatif menjadi mRNA sense positif, yang selanjutnya ditranslasi oleh ribosom sel asal menjadi protein virus. Sel-sel imun ini kemudian menyebarkan virus ke kelompok sel-sel imun lainnya, termasuk sel B, sel T, timosit, dan sel punca hematopoietik, yang kemudian menyebarkan virus ke organ-organ lain selama masa inkubasi.[5][43]
Periode awal infeksi di paru-paru berlangsung selama dua sampai tiga hari, dan berakhir dengan fase pertama viremia. Lima sampai tujuh hari setelah dimulainya infeksi, terjadilah viremia kedua, dan virus menginfeksi sel-sel epitel.[5] Virus menyebar di sepanjang sel-sel epitel, awalnya di trakeobronkial melalui rongga-rongga antarsel, dan kemudian di lapisan organ lain dan trakeobronkial melalui reseptor nectin-4. Hal ini menyebabkan munculnya gejala klinis batuk, yang kemudian mengaerolisasi virus dan memungkinkan virus untuk menyebar.[5][6]
Diagnosis
suntingUmumnya, diagnosis klinis dimulai dengan munculnya demam dan malaise sekitar 10 hari setelah paparan terhadap virus campak, diikuti dengan batuk, coryza, dan konjungtivitis yang memberat dalam 4 hari sejak timbulnya gejala.[51] Didapatinya bercak Koplik saat pemeriksaan juga membantu penegakan diagnosis.[52] Penyakit-penyakit lain yang menyerupai campak meliputi demam dengue, rubella, eritema infeksiosum (juga dikenal dengan nama fifth disease, disebabkan oleh parvovirus B19), dan roseola (juga disebut sebagai eksantema subitum atau sixth disease, disebabkan oleh HHV6).[6] Oleh karena itu, konfirmasi diagnosis dengan pemeriksaan laboratorium sangatlah direkomendasikan, khususnya di wilayah non-endemik.[5]
Pemeriksaan laboratorium
suntingDiagnosis campak secara laboratoris dapat dilakukan dengan konfirmasi adanya antibodi IgM campak atau deteksi RNA virus campak dari spesimen tenggorokan, hidung, atau urin menggunakan metode reaksi berantai polimerase transkripsi-balik.[53][54] Metode ini sangat berguna untuk mengonfirmasi kasus-kasus ketika pemeriksaan antibodi IgM menunjukkan hasil inkonklusif.[53] Untuk orang-orang yang tidak bisa diambil sampel darahnya, dapat dilakukan pengambilan sampel air liur untuk pemeriksaan IgA spesifik campak.[54] Pemeriksaan air liur untuk diagnosis campak dilakukan dengan mengumpulkan sampel air liur dan memeriksa keberadaan antibodi terhadap campak.[55][56] Namun, metode ini tidak ideal karena air liur mengandung banyak cairan dan protein lain yang dapat menyulitkan pengambilan sampel dan deteksi antibodi campak.[55][56] Jumlah antibodi dalam air liur juga 800 kali lebih sedikit dibandingkan sampel darah, sehingga pemeriksaan menjadi lebih sulit. Adanya riwayat kontak dengan orang lain yang juga menderita campak juga menguatkan penegakan diagnosis.[55]
Pemeriksaan biopsi dan histopatologi umumnya tidak digunakan untuk mendiagnosis campak, namun sel-sel WarthinโFinkeldey, sel-sel berukuran besar dengan beberapa nukleus dan badan inklusi eosinofilik, sering ditemukan pada jaringan limfatik yang terinfeksi, meskipun hal ini bukanlah hal spesifik dari campak.[1][57] Epitel yang terdampak infeksi mungkin memiliki sel-sel berukuran besar dengan badan-badan inklusi virus atau badan Cowdry.[57]
Pengobatan
suntingTidak ada terapi antivirus spesifik untuk campak.[30] Obat-obatan yang diberikan secara umum bertujuan untuk mengatasi infeksi sekunder, mempertahankan status hidrasi yang baik dengan pemberian cairan yang cukup, dan meredakan nyeri.[30] Terapi suportif dapat mencakup pemberian ibuprofen atau parasetamol (asetaminofen) untuk mengurangi demam dan nyeri, dan bila dibutuhkan, obat untuk melebarkan jalan napas kerja cepat untuk batuk.[58]
Beberapa kelompok, seperti anak kecil dan penderita malnutrisi berat, juga dapat diberikan vitamin A sesuai resep dokter. Vitamin A bekerja sebagai imunomodulator yang meningkatkan respons antibodi terhadap virus campak dan menurunkan risiko terjadinya komplikasi yang serius.[30][44][59] Meskipun pemberian vitamin A tidak menyembuhkan penyakit atau menurunkan angka kematian pada seluruh kelompok usia,[60] pemberian dua dosis (200,000 IU) vitamin A terbukti menurunkan angka kematian pada anak di bawah dua tahun.[44][61] Pada wabah campak di AS tahun 2025, sejumlah anak datang ke rumah sakit dengan campak dan hipervitaminosis A karena orang tua mereka memberikan berbagai asupan yang mengandung vitamin A (seperti suplemen atau minyak hati bakalau) sebagai upaya pencegahan sebelum anak-anak tersebut sakit.[62][63]
Penelitian pemberian suplemen zinc untuk anak dengan campak belum cukup banyak.[64] Tidak ada bukti dari uji klinis acak yang mendukung atau menolak efektivitas pengobatan herbal Cina sebagai terapi campak.[65]
Prognosis
suntingSebagian besar pasien yang terinfeksi campak akan sembuh, walaupun dalam beberapa kasus dapat terjadi komplikasi. Sekitar 1 dari 4 pasien akan dirawat di rumah sakit, dan 1โ2 dari 1.000 kasus akan berakhir dengan kematian. Komplikasi cenderung terjadi pada anak di bawah 5 tahun, orang dewasa di atas usia 20 tahun, dan wanita hamil.[66][67] Pneumonia adalah komplikasi fatal yang paling umum dari infeksi campak dan menyumbang sekitar 56โ86% dari kematian terkait campak.[68]
Dampak lain yang mungkin timbul akibat infeksi virus campak meliputi laringotrakeobronkitis, hilang pendengaran sensorineural,[69] danโdalam sekitar 1 dari 10.000 hingga 1 dari 300.000 kasus[70]โpanensefalitis, yang biasanya beakibat fatal.[71] Ensefalitis campak akut adalah risiko serius lainnya dari infeksi virus campak. Ensefalitis biasanya terjadi dua hari sampai satu minggu setelah timbulnya ruam campak dan diawali dengan demam yang sangat tinggi, nyeri kepala hebat, kejang, dan penurunan kesadaran. Pasien ensefalitis campak dapat mengalami koma, dan dapat terjadi kematian atau kerusakan otak.[3]
Pada mereka yang pernah terinfeksi campak, jarang sekali terjadi infeksi ulang yang bergejala.[72]
Epidemiologi
sunting
Campak adalah penyakit yang sangat mudah menular. Peredaran virus penyakit ini dalam sebuah komunitas bergantung pada jumlah inang yang rentan terhadap virus melalui kelahiran anak-anak. Pada komunitas yang tidak menghasilkan cukup inang rentan yang baru, penyakit ini akan musnah.[73] Karena campak sangat mudah menular dari satu orang ke orang lain dalam sebuah komunitas, lebih dari 95% masyarakat harus menerima vaksinasi guna mencapai kekebalan kelompok.[20]
WHO memperkirakan terjadi 158.000 kematian akibat campak pada tahun 2011, turun dari 630.000 kematian pada tahun 1990.[74] Hingga tahun 2018, campak masih menjadi penyebab utama kematian akibat penyakit yang dapat dicegah oleh vaksin di dunia.[21][75] Di negara-negara maju, angka kematian akibat campak lebih rendah dibandingkan di negara-negara lain; sebagai contoh, di tahun 2007 sampai 2017, angka kematian berkisar antara dua hingga tiga per 10.000 kasus campak di Inggris dan Wales.[76] Di Amerika Serikat, kematian terjadi pada satu sampai tiga anak per 1.000 kasus campak (0,1โ0,2%).[77] Pada populasi dengan tingkat malnutrisi yang tinggi dan kekurangan fasilitas kesehatan yang memadai, angka kematian dapat mencapai 10%.[7][5] Pada kasus-kasus campak dengan komplikasi, angka kematian dapat mencapai 20โ30%. Pada tahun 2012, angka kematian akibat campak 78% lebih rendah dibandingkan pada tahun 2000 akibat meningkatnya angka cakupan imunisasi di antara negara-negara anggota PBB.[20] Antara tahun 2000 dan 2016, kasus campak di seluruh dunia menurun sebesar 84%; namun pada tahun 2019, jumlah kasus campak meningkat menjadi 870.000 kasus, yang merupakan jumlah kasus campak terbanyak sejak tahun 1996.[43]
