Bus tingkat milik Lorena trayek Jakarta–Malang sedang berada di Terminal Purabaya, dengan karoseri New Setra Jetbus2+ SDD produksi Adi Putro | |
| Induk | Lorena Holding Group |
|---|---|
| Didirikan | 9 September 1970 |
| Mulai operasi | 1973[1] |
| Kantor pusat | Jalan K.H. Hasyim Ashari Nomor 15C, Petojo Utara, Gambir, Jakarta Pusat, Jakarta, Indonesia |
| Wilayah layanan | |
| Jenis layanan |
|
| Hub | 28 kantor perwakilan dan agen |
| Garasi | Jalan Tajur Nomor 106, Tajur, Bogor Timur, Bogor, Jawa Barat, Indonesia |
| Armada | 500 unit/hari (Mercedes-Benz) |
| Jenis bahan bakar | |
| Operator | |
| Pimpinan |
|
| Situs web | lorena-transport |
PT Eka Sari Lorena Transport Tbk, PT Ryanta Mitra Karina, dan PT Sari Lorena adalah tiga perusahaan otobus Indonesia yang berasal dari Jakarta. Ketiga perusahaan otobus ini merupakan lengan bisnis utama dari Lorena Holding Group serta mengoperasikan bus perkotaan, bus antar-jemput, dan bus permukiman (Lorena), bus antarkota (Lorena/Karina), dan bus pariwisata (Sari Lorena), serta beroperasi di Jawa, Sumatra, Madura, dan Bali. Garasi pusat bus Lorena dan Karina terletak di Kota Bogor, Jawa Barat.
Sejarah
suntingAwal pembentukan
suntingGagasan mendirikan perusahaan otobus Lorena berawal dari pengalaman pribadi Gusti Terkelin Soerbakti, seorang perwira zeni TNI-AD pada awal 1970-an, ketika ia sering bolak-balik Bogor–Jakarta. Ia tidak nyaman dengan kondisi bus yang panas, berdebu, dan kurang ramah terhadap penumpang. Ketidakpuasan tersebut menumbuhkan tekad untuk membangun usaha transportasi darat yang mengutamakan kenyamanan, keamanan, dan ketepatan waktu bagi masyarakat.[2]
Antara tahun 1970–1973, Gusti Terkelin memutuskan mundur perlahan-lahan dari tugas militer dan menjual rumahnya untuk dijadikan modal awal.[2] Ia mengontrak dua rumah; satu di Jakarta sebagai kantor pusat sementara, dan di Ciawi sebagai garasi, lalu membeli dua unit bus berkapasitas 40 tempat duduk tanpa pendingin ruangan (AC) seharga Rp12,5 juta. Bus tersebut diberi nama "Lorena", diambil dari nama anak pertamanya, dengan trayek pertama Bogor–Jakarta pulang-pergi—yang menjadi titik awal berdirinya PO Lorena, yang kala itu berbadan hukum persekutuan komanditer dengan nama CV Lorena Transport & Tour.[3]
CV Lorena Transport & Tour secara resmi berdiri pada 9 September 1970, meski bus pertamanya baru jalan tiga tahun kemudian. Unit bus pertamanya, yang saat ini disimpan sebagai monumen, adalah Lorena 001, menggunakan karoseri bus kapsul produksi Rahayu Santosa dan didukung sasis Mercedes-Benz OF 1113. Bus tersebut menggunakan pola pengecatan putih-hijau dengan garis batas oranye-kuning, dan masih terus dipertahankan hingga sekarang.[1]
Berkat pelayanan prima dan kedisiplinan manajemen, Lorena berkembang pesat. Pada tahun 1975, trayek diperluas menjadi Jakarta–Bogor–Bandung, didukung pinjaman dari Bank Bumi Daya untuk menambah lima unit bus baru. Keberhasilan ekspansi ini membuat Lorena mulai memperoleh keuntungan stabil dan pelanggan setia.[4]
Pada tahun 1979, G.T. Soerbakti purnatugas dari TNI-AD.[2] Memasuki awal 1980-an, Lorena semakin berani berekspansi. Tahun 1982, dibuka trayek Bogor–Jakarta–Surabaya dengan bus ber-AC 28 kursi, sehingga menjadi pelopor layanan bus antarkota antarprovinsi kelas non-ekonomi di Indonesia. Lorena pun melengkapinya dengan fasilitas yang kala itu belum pernah diadopsi oleh perusahaan otobus lain, seperti toilet, kursi lebar, AC, tempat duduk bernomor.[4][5] Bahkan, Lorena juga membuka kelas Super Eksekutif berkapasitas 21 kursi dengan fasilitas setara pesawat terbang kelas bisnis. Pada 1986, jaringannya meluas ke berbagai kota besar di Jawa dan Sumatra.[6]
