Karna
कर्ण
Gugurnya Karna setelah bertempur melawan Arjuna. Ilustrasi dari Maha-Bharata, The Epic of Ancient India oleh Romesh Dutt (1899).
Gugurnya Karna setelah bertempur melawan Arjuna. Ilustrasi dari Maha-Bharata, The Epic of Ancient India oleh Romesh Dutt (1899).
Tokoh Mahabharata
NamaKarna
Ejaan Dewanagariकर्ण
Ejaan IASTKarṇa
Nama lainRadeya, Basusena, Wresa, Sutaputra, Anggadipa, Suryaputra, Suryatmaja, Talidarma, Bismantaka
Gelarraja
Kitab referensiMahabharata
KediamanKerajaan Angga
Golongansuta (kusir, saat masih kecil)
Kastakesatria
Profesiraja
SenjataPanah, Indrastra (Wasawisakti), Nagastra
AyahSurya (de facto)
Adirata (angkat)
IbuKunti (de facto)
Radha (angkat)
IstriTidak disebutkan namanya.
Dalam kisah adaptasi, namanya berbeda-beda: Wrusali, Supriya, Padmawati, Ponnuruvi, atau Surtikanti
AnakWresasena, Sudama, Satrunjaya, Dwipata, Susena, Satyasena, Citrasena, Susarma, Wresaketu, Ratnamala dan Srutasena[1][2]

Karna (Dewanagari: कर्ण; ,IASTKarṇa, कर्ण), alias Radeya (Dewanagari: राधेय; ,IASTRādheya, राधेय) adalah nama Raja Angga dalam wiracarita Mahabharata. Ia menjadi pendukung utama pihak Korawa dalam perang besar melawan Pandawa. Karna merupakan kakak tertua dari tiga di antara lima Pandawa: Yudistira, Bimasena, dan Arjuna. Dalam bagian akhir perang besar tersebut, Karena diangkat sebagai panglima pihak Korawa, dan akhirnya gugur di tangan Arjuna. Dalam Mahabharata diceritakan bahwa Karna menjunjung tinggi nilai-nilai kesatria. Meski angkuh, ia juga seorang dermawan yang murah hati, terutama kepada fakir miskin dan kaum brahmana. Menurut legenda, Karna merupakan pendiri kota Karnal, terletak di negara bagian Haryana, India Utara.[3]

Kelahiran

sunting
Sebuah lukisan yang menggambarkan adegan saat Kunti memanggil Dewa Surya.

Mahabharata bagian pertama atau Adiparwa mengisahkan seorang putri bernama Kunti yang pada suatu hari ditugasi menjamu seorang pendeta tamu ayahnya, yaitu Resi Durwasa. Atas jamuan itu, Durwasa merasa senang dan menganugerahi Kunti sebuah ilmu kesaktian bernama Adityahredaya, semacam mantra untuk memanggil dewa. Pada suatu hari, Kunti mencoba mantra tersebut setelah melakukan puja di pagi hari. Ia mencoba berkonsentrasi kepada Dewa Surya, dan sebagai akibatnya, sang dewa matahari tersebut muncul untuk memberinya seorang putra, sebagaimana fungsi mantra yang diucapkan Kunti. Kunti menolak karena ia sebenarnya hanya ingin mencoba keampuhan Adityahredaya. Surya menyatakan dengan tegas bahwa Adityahredaya bukanlah mainan. Sebagai konsekuensinya, Kunti pun mengandung. Namun, Surya juga membantunya segera melahirkan bayi tersebut. Surya kembali ke kahyangan setelah memulihkan kembali keperawanan Kunti.

Dalam bahasa Sanskerta kata karṇa bermakna "telinga". Hal ini mengakibatkan muncul mitos bahwa Karena lahir melalui telinga Kunti. Namun, Karena juga dapat bermakna "mahir" atau "terampil". Kiranya nama Karena ini baru dipakai setelah Basusena atau Radheya dewasa dan menguasai ilmu memanah dengan sempurna.