| Kawasan WHO | 1980 | 1990 | 2000 | 2010 | 2020 |
|---|---|---|---|---|---|
| Kawasan Afrika | 1,240,993 | 481,204 | 520,102 | 199,174 | 115,369 |
| Kawasan Amerika | 257,790 | 218,579 | 1,754 | 247 | 9,996 |
| Kawasan Mediterania Timur | 341,624 | 59,058 | 38,592 | 10,072 | 6,769 |
| Kawasan Eropa | 492,660 | 185,818 | 37,421 | 30,625 | 10,945 |
| Kawasan Asia Tenggara | 199,535 | 224,925 | 78,558 | 54,228 | 9,389 |
| Kawasan Pasifik Barat | 1,319,640 | 155,490 | 177,052 | 49,460 | 6,605 |
| Seluruh dunia | 3,852,242 | 1,325,074 | 853,479 | 343,806 | 159,073 |
Bahkan di negara-negara yang telah memperkenalkan vaksinasi, angka kasus campak dapat tetap tinggi. Campak merupakan penyebab utama kematian anak akibat penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan vaksin. Angka kematian akibat campak di seluruh dunia berhasil ditekan secara signifikan berkat kampanye vaksinasi yang dipimpin oleh sebuah kemitraan dalam Measles Initiative, yang beranggotakan Palang Merah Amerika Serikat, CDC, United Nations Foundation, UNICEF, dan WHO. Secara global, angka kematian akibat campak pada tahun 2005 adalah 345.000, turun 60% dari angka kematian tahun 1999 yaitu sebesar 873.000.[79] Perkiraan untuk tahun 2008 menunjukkan penurunan lebih lanjut menjadi sebesar 164.000 kematian di seluruh dunia, dan 77% kasus kematian terjadi di kawasan Asia Tenggara.[80] Pada tahun 2018, terdapat 142.300 kematian terkait campak di seluruh dunia; sebagian besar kasus dilaporkan dari kawasan Afrika dan Mediterania Timur. Angka ini sedikit lebih tinggi daripada perkiraan tahun 2017, ketika tercatat 124.000 kematian akibat infeksi campak di seluruh dunia.[81]
Pada tahun 2000, WHO membentuk Global Measles and Rubella Laboratory Network (GMRLN) guna menyediakan sarana pengawasan laboratoris terhadap kasus campak, rubela, dan sindrom rubela kongenital.[82] Data dari tahun 2016 sampai 2018 menunjukkan bahwa genotipe virus campak yang paling sering terdeteksi semakin berkurang, menunjukkan bahwa peningkatan kekebalan populasi global telah berhasil menurunkan rantai penyebaran virus.[82]
Kasus campak yang dilaporkan pada tiga bulan pertama tahun 2019 meningkat 300% dibandingkan pada periode yang sama tahun 2018, dengan wabah terjadi di seluruh kawasan dunia, bahkan di negara-negara dengan cakupan vaksinasi yang tinggi, di mana campak menyebar di kluster orang-orang yang tidak menerima vaksin.[83] Pada tahun 2019, jumlah total kasus campak di seluruh dunia mencapai 869.770. Jumlah kasus campak yang dilaporkan pada tahun 2020 lebih rendah dibandingkan tahun 2019.[84] Menurut WHO, pandemi COVID-19 menghambat kampanye vaksinasi di setidaknya di 68 negara, termasuk di negara-negara yang mengalami wabah campak, sehingga meningkatkan risiko munculnya lebih banyak kasus.[84][85]
Pada tahun 2022, diperkirakan terdapat 136.000 kematian akibat campak di seluruh dunia, kebanyakan pada anak-anak di bawah usia 5 tahun yang tidak atau kurang mendapatkan vaksin campak.[18]
Pada bulan Februari 2024, WHO mengatakan bahwa lebih dari setengah populasi dunia berisiko mengalami wabah campak karena adanya gangguan akibat pandemi COVID-19. Saat itu, seluruh kawasan dunia, kecuali kawasan Amerika, melaporkan terjadinya wabah campak di kawasan mereka. Tingkat kematian selama wabah cenderung lebih tinggi di antara negara-negara miskin, namun negara-negara berpendapatan menengah juga terdampak secara signifikan.[86]
Pada bulan November 2024, WHO dan CDC melaporkan bahwa kasus campak meningkat sebesar 20% pada tahun 2023, utamanya akibat rendahnya cakupan vaksin di kawasan-kawasan termiskin dunia dan wilayah-wilayah terdampak konflik, dengan jumlah kasus meningkat dari sekitar 8,6 juta menjadi 10,3 juta.[87][88] Hampir separuh wabah besar[88] dan 64% kasus perorangan terjadi di Afrika.[87]
Asia Tenggara
suntingIndonesia
suntingPada tahun 2025, kasus suspek campak di Indonesia mencapai 63.769, meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 25.641.[9][89] Terdapat 11.094 kasus terkonfirmasi laboratorium dan 69 kematian akibat campak (CFR 0,1 persen).[9] Di tahun yang sama, terjadi kejadian luar biasa campak (KLB) di Sumenep, Jawa Timur yang mengakibatkan 17 anak meninggal; sebagian besar dari mereka belum divaksin.[89]
Hingga minggu ke-8 tahun 2026, jumlah kasus suspek campak adalah 10.453 dengan kasus terkonfirmasi campak sebanyak 8.372 dan kematian sebanyak enam orang. Terdapat 45 kejadian luar biasa (KLB) campak di 29 kabupaten/kota pada 11 provinsi, yaitu Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah.[10] Peningkatan kasus campak diduga kuat berhubungan dengan menurunnya cakupan vaksinasi.[89] Menurut data dari Kementerian Kesehatan, angka cakupan vaksin campak dosis pertama turun dari 92% pada tahun 2024 menjadi 82% pada tahun 2025, dan cakupan dosis kedua juga turun dari 82,3% menjadi 77,6% di periode yang sama.[90]
Negara-negara lain
suntingDalam epidemi campak di Vietnam pada musim semi 2014, sampai 30 Mei, terdapat 21.639 kasus suspek dan 142 kematian akibat campak.[91] Setelah wabah campak di Filipina pada tahun 2019, tercatat terjadi 23.563 kasus campak dengan 338 kematian di negara tersebut.[92]
Europe
sunting
Di Inggris dan Wales, meskipun kematian akibat campak tergolong jarang terjadi, rata-rata terdapat sekitar 500 kematian per tahun pada tahun 1940-an. Jumlah kematian menurun seiring dengan peningkatan layanan medis pada tahun 1950-an, namun angka insidensi penyakit baru benar-benar menurun setelah vaksin diperkenalkan pada akhir 1960-an. Cakupan vaksinasi yang lebih luas dicapai pada tahun 1980-an melalui penggunaan vaksin MMR.[93]
Pada periode 2013โ2014, terdapat hampir 10.000 kasus campak di 30 negara Eropa. Sebagian besar kasus terjadi pada individu yang tidak divaksinasi, dan lebih dari 90% kasus terjadi di Jerman, Italia, Belanda, Rumania, dan Inggris.[20] Antara Oktober 2014 hingga Maret 2015, wabah campak di ibu kota Jerman, Berlin, menyebabkan sedikitnya 782 kasus.[94]
Pada tahun 2016, tercatat jumlah terendah kasus campak di Eropa sepanjang sejarah, yaitu sekitar 4.400 . Namun, sejak 2017 terjadi peningkatan kembali kasus campak, dengan jumlah mencapai 21.315 kasus dan 35 kematian pada tahun tersebut.[95] Data sementara tahun 2018 menunjukkan peningkatan tiga kali lipat menjadi 82.596 kasus di 47 negara, dengan 72 kematian. Ukraina mencatat jumlah kasus tertinggi (53.218), dengan tingkat insidensi tertinggi ada di Ukraina (1.209 kasus per satu juta penduduk), diikuti Serbia (579), Georgia (564), dan Albania (500).[96][97] Pada tahun sebelumnya (2017), cakupan vaksin campak di kawasan ini diperkirakan mencapai 95% untuk dosis pertama dan 90% untuk dosis keduaโangka tertinggi yang pernah dicapai untuk dosis kedua.[97]
Pada tahun 2019, Inggris, Albania, Republik Ceko, dan Yunani kehilangan status bebas campak mereka akibat penyebaran penyakit yang terus berlangsung.[98] Dalam enam bulan pertama tahun 2019 saja, tercatat sekitar 90.000 kasus terjadi di Eropa.[98]
Pada tahun 2024, terjadi lonjakan signifikan kasus campak di Eropa dengan 127.350 kasusโangka tertinggi sejak tahun 1997 dan mencakup sekitar sepertiga dari total kasus global. Pusat utama wabah ini tampaknya berada di Rumania, dengan 30.692 kasus dilaporkan terjadi di sana.[99]
Amerika
suntingSebagai hasil dari cakupan vaksinasi yang luas, penyakit campak dinyatakan telah dieliminasi dari wilayah Amerika pada tahun 2016.[100] Namun, kasus campak kembali muncul pada tahun 2017,[101] 2018, 2019,[102] 2020,[103] dan 2025[104] di wilayah tersebut.
