Jawanisme Politeistik
ꦏꦗꦮꦺꦤ꧀
Kajawèn
JenisKepercayaan tradisional
Badan
pemerintahan
Majelis Agama Kejawen Nasional Republik Indonesia
WilayahWilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur[1][2]
Bahasa
  • Jawa Kuno (terutama digunakan dalam ritual)
  • Jawa (terutama Jawa Bagongan)
Kantor pusatJawa Tengah
PengakuanDiakui secara resmi oleh pemerintah Indonesia
Terpisah dariKapitayan (Jawa monoteistik)
UmatJawa

Kejawen (bahasa Jawa: ꦏꦗꦮꦺꦤ꧀, translit. Kajawèn) atau Jawanisme, yang juga disebut Kebatinan, Agama Jawa, dan Kepercayaan adalah tradisi budaya Jawa, yang terdiri dari perpaduan antara aspek-aspek Animisme, Buddha, Islam, dan Hindu. Hal ini berakar pada sejarah dan religiusitas Jawa, yang menyinkronkan aspek-aspek dari berbagai agama dan tradisi.

Etimologi

sunting
Seorang petapa Jawa sedang bersemadi di bawah pohon beringin pada era Hindia Belanda 1916.

Kata “Kejawen” berasal dari kata "Jawa", yang artinya dalam bahasa Indonesia adalah "segala sesuatu yang berhubungan dengan adat dan kepercayaan Jawa (Kejawaan)".

Sejatinya Kejawen adalah campuran Islam dan budaya Jawa, akulturasi, dan proses perpaduan antara tasawuf Islam dengan ajaran Jawa yang diprakarsai oleh Wali Sanga. Oleh karena itu, Kêjawen dapat disebut sebagai ajaran untuk menarik pemeluk agama lama kepada ajaran Islam dengan cara yang halus. Ajaran spiritual asli Jawa tidak memiliki nama. Orang Jawa tidak memiliki agama resmi sebelum masuknya agama-agama mancanegara, sebagaimana seperti Hindu, Buddha, Islam, Kristen.

Kitab dan Teks Utama

sunting

Kejawen tidak memiliki Kitab Suci, tetapi orang Jawa memiliki bahasa sandi yang dilambangkan dan disiratkan dalam semua sendi kehidupannya dan memercayai ajaran-ajaran Kejawen tertuang di dalamnya tanpa mengalami perubahan sedikitpun karena memiliki pakem (aturan yang dijaga ketat), kesemuanya merupakan ajaran yang tersirat untuk membentuk laku utama yaitu Tata Krama (Aturan Hidup Yang Luhur) untuk membentuk orang Jawa yang hanjawani (memiliki akhlak terpuji), hal-hal tersebut terutama banyak tertuang dalam jenis karya tulis sebagai berikut:

  • Kakawin (Sastra Kawi) – Kitab sastra metrum kuno (lama) berisi wejangan (nasihat) berupa ajaran yang tersirat dalam kisah perjalanan yang berjumlah 5 kitab, ditulis menggunakan aksara Jawa Kuno dan bahasa Jawa Kuno
  • Macapat (Sastra Carakan) – Kitab sastra metrum anyar (baru) berisi wejangan (nasihat) berupa ajaran yang tersirat dalam kisah perjalanan yang terdiri lebih dari 82 kitab, ditulis menggunakan aksara Jawa dan bahasa Jawa beberapa ditulis menggunakan huruf Pegon
  • Babad (Sejarah) – Kitab yang menceritakan sejarah nusantara berjumlah lebih dari 15 kitab, ditulis menggunakan aksara Jawa Kuno dan bahasa Jawa Kuno serta aksara Jawa dan bahasa Jawa
  • Suluk (Jalan Spiritual) – Kitab tata cara menempuh jalan supranatural untuk membentuk pribadi hanjawani yang luhur dan dipercaya siapa saja yang mengalami kesempurnaan akan memperoleh kekuatan supranatural yang berjumlah lebih dari 35 kitab, ditulis menggunakan aksara Jawa dan bahasa Jawa beberapa ditulis menggunakan huruf Pegon. Suluk juga merupakan jenis sastra yang ditembangkan.
  • Kidung (Doa-doa) – Sekumpulan doa-doa atau mantra-mantra yang dibaca dengan nada khas, sama seperti halnya doa lain ditujukan kepada tuhan bagi pemeluknya masing-masing yang berjumlah 7 kitab, ditulis menggunakan aksara Jawa dan bahasa Jawa
  • Piwulang (Pengajaran) – Secara bahasa berarti "yang diulang-ulang" berupa kitab yang mengajarkan tatanan terdiri dari Pituduh (Perintah) dan Wewaler (Larangan) untuk membentuk pribadi yang hanjawani, ditulis menggunakan aksara Jawa dan bahasa Jawa
  • Primbon (Himpunan) – Secara bahasa berarti "induk", "kumpulan", atau "rangkuman" berupa kitab praktik praktis dalam pelaksanaan tatanan adat sepanjang waktu, juga biasanya dilengkapi cara untuk membaca gelagat alam semesta untuk memprediksi kejadian. ditulis menggunakan aksara Jawa dan bahasa Jawa

Naskah-naskah di atas mencakup seluruh sendi kehidupan orang Jawa dari kelahiran sampai kematian, dari resep makanan kuno sampai asmaragama (kamasutra), dan ada ribuan naskah lainya yang menyiratkan kitab-kitab utama di atas dalam bentuk karya tulis, biasanya dalam bentuk ajaran nasihat, falsafah, kaweruh (pengetahuan), dan sebagainya.

Nawadewata

sunting
Arah Utara Timur Laut Timur Tenggara Selatan Barat Daya Barat Barat Laut Tengah Pengembangan
Dewa Wisnu Sambu Iswara Maheswara Brahma Rudra Mahadewa Sangkara Siwa -
Sakti Sri Mahadewi Uma Laksmi Saraswati Samodi Saci Rodri Durga -
Senjata Chakra Trisula Bajra Dupa Gada Mosala Nagapasa Angkusa Padma -
Wahana Garuda Wilmana Gajah Merak Angsa Kerbau Naga Singa Lembu -
Warna Hitam Biru Putih Dadu Merah Jingga Kuning Hijau Pancawarna -
Kasta Sudra Candala Brahmana Paria Ksatria Dalit Waisya - Paria -
Buta Taruna Pelung Jangkitan Dadu Langkir Jingga Lembu Kanya Gadang Tiga Sakti -
Aksara A ᬅᬁ Wa ᬯᬁ Sa ᬲᬁ Na   Ba ᬩᬁ Ma ᬫᬁ Ta ᬢᬁ Si ᬰᬶᬁ I ᬇᬁ / Ya ᬬᬁ -
Urip 4 6 5 8 9 3 7 1 8 2
Kalender Jawa (Tahun) Dal Wawu Ehé - - Jimawal dan Jimakhir Alip -
Kalender Jawa (Bulan) Ruwah Jumadil Awal Ba'da Mulud Mulud dan Besar Sura dan Sawal Jumadil Akhir dan Sela Sapar dan Rajab
Ekawara - - - - - - - Luang - -
Dwiwara Pepet - Menga - - - - - - -
Triwara Beteng - - - Pasah - Kajeng - - -
Caturwara - Sri - Menala - Laba - Jaya - -
Pancawara Wage - Umanis/Legi - Pahing - Pon - Kliwon -
Sadwara - Ariyang Urukung Paniron Was Maulu Tungleh - - -
Saptawara Soma Sukra Redite Wraspati Saniscara Anggara Buddha - - -
Astawara Uma Sri Indra Guru Yama Rudra Brahma Kala - -
Sangawara Urungan Tulus Dadi Dangu Jangur Gigis Nohan Ogan Erangan -
Wuku Ukir, Dungulan, Tambir, Wayang Kulantir, Kuningan, Medangkungan, Kulawu Tolu, Langkir, Matal, Dukut Gumbreg, Medangsia, Uye, Watugunung Wariga, Pujut, Menail Warigadian, Pahang, Prangbakat Sinta, Julungwangi, Krulut, Bala Landep, Sungsang, Merakih, Ugu - -
Hari Senin Jumat Ahad/Minggu Kamis Sabtu Selasa Rabu - Kamis -
Planet Astrologi Hindu (Nawagraha) Candra Sukra Surya Wrehaspati Sani Anggaraka Budha - Wrehaspati -
Tubuh Darah Mani Tulang Otak Otot Sumsum Kulit - Otak -
Unsur Air - Angin dan atau Kayu - Api - Logam - Tanah -
Islam Kejawen dan Sufistik Qomar Zahra Syams Musytari' Zuhal Marikh Atharid - Musytari' -
Sasih Kasa Karo, Katiga Kapat Kalima, Kanem Kapitu Kaulu, Kasanga Kedasa Jyesta, Sadha - -
Bhuwana Ampru Ineban Pepusuh Peparu Hati Usus Ungsilan Limpa Tumpuking hati -
Alit -

Beberapa Aliran Kejawen

sunting

Terdapat ratusan aliran kejawen dengan penekanan ajaran yang berbeda-beda.

Akan tetapi aliran-aliran ini biasanya mengadopsi sifat monotheisme ajaran Islam dan ada hal-hal yang disarikan dari ajaran Islam serta menggunakan istilah berasal dari bahasa Arab.

Namun biasanya ajaran yang banyak anggotanya lebih menekankan pada cara mencapai keseimbangan hidup dan tidak melarang anggotanya mempraktikkan ajaran agama lain. Kejawen memiliki beberapa cabang aliran, diantaranya:

Kepustakaan

sunting

Pranala luar

sunting
  1. ^ Oey 2000, hlm. 58-59.
  2. ^ Mulder 2005, hlm. 16.

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Suku Jawa

orang Jawa adalah umat Islam, dengan beberapa minoritas yaitu Kristen, Kejawen, Hindu, Kapitayan dan Buddha. Meskipun demikian, peradaban orang Jawa telah

Manunggaling kawula gusti

Manunggaling kawula gusti adalah salah satu ajaran dan kepercayaan dalam Kejawen yang bermakna menyatunya makhluk, orang biasa (kawula) dengan ratu (raja)

Nyi Roro Kidul

menyamakan Nyi Roro Kidul dengan Kanjeng Ratu Kidul, meskipun dalam kepercayaan Kejawen, Nyi Roro Kidul adalah bawahan setia Kanjeng Ratu Kidul. Kedudukan Nyi

Memayu hayuning bawana

terasa dalam ajaran kejawen. Memayu Hayuning Bawana memiliki relevansi dengan wawasan kosmologi Jawa atau kosmologi kejawen. Kejawen memiliki wawasan kosmos

Kapitayan

Jawa", "agama monoteis leluhur", "agama asli Jawa", yang mana berbeda dari Kejawen (agama Jawanik lainnya yang bersifat non-monoteistik). Secara etimologi

Indonesia

Ajaran kepercayaan umumnya terpusat pada suku-suku pedalaman seperti sistem Kejawen suku Jawa, Dayak di Kalimantan dan Tana Toraja di Sulawesi yang dilestarikan

Puasa mutih

Dalam ajaran Kejawen, puasa ini disebut puasa mutih, yaitu menghindari makanan atau minuman yang berwarna selain putih. Sebagian penganut kejawen percaya,

Kepercayaan Jawa

Kejawèn (Jawa: ꦏꦗꦮꦺꦤ꧀, romanized: Kajawèncode: jv is deprecated ) atau Javanisme, juga dikenal sebagai Kebatinan, Agama Jawa terj. har. 'Agama Jawa',