Masa kecil dan pendidikan

sunting

Demi menjaga nama baik negaranya, Kunti yang melahirkan sebelum menikah terpaksa membuang "putra Surya" yang ia beri nama Karena di sungai Aswa dalam sebuah keranjang. Bayi itu kemudian terbawa arus sampai akhirnya ditemukan oleh Adirata yang bekerja sebagai kusir kereta di Kerajaan Kuru. Adirata dengan gembira menjadikan bayi tersebut sebagai anaknya. Karena sejak lahir sudah memakai pakaian perang lengkap dengan anting-anting dan kalung pemberian Surya, maka bayi itu pun diberi nama Basusena. Tak lama setelah itu, Kunti disunting Pandu dari Hastinapura dan berputra tiga orang: Yudistira, Bimasena (Bima), dan Arjuna. Bersama dua putra kembar Madri (istri kedua Pandu), mereka dikenal sebagai Lima Pandawa.

Basusena diasuh dan dibesarkan dalam keluarga kusir, sehingga ia dikenal dengan julukan Sutaputra (anak kusir). Namun, julukan lainnya yang lebih terkenal adalah Radheya, yang bermakna "anak Radha" (istri Adirata). Meskipun tumbuh dalam lingkungan keluarga kusir, Radheya justru berkeinginan menjadi seorang perwira kerajaan. Adirata pun mendaftarkannya ke dalam perguruan Resi Drona yang saat itu sedang mendidik para Pandawa dan Korawa, pangeran dari kalangan Dinasti Kuru. Drona menolak Radheya karena ia hanya sudi mengajar kaum kesatria saja. Akhirnya Radheya memutuskan untuk mencari guru lain. Ia menyamar menjadi seorang brahmana agar mendapatkan pendidikan dari Parasurama, seorang brahmana-kesatria yang hanya mau menerima murid dari golongan brahmana. Parasurama adalah guru dari Bisma—sesepuh Dinasti Kuru—dan Drona,[4] sehingga Karena mendapatkan guru yang lebih baik dari Drona.

Parasurama memiliki pengalaman yang buruk dengan kaum kesatria, sehingga Karena harus menyamar sebagai brahmana muda agar bisa menjadi muridnya. Pada suatu hari, Parasurama tidur di atas pangkuan Karena. Tiba-tiba muncul seekor serangga menggigit paha Karena. Agar Parasurama tidak terbangun, Karena membiarkan pahanya terluka sementara dirinya tidak bergerak sedikit pun. Ketika Parasurama bangun dari tidurnya, ia terkejut melihat Karena telah berlumuran darah. Kemampuan Karena menahan rasa sakit telah menyadarkan Parasurama bahwa muridnya itu bukan dari golongan brahmana, melainkan seorang kesatria asli. Merasa telah ditipu, Parasurama pun mengutuk Karena. Kelak, pada saat pertarungan antara hidup dan mati melawan seorang musuh terhebat, Karena akan lupa terhadap semua ilmu yang telah ia ajarkan.

Kutukan kedua diperoleh Karena ketika ia mengendarai keretanya dan menabrak mati seekor sapi milik brahmana yang sedang menyeberang jalan. Sang brahmana pun muncul dan mengutuk Karena, kelak roda keretanya akan terbenam ke dalam lumpur ketika ia berperang melawan musuhnya yang paling hebat.[5]

Pemahkotaan sebagai Raja Angga

sunting

Setelah para pangeran Dinasti Kuru menamatkan pendidikan, Drona mempertunjukkan hasil didikannya di hadapan para bangsawan dan rakyat Hastinapura, ibu kota Kerajaan Kuru. Setelah melalui berbagai tahap pertandingan, Drona akhirnya mengumumkan bahwa Arjuna—Pandawa yang ketiga—adalah murid terbaiknya, terutama dalam hal ilmu memanah. Tiba-tiba Karena muncul menantang Arjuna sambil memamerkan kesaktiannya. Resi Krepa selaku pendeta istana meminta Karena supaya memperkenalkan diri terlebih dahulu karena untuk menghadapi Arjuna haruslah dari golongan yang sederajat. Mendengar permintaan itu, Karena pun tertunduk malu. Duryodana—yang sulung di antara seratus Korawa—maju membela Karena. Duryodana berkata bahwa keberanian dan kehebatan tidak harus dimiliki oleh kaum kesatria saja. Ia menambahkan bahwa apabila peraturan mengharuskan demikian, maka ia sudah memiliki jalan keluar. Ia mendesak ayahnya, yaitu Dretarastra raja Hastinapura, supaya mengangkat Karena sebagai raja bawahan di Angga. Dretarastra tidak mampu menolak permintaan putra kesayangannya itu. Pada hari itu juga, Karena resmi dinobatkan menjadi raja Angga.