Kanada
suntingHingga Agustusย 2025[update], sebuah wabah di Alberta menghasilkan 1.800 kasus terkonfrimasi dan mendorong para ahli kesehatan untuk menyarankan masyarakat Alberta agar memastikan status vaksinasi campak mereka tetap diperbarui.[105]
Amerika Serikat
sunting
Di Amerika Serikat, campak berdampak pada sekitar 3.000 orang per satu juta penduduk pada tahun 1960-an sebelum tersedianya vaksin. Dengan cakupan vaksinasi anak yang luas dan konsisten, angka ini menurun menjadi 13 kasus per satu juta pada tahun 1980-an, dan sekitar 1 kasus per satu juta pada tahun 2000.[106]
Sebelum program imunisasi di Amerika Serikat, setiap tahun terjadi sekitar 3 hingga 4 juta kasus campak.[5] Amerika Serikat dinyatakan bebas dari penularan endemik campak pada tahun 2000, dengan total 911 kasus antara 2001 hingga 2011. Pada tahun 2014, CDC menyatakan bahwa endemik campak, rubela, dan sindrom rubela kongenital tidak muncul kembali di Amerika Serikat.[107] Namun, wabah sesekali masih terjadi akibat kasus impor dari luar negeri, di mana lebih dari separuhnya berasal dari penduduk AS yang tidak divaksinasi yang terinfeksi saat bepergian ke luar negeri, lalu menularkan campak saat kembali ke Amerika Serikat.[107] Maka dari itu, CDC tetap merekomendasikan vaksinasi campak secara luas untuk mencegah wabah semacam ini.[108]
Pada tahun 2015, seorang perempuan di Washington meninggal akibat pneumonia yang disebabkan campak; menjadi kematian pertama akibat campak di AS sejak tahun 2003.[109] Perempuan tersebut sebenarnya telah divaksinasi, tetapi sedang mengonsumsi obat-obatan imunosupresif untuk kondisi kesehatan lainnya. Obat-obatan ini menurunkan daya tahan tubuhnya terhadap campak sehingga ia pun jadi terinfeksi. Ia tidak mengalami ruam, tetapi mengalami pneumonia, yang menjadi penyebab kematiannya.[110][111]
Pada tahun 2019 terjadi peningkatan kembali kasus campak, sebagian besar dikaitkan dengan keputusan para orang tua untuk tidak memvaksinasi anak-anak mereka, dengan mayoritas kasus terjadi pada individu berusia 19 tahun ke bawah.[112][113][114][115][116] Wabah pertama dilaporkan terjadi di negara bagian Washington pada bulan Januari, dengan sedikitnya 58 kasus terkonfirmasi di Clark County, yang memiliki tingkat pengecualian vaksin lebih tinggi dibandingkan wilayah lain di negara bagian tersebut. Hampir satu dari empat anak taman kanak-kanak di Clark tidak menerima vaksinasi.[117] Kondisi ini mendorong gubernur Washington, Jay Inslee, untuk menetapkan keadaan darurat, serta mendorong pembahasan undang-undang oleh kongres negara bagian untuk menghapus pengecualian vaksin berbasis alasan pribadi atau filosofis.[118] Pada April 2019, Walikota New York Bill de Blasio juga menetapkan keadaan darurat kesehatan masyarakat akibat lonjakan kasus campak, dengan 285 kasus berpusat di wilayah komunitas Yahudi Ortodoks di Brooklyn pada tahun 2018, dibandingkan hanya dua kasus pada tahun 2017. Terdapat tambahan 168 kasus di Rockland County.[119] Wabah lain muncul di Santa Cruz County dan Butte County di California, serta di New Jersey dan Michigan.[116] Hingga April 2019, tercatat 695 kasus di 22 negara bagianโangka tertinggi sejak campak dinyatakan berhasil dieliminasi pada tahun 2000.[102] Sepanjang tahun 2019, total 1.282 kasus dilaporkan di 31 negara bagianโini adalah jumlah tertinggi sejak tahun 1992.[103] Dari jumlah tersebut, 128 pasien dirawat di rumah sakit dan 61 pasien mengalami komplikasi seperti pneumonia dan ensefalitis.[103] Setelah wabah berakhir, jumlah kasus kembali turun ke tingkat sebelum wabah: 13 kasus pada tahun 2020, 49 kasus pada tahun 2021, dan 121 kasus pada tahun 2022.[120]
Hingga Februari 2025, wabah campak kembali terjadi di komunitas yang tidak divaksinasi di Texas dan New Mexico. Pada 26 Februari, kematian pertama sejak tahun 2015 dilaporkan terjadi pada seorang anak usia sekolah yang tidak divaksinasi di Texas Barat. Jumlah kasus terkonfirmasi mencapai 124 pada tanggal yang sama menurut Departemen Kesehatan Texas. Sebagian besar kasus terjadi pada anak usia 5โ17 tahun.[121] Pada Maret 2025, CDC melaporkan 483 kasus terkonfirmasi campak di 20 negara bagian, dengan 2 kematian dan 70 pasien dirawat di rumah sakitโmelampaui total kasus tahun 2024 yang berjumlah 285.[122]
Pasifik Selatan
suntingSamoa
suntingWabah campak di Samoa pada akhir tahun 2019 menyebabkan lebih dari 5.700 kasus dan 83 kematian, dari total populasi sekitar 200.000 jiwa. Lebih dari 3% populasi terinfeksi, sehingga diberlakukan keadaan darurat nasional dari 17 November hingga 7 Desember. Kampanye vaksinasi kemudian berhasil meningkatkan cakupan vaksinasi campak dari 31-34% pada tahun 2018 menjadi sekitar 94% dari populasi yang memenuhi syarat pada Desember 2019.[123]
Afrika
suntingRepublik Demokratik Kongo
suntingWabah campak pada tahun 2019 menyebabkan hampir 5.000 kematian dan 250.000 infeksi, setelah penyakit ini menyebar ke seluruh provinsi di negara tersebut.[124] Sebagian besar kematian terjadi pada anak-anak di bawah usia lima tahun.[125] WHO melaporkan bahwa ini merupakan epidemi campak terbesar dan tercepat di dunia.[126]
Pencegahan
sunting
Campak dapat dicegah pada tingkat individu melalui vaksinasi (kekebalan aktif) atau melalui pemberian antibodi anticampak (kekebalan pasif), serta pada tingkat populasi melalui kekebalan kelompok. Selama kehamilan, antibodi dapat menembus plasenta ke dalam sirkulasi janin, sehingga memberikan kekebalan pasif pada bayi yang baru lahir.[3] Namun, kekebalan ini akan menurun selama tahun pertama kehidupan. Perlu dicatat bahwa pemberian vaksin hidup tidak dianjurkan selama kehamilan; ibu hamil yang diketahui tidak memiliki kekebalan terhadap campak sebaiknya divaksinasi setelah melahirkan.[66]
Di wilayah di mana campak telah berhasil dieliminasi, anak-anak umumnya direkomendasikan untuk menerima imunisasi campak pada usia 12โ18 bulan menggunakan vaksin MMR (campak, gondongan, dan rubela).[28] Pada sebagian besar wilayah di mana campak masih bersifat endemik, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan pemberian imunisasi pada usia 9 bulan dan diulang pada usia 18 bulan. Dalam situasi wabah aktif, dosis tambahan dianjurkan untuk bayi usia 6โ11 bulan.[59] Di Afrika Selatan, dosis pertama vaksin diberikan pada usia 6 bulan, sedangkan di Tiongkok pada usia 8 bulan.[28] Vaksin kurang efektif jika diberikan terlalu dini; tingkat pembentukan antibodi apabila dosis pertama diberikan pada usia 9 bulan adalah 85โ90%. Oleh karena itu, dosis kedua vaksin dianjurkan diberikan saat usia 4โ5 tahun untuk meningkatkan tingkat kekebalan,[28][59][127] dengan jarak minimal empat minggu setelah dosis pertama.[28] Efek samping vaksin jarang terjadi, dengan demam dan nyeri di tempat penyuntikan adalah dua efek samping yang paling sering terjadi. Reaksi efek samping yang mengancam jiwa sangat jarang terjadi, yaitu kurang dari satu per satu juta vaksinasi (<0,0001%).[128]
Vaksin ini tetap dianjurkan untuk diberikan pada seluruh anak, baik yang terinfeksi HIV maupun tidak.[129] Efektivitas vaksin campak lebih rendah pada bayi dengan HIV dibandingkan dengan populasi umum, namun pengobatan dini dengan obat antiretroviral dapat meningkatkan efektivitas vaksin. Program vaksinasi campak juga sering dimanfaatkan untuk memberikan intervensi kesehatan anak lainnya, seperti pembagian kelambu untuk mencegah malaria, obat antiparasit, dan suplemen vitamin A, sehingga turut berkontribusi terhadap penurunan angka kematian anak akibat penyebab lain.[130]
Komite Penasihat Praktik Imunisasi (ACIP) dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS merekomendasikan agar semua orang dewasa yang akan bepergian ke luar negeri dan tidak memiliki bukti adanya kekebalan terhadap campak menerima dua dosis vaksin MMR sebelum bepergian.[127][131] Orang yang lahir sebelum tahun 1957 dianggap memiliki kekebalan karena mereka kemungkinan besar telah terinfeksi secara alami.[127][5][132]
Terdapat klaim palsu yang mengaitkan vaksin campak dan autisme; kekhawatiran tidak berdasar ini telah menyebabkan penurunan cakupan vaksinasi dan peningkatan angka kejadian campak di daerah dengan angka cakupan imunisasi yang terlalu rendah untuk mempertahankan kekebalan kelompok.[17] Selain itu, terdapat pula klaim palsu bahwa infeksi campak memberikan proteksi terhadap kanker.[19]
Pemberian vaksin MMR dapat mencegah terjadinya campak setelah paparan virus (profilaksis pascapajanan).[133] Pedoman profilaksis pascapajanan berbeda-beda tergantung pada wilayah dan populasi, namun umumnya vaksin diberikan dalam waktu 72 jam setelah paparan.[28][133] Imunisasi pasif terhadap campak melalui injeksi intramuskular antibodi dapat efektif hingga tujuh hari setelah paparan.[134] Dibandingkan dengan tanpa pengobatan, risiko infeksi campak dapat berkurang sebesar 83%, dan risiko kematian berkurang sebesar 76%. Namun, efektivitas imunisasi pasif dibandingkan dengan vaksin campak aktif belum sepenuhnya jelas.[134]
Vaksin MMR memiliki efektivitas sebesar 95% dalam mencegah campak setelah satu dosis jika diberikan kepada anak berusia 12 bulan atau lebih; jika dosis kedua vaksin MMR diberikan, tingkat perlindungan pada anak akan meningkat menjadi sekitar 97โ99%.[30][44]
Untuk mencapai kekebalan kelompok, lebih dari 95% populasi harus divaksinasi, mengingat tingginya tingkat penularan campak.[28]
Vitamin A dan pencegahan campak