Prestasi Lorena diakui secara nasional melalui penghargaan Cipta Phala Adidaya (1990)[6] dan Adi Cipta Nugraha (1992)[7] atas inovasi dan mutu layanan. Hingga awal 1990-an, Lorena mengoperasikan lebih dari 100 unit bus dengan tingkat okupansi 80%.[3][5] Pada 1989, Gusti Terkelin memperluas bisnisnya dengan mengakuisisi PO Raseko di Surabaya dan mengubah namanya menjadi Ryanta Mitra Karina (gabungan dari nama anak kedua dan ketiga Gusti Terkelin, Dwi Ryanta Soerbakti dan Trihayu Mitra Karina Soerbakti), yang melayani trayek Surabaya–Jakarta dan Surabaya–Malang. Sinergi Lorena–Karina kemudian memperkuat jaringan Lorena Group di seluruh Pulau Jawa.[8]
Ekspansi dan diversifikasi bisnis bus
suntingMemasuki abad ke-21, perjalanan PO Lorena ditandai dengan perubahan fundamental dalam struktur perusahaannya. Pada 26 Februari 2002, CV Lorena Transport & Tour secara resmi bertransformasi menjadi perseroan terbatas dengan nama PT Eka Sari Lorena Transport. Pengukuhan status badan hukum ini menjadi tonggak penting dalam upaya profesionalisasi dan penguatan tata kelola perusahaan. Tidak lama setelah perubahan tersebut, tepatnya pada Maret 2002, PT Eka Sari Lorena Transport mulai beroperasi secara komersial sebagai entitas baru yang lebih siap bersaing di industri transportasi. Dalam struktur korporasinya, perusahaan ini berada di bawah naungan PT Lorena sebagai induk usaha yang tergabung dalam Lorena Holding Group.[9]

Setelah memperkuat fondasi bisnisnya sebagai perusahaan otobus antarkota, Lorena mulai memperluas cakupan layanan dengan memasuki sektor transportasi perkotaan. Langkah strategis ini terwujud pada tahun 2007 ketika Lorena untuk pertama kalinya memenangkan lelang pengoperasian bus raya terpadu (BRT) Transjakarta. Perusahaan dipercaya mengelola Koridor 5 dengan rute Kampung Melayu–Ancol serta Koridor 7 dengan rute Kampung Melayu–Kampung Rambutan. Keterlibatan ini menandai babak baru bagi Lorena, karena sebelumnya perusahaan lebih dikenal sebagai operator bus antarkota dan pariwisata, bukan angkutan massal perkotaan.[10]
Pengoperasian armada Transjakarta oleh Lorena diresmikan pada 23 Oktober 2008 dalam sebuah acara di pool Ceger, Jakarta Timur, yang dihadiri oleh Dwi Ryanta. Dalam pengembangan layanan tersebut, Lorena mengoperasikan 13 unit bus gandeng baru untuk Koridor 5 dan 34 unit bus single-deck untuk Koridor 7. Penambahan armada ini ditujukan untuk menurunkan waktu tunggu penumpang secara signifikan serta meningkatkan kualitas layanan. Bus-bus tersebut telah dilengkapi teknologi modern pada masanya, seperti sistem GPS untuk memantau posisi kendaraan secara real-time dan televisi sebagai sarana hiburan bagi penumpang selama perjalanan.[10]
Dedikasi Lorena dalam dunia transportasi bus nasional mendapatkan pengakuan resmi dari pemerintah. Pada 16 Maret 2011, Kementerian Perhubungan Republik Indonesia menganugerahkan penghargaan loyalitas 30 tahun berkarya dalam sejarah transportasi bus kepada Lorena. Penghargaan ini mencerminkan kontribusi panjang perusahaan dalam menyediakan layanan angkutan darat bagi masyarakat Indonesia, sekaligus mempertegas posisi Lorena sebagai salah satu pemain utama dalam industri transportasi bus nasional.[11]
Masih pada tahun 2011, Lorena kembali menunjukkan eksistensinya di sektor transportasi perkotaan dengan memenangkan lelang pengoperasian bus pengumpan Transjakarta. Perusahaan dipercaya melayani Rute 1 Sentra Primer Barat–Daan Mogot, Rute 2 Tanah Abang–Balai Kota, dan Rute 3 SCBD–Senayan. Sebanyak 15 unit bus sedang berkapasitas sekitar 35 penumpang disiapkan untuk tahap awal pengoperasian. Kontrak operasional berlangsung selama tujuh tahun tanpa menggunakan dana APBD, karena seluruh pembiayaan ditanggung oleh operator. Bus pengumpan ini dirancang terintegrasi langsung dengan koridor utama Transjakarta melalui halte dengan tinggi lantai yang sama, sehingga memudahkan perpindahan penumpang. Layanan tersebut diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, Fauzi Bowo, pada 28 September 2011.[12]