Adirata muncul menyambut penobatan Karena. Akibatnya, semua orang tahu bahwa Karena adalah anak Adirata. Melihat hal itu, Bimasena mencemoohnya sebagai anak kusir sehingga tidak pantas bertanding melawan Arjuna yang berasal dari kaum bangsawan. Sekali lagi Duryodana tampil membela Karena. Melihat situasi tersebut, Kunti jatuh pingsan di bangkunya setelah melihat kehadiran Karena. Kunti langsung mengenalinya sebagai putra sulung yang pernah ia buang dari pakaian perang dan perhiasan pemberian Surya yang melekat di tubuh Karena. Suasana yang menegangkan itu diredakan oleh terbenamnya matahari. Dretarastra membubarkan acara tersebut sehingga pertandingan antara Karena dan Arjuna dihentikan

Penolakan Dropadi

sunting
Ilustrasi dari tahun 1920-an, menggambarkan sayembara memperebutkan Dropadi, yang dimenangkan oleh Arjuna.

Dropadi adalah putri Kerajaan Pancala yang kecantikannya membuat banyak raja dan pangeran datang untuk melamar, termasuk Duryodana. Dalam hal ini, Drupada (raja Pancala) telah mengumumkan sebuah sayembara memanah bagi siapa saja yang ingin memperistri putrinya tersebut. Sayembara tersebut ialah memanah boneka ikan yang berputar di atas arena, tetapi tidak boleh melihatnya secara langsung, melainkan melalui bayangannya yang terpantul di dalam baskom berisi minyak. Akan tetapi, jangankan membidik boneka tersebut, mengangkat busur pusaka Kerajaan Pancala saja para peserta tidak ada yang sanggup, termasuk Duryodana yang perkasa sekalipun.

Karena maju setelah sahabatnya mengalami kegagalan. Dengan penuh rasa hormat, ia berhasil mengenai sasaran sayembara. Tiba-tiba Dropadi menyatakan keberatan apabila Karena memenangkan sayembara, karena dirinya tidak mau menikah dengan anak seorang kusir. Karena sakit hati mendengarnya. Ia menyebut Dropadi sebagai wanita sombong dan pasti menjadi perawan tua karena tidak ada lagi peserta yang mampu memenangkan sayembara sulit tersebut selain dirinya. Ucapan Karena membuat Drupada merasa khawatir. Raja Pancala itu pun membuka pendaftaran baru untuk siapa saja yang ingin menikahi Dropadi, tanpa harus berasal dari golongan ksatriya. Arjuna yang saat itu sedang menyamar sebagai brahmana maju mendaftarkan diri. Sayembara tersebut akhirnya berhasil dimenangkan olehnya. Arjuna kemudian mempersembahkan Dropadi kepada ibunya sebagai oleh-oleh terbaik. Tanpa melihat yang sebenarnya, Kunti langsung memutuskan supaya "oleh-oleh" tersebut dibagi berlima. Akibatnya, kelima Pandawa pun bersama-sama menikahi Dropadi sebagai istri mereka, demi melaksanakan amanat sang ibu.

Penghinaan Dropadi

sunting

Beberapa waktu kemudian, para Pandawa berhasil membangun sebuah kerajaan indah bernama Indraprastha yang membuat pihak Korawa merasa iri. Melalui permainan dadu yang sangat licik, mereka berhasil merebut Indraprastha dari tangan Pandawa, termasuk kemerdekaan kelima bersaudara itu. Pada puncaknya, Yudistira (Pandawa tertua) dipaksa mempertaruhkan Dropadi demi melanjutkan permainan. Dropadi akhirnya jatuh pula ke tangan Korawa. Duryodana kemudian menyuruh Dursasana, adiknya untuk menyeret Dropadi dari kamarnya. Dropadi pun dijambak dan diseret oleh Korawa nomor dua itu menuju ruang permainan.