sunting"Defisiensi vitamin A (DVA) adalah masalah kesehatan utama pada negara-negara dengan pendapatan rendah dan menengah, yang mengenai 190 juta anak-anak di bawah usia lima tahun, dan menimbulkan banyak dampak yang merugikan terhadap kesehatan, termasuk kematian."[135] Defisiensi vitamin A jarang terjadi di Amerika Serikat.[136] Sebuah meta-analisis uji klinis yang dilakukan di negara-negara dengan prevalensi DVA tinggi menyimpulkan bahwa pemberian suplemen vitamin A pada anak menurunkan insidensi tertular campak sebesar 50%.[135] Sebagai perbandingan, vaksinasi dengan dua dosis vaksin campak pada masa kanak-kanak memberikan proteksi sebesar 97โ99% terhadap campak.[30][127][44] Suplementasi vitamin A tidak dianggap menurunkan risiko kematian akibat campak.[136] Anak-anak yang diberikan vitamin A dosis tinggi baik dari suplemen maupun minyak hati bakalau dapat mengalami akumulasi vitamin A hingga mencapai kadar toksik dan hal ini dapat menyebabkan hipervitaminosis A dan kerusakan hati.[136]
Sebuah tinjauan Cochrane tahun 2016 membahas dua studi acak terkontrol (RCT) yang melibatkan 260 anak dengan campak membandingkan vitamin A dengan plasebo. Hal yang krusial pada artikel ini adalah tidak ada satupun studi yang melaporkan kebutaan atau gangguan mata lainnya sebagai hasil utama. Satu studi menunjukkan adanya peningkatan sementara kadar retinol serum, tetapi tidak ada efek atau dampak jangka panjang terhadap pertambahan berat badan. Studi kedua tidak menemukan adanya perbedaan signifikan dalam kadar retinol serum maupun tingkat kekurangan nutrisi. Maka dari itu, para penulis menyimpulkan bahwa tidak ada penelitian yang menunjukkan apakah suplementasi vitamin A pada anak dengan campak dapat mencegah kebutaan.[137]
Dalam wabah campak di bagian barat daya Amerika Serikat 2025, yang terpusat di Texas Barat, beberapa keluarga tetap menolak pemberian vaksin dan memilih untuk memberi suplementasi vitamin A atau minyak hati bakalau yang mengandung vitamin A dan D ke anak-anak mereka setelah Robert F. Kennedy Jr. mempromosikan vitamin A sebagai pencegahan dan terapi untuk campak.[62] Beberapa anak yang dirawat akibat campak di Rumah Sakit Anak Covenant di Lubbock juga menunjukkan tanda-tanda kerusakan hati, yang merupakan sebuah gejala dari keracunan vitamin A.[136][62][63] Sampai Mei 2025, terlepas dari berbagai efek samping serius tersebutโdan bahkan berpotensi meningkatkan penyebaran penyakitโKennedy, sebagai Menteri Kesehatan dan Layanan Masyarakat Amerika Serikat, tetap terus mempromosikan penggunaan vitamin A selama epidemi campak, bersama dengan tindakan-tindakan tanpa dasar ilmiah dan nonvaksin lainnya, yang kemudian menuai kritik luas.[138]
Sejarah
sunting
Campak adalah penyakit yang berasal dari zoonosis. Penyakit ini berevolusi dari sampar sapi, sebuah penyakit yang menginfeksi hewan ternak.[139] Prekursor campak mulai menyebabkan infeksi pada manusia setidak-tidaknya sejak abad ke-4 Sebelum Masehi[140][141] atau paling lambat setelah tahun 500 Masehi.[139] Wabah Antoninus yang terjadi tahun 165โ180 Masehi diperkirakan sebenarnya adalah campak, namun penyebab sebenarnya wabah ini tidak diketahui, dan cacar dianggap sebagai penyebab yang paling mungkin.[142] Deskripsi sistematis pertama mengenai campak sebagai penyakit yang berbeda dari cacar dan cacar air dikaitkan dengan seorang dokter Persia, Muhammad ibn Zakariya al-Razi (860โ932), yang menulis Buku Tentang Cacar dan Campak. Ia menggambarkan campak sebagai "[penyakit yang] lebih menakutkan dibandingkan cacar".[5][143] Diyakini bahwa pada waktu penulisan buku Razi tersebut, wabah masih bersifat terbatas dan virus campak belum sepenuhnya beradaptasi pada manusia. Dalam suatu waktu antara tahun 1100 dan 1200 Masehi, virus campak sepenuhnya berveolusi, benar-benar terpisah dari sampar sapi, menjadi sebuah virus tersendiri yang khusus menginfeksi manusia.[139] Hal ini sejalan dengan pengamatan bahwa campak memerlukan populasi rentan sejumlah lebih dari 500.000 untuk mempertahankan terjadinya sebuah epidemi, sebuah situasi yang terjadi pada masa sejarah seiring pertumbuhan kota-kota Eropa di abad pertengahan.[144]

Campak adalah sebuah penyakit endemis, yang berarti penyakit ini telah terus-menerus hadir di dalam sebuah komunitas dan banyak orang yang membentuk kekebalan terhadap penyakit ini. Pada populasi yang belum pernah terpapar campak, paparan terhadap penyakit baru ini dapat berakibat fatal. Pada tahun 1529, sebuah wabah campak di Kuba membunuh dua pertiga orang-orang suku asli yang sebelumnya selamat dari cacar. Dua tahun kemudian, campak bertanggung jawab atas kematian setengah populasi Honduras serta menghancurkan Meksiko, Amerika Tengah, dan peradaban suku Inka.[146]
Wabah campak di Kepulauan Faroe tahun 1846 menjadi kasus yang unik karena dipelajari secara mendalam.[147] Campak sudah tidak dijumpai lagi di kepulauan ini selama 60 tahun, sehingga hampir tidak ada penduduk yang memiliki kekebalan bawaan terhadap campak.[147] Tiga perempat penduduk kepulauan jatuh sakit, dan lebih dari 100 penduduk (1โ2% dari total populasi) meninggal sebelum epidemi ini mereda.[147] Peter Ludvig Panum mengamati terjadinya wabah dan menyimpulkan bahwa campak menyebar melalui kontak langsung antara orang yang menularkan dengan orang yang belum pernah terinfeksi sebelumnya.[147] Ia juga menjelaskan tentang kekebalan yang diperoleh setelah sakit serta masa inkubasi penyakit melalui studinya terhadap wabah ini.[5]
Campak membunuh 20 persen populasi Hawaii pada tahun 1850-an.[148] Pada tahun 1875, campak membunuh lebih dari 40.000 penduduk Fiji, alias sekitar satu pertiga dari populasi.[149] Pada abad ke-19, campak membunuh lebih dari setengah populasi Orang Andaman Besar.[150]
Pada tahun 1914, seorang ahli statistik dari perusahaan asuransi Prudential memperkirakan, berdasarkan survei terhadap 22 negara, 1% dari seluruh kematian di wilayah beriklim sedang disebabkan oleh campak. Ia juga mengamati bahwa 1โ6% kasus campak berakhir fatal, perbedaan dampak penyakit bergantung pada usia (0โ3 tahun menjadi kelompok usia terburuk), kondisi sosial (misalnya hunian yang terlalu padat) dan kondisi kesehatan yang telah ada sebelumnya.[151]
Vaksinasi
suntingSebelum adanya vaksin, diperkirakan lebih dari 2 juta kematian dan 30 juta kasus campak terjadi setiap tahunnya di seluruh dunia.[6] Pada tahun 1954, John Enders dan Thomas C. Peebles berhasil mengisolasi virus campak dari seorang anak laki-laki 13 tahun asal Amerika Serikat, David Edmonston. Enders adalah salah satu peneliti yang berpengalaman dalam mempropagasi virus polio, yang membuka jalan untuk terciptanya vaksin Salk, dan ia menggunakan teknik yang sama untuk menumbuhkan galur Edmonston pada jaringan ginjal manusia di akhir tahun yang sama, lalu melakukan kultur jaringan pada membran amnion, dan kemudian kultur pada embrio ayam. Penelitian mereka berlangsung selama tiga tahun dan menghasilkan sebuah virus yang dapat bereplikasi dan menghasilkan kekebalan tanpa menyebabkan penyakit. Proses ini disebut sebagai atenuasi.[5][152] Saat sedang bekerja di Merck, Maurice Hilleman mengatenuasi galur Edmonston B lebih lanjut untuk mengembangkan vaksin campak pertama yang berhasil dibuat, yang mulai tersedia luas di Amerika Serikat pada tahun 1963.[5][153] Vaksin ini dikaitkan dengan reaksi pascaimunisasi seperti demam dan ruam. Sebagai usaha untuk mengurangi kejadian reaksi imunisasi, vaksin ini diatenuasi lebih lanjut lagi untuk menghasilkan galur Schwartz (diperkenalkan pada tahun 1965, saat ini sudah tidak digunakan lagi) dan galur Edmonston-Enders (diperkenalkan pada tahun 1968). Penggunaan Edmonston B dihentikan pada tahun 1975.[5] Vaksin campak dari virus inaktif sempat diberikan antara tahun 1963 dan 1967, namun kemudian dihentikan, digantikan dengan vaksin hidup, karena adanya risiko campak atipikal dan proteksi yang lebih lemah dibandingkan vaksin dari virus hidup yang dilemahkan.[5][28] Selanjutnya, vaksin campak dikombinasikan dengan vaksin gondongan dan vaksin rubela, yang juga merupakan vaksin hidup, untuk menciptakan vaksin MMR. Lisensi penggunaan vaksin ini dikeluarkan di Amerika Serikat pada tahun 1971. Kemudian, vaksin MMR dikombinasikan lagi dengan vaksin cacar air untuk menciptakan vaksin MMRV, yang lisensi penggunaannya dikeluarkan pada tahun 2005.[5]
Referensi
sunting- ^ a b c Milner, Danny A. (2015). Diagnostic Pathology: Infectious Diseases E-Book. Elsevier Health Sciences. hlm.ย 24. ISBNย 978-0-323-40037-4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 September 2017.
- ^ Stanley, Jacqueline (2002). Essentials of Immunology & Serology. Cengage Learning. hlm.ย 323. ISBNย 978-0-7668-1064-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 September 2017.
- ^ a b c d e f g h i j k Tesini, Brenda L. (Juli 2023). "Measles". Merck Manual Professional. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 April 2025. Diakses tanggal 10 April 2025.
- ^ a b c d "Measles (Rubeola) Signs and Symptoms". U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). 3 November 2014. Diarsipkan dari asli tanggal 2 Februari 2015. Diakses tanggal 5 Februari 2015.
- ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z aa ab ac ad "Chapter 13: Measles". Pink Book Epidemiology and Prevention of Vaccine-Preventable Diseases. U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). 24 April 2024. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 Juli 2024. Diakses tanggal 9 April 2025.
- ^ a b c d e f g h i j k l m n Rota PA, Moss WJ, Takeda M, de Swart RL, Thompson KM, Goodson JL (Juli 2016). "Measles". Nature Reviews. Disease Primers. 2 16049. doi:10.1038/nrdp.2016.49. PMIDย 27411684.
- ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s "Measles Fact Sheet". World Health Organization (WHO). 14 November 2024. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 November 2022. Diakses tanggal 10 April 2025.
- ^ a b c Bope, Edward T.; Kellerman, Rick D. (2014). Conn's Current Therapy 2015. Elsevier Health Sciences. hlm.ย 153. ISBNย 978-0-323-31956-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 September 2017.