Perkembangan penting lainnya terjadi pada 15 April 2014 ketika PT Eka Sari Lorena Transport resmi melantai di Bursa Efek Indonesia. Dalam penawaran umum perdana sahamnya, perusahaan melepas 270 juta lembar saham seri B dan berhasil menghimpun dana sekitar Rp135 miliar. Pencatatan saham ini menjadikan Lorena sebagai perusahaan otobus yang berstatus emiten publik, sekaligus membuka akses permodalan yang lebih luas. Langkah ini dipandang sebagai strategi untuk memperkuat posisi keuangan perusahaan serta mendukung rencana ekspansi dan pengembangan usaha di tengah persaingan industri transportasi yang semakin ketat.[13]
Memasuki akhir dekade 2010-an, Lorena menghadapi tantangan besar akibat perubahan pola mobilitas dan meningkatnya persaingan dengan moda transportasi lain. Pada 3 Desember 2018, perusahaan mengumumkan rencana penutupan sejumlah trayek antarkota antarprovinsi yang dinilai tidak lagi menguntungkan, terutama karena tekanan dari kereta api dan pesawat bertarif rendah. Lorena juga mencatat bahwa operasional Transjakarta menjadi sumber kerugian terbesar pada 2017, dengan masa kontrak berakhir pada 11 November 2018. Menyikapi kondisi tersebut, Lorena merencanakan pergeseran model bisnis menuju konsep boutique mass transportation melalui layanan corporate rental, Transjabodetabek Reguler, JR Connexion, dan JA Connexion.[14] Strategi ini berlanjut dengan peluncuran layanan JA Connexion pada 21 November 2019 yang melayani rute ke Bandara Soekarno–Hatta dan Bandara Halim Perdanakusuma dari berbagai titik di Jabodetabek, sekaligus menunjukkan upaya Lorena untuk tetap relevan dan adaptif dalam dinamika transportasi abad ke-21.[15]
Armada
sunting
Sejak awal berdirinya, Lorena, Karina, dan Sari Lorena dikenal sangat konsisten menggunakan sasis buatan Mercedes-Benz sebagai tulang punggung armadanya.[16] Pilihan ini dimulai dari masa awal operasional dengan penggunaan sasis Mercedes-Benz OF 1113 untuk bus-bus pertamanya.[1] Seiring perkembangan teknologi dan kebutuhan layanan, Lorena kemudian beralih ke sasis yang lebih modern seperti Mercedes-Benz OH 1525 untuk armada antarkota generasi berikutnya,[17] serta OC 500 RF 2542 yang digunakan khusus pada bus tingkat.[18] Dalam hal karoseri, Lorena juga menjalin kerja sama dengan sejumlah perusahaan karoseri ternama di Indonesia, mulai dari Rahayu Santosa pada era awal operasional,[1] hingga Adi Putro dan Laksana yang mendominasi produksi bodi untuk armada Lorena yang lebih baru.[18][17]
Armada bus tingkat Lorena dan Karina menjadi salah satu tonggak penting modernisasi layanan kedua perusahaan ini. Bus tingkat tersebut resmi dirilis pada tahun 2017 dengan total 12 unit, masing-masing dibangun di atas sasis Mercedes-Benz OC 500 RF 2542 dengan harga per unit mencapai sekitar Rp3,4 miliar. Bus ini menggunakan karoseri New Setra Jetbus2+ SDD produksi Adi Putro, yang dirancang untuk kenyamanan perjalanan jarak jauh. Dari sisi performa, bus tingkat ini dibekali mesin berkapasitas 11.967 cc (730,3 cu in) dengan tenaga maksimum hingga 422 hp (315 kW) dan torsi puncak mencapai 1.900 N⋅m (1.400 lbf⋅ft) pada putaran mesin 1.100 rpm, sehingga mampu melaju hingga maksimum sekitar 120 km/jam.[18]
Selain segmen antarkota, Lorena juga aktif di sektor bus perkotaan dan layanan antar-jemput. Di Jakarta, Lorena mengoperasikan bus Komodo pada Transjakarta Koridor 5 serta bus Hino RK1JSNL di Koridor 7, yang seluruhnya menggunakan bahan bakar gas alam terkompresi dan tampil dengan warna abu-abu khas.[19][20] Meski demikian, pada 3 Juli 2015 sempat terjadi insiden kebakaran pada salah satu unit bus Komodo, yang berujung pada penarikan seluruh armada sejenis.[19] Di luar layanan perkotaan, Lorena juga mengoperasikan armada Isuzu Elf untuk layanan antar-jemput, JR Connexion, dan JA Connexion, yang ditujukan untuk perjalanan jarak pendek hingga menengah dengan fleksibilitas dan efisiensi tinggi.[15]