Karena yang masih menyimpan sakit hati kepada Dropadi mengumumkan bahwa seorang wanita yang bersuami lima tidak pantas disebut sebagai istri, melainkan pelacur. Mendengar penghinaan Karena, Arjuna bersumpah kelak akan membunuhnya.[6] Duryodana pun memerintahkan Dursasana agar menelanjangi Dropadi di depan umum. Namun, berkat pertolongan rahasia dari Sri Kresna, Dropadi berhasil diselamatkan.

Pusaka Indrastra

sunting
Karna (tengah) mempersembahkan baju zirah sakti kepada Dewa Indra yang menyamar menjadi brahmana, sementara istrinya memalingkan muka dalam kegalauan ― adegan dari Mahabharata yang dilukis oleh Bamapada Banerjee.

Apabila Karena dilahirkan Kunti melalui anugerah Dewa Surya, maka, Arjuna lahir melalui anugerah Dewa Indra. Menyadari kesaktian Karena, Indra merasa cemas kalau Arjuna sampai kalah jika bertanding melawan putra Surya itu. Maka, Indra pun bersiasat merebut baju pusaka Karena dengan menyamar sebagai seorang pendeta. Konon, jika mengenakan pakaian pusaka tersebut, Karena tidak mempan terhadap senjata jenis apa pun. Rencana Indra diketahui oleh Surya. Ia pun memberi tahu Karena, tetapi Karena sama sekali tidak risau. Ia telah bersumpah akan hidup sebagai seorang dermawan sehingga apa pun yang diminta oleh orang lain pasti akan dikabulkannya.

Indra yang menyamar sebagai seorang resi tua datang menemui Karena saat sedang sendirian. Ia meminta sedekah berupa baju perang dan anting-anting yang dipakai Karena. Karena pun mengiris semua pakaian pusaka yang melekat di kulitnya sejak bayi tersebut menggunakan pisau. Indra terharu menerimanya. Ia pun membuka samaran dan memberikan pusaka Indrastra baru berupa Indrastra (Wasawisakti) atau Konta (yang bermakna "tombak") sebagai hadiah atas ketulusan Karena. Namun, pusaka Konta hanya bisa digunakan sekali saja, setelah itu ia akan musnah.

Pembongkaran jati diri

sunting

Setelah masa hukuman atas kekalahan dalam permainan dadu berakhir, para Pandawa pun muncul kembali untuk mendapatkan hak mereka atas Kerajaan Indraprastha. Pihak Korawa menolak dan memaksa Pandawa merebutnya dengan jalan perang. Pandawa pun mengirim Kresna sebagai duta menuju Hastinapura. Dalam kesempatan itu, Kresna menemui Karena dan mengajaknya berbicara empat mata. Ia menjelaskan bahwa Karena dan para Pandawa sebenarnya adalah saudara seibu. Apabila Karena bergabung dengan Pandawa, tentu Yudistira akan merelakan takhta Hastinapura untuknya. Setelah mengetahui kenyataan, Karena terkejut dan menghadapi dilema yang besar. Dengan penuh pertimbangan ia memutuskan tetap pada pendiriannya, yaitu membela Korawa. Ia tidak mau meninggalkan Duryodana yang telah memberinya kedudukan, harga diri, dan perlindungan saat dihina para Pandawa dahulu. Rayuan Kresna tidak mampu meluluhkan sumpah setia Karena terhadap Duryodana yang dianggapnya sebagai saudara sejati.