- ^ a b c d e "Kemenkes Waspadai Dinamika Campak Nasional dan Global". Kemenkes. 26 Februari 2026. Diakses tanggal 10 Maret 2026.
- ^ a b c d "Waspada Campak Jelang Libur Lebaran, Kemenkes Percepat Imunisasi Anak di Wilayah Risiko". Kemenkes. 7 Maret 2026. Diakses tanggal 10 Maret 2026.
- ^ "More than 140,000 die from measles as cases surge worldwide". World Health Organization (WHO) (Press release). 5 Desember 2019. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 Agustus 2020. Diakses tanggal 4 September 2020.
- ^ "Global Measles Outbreaks". U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). 17 Agustus 2020. Diarsipkan dari asli tanggal 7 September 2020. Diakses tanggal 4 September 2020.
- ^ Douglas Harper (n.d.). "measles (n.)". Online Etymology Dictionary. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 September 2024. Diakses tanggal 14 September 2024.
- ^ "measles". Oxford English Dictionary. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 September 2023. Diakses tanggal 10 April 2025.
- ^ Guerra, Fiona M.; Bolotin, Shelly; Lim, Gillian; Heffernan, Jane; Deeks, Shelley L.; Li, Ye; Crowcroft, Natasha S. (Desember 2017). "The basic reproduction number (R0) of measles: a systematic review". The Lancet. Infectious Diseases. 17 (12): e420 โ e428. doi:10.1016/S1473-3099(17)30307-9. ISSNย 1474-4457. PMIDย 28757186.
- ^ Delamater, P. L.; Street, E. J.; Leslie, T. F.; Yang, Y. T.; Jacobsen, K. H. (2019). "Complexity of the Basic Reproduction Number (R0)". Emerging Infectious Diseases. 25 (1). NIH website: 1โ4. doi:10.3201/eid2501.171901. PMCย 6302597. PMIDย 30560777.
[a] review in 2017 identified feasible measles R0 values of 3.7โ203.3
- ^ a b c d e Selina, SP; Chen, MD (6 Juni 2019). Measles (Report). Medscape. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 September 2011.
- ^ a b c "Measles". World Health Organization (WHO). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 April 2025. Diakses tanggal 30 April 2025.
- ^ a b Russell, SJ; Babovic-Vuksanovic, D; Bexon, A; Cattaneo, R; Dingli, D; Dispenzieri, A; Deyle, DR; Federspiel, MJ; Fielding, A; Galanis, E (September 2019). "Oncolytic Measles Virotherapy and Opposition to Measles Vaccination". Mayo Clinic Proceedings. 94 (9): 1834โ39. doi:10.1016/j.mayocp.2019.05.006. PMCย 6800178. PMIDย 31235278.
- ^ a b c d Ludlow M, McQuaid S, Milner D, de Swart RL, Duprex WP (Januari 2015). "Pathological consequences of systemic measles virus infection". The Journal of Pathology. 235 (2): 253โ65. doi:10.1002/path.4457. PMIDย 25294240.
- ^ a b Kabra SK, Lodha R (Agustus 2013). "Antibiotics for preventing complications in children with measles". The Cochrane Database of Systematic Reviews. 2013 (8): CD001477. doi:10.1002/14651858.CD001477.pub4. PMCย 7055587. PMIDย 23943263.
- ^ "Despite the availability of a safe, effective and inexpensive vaccine for more than 40 years, measles remains a leading vaccine-preventable cause of childhood deaths" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 12 Desember 2019. Diakses tanggal 16 Februari 2019.
- ^ GBD 2015 Mortality and Causes of Death Collaborators (Oktober 2016). "Global, regional, and national life expectancy, all-cause mortality, and cause-specific mortality for 249 causes of death, 1980-2015: a systematic analysis for the Global Burden of Disease Study 2015". Lancet. 388 (10053): 1459โ1544. doi:10.1016/S0140-6736(16)31012-1. PMCย 5388903. PMIDย 27733281.
- ^ GBD 2013 Mortality Causes of Death Collaborators (Januari 2015). "Global, regional, and national age-sex specific all-cause and cause-specific mortality for 240 causes of death, 1990-2013: a systematic analysis for the Global Burden of Disease Study 2013". Lancet. 385 (9963): 117โ71. doi:10.1016/S0140-6736(14)61682-2. PMCย 4340604. PMIDย 25530442.
- ^ "Measles cases spike globally due to gaps in vaccination coverage". World Health Organization (WHO). 29 November 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 Desember 2018. Diakses tanggal 21 Desember 2018.
- ^ "U.S. measles cases surge nearly 20 percent in early April, CDC says". Reuters. 16 April 2019. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 April 2019. Diakses tanggal 16 April 2019.
- ^ "Measles โ European Region". World Health Organization (WHO). Diarsipkan dari asli tanggal 8 Mei 2019. Diakses tanggal 8 Mei 2019.
- ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w Do, LA; Mulholland, K (17 Desember 2025). "Measles 2025". New England Journal of Medicine. 393 (24): 2447โ2458. doi:10.1056/NEJMra2504516. ISSNย 0028-4793.
- ^ Biesbroeck L, Sidbury R (November 2013). "Viral exanthems: an update". Dermatologic Therapy. 26 (6): 433โ8. doi:10.1111/dth.12107. PMIDย 24552405. S2CIDย 10496269.
- ^ a b c d e f g h i "Measles". U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 Oktober 2016. Diakses tanggal 22 Oktober 2016.
- ^ Ellison JB (Februari 1931). "Pneumonia in Measles". Archives of Disease in Childhood. 6 (31): 37โ52. doi:10.1136/adc.6.31.37. PMCย 1975146. PMIDย 21031836.
- ^ Fisher DL, Defres S, Solomon T (Maret 2015). "Measles-induced encephalitis". QJM. 108 (3): 177โ82. doi:10.1093/qjmed/hcu113. PMIDย 24865261.
- ^ Semba RD, Bloem MW (Maret 2004). "Measles blindness". Survey of Ophthalmology. 49 (2): 243โ55. doi:10.1016/j.survophthal.2003.12.005. PMIDย 14998696.
- ^ National Institutes of Health Office of Dietary Supplements (2013). "Vitamin A". U.S. Department of Health & Human Services. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 Maret 2015. Diakses tanggal 11 Maret 2015.
- ^ a b Perry RT, Halsey NA (Mei 2004). "The clinical significance of measles: a review". The Journal of Infectious Diseases. 189 Suppl 1 (S1): S4-16. doi:10.1086/377712. PMIDย 15106083.
- ^ Sension MG, Quinn TC, Markowitz LE, Linnan MJ, Jones TS, Francis HL, Nzilambi N, Duma MN, Ryder RW (Desember 1988). "Measles in hospitalized African children with human immunodeficiency virus". American Journal of Diseases of Children. 142 (12): 1271โ2. doi:10.1001/archpedi.1988.02150120025021. PMIDย 3195521.
- ^ a b c d Griffin, AH (18 Mei 2019). "Measles and Immune Amnesia". asm.org. American Society for Microbiology. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 Januari 2020. Diakses tanggal 18 Januari 2020.
- ^ a b c Mina MJ, Kula T, Leng Y, Li M, de Vries RD, Knip M, Siljander H, Rewers M, Choy DF, Wilson MS, Larman HB, Nelson AN, Griffin DE, de Swart RL, Elledge SJ (1 November 2019). "Measles virus infection diminishes preexisting antibodies that offer protection from other pathogens". Science. 366 (6465): 599โ606. Bibcode:2019Sci...366..599M. doi:10.1126/science.aay6485. hdl:10138/307628. ISSNย 0036-8075. PMCย 8590458. PMIDย 31672891.
- ^ a b Guglielmi, Giorgia (31 Oktober 2019). "Measles erases immune 'memory' for other diseases". Nature. doi:10.1038/d41586-019-03324-7. PMIDย 33122832. S2CIDย 208489179. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 November 2019. Diakses tanggal 3 November 2019.
- ^ Mina MJ, Metcalf CJ, de Swart RL, Osterhaus AD, Grenfell BT (Mei 2015). "Long-term measles-induced immunomodulation increases overall childhood infectious disease mortality". Science. 348 (6235): 694โ9. Bibcode:2015Sci...348..694M. doi:10.1126/science.aaa3662. PMCย 4823017. PMIDย 25954009.
- ^ Bakalar, Nicholas (7 Mei 2015). "Measles May Increase Susceptibility to Other Infections". The New York Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 Mei 2015. Diakses tanggal 7 Juni 2015.
- ^ Griffin DE (Juli 2010). "Measles virus-induced suppression of immune responses". Immunological Reviews. 236: 176โ89. doi:10.1111/j.1600-065X.2010.00925.x. PMCย 2908915. PMIDย 20636817.
- ^ a b c d e Hรผbschen, Judith M.; Gouandjika-Vasilache, Ionela; Dina, Julia (12 Februari 2022). "Measles". Lancet. 399 (10325): 678โ690. doi:10.1016/S0140-6736(21)02004-3. ISSNย 1474-547X. PMIDย 35093206.
- ^ a b c d e f Bester, JC (Desember 2016). "Measles and Measles Vaccination: A Review". JAMA Pediatrics. 170 (12): 1209โ15. doi:10.1001/jamapediatrics.2016.1787. ISSNย 2168-6203. PMIDย 27695849.
- ^ Banerjee E, Griffith J, Kenyon C, Christianson B, Strain A, Martin K, etย al. (2020). "Containing a measles outbreak in Minnesota, 2017: methods and challenges". Perspect Public Health. 140 (3): 162โ171. doi:10.1177/1757913919871072. PMIDย 31480896. S2CIDย 201829328.
- ^ Spelman LH, Gilardi KV, Lukasik-Braum M, Kinani JF, Nyirakaragire E, Lowenstine LJ, etย al. (2013). "Respiratory disease in mountain gorillas (Gorilla beringei beringei) in Rwanda, 1990-2010: outbreaks, clinical course, and medical management". J Zoo Wildl Med. 44 (4): 1027โ35. doi:10.1638/2013-0014R.1. PMIDย 24450064.