Sejak 9 Oktober 2022, Lorena, bekerja sama dengan Sinar Mas Land yang merupakan pengembang BSD City mengoperasikan bus listrik produksi Skywell NJL6730BEV, Tiongkok, untuk operasional BSD Link Electric Bus. Nilai investasinya kira-kira Rp3,8 miliar, dilengkapi dengan penggerak listrik dan battery pack litium besi fosfat berkapasitas 114 kWh (410 MJ), mampu menempuh jarak hingga 180 km (110 mi) dengan kelajuan maksimum 50 km/h (31 mph), serta muat sekitar 30 penumpang dengan berbagai fasilitas modern seperti CCTV, pengisian daya USB, dan sistem pengenalan wajah dan pengecek suhu tubuh.[21]
Trayek
suntingBus antarkota antarprovinsi
suntingSebagai operator bus antarkota antarprovinsi, saat ini Lorena dan Karina mempunyai trayek jarak jauh yang membentang dari pulau Bali, Jawa, Madura, hingga Sumatra yang dilayani dengan 500 armada bus besar kelas eksekutif dan bisnis, baik bus besar lantai tunggal maupun bus tingkat.[16] Dengan didukung 28 kantor perwakilan dan agen resmi berdasarkan catatan di situs resminya, PO ini menjadikan bus AKAP sebagai lini bisnis utamanya, dengan rute yang sangat luas mencakup Sumatra, Jawa, dan Bali, dan merupakan salah satu PO yang mendukung layanan bus Trans-Jawa.[22][23][24] Armada AKAP Lorena dan Karina berjalan dalam dua kelas perjalanan, yakni Super Eksekutif dengan fasilitas lengkap seperti AC, TV/AVOD pribadi, dan toilet; serta Eksekutif dengan kursi yang bisa direbahkan, AC, dan fasilitas standar kenyamanan perjalanan jauh lainnya. Layanan ini sering dipilih untuk perjalanan jarak jauh termasuk lintas provinsi dan pulau karena jangkauannya yang luas dan opsi rute yang fleksibel sesuai kebutuhan penumpang.[25]
Dalam operasionalnya, bus tingkat Lorena dan Karina difokuskan untuk melayani rute-rute jarak jauh dengan tingkat permintaan tinggi. Beberapa rute utama yang dilayani oleh armada ini antara lain Jakarta–Surabaya–Malang serta Jakarta–Madura. Kehadiran bus tingkat ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kapasitas angkut penumpang, tetapi juga untuk memperkuat citra Lorena dan Karina sebagai penyedia layanan transportasi antarkota yang mengedepankan kenyamanan, keamanan, dan teknologi kendaraan modern di kelasnya.[26][27]
Namun, bisnis bus AKAP ini tidak selamanya tahan lama. Pada 3 Desember 2018, Lorena melaporkan bahwa mereka telah menutup trayek AKAP yang sudah tidak lagi menguntungkan, terutama karena persaingan dengan PO lain serta tekanan dari moda lain termasuk kereta api dan pesawat bertarif rendah. Trayek yang ditutup tersebut meliputi trayek dengan tujuan Padang, Bukittinggi, Solo, Yogyakarta, dan Prabumulih.[28] Pada satu kasus, Lorena dengan trayek menuju Kota Padang, Sumatera Barat, justru ditutup sebagai akibat dari persaingan keras dengan PO lain, termasuk PO asli Sumatera Barat serta pesawat bertarif rendah. Garasi cabang dan kantor perwakilan yang berlokasi di Padang akhirnya dijual ke Antar Lintas Sumatera (ALS).[29]
Bus perkotaan
suntingSaat ini, Lorena mengoperasikan Transjabodetabek, baik reguler maupun premium. Layanan ini lebih bersifat angkutan umum kota besar, dan melengkapi portfolio layanan Lorena yang kini tak lagi hanya fokus pada rute AKAP jauh tetapi juga mobilitas harian perkotaan.[30] Dahulu, Lorena pernah menjadi operator angkutan perkotaan berupa layanan bus raya terpadu Transjakarta pada tahun 2008 hingga 2018. Armadanya sebanyak 47 unit bus besar dengan bahan bakar gas (BBG). Rinciannya adalah sebagai berikut.