Setelah pertemuan dengan Kresna, esok harinya Karena bertemu dengan Kunti. Kunti menemui putra sulungnya itu saat bersembahyang di tepi sungai. Ia merayu Karena supaya mau memanggilnya "ibu" dan sudi bergabung dengan para Pandawa. Karena kembali bersikap tegas. Ia sangat menyesalkan keputusan Kunti yang dulu membuangnya sehingga kini ia harus berhadapan dengan adik-adiknya sendiri sebagai musuh. Ia menolak bergabung dengan pihak Pandawa dan tetap menganggap Radha sebagai ibu sejatinya. Meskipun demikian, Karena tetap menghibur kekecewaan Kunti. Ia bersumpah dalam perang kelak, ia tidak akan membunuh para Pandawa, kecuali Arjuna.

Perang Kurukshetra

sunting

Perselisihan dengan Bisma

sunting

Perang besar antara kedua pihak tersebut akhirnya meletus. Pihak Korawa memilih Bisma (bangsawan senior Hastinapura) sebagai panglima mereka. Terjadi pertengkaran di mana Bisma menolak Karena berada di dalam pasukannya, dengan alasan Karena terlalu sombong dan suka meremehkan kekuatan Pandawa. Sebaliknya, Karena pun bersumpah tidak sudi ikut berperang apabila pasukan Korawa masih dipimpin oleh Bisma.

Bisma akhirnya roboh pada pertempuran hari kesepuluh. Tokoh tua itu terbaring di atas ratusan panah yang menembus tubuhnya. Karena muncul melupakan semua dendam untuk menyampaikan rasa prihatin. Bisma mengaku bahwa ia hanya pura-pura mengusir Karena supaya tidak bertempur melawan Pandawa. Bisma mengetahui jati diri Karena sebagai kakak para Pandawa setelah diberi tahu oleh Narada (maharesi kahyangan). Seperti halnya Kresna dan Kunti, Bisma juga menyarankan supaya Karena bergabung dengan para Pandawa. Namun sekali lagi Karena menolak saran tersebut.

Pertempuran melawan Gatotkaca

sunting
Lukisan pertempuran Karna melawan Gatotkaca, dari zaman kemaharajaan Wijayanagara (ca 1670).

Kehadiran Karena sejak hari kesebelas segera membangkitkan semangat pihak Korawa. Ia menyarankan agar Duryodana memilih Drona sebagai pengganti Bisma, dengan alasan Drona merupakan guru sebagian besar sekutu Korawa. Dengan terpilihnya Drona maka persaingan antara para pendukung Korawa memperebutkan jabatan panglima dapat dihindari.

Karena tampil dalam perang besar tersebut sebagai pendamping Drona. Pada hari ke-14 malam, perang tetap terjadi tanpa dihentikan sehingga melanggar aturan yang telah disepakati. Duryodana menderita luka parah saat menghadapi Gatotkaca putra Bimasena. Ia pun mendesak Karena supaya menggunakan pusaka Vasavi shakti atau Konta untuk membunuh Gatotkaca. Karena terus didesak, Karena pun melepaskan Konta dan menewaskan Gatotkaca.

Sesuai janji Indra, Shakti Konta pun musnah hanya dalam sekali penggunaan. Kresna selaku penasihat pihak Pandawa merasa senang karena dengan demikian, nyawa Arjuna bisa terselamatkan. Ia mengetahui kalau selama ini Karena mempersiapkan Shakti Konta untuk membunuh Arjuna.

Menjadi panglima pasukan Korawa

sunting
Di sisi kiri, Adipati Karna dikusiri Salya, melawan Arjuna yang dikusiri Kresna di sisi kanan. Wayang lukisan kaca Cirebon.

Setelah Drona gugur pada hari kelima belas, Duryodana menunjuk Karena sebagai panglima yang baru. Karena maju perang dengan Salya raja Madra sebagai kusir keretanya, dengan harapan bisa mengimbangi Arjuna yang dikusiri Kresna. Salya sendiri sakit hati karena merasa direndahkan oleh Karena. Sambil mengemudikan kereta ia gencar memuji-muji kesaktian Arjuna untuk menakut-nakuti Karena.