- ^ Gowda VK, Sukanya V (November 2012). "Acquired immunodeficiency syndrome with subacute sclerosing panencephalitis". Pediatric Neurology. 47 (5): 379โ81. doi:10.1016/j.pediatrneurol.2012.06.020. PMIDย 23044024.
- ^ Waggoner JJ, Soda EA, Deresinski S (Oktober 2013). "Rare and emerging viral infections in transplant recipients". Clinical Infectious Diseases. 57 (8): 1182โ8. doi:10.1093/cid/cit456. PMCย 7107977. PMIDย 23839998.
- ^ Leuridan E, Sabbe M, Van Damme P (September 2012). "Measles outbreak in Europe: susceptibility of infants too young to be immunized". Vaccine. 30 (41): 5905โ13. doi:10.1016/j.vaccine.2012.07.035. PMIDย 22841972.
- ^ Ewing Jr., Edwin P. (1972). "This photomicrograph of a lung tissue specimen, reveals the histopathologic changes encountered in a case of measles pneumonia. Included in this view, are numerous leukocytes, and a multinucleated giant cell. Normal alveolar cytoarchitecture has been obliterated". CDC, Public Health Image Library. U.S. Government. 859. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 Desember 2023. Diakses tanggal 16 Januari 2024.
- ^ Rainwater-Lovett, Kaitlin; Moss, William J. (2018), Jameson, J. Larry; Fauci, Anthony S.; Kasper, Dennis L.; Hauser, Stephen L. (ed.), "Measles (Rubeola)", Harrison's Principles of Internal Medicine (Edisi 20), New York, NY: McGraw-Hill Education, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 September 2020, diakses tanggal 7 Desember 2020
- ^ Baxby D (Juli 1997). "The diagnosis of the invasion of measles from a study of the exanthema as it appears on the buccal mucous membraneBy Henry Koplik, M.D. Reproduced from Arch. Paed. 13, 918-922 (1886)". Reviews in Medical Virology. 7 (2): 71โ74. doi:10.1002/(SICI)1099-1654(199707)7:2<71::AID-RMV185>3.0.CO;2-S. PMIDย 10398471. S2CIDย 42670134.
- ^ a b "Surveillance Manual | Measles | Vaccine Preventable Diseases". U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). 23 Mei 2019. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 Agustus 2020. Diakses tanggal 25 November 2019.
- ^ a b Friedman M, Hadari I, Goldstein V, Sarov I (Oktober 1983). "Virus-specific secretory IgA antibodies as a means of rapid diagnosis of measles and mumps infection". Israel Journal of Medical Sciences. 19 (10): 881โ4. PMIDย 6662670.
- ^ a b c Dimech, Wayne; Mulders, Mick N. (Juli 2016). "A review of testing used in seroprevalence studies on measles and rubella". Vaccine. 34 (35): 4119โ4122. doi:10.1016/j.vaccine.2016.06.006. PMIDย 27340096.
- ^ a b Simon, Jakub K.; Ramirez, Karina; Cuberos, Lilian; Campbell, James D.; Viret, Jean F.; Muรฑoz, Alma; Lagos, Rosanna; Levine, Myron M.; Pasetti, Marcela F. (Maret 2011). "Mucosal IgA Responses in Healthy Adult Volunteers following Intranasal Spray Delivery of a Live Attenuated Measles Vaccine". Clinical and Vaccine Immunology. 18 (3): 355โ361. doi:10.1128/CVI.00354-10. PMCย 3067370. PMIDย 21228137.
- ^ a b Weisenberg, Elliot (9 Agustus 2022). "Measles". PathologyOutlines.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 Juni 2024. Diakses tanggal 9 April 2025.
- ^ Rezaie, Salim R. "Measles: The Sequel". Emergency Physicians Monthly. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 Juni 2019. Diakses tanggal 7 Juni 2019.
- ^ a b c World Health Organization (April 2017). "Measles vaccines: WHO position paper โ April 2017". Weekly Epidemiological Record. 92 (17): 205โ27. hdl:10665/255377. PMIDย 28459148.
- ^ "Frequently Asked Questions about Measles". Washington State Department of Health. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 Agustus 2019. Diakses tanggal 10 Februari 2019.
[Vitamin A] cannot prevent or cure the measles
- ^ Huiming Y, Chaomin W, Meng M (Oktober 2005). Yang H (ed.). "Vitamin A for treating measles in children". The Cochrane Database of Systematic Reviews. 2005 (4): CD001479. doi:10.1002/14651858.CD001479.pub3. PMCย 7076287. PMIDย 16235283.
- ^ a b c Rosenbluth, Teddy (25 Maret 2025). "For Some Measles Patients, Vitamin A Remedy Supported by RFK Jr. Leaves Them More Ill". The New York Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 Maret 2025. Diakses tanggal 26 Maret 2025.
- ^ a b Davies, David Martin (28 Maret 2025). "West Texas children treated for vitamin A toxicity as medical disinformation spreads alongside measles outbreak". TPR. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 April 2025. Diakses tanggal 28 Maret 2025.
- ^ Awotiwon AA, Oduwole O, Sinha A, Okwundu CI (Juni 2017). "Zinc supplementation for the treatment of measles in children". The Cochrane Database of Systematic Reviews. 2017 (6): CD011177. doi:10.1002/14651858.CD011177.pub3. PMCย 6481361. PMIDย 28631310.
- ^ Chen, Shou; Wu, Taixiang; Kong, Xiangyu; Yuan, Hao (9 November 2011). "Chinese medicinal herbs for measles". The Cochrane Database of Systematic Reviews. 2011 (11): CD005531. doi:10.1002/14651858.CD005531.pub4. ISSNย 1469-493X. PMCย 7265114. PMIDย 22071825.
- ^ a b "Management of ObstetricโGynecologic Patients During a Measles Outbreak". www.acog.org. Diakses tanggal 21 Maret 2025.
- ^ "Measles Complications". U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). 25 Februari 2019. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 November 2019. Diakses tanggal 14 Mei 2019.
- ^ Di Pietrantonj, Carlo; Rivetti, Alessandro; Marchione, Pasquale; Debalini, Maria Grazia; Demicheli, Vittorio (22 November 2021). "Vaccines for measles, mumps, rubella, and varicella in children". The Cochrane Database of Systematic Reviews. 2021 (11) CD004407. doi:10.1002/14651858.CD004407.pub5. ISSNย 1469-493X. PMCย 8607336. PMIDย 34806766.
- ^ Cohen BE, Durstenfeld A, Roehm PC (Juli 2014). "Viral causes of hearing loss: a review for hearing health professionals". Trends in Hearing. 18 2331216514541361. doi:10.1177/2331216514541361. PMCย 4222184. PMIDย 25080364.
- ^ Noyce RS, Richardson CD (September 2012). "Nectin 4 is the epithelial cell receptor for measles virus". Trends in Microbiology. 20 (9): 429โ39. doi:10.1016/j.tim.2012.05.006. PMIDย 22721863.
- ^ Subacute Sclerosing Panencephalitis pada NINDS
- ^ Centers for Disease Control (CDC) (Mei 1982). "Recommendation of the Immunization Practices Advisory Committee (ACIP). Measles prevention". MMWR. Morbidity and Mortality Weekly Report. 31 (17): 217โ24, 229โ31. PMIDย 6804783. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 Februari 2021. Diakses tanggal 10 Mei 2019.
- ^ Bartlett, M.S. (1957). "Measles periodicity and community size". J. R. Stat. Soc. Ser. A (120): 48โ70.
- ^ Lozano R, Naghavi M, Foreman K, Lim S, Shibuya K, Aboyans V, Abraham J, Adair T, Aggarwal R, Ahn SY, Alvarado M, Anderson HR, Anderson LM, Andrews KG, Atkinson C, Baddour LM, Barker-Collo S, Bartels DH, Bell ML, Benjamin EJ, Bennett D, Bhalla K, Bikbov B, Bin Abdulhak A, Birbeck G, Blyth F, Bolliger I, Boufous S, Bucello C, Burch M, Burney P, Carapetis J, Chen H, Chou D, Chugh SS, Coffeng LE, Colan SD, Colquhoun S, Colson KE, Condon J, Connor MD, Cooper LT, Corriere M, Cortinovis M, de Vaccaro KC, Couser W, Cowie BC, Criqui MH, Cross M, Dabhadkar KC, Dahodwala N, De Leo D, Degenhardt L, Delossantos A, Denenberg J, Des Jarlais DC, Dharmaratne SD, Dorsey ER, Driscoll T, Duber H, Ebel B, Erwin PJ, Espindola P, Ezzati M, Feigin V, Flaxman AD, Forouzanfar MH, Fowkes FG, Franklin R, Fransen M, Freeman MK, Gabriel SE, Gakidou E, Gaspari F, Gillum RF, Gonzalez-Medina D, Halasa YA, Haring D, Harrison JE, Havmoeller R, Hay RJ, Hoen B, Hotez PJ, Hoy D, Jacobsen KH, James SL, Jasrasaria R, Jayaraman S, Johns N, Karthikeyan G, Kassebaum N, Keren A, Khoo JP, Knowlton LM, Kobusingye O, Koranteng A, Krishnamurthi R, Lipnick M, Lipshultz SE, Ohno SL, Mabweijano J, MacIntyre MF, Mallinger L, March L, Marks GB, Marks R, Matsumori A, Matzopoulos R, Mayosi BM, McAnulty JH, McDermott MM, McGrath J, Mensah GA, Merriman TR, Michaud C, Miller M, Miller TR, Mock C, Mocumbi AO, Mokdad AA, Moran A, Mulholland K, Nair MN, Naldi L, Narayan KM, Nasseri K, Norman P, O'Donnell M, Omer SB, Ortblad K, Osborne R, Ozgediz D, Pahari B, Pandian JD, Rivero AP, Padilla RP, Perez-Ruiz F, Perico N, Phillips D, Pierce K, Pope CA, Porrini E, Pourmalek F, Raju M, Ranganathan D, Rehm JT, Rein DB, Remuzzi G, Rivara FP, Roberts T, De Leรณn FR, Rosenfeld LC, Rushton L, Sacco RL, Salomon JA, Sampson U, Sanman E, Schwebel DC, Segui-Gomez M, Shepard DS, Singh D, Singleton J, Sliwa K, Smith E, Steer A, Taylor JA, Thomas B, Tleyjeh IM, Towbin JA, Truelsen T, Undurraga EA, Venketasubramanian N, Vijayakumar L, Vos T, Wagner GR, Wang M, Wang W, Watt K, Weinstock MA, Weintraub R, Wilkinson JD, Woolf AD, Wulf S, Yeh PH, Yip P, Zabetian A, Zheng ZJ, Lopez AD, Murray CJ, AlMazroa MA, Memish ZA (Desember 2012). "Global and regional mortality from 235 causes of death for 20 age groups in 1990 and 2010: a systematic analysis for the Global Burden of Disease Study 2010". Lancet. 380 (9859): 2095โ128. doi:10.1016/S0140-6736(12)61728-0. hdl:10536/DRO/DU:30050819. PMCย 10790329. PMIDย 23245604. S2CIDย 1541253. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 Mei 2020. Diakses tanggal 14 Maret 2020.