: Kampung Melayu–Ancol dengan 13 bus gandeng Asian Auto International (AAI) Komodo (bus gandeng).[19]
: Kampung Melayu–Kampung Rambutan dengan 34 bus tunggal Hino RK1JSNL.[31]
Bus pemadu moda
sunting
Pada 21 November 2019, Lorena meluncurkan trayek JA Connexion sebagai upaya untuk menyediakan transportasi darat yang terintegrasi dengan moda transportasi udara bagi masyarakat Jabodetabek. Layanan ini resmi diluncurkan untuk melayani dua bandara utama di Jakarta, yakni Bandara Internasional Soekarno–Hatta dan Bandara Halim Perdanakusuma, dengan beberapa titik jemput strategis yang tersebar di kawasan Jabodetabek. Untuk rute menuju Soekarno–Hatta, Lorena menyediakan titik jemput di lokasi seperti Lebak Bulus, QBIG, ÆON Mall BSD City, The Breeze, dan Halte Sektor 1.3, sementara untuk rute ke Bandara Halim, ada titik seperti Mall Ciputra Cibubur dan Tajur Bogor. Armada yang digunakan adalah Isuzu Elf Jumbo berkapasitas sekitar 16 penumpang yang dilengkapi fasilitas seperti Wi-Fi gratis, USB, serta ruang bagasi yang memadai, sehingga perjalanan dari maupun menuju bandara dapat dilakukan dengan lebih nyaman.[15]
Selain mengandalkan Elf, PO ini juga membuka bus pengumpan dari Bandara Soekarno–Hatta menuju Kota Tangerang Selatan.[32] Peluncuran JA Connexion ini merupakan bagian dari strategi Lorena untuk memperluas segmentasi layanan transportasi darat yang tidak hanya fokus pada rute AKAP atau perkotaan, tetapi juga berperan sebagai penghubung penting antara wilayah permukiman dengan bandara. Dengan menyediakan layanan serupa antar-jemput yang terjadwal dan mengoptimalkan titik jemput di sejumlah pusat transportasi dan area komersial, Lorena berharap dapat menjadi alternatif bagi penumpang yang ingin menghindari repotnya perjalanan menuju atau dari bandara dengan kendaraan pribadi atau taksi. Pengembangan armada JA Connexion juga direncanakan terus ditambah dengan target operasional yang lebih luas ke depan, sehingga layanan ini dapat mencakup lebih banyak rute dan memenuhi kebutuhan mobilitas warga Jabodetabek yang semakin dinamis.[15]
Bisnis nontrayek
suntingBus permukiman Jabodetabek
suntingBisnis bus permukiman Jabodetabek yang dijalankan Lorena melalui segmen JR Connexion merupakan jawaban atas kebutuhan mobilitas harian masyarakat komuter yang tinggal di kawasan penyangga ibu kota. Dengan menghubungkan permukiman terencana seperti Kota Wisata dan BSD ke pusat-pusat aktivitas ekonomi Jakarta seperti Blok M, Sudirman, dan kawasan Monas, layanan ini memosisikan diri sebagai alternatif transportasi yang lebih nyaman dan terprediksi dibandingkan kendaraan pribadi. Pola angkutan berjadwal memungkinkan para pekerja mengatur waktu berangkat dan pulang kerja dengan lebih efisien, sekaligus mengurangi tingkat stres akibat kemacetan. Penggunaan bus berkapasitas sekitar 41 kursi yang dilengkapi AC dan TV menunjukkan fokus Lorena pada kenyamanan penumpang, sehingga perjalanan jarak menengah dari pinggiran ke pusat kota dapat dimanfaatkan untuk beristirahat atau bersiap menghadapi aktivitas kerja. Secara bisnis, segmen ini mencerminkan adaptasi Lorena terhadap perubahan pola urbanisasi dan pertumbuhan kawasan hunian di sekitar Jakarta, di mana kebutuhan transportasi massal yang andal menjadi semakin penting.[33]
