Ledre
Ledre adalah jajanan khas Bojonegoro yang sering dijadikan oleh-oleh.
Nama lainkue semprong pisang, endre-endre, emping gulung
JenisKue
SajianMakanan ringan
Tempat asalIndonesia
DaerahBojonegoro
Suhu penyajianSuhu ruangan
Bahan utamaPisang raja, Tepung beras, tapioka, telur, gula, santan
Energi makanan
(per porsi )
405ย kkalย (1696 kJ)
Sunting kotak info
Sunting kotak infoย โ€ข Lย โ€ข B
Info templat
Bantuan penggunaan templat ini

Ledre merupakan jajanan khas sekaligus identitas Bojonegoro yang telah resmi menyandang status Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). Status ini diberikan oleh Ditjen Kebudayaan Kemendikbudristek pada tahun 2021 sebagai bentuk pelestarian budaya Jawa Timur. Ledre memiliki cita rasa cenderung manis, renyah, dan memiliki aroma khas pisang.[1]

Sejarah

sunting

Ledre adalah camilan tradisional yang diciptakan oleh Mak Min Tjie pada tahun 1943 sebagai solusi menghadapi kelaparan di masa penjajahan Jepang. Nama "Ledre" diambil dari istilah edre-edre yang berarti diorak-arik, sesuai teknik pembuatannya. Meski awalnya berbahan dasar tepung beras dan gaplek dengan bentuk lembaran lipat, kini Ledre telah berevolusi menjadi camilan berbentuk gulungan kecil yang lebih modern.[2]

Seiring waktu, penganan Ledre telah mengalami transformasi signifikan, baik dari segi varian rasa maupun bentuk. Jika awalnya hanya berbahan gaplek, kini tersedia beragam pilihan rasa seperti pisang, cokelat, dan berbagai macam buah. Bentuknya pun berkembang dari model lipatan menjadi bentuk gulung dan mini.[2]

Meskipun sempat mencapai puncak popularitas pada tahun 1970-1980 dan sempat meredup, Ledre kembali diminati sejak awal tahun 2000-an. Namun, Ny. Seger selaku ahli waris dari Mak Min Tjie, menegaskan bahwa ibundanyalah pionir asli penganan ini. Beliau menyayangkan banyaknya pihak yang mencoba mengklaim hak cipta atas penemuan Ledre, yang memicu reaksi keras dari keluarga besar Mak Min Tjie.[2]

Keistimewaan Ledre terletak pada standar pembuatannya yang ketat, mulai dari penggunaan gula pasir hingga wajan baja kuno yang diwariskan lintas generasi. Makanan ini bukan hanya pendamping teh, melainkan simbol sejarah kemiskinan masa lalu dan pengikat kasih sayang antar-keluarga. Melalui sepotong Ledre, warisan budaya dan nilai silaturahmi terus terjaga dari nenek moyang hingga generasi saat ini.[2]

Bahan yang digunakan

sunting

Ledre dimasak secara tradisional menggunakan wajan baja, arang, dan alat perata kayu bernama lethok. Akibat kelangkaan gaplek sebagai bahan utama, ledre kini dibuat dari campuran tepung beras, tapioka, telur, pisang raja, dan santan. Varian rasanya pun terus berkembang melalui penambahan berbagai bahan perasa.[3]

Nilai Gizi

sunting

Ledre pisang merupakan sumber energi tinggi. Berdasarkan data Komposisi Gizi TKPI, dalam setiap 100 gram bahan yang dapat dimakan (BDD 100%) terkandung air sebanyak 3,6 gram dan energi sebesar 405 kilokalori. Kandungan zat gizinya meliputi protein 4,8 gram, lemak 5,1 gram, karbohidrat 84,9 gram, serat 0,4 gram, serta abu 1,6 gram. Selain itu, bahan pangan ini mengandung sejumlah mineral, yaitu kalsium 59 miligram, fosfor 124 miligram, dan besi 2,6 miligram. Dari segi vitamin dan senyawa karotenoid, terdapat beta-karoten 4 mikrogram, total karoten 7.330 mikrogram, tiamin (vitamin B1) 0,41 miligram, serta tidak mengandung vitamin C (0 miligram).[4][5]

Penetapan sebagai Warisan Budaya

sunting

Pada tahun 2021 Pemerintah Indonesia telah menetapkan Ledre sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dalam domain Kemahiran dan Kerajinan Tradisional. Penetapan tersebut dilakukan melalui Surat Keputusan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia No SK: 372/M/2021, dengan kode referensi AA001380.[6]

Referensi

sunting
  1. ^ Sugita, Nabila Meidy. "Mengenal Ledre, Jajanan Khas Bojonegoro yang Jadi Warisan Budaya Tak Benda". detikjatim. Diakses tanggal 2026-02-08.
  2. ^ a b c d "Bagian Protokol & Komunikasi Pimpinan Kabupaten Bojonegoro". baghumas.bojonegorokab.go.id. Diakses tanggal 2026-02-08.
  3. ^ Nd, Hanifah (2022-03-21). "5 Fakta Ledre, Camilan Renyah Khas Bojonegoro". IDN Times. Diakses tanggal 2026-02-08.
  4. ^ "Ledre pisang | HDmall.id - Data Gizi Indonesia". HDmall.id Nutrition Hub Indonesia. Diakses tanggal 2026-02-08.
  5. ^ "Data Komposisi Pangan Indonesia - Beranda". www.panganku.org. Diakses tanggal 2026-02-22.
  6. ^ "Ledre". Budaya Kita. Diakses tanggal 22 Februari 2026.

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Purwosari, Bojonegoro

Padangan dikenal sebagai sentra produksi camilan ikonik Bojonegoro bernama ledre. Desa Kaliombo di Purwosari, dikenal berada di area proyek Lapangan Gas

Padangan, Bojonegoro

Padangan dikenal sebagai sentra produksi jajanan khas Bojonegoro bernama ledre. Pada akhir abad 17 M, Padangan pernah menjadi ibu kota dari Kabupaten Jipang

Kabupaten Bojonegoro

Perbedaan ledre dengan gapit yaitu ledre lebih halus, lembut dan aroma pisangnya menyengat, sementara gapit agak kasar. selain dari pisang raja ledre juga

Jawa Timur

yang terkenal asli Blitar yaitu rambutan. Bojonegoro memiliki makanan khas ledre, serabi khas bojonegoro, dan putu bambu. Bondowoso merupakan penghasil tape

Gemblong

rupa makanan seperti lempeng merah, juwadah, jฤ•nang, puthu mayang, serabi, ledre isรจn, Carabikang merah dan putih, lemper, sรชmar tinandhu, pisang bakar,

Daftar masakan Indonesia

Es Karet Nasi Boranan Nasi Becek Keripik Tempe Tape (Tapai) Suwar-suwir Ledre (kue/keripik pisang raja) Nasi Buwuhan Pelas Jagung Sayur Asem Talas Gulai

Daftar julukan kota di Indonesia

Bumi Wali Tulungagung: Marmer Bojonegoroย : kota jati, kota minyak, kota ledre Pacitan: 1001 Goa Denpasar: Kota Seribu Pura Mataram: Kota Seribu Masjid

Gapluk, Purwosari, Bojonegoro

Gapluk adalah desa di kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Indonesia. Desa ini adalah salah satu sentra produksi ledre. l b s