- ^ "Measles Data and Statistics" (PDF). Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 10 Agustus 2019. Diakses tanggal 15 Agustus 2019.
- ^ "Measles notifications and deaths in England and Wales: 1940 to 2017". GOV.UK. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 Juli 2019. Diakses tanggal 1 Oktober 2019.
- ^ "Complications of measles". U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). 3 November 2014. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 Januari 2015. Diakses tanggal 7 November 2014.
- ^ "GHO | By category | Measles - Reported cases by WHO region". World Health Organization (WHO). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 November 2023. Diakses tanggal 6 Oktober 2023.
- ^ "UNICEF Joint Press Release". Diarsipkan dari asli tanggal 4 Februari 2015.
- ^ World Health Organization (Desember 2009). "Global reductions in measles mortality 2000-2008 and the risk of measles resurgence". Weekly Epidemiological Record. 84 (49): 509โ16. hdl:10665/241466. PMIDย 19960624.
- ^ "More than 140,000 die from measles as cases surge worldwide". World Health Organization (WHO) (Press release). 5 Desember 2019. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 Agustus 2020. Diakses tanggal 12 Desember 2019.
- ^ a b Brown, Kevin E.; Rota, Paul A.; Goodson, James L.; Williams, David; Abernathy, Emily; Takeda, Makoto; Mulders, Mick N. (5 Juli 2019). "Genetic Characterization of Measles and Rubella Viruses Detected Through Global Measles and Rubella Elimination Surveillance, 2016โ2018". MMWR. Morbidity and Mortality Weekly Report. 68 (26): 587โ591. doi:10.15585/mmwr.mm6826a3. PMCย 6613570. PMIDย 31269012.
- ^ "New measles surveillance data for 2019" (Press release). World Health Organization (WHO). 15 April 2019. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 Juni 2019. Diakses tanggal 4 Juni 2019.
- ^ a b Patel, Minal K.; Goodson, James L.; Alexander, James P.; Kretsinger, Katrina; Sodha, Samir V.; Steulet, Claudia; Gacic-Dobo, Marta; Rota, Paul A.; McFarland, Jeffrey; Menning, Lisa; Mulders, Mick N. (13 November 2020). "Progress Toward Regional Measles Elimination โ Worldwide, 2000โ2019". MMWR. Morbidity and Mortality Weekly Report. 69 (45): 1700โ1705. doi:10.15585/mmwr.mm6945a6. ISSNย 0149-2195. PMCย 7660667. PMIDย 33180759. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 Maret 2023. Diakses tanggal 7 Desember 2020.
- ^ "At least 80 million children under one at risk of diseases such as diphtheria, measles and polio as COVID-19 disrupts routine vaccination efforts, warn Gavi, WHO and UNICEF". World Health Organization (WHO) (Press release). 22 Mei 2020. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 April 2023. Diakses tanggal 25 Juni 2022.
- ^ "More than half the world faces high measles risk, WHO says". The Straits Times. 21 Februari 2024. ISSNย 0585-3923. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 Februari 2024. Diakses tanggal 21 Februari 2024.
- ^ a b Minta, Anna A. (2024). "Progress Toward Measles Elimination โ Worldwide, 2000โ2023". MMWR. Morbidity and Mortality Weekly Report. 73 (45): 1036โ1042. doi:10.15585/mmwr.mm7345a4. ISSNย 0149-2195. PMCย 11576049. PMIDย 39541251.
- ^ a b Christensen, Jen (14 November 2024). "Measles is debilitating and deadly, and cases are surging, WHO and CDC warn". CNN. Diakses tanggal 16 November 2024.
- ^ a b c "Kesehatan: Kasus campak melonjak di Indonesia, dampak masyarakat percaya narasi antivaksin?". BBC News Indonesia. 9 Maret 2026. Diakses tanggal 4 Mei 2026.
- ^ "Kasus Campak di Indonesia Meningkat, Mari Cegah dengan Vaksinasi Campak". Kalbemed. Diakses tanggal 24 April 2026.
- ^ Quแปc Thanh (30 Mei 2014). "Bแป Y tแบฟ: "VN ฤรฃ phแบฃn แปฉng rแบฅt nhanh ฤแปi vแปi dแปch sแปi"" [Ministry of Health: "Vietnam has responded very quickly to measles"] (dalam bahasa Vietnam). Tuแปi Trแบป. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 31 Mei 2014. Diakses tanggal 19 April 2014.
- ^ "Philippines measles update: Nearly 600 cases in 2 days". Outbreak News Today. 26 Maret 2019. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 Agustus 2019. Diakses tanggal 30 Agustus 2019.
- ^ "50 years of measles vaccination in the UK". Public Health England. Diarsipkan dari asli tanggal 4 November 2020. Diakses tanggal 15 Mei 2020.
- ^ Elizabeth Whitman (13 Maret 2015). "Who Is Stefan Lanka? Court Orders German Measles Denier To Pay 100,000 Euros". International Business Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 April 2015. Diakses tanggal 31 Maret 2015.
- ^ "Europe observes a 4-fold increase in measles cases in 2017 compared to previous year". World Health Organization (WHO) (Press release). 19 Februari 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 Februari 2018. Diakses tanggal 22 Februari 2018.
- ^ "WHO EpiData" (PDF). World Health Organization (WHO). Februari 2019. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 29 Maret 2019. Diakses tanggal 27 Maret 2019.
- ^ a b "Measles in Europe: record number of both sick and immunized" (Press release). World Health Organization (WHO). 7 Februari 2019. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 Februari 2019. Diakses tanggal 27 Maret 2019.
- ^ a b "European Region loses ground in effort to eliminate measles". World Health Organization (WHO) (Press release). 29 Agustus 2019. Diarsipkan dari asli tanggal 14 April 2020. Diakses tanggal 31 Agustus 2019.
- ^ "European Region reports highest number of measles cases in more than 25 years โ UNICEF, WHO/Europe". unicef.org. UNICEF. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 Maret 2025. Diakses tanggal 15 Maret 2025.
- ^ "Region of the Americas is declared free of measles". Pan American Health Organization. 29 September 2016. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 September 2016. Diakses tanggal 30 September 2016.
- ^ "Measles spreads again in the Americas". MercoPress. 28 Maret 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 Juli 2018. Diakses tanggal 4 Juli 2018.
- ^ a b "CDC Media Statement: Measles cases in the U.S. are highest since measles was eliminated in 2000". U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) (Press release). 26 April 2019. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 Juli 2020. Diakses tanggal 2 Mei 2019.
- ^ a b c "Measles Cases and Outbreaks". U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). 6 Januari 2020. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 November 2019. Diakses tanggal 6 Januari 2020.
Artikel ini memuat teks dari sumber tersebut, yang berada dalam ranah publik.
- ^ "Measles". Alberta.ca. Diakses tanggal 27 Agustus 2025.
- ^ "Alberta health experts warn of possible measles resurgence as kids head back to school". Global News. 25 Agustus 2025. Diakses tanggal 27 Agustus 2025.
- ^ Orenstein WA, Papania MJ, Wharton ME (Mei 2004). "Measles elimination in the United States". The Journal of Infectious Diseases. 189 (Supplement 1): S1-3. doi:10.1086/377693. PMIDย 15106120.
Figure 1: Reported US measles incidence, 1950โ2001.
- ^ a b Papania MJ, Wallace GS, Rota PA, Icenogle JP, Fiebelkorn AP, Armstrong GL, Reef SE, Redd SB, Abernathy ES, Barskey AE, Hao L, McLean HQ, Rota JS, Bellini WJ, Seward JF (Februari 2014). "Elimination of endemic measles, rubella, and congenital rubella syndrome from the Western hemisphere: the US experience". JAMA Pediatrics. 168 (2): 148โ55. doi:10.1001/jamapediatrics.2013.4342. PMIDย 24311021.
- ^ Centers for Disease Control Prevention (CDC) (Februari 2008). "Multistate measles outbreak associated with an international youth sporting event--Pennsylvania, Michigan, and Texas, August-September 2007". MMWR. Morbidity and Mortality Weekly Report. 57 (7): 169โ73. PMIDย 18288074. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 Oktober 2020. Diakses tanggal 1 Februari 2018.
- ^ "Measles kills first patient in 12 years". USA Today. 2 Juli 2015. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 Juli 2015. Diakses tanggal 2 Juli 2015.
- ^ "First Measles Death in US Since 2003 Highlights the Unknown Vulnerables โ Phenomena: Germination". National Geographic Society. 2 Juli 2015. Diarsipkan dari asli tanggal 31 Mei 2020. Diakses tanggal 13 Mei 2020.
- ^ "First Measles Death In 12 Years Renews Vaccination Concerns". NPR. 6 Juli 2015. Diarsipkan dari asli tanggal 24 Desember 2019. Diakses tanggal 23 April 2019.
- ^ "Washington state is averaging more than one measles case per day in 2019". NBC News. 4 Februari 2019. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 Februari 2019. Diakses tanggal 5 Februari 2019.
- ^ "Amid Measles Outbreak, Anti-Vaxx Parents Have Put Others' Babies At Risk". MSN. Diarsipkan dari asli tanggal 30 Maret 2019. Diakses tanggal 5 Februari 2019.