Pada hari keenam belas, Karena berhasil mengalahkan Yudistira, Bimasena, Nakula, dan Sadewa, tetapi tidak sampai membunuh mereka sesuai janjinya di hadapan Kunti dulu. Karena kemudian bertanding melawan Arjuna. Keduanya saling berusaha membunuh satu sama lain. Ketika Karena mengincar leher Arjuna menggunakan panah Nagasatra, diam-diam Salya memberi isyarat pada Kresna. Kresna pun menggerakkan keretanya sehingga panah pusaka tersebut meleset hanya mengenai mahkota Arjuna. Pertempuran tersebut akhirnya tertunda oleh terbenamnya matahari.

Pertempuran terakhir

sunting
Karna mendorong roda keretanya yang terperosok ke dalam lumpur pada saat perang Baratayuda. Peristiwa ini terjadi sesaat menjelang kematiannya di tangan Arjuna.

Pada hari ketujuh belas, perang tanding antara Karna dan Arjuna dilanjutkan kembali. Setelah bertempur dalam waktu yang cukup lama, kutukan atas diri Karna pun menjadi kenyataan. Ketika Arjuna membidiknya menggunakan panah Pasupati, salah satu roda keretanya terperosok ke dalam lumpur sampai terbenam setengahnya. Karna tidak peduli, ia pun membaca mantra untuk mengerahkan kesaktiannya mengimbangi Pasupati. Namun, kutukan kedua juga menjadi kenyataan. Karna tiba-tiba lupa terhadap semua ilmu yang pernah ia pelajari dari Parasurama.

Karna meminta Arjuna untuk menahan diri sementara ia turun untuk mendorong keretanya agar kembali berjalan normal. Pada saat itulah Kresna mendesak agar Arjuna segera membunuh Karna, karena ini adalah kesempatan terbaik. Arjuna ragu-ragu karena saat itu Karna sedang lengah dan berada di bawah. Kresna mengingatkan Arjuna bahwa Karena sebelumnya juga berlaku curang karena ikut mengeroyok Abimanyu sampai mati pada hari ketiga belas. Teringat pada kematian putranya yang tragis tersebut, Arjuna pun melepaskan panah Pasupati yang melesat mengenai leher Karna. Karna pun tewas seketika.

Kehidupan di surga

sunting

Mahabharata bagian akhir, atau Swargarohanikaparwa, mengisahkan perjalanan Yudistira naik ke surga. Di tempat yang serba indah itu ia merasa kecewa karena yang dijumpainya justru arwah para Korawa, bukan adik-adiknya. Ia kemudian diantar para Kingkara untuk menemui keempat Pandawa yang sedang mengalami penyiksaan di neraka. Di tempat mengerikan itu, ia menjumpai arwah keempat adiknya sedang disiksa bersama para pahlawan besar lainya, misalnya Karena, Drestadyumna, Abimanyu, Satyaki, dan lain-lain.

Meskipun demikian, Yudistira memilih berada di neraka daripada harus kembali ke surga. Tiba-tiba keadaan pun berbalik. Yudistira dan para pahlawan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam surga oleh para dewa sedangkan para penjahat, yaitu Korawa masuk ke dalam neraka. Rupanya peyiksaan tersebut hanya bersifat sementara, selain untuk menguji keteguhan hati Yudistira, juga untuk membersihkan dosa-dosa para pahlawan semasa hidup di dunia dulu. Dengan demikian, meskipun sewaktu di dunia Karena hidup bersama para Korawa, tetapi ketika berada di akhirat arwahnya berkumpul dengan para Pandawa.

Adaptasi dalam budaya Indonesia

sunting

Sebagai tokoh pewayangan

sunting
Karna dalam bentuk wayang versi Surakarta.
Karna dalam bentuk wayang versi Bali.