Sejak 9 Oktober 2022, Lorena, bekerja sama dengan Sinar Mas Land yang merupakan pengembang BSD City mengoperasikan bus listrik untuk operasional BSD Link Electric Bus. Bus listrik ini beroperasi setiap hari dari pukul 07.00 hingga 19.35 WIB dengan enam rute pemberhentian dari Terminal Intermoda dan kembali lagi ke titik awal, yang bisa ditempuh sekitar satu jam perjalanan. Di awal peluncurannya, warga BSD City dan publik dapat mencoba layanan bus ini secara gratis tanpa registrasi, memberikan kesempatan bagi publik untuk menjajal transportasi listrik ini sejak awal peluncurannya. Kerja sama ini merupakan bagian dari komitmen layanan transportasi publik di BSD City yang sudah terjalin selama lima tahun, dengan tujuan menyediakan sarana transportasi yang nyaman dan ramah lingkungan untuk penghuni serta pengunjung kawasan tersebut.[21]
Bus pariwisata dan carteran
suntingBisnis bus pariwisata dan carteran Grup Lorena berakar dari langkah awal Gusti Terkelin pada pertengahan 1980-an, ketika ia memanfaatkan pinjaman dari bank BUMN untuk membeli delapan unit bus nontrayek. Inisiatif ini menjadi fondasi berdirinya CV Sari Lorena (sekarang PT Sari Lorena), yang sejak awal berfokus pada layanan angkutan pariwisata dan sewa bus untuk berbagai keperluan, seperti perjalanan wisata, rombongan perusahaan, dan kegiatan institusional. Pertumbuhan armada hingga mencapai 20 unit bus pada tahun 1994 menunjukkan adanya permintaan pasar yang kuat serta kemampuan manajemen dalam mengembangkan usaha secara bertahap. Segmen pariwisata dan carteran ini memberikan fleksibilitas bisnis karena tidak terikat trayek tetap, memungkinkan Sari Lorena melayani berbagai rute dan kebutuhan pelanggan di berbagai daerah. Selain menjadi sumber pendapatan penting, pengalaman mengelola bus nontrayek ini juga membentuk kompetensi operasional Lorena Group dalam hal perawatan armada, pelayanan pelanggan, dan manajemen perjalanan jarak jauh, yang kemudian mendukung ekspansi perusahaan ke berbagai lini layanan transportasi lainnya.[34]
Angkutan barang khusus
suntingPada masa pandemi Covid-19, Lorena menjajaki area bisnis angkutan limbah medis atau pengangkutan bahan berbahaya dan beracun (B3) sebagai bentuk diversifikasi usaha di luar angkutan penumpang. Langkah ini dipandang sebagai peluang baru yang potensial memberikan margin tinggi mengingat kebutuhan regulasi dan kecepatan dalam pengelolaan limbah medis, meskipun pada awalnya usaha ini dilakukan dalam skala kecil dengan beberapa unit armada yang dimodifikasi untuk kebutuhan tersebut. Pada 2022, PO ini memperoleh izin dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, yang merekomendasikan Lorena sebagai perusahaan pengangkut limbah medis dan B3.[35][36]
Referensi
sunting- ^ a b c d Pratama, Ilham (11 September 2020). "PO Lorena Ulang Tahun Ke-50, Seperti Ini Bus Pertamanya". otodriver. Diakses tanggal 27 Oktober 2025.
- ^ a b c Husada 1996, hlm. 129.
- ^ a b Husada 1996, hlm. 130.
- ^ a b Husada 1996, hlm. 131.
- ^ a b Makoguru & Reda 2003, hlm. 12.
- ^ a b Husada 1996, hlm. 132.
- ^ Husada 1996, hlm. 134.
- ^ Husada 1996, hlm. 133-134.
- ^ Okezone (27 Desember 2022). "Profil Eka Sari Lorena, Penerus Generasi kedua PT Eka Sari Lorena Transport LRNA - PAGE 2 : Okezone Economy". https://economy.okezone.com/. Diakses tanggal 27 Oktober 2025.
- ^ a b "Bus Baru TransJakarta Full Video". detiknews. Diakses tanggal 27 Oktober 2025.
- ^ "10 PERUSAHAAN BUS DAPATKAN PENGHARGAAN LOYALITAS Kementerian Perhubungan Republik Indonesia". dephub.go.id. Diakses tanggal 15 November 2025.
- ^ "Mulai Besok, Feeder Busway Siap Beroperasi". detiknews. Diakses tanggal 27 Oktober 2025.
- ^ Sukmana, Y. (15 April 2014). "Melantai di Bursa, Lorena Raup Rp 135 Miliar". Kompas.com. Diakses tanggal 27 Oktober 2025.
- ^ Industry.co.id. "Lorena Transport Lakukan Inovasi Model Bisnis - Industry.co.id - Industry News - Berita Industri". industry.co.id. Diakses tanggal 27 Oktober 2025.
- ^ a b c d Khairunnisa, S.N.; Agmasari, S. (21 November 2019). "Lorena Layani Transportasi Bandara Soekarno-Hatta dan Halim Perdanakusuma". Kompas.com. Diakses tanggal 27 Oktober 2025.
- ^ a b Anshori, Luthfi. "PO Lorena Hobi Pakai Sasis Mercedes-Benz di Armada Busnya, Tembus 500 Unit". detikoto. Diakses tanggal 27 Oktober 2025.
- ^ a b Sibarani, W. (22 Mei 2023). "Bus Lorena Rute Jakarta-Denpasar, Tampil Lebih Segar dengan Bodi Legacy SR2 dari Karoseri Laksana". iNews. Diakses tanggal 27 Oktober 2025.
- ^ a b c "Mengapa PO Lorena Pilih Gunakan Sasis Mercedes-Benz? Ini Alasannya". TIMES Indonesia. 14 Mei 2021. Diakses tanggal 27 Oktober 2025.
- ^ a b c Belarminus, R. (4 Juli 2015). "Ini Hasil Pemeriksaan Bus Transjakarta Komodo Milik Lorena". Kompas.com. Diakses tanggal 27 Oktober 2025.
- ^ Media, Kompas Cyber. "Foto : Bus Transjakarta dari Lorena Segera Beroperasi". KOMPAS.com. Diakses tanggal 27 Oktober 2025.
- ^ a b Arifin, Ridwan. "Lorena Pakai Bus Listrik China, Mau Coba? Masih Gratis!". detikoto. Diakses tanggal 23 Januari 2026.
- ^ Azka, Rinaldi Mohammad (20 Mei 2019). "Saran PO Lorena ke Pemerintah Soal Trayek Bus Tol Trans-Jawa". Bisnis.com. Diakses tanggal 22 Januari 2026.
- ^ Media, Kompas Cyber (18 Maret 2024). "Rute dan Tarif Bus Lorena Executive Jakarta-Denpasar". KOMPAS.com. Diakses tanggal 22 Januari 2026.
- ^ Pratama, Ilham (13 April 2021). "Ada Larangan Mudik, Pool Lorena Bogor Ramai Penumpang". otodriver. Diakses tanggal 22 Januari 2026.
- ^ Media, Kompas Cyber (29 Maret 2021). "Lorena dan Karina, PO Legendaris dengan Fasilitas Mewah". KOMPAS.com. Diakses tanggal 22 Januari 2026.
- ^ Radityasani, M.F.; Maulana, A. (5 April 2021). "Harga Tiket Bus Mewah ke Malang, Mulai Rp 300.000-an". Kompas.com. Diakses tanggal 27 Oktober 2025.
- ^ ZCH1708 (30 Mei 2017). "PO Lorena Operasikan Bus Double Decker Jarak Jauh, Bogor-Jakarta-Madura". otodriver. Diakses tanggal 