- ^ Belluz, Julia (27 Januari 2019). "Washington declared a public health emergency over measles. Thank vaccine-refusing parents". Vox. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 Februari 2019. Diakses tanggal 5 Februari 2019.
- ^ Gander, Kashmira (28 Januari 2019). ""Dangerous" anti-vaxx warning issued by Washington officials as cases in measles outbreak continue to rise". Newsweek. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 Februari 2019. Diakses tanggal 5 Februari 2019.
- ^ a b Howard, Jacqueline; Goldschmidt, Debra (24 April 2019). "US measles outbreak is largest since disease was declared eliminated in 2000". CNN. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 April 2019. Diakses tanggal 24 April 2019.
- ^ Alltucker, Ken (11 Februari 2019). "A quarter of all kindergartners in Washington county aren't immunized. Now there's a measles crisis". USA Today. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 Februari 2019. Diakses tanggal 11 Februari 2019.
- ^ Goldstein-Street, Jake (28 Januari 2019). "Amid measles outbreak, legislation proposed to ban vaccine exemptions". The Seattle Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 Januari 2019. Diakses tanggal 28 Januari 2019.
- ^ Tanne JH (April 2019). "New York City mayor declares measles public health emergency". BMJ. 365 l1724. doi:10.1136/bmj.l1724. PMIDย 30971409. S2CIDย 145979493.
- ^ "Measles Cases and Outbreaks". U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). 29 September 2023. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 Mei 2024. Diakses tanggal 6 Oktober 2023.
- ^ Mukherjee, Neha (26 Februari 2025). "Child in West Texas is first US measles death in a decade". CNN. Diakses tanggal 26 Februari 2025.
- ^ IANS (29 Maret 2025). "Measles outbreak 2025: US cases surge past 2024 total". Gulf News. Diakses tanggal 30 Maret 2025.
- ^ Government of Samoa (22 Desember 2019). "National Emergency Operation Centre, update on the measles outbreak: (press release 36) 22 December, 2019". @samoagovt. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 Januari 2020. Diakses tanggal 22 Desember 2019.
- ^ "Nearly 5,000 dead in world's worst measles outbreak". 21 November 2019. Diarsipkan dari asli tanggal 11 Februari 2020. Diakses tanggal 23 November 2019.
- ^ Ratcliffe, Rebecca (22 November 2019). "Children bear the brunt as the world's biggest measles epidemic sweeps Congo". The Guardian. ISSNย 0261-3077. Diarsipkan dari asli tanggal 7 Mei 2020. Diakses tanggal 23 November 2019.
- ^ "Measles and Rubella Surveillance Data". World Health Organization (WHO). Diarsipkan dari asli tanggal 3 Mei 2020. Diakses tanggal 23 November 2019.
- ^ a b c d McLean HQ, Fiebelkorn AP, Temte JL, Wallace GS (Juni 2013). "Prevention of measles, rubella, congenital rubella syndrome, and mumps, 2013: summary recommendations of the Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP)" (PDF). MMWR. Recommendations and Reports. 62 (RR-04): 2, 19. PMIDย 23760231. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 13 April 2020.
- ^ Galindo BM, Concepciรณn D, Galindo MA, Pรฉrez A, Saiz J (Januari 2012). "Vaccine-related adverse events in Cuban children, 1999-2008". MEDICC Review. 14 (1): 38โ43. doi:10.37757/MR2012V14.N1.8. PMIDย 22334111.
- ^ Helfand RF, Witte D, Fowlkes A, Garcia P, Yang C, Fudzulani R, Walls L, Bae S, Strebel P, Broadhead R, Bellini WJ, Cutts F (November 2008). "Evaluation of the immune response to a 2-dose measles vaccination schedule administered at 6 and 9 months of age to HIV-infected and HIV-uninfected children in Malawi". The Journal of Infectious Diseases. 198 (10): 1457โ65. doi:10.1086/592756. PMIDย 18828743.
- ^ "Global goal to reduce measles deaths in children surpassed" (Press release). UNICEF. 2007. Diarsipkan dari asli tanggal 4 Februari 2015. Diakses tanggal 11 Maret 2015.
- ^ "Plan for Travel". Measles (Rubeola). 15 Juli 2024. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 April 2025. Diakses tanggal 3 Mei 2025.
- ^ "Measles Prevention: Recommendations of the Immunization Practices Advisory Committee (ACIP)". U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). 29 Desember 1989. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 Mei 2012. Diakses tanggal 13 November 2020.
- ^ a b Di Pietrantonj, Carlo; Rivetti, Alessandro; Marchione, Pasquale; Debalini, Maria Grazia; Demicheli, Vittorio (22 November 2021). "Vaccines for measles, mumps, rubella, and varicella in children". The Cochrane Database of Systematic Reviews. 2021 (11) CD004407. doi:10.1002/14651858.CD004407.pub5. ISSNย 1469-493X. PMCย 8607336. PMIDย 34806766.
- ^ a b Young, MK; Nimmo, GR; Cripps, AW; Jones, MA (April 2014). "Post-exposure passive immunisation for preventing measles". Cochrane Database of Systematic Reviews. 2014 (4) CD010056. doi:10.1002/14651858.cd010056.pub2. hdl:10072/65474. ISSNย 1465-1858. PMCย 11055624. PMIDย 24687262.
- ^ a b Imdad A, Mayo-Wilson E, Haykal MR, Regan A, Sidhu J, Smith A, Bhutta ZA (Maret 2022). "Vitamin A supplementation for preventing morbidity and mortality in children from six months to five years of age". Cochrane Database of Systematic Reviews. 3 (3) CD008524. doi:10.1002/14651858.CD008524.pub4. PMCย 8925277. PMIDย 35294044.
- ^ a b c d "Office of Dietary Supplements - Vitamin A and Carotenoids". ods.od.nih.gov. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 Desember 2016. Diakses tanggal 8 April 2025.
- ^ Bello S, Meremikwu MM, Ejemot-Nwadiaro RI, Oduwole O (Agustus 2016). "Routine vitamin A supplementation for the prevention of blindness due to measles infection in children". Cochrane Database of Systematic Reviews (8) CD007719. doi:10.1002/14651858.CD007719.pub4. PMCย 8483617. PMIDย 27580345.
- ^ Fischman, Josh (5 Mei, 2025). "Do 'alternative' measles treatments touted by RFK Jr. work?". Scientific American (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-05-09.
- ^ a b c Furuse Y, Suzuki A, Oshitani H (Maret 2010). "Origin of measles virus: divergence from rinderpest virus between the 11th and 12th centuries". Virology Journal. 7 52. doi:10.1186/1743-422X-7-52. PMCย 2838858. PMIDย 20202190.
- ^ Dรผx, Ariane; Lequime, Sebastian; Patrono, Livia Victoria; Vrancken, Bram; Boral, Sengรผl; Gogarten, Jan F.; Hilbig, Antonia; Horst, David; Merkel, Kevin; Prepoint, Baptiste; Santibanez, Sabine; Schlotterbeck, Jasmin; Suchard, Marc A.; Ulrich, Markus; Widulin, Navena; Mankertz, Annette; Leendertz, Fabian H.; Harper, Kyle; Schnalke, Thomas; Lemey, Philippe; Calvignac-Spencer, Sรฉbastien (30 Desember 2019). "The history of measles: from a 1912 genome to an antique origin". bioRxiv 2019.12.29.889667. doi:10.1101/2019.12.29.889667.
- ^ Kupferschmidt, Kai (30 Desember 2019). "Measles may have emerged when large cities rose, 1500 years earlier than thought". Science. doi:10.1126/science.aba7352. S2CIDย 214470603.
- ^ Kesimpulan H. Haeser, dalam Lehrbuch der Geschichte der Medicin und der epidemischen Krankenheiten III:24โ33 (1882), diikuti oleh Zinsser pada tahun 1935.
- ^ Cohen SG (Februari 2008). "Measles and immunomodulation". The Journal of Allergy and Clinical Immunology. 121 (2): 543โ4. doi:10.1016/j.jaci.2007.12.1152. PMIDย 18269930. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 Desember 2020. Diakses tanggal 6 September 2019.
- ^ Black FL (Juli 1966). "Measles endemicity in insular populations: critical community size and its evolutionary implication". Journal of Theoretical Biology. 11 (2): 207โ11. Bibcode:1966JThBi..11..207B. doi:10.1016/0022-5193(66)90161-5. PMIDย 5965486.
- ^ Sullivan, Patricia (13 April 2005). "Maurice R. Hilleman Dies; Created Vaccines". The Washington Post. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 Oktober 2012. Diakses tanggal 7 Januari 2020.
- ^ Byrne, Joseph Patrick (2008). Encyclopedia of Pestilence, Pandemics, and Plagues: AโM. ABC-CLIO. hlm.ย 413. ISBNย 978-0-313-34102-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 November 2013.
- ^ a b c d Harper, Kyle (11 Maret 2020). "What Makes Viruses Like COVID-19 Such a Risk for Human Beings? The Answer Goes Back Thousands of Years". Time. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 Maret 2023. Diakses tanggal 18 November 2020.
- ^ "Migration and Disease". Digital History.
- ^ "Our History". Fiji National University. Diarsipkan dari asli tanggal 10 April 2015.
- ^ Bhaumik, Subir (16 Mei 2006). "Measles hits rare Andaman tribe". BBC News Online. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 Agustus 2011.
- ^ Crum, Frederick S (April 1914). "A Statistical Study of Measles". American Journal of Public Health. IV (4): 289โ309. doi:10.2105/AJPH.4.4.289-a. PMCย 1286334. PMIDย 18009016.
- ^ Baker, Jeffrey P. (1 September 2011). "The First Measles Vaccine". Pediatrics. 128 (3): 435โ437. doi:10.1542/peds.2011-1430. ISSNย 0031-4005. PMIDย 21873696. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 Agustus 2022. Diakses tanggal 21 April 2025.
- ^ Offit PA (2007). Vaccinated: One Man's Quest to Defeat the World's Deadliest Diseases. Washington, D.C.: Smithsonian. ISBNย 978-0-06-122796-7.