Dalam pewayangan Jawa, terdapat beberapa perbedaan mengenai kisah hidup Karena dibandingkan dengan versi aslinya. Menurut versi ini, Karena mengetahui jati dirinya bukan dari Kresna, melainkan dari Batara Narada. Dikisahkan bahwa, meskipun Karena mengabdi pada Duryodana, tetapi ia berani menculik calon istri pemimpin Korawa tersebut yang bernama Surtikanti, putri Salya dan Setyawati. Keduanya memang terlibat hubungan asmara. Orang yang bisa menangkap Karena tidak lain adalah Arjuna. Pertarungan keduanya kemudian dilerai oleh Narada dengan menceritakan kisah pembuangan Karena sewaktu bayi dulu. Karena dan Arjuna kemudian bersama-sama menumpas pemberontakan Kalakarna raja Awangga, seorang bawahan Duryodana. Atas jasanya itu, Duryodana merelakan Surtikanti menjadi istri Karena, bahkan Karena pun diangkat sebagai raja Awangga menggantikan Kalakarna. Dari perkawinan itu lahir tiga orang anak bernama; Warsasena, Warsakusuma, dan Karnawati. Dalam beberapa sanggit, menyebutkan bahwa salah satu putra Karena dinikahkan dengan putri Arjuna, dengan kata lain dia memiliki hubungan besan dengan Arjuna. Adapun versi Mahabharata menyebut nama putra Karena adalah Wresasena, sedangkan nama istrinya adalah Wrusali.

Perbedaan selanjutnya ialah pusaka Konta yang diperoleh Karena bukan anugerah Batara Indra, melainkan dari Batara Guru. Menurut versi ini Senjata Konta disebut dengan nama Kuntawijayadanu, sebenarnya akan diberikan kepada Arjuna yang saat itu sedang bertapa mencari pusaka untuk memotong tali pusar keponakannya, yaitu Gatotkaca putra Bimasena. Dengan bantuan Batara Surya, Karena berhasil mengelabui Batara Narada yang diutus Batara Guru untuk menemui Arjuna. Surya yang menciptakan suasana remang-remang membuat Narada mengira Karena adalah Arjuna. Ia pun memberikan Kuntawijaya kepadanya. Setelah menyadari kekeliruannya, Narada pun pergi dan menemukan Arjuna yang asli. Arjuna berusaha merebut Kuntawijaya dari tangan Karena. Setelah melewati pertarungan, Arjuna hanya berhasil merebut sarung pusaka itu saja. Meskipun demikian, sarung tersebut terbuat dari kayu Mastaba yang bisa digunakan untuk memotong tali pusar Gatotkaca. Anehnya, sarung Kunta kemudian masuk ke dalam perut Gatotkaca menambah kekuatan bayi tersebut. Kelak, Gatotkaca tewas di tangan Karena. Kuntawijaya musnah karena masuk ke dalam perut Gatotkaca, sebagai pertanda bersatunya kembali pusaka dengan sarung pembungkusnya.

Menurut versi pewayangan Jawa, pusaka pemberian Indra bukan bernama Konta, melainkan bernama Badaltulak. Sama dengan versi aslinya, pusaka ini diperoleh Karena setelah pakaian perangnya yang menempel dikulitnya diminta oleh Indra.

Karena versi Jawa sudah mengetahui bahwa ia adalah kakak tiri para Pandawa sejak awal, yaitu menjelang perkawinannya dengan Surtikanti. Jadi, kedatangan Kresna menemuinya sewaktu menjadi duta ke Hastinapura bukan untuk membuka jati dirinya, tetapi hanya untuk memintanya agar bergabung dengan Pandawa. Karena menolak dengan alasan sebagai seorang kesatria, ia harus menepati janji bahwa ia akan selalu setia kepada Duryodana. Kresna terus mendesak bahwa dharma seorang kesatria yang lebih utama adalah menumpas angkara murka. Dengan membela Duryodana, berarti Karena membela angkara murka. Karena terus didesak, Karena terpaksa membuka rahasia bahwa ia tetap membela Korawa supaya bisa menghasut Duryodana agar berani berperang melawan Pandawa. Ia yakin bahwa angkara murka di Hastinapura akan hilang bersama kematian Duryodana, dan yang bisa membunuhnya hanya para Pandawa. Karena yakin bahwa jika perang meletus, dirinya pasti ikut menjadi korban. Namun, ia telah bertekad untuk menyediakan diri sebagai tumbal demi kebahagiaan adik-adiknya, para Pandawa. Dalam perang tersebut Karena akhirnya tewas di tangan Arjuna. Namun versi Jawa tidak berakhir begitu saja. Keris pusaka Karena yang bernama Kaladite tiba-tiba melesat ke arah leher Arjuna. Arjuna pun menangkisnya menggunakan keris Kalanadah, peninggalan Gatotkaca. Kedua pusaka itu pun seketika bertubrukan dan musnah secara gaib.

Surtikanti datang ke Kurusetra bersama Adirata. Melihat suaminya gugur, Surtikanti pun bunuh diri di hadapan Arjuna. Adirata sedih dan berteriak menantang Arjuna. Bimasena muncul menghardik ayah angkat Karena tersebut sehingga lari ketakutan. Namun malangnya, Adirata terjatuh dan meninggal seketika. Di mana ironisnya Adirata tewas setelah pusakanya menusuk perutnya saat dia jatuh kebawah.

Sastra Jawa Baru

sunting

Dalam versi Jawa, Karena juga dikenal dengan nama Suryaputra, Basukarna, dan Adipati Karena. Kesetiaan Karena kepada sumpah satrianya untuk membela Duryudana, meskipun harus ditebus dengan kematiannya, telah mengilhami KGPAA Mangkunegara IV untuk menulis Serat Tripama (Jw., tiga perumpamaan) dalam bentuk tembang macapat Dhandhanggula dengan huruf dan bahasa Jawa.[7]

Lihat pula

sunting

Catatan kaki

sunting
  1. ^ http://www.sacred-texts.com/hin/m08/m08082.htm
  2. ^ http://www.sacred-texts.com/hin/m08/m08048.htm
  3. ^ "Karnal". District of Karnal. Diarsipkan dari asli tanggal 2013-12-02. Diakses tanggal 26 November 2013.
  4. ^ "Website dedicated to the story of Karna". Diarsipkan dari asli tanggal 2010-03-23. Diakses tanggal 2014-08-14.
  5. ^ James L. Fitzgerald (2003). The Mahabharata, Volume 7: Book 11: The Book of the Women Book 12: The Book of Peace. University of Chicago Press. hlm. 173. ISBN 0226252507.
  6. ^ Winternitz 1996, hlm. 327.
  7. ^ Kamajaya. 1984. Tiga Suri Teladan, kisah kepahlawanan tiga tokoh wayang: 58-85. Yogyakarta:UP Indonesia.

Daftar pustaka

sunting

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Istri Karna

istri Karna tidak disebutkan namanya. Dalam jilid Striparwa dari wiracarita tersebut, dia disebut sebagai ibu dari Wresasena dan Susena, putra Karna yang

Daftar tokoh dalam Mahabharata

serta tokoh-tokoh legenda Hindu lainnya, meliputi Kresna, Bisma, Drona, Karna, Kunti, Krepa, Dretarastra, Gandari, Sangkuni, Aswatama, Baladewa, Subadra

Karna Sobahi

Prof. Dr. H. Karna Sobahi, M.M.Pd. (lahir 3 April 1954) adalah Bupati Majalengka periode 2018–2023 dan wakilnya Tarsono D. Mardiana. Sebelumnya dia menjabat

Gatotkaca

Kurukshetra, ia menewaskan banyak sekutu Korawa sebelum akhirnya gugur di tangan Karna. Di Indonesia, Gatotkaca menjadi tokoh pewayangan yang sangat populer. Misalnya

Surya Putra Karna

dari Swastik Pictures. Acara tersebut menampilkan tentang perjalanan hidup Karna, salah satu karakter utama dari Mahabharata. Karanvir Bohra, Karan Grover

Pemilihan umum Bupati Majalengka 2024

dengan seluruh Provinsi dan Kabupaten/Kota seluruh Indonesia. Mantan Bupati Karna Sobahi dapat mencalonkan diri kembali dalam pemilihan tahun ini. Dukungan

Kresna

kepalanya. Saat Arjuna bertarung melawan Karna, roda kereta Karna terperosok ke dalam genangan lumpur. Saat Karna mencoba mengangkat keretanya dari lumpur

Perang Kurukshetra

Arjuna melawan Karna. Bahkan Kresna memuji Karna atas keberaniannya. Akhirnya Karna berhasil memutuskan tali busur Arjuna. Tepat saat Karna akan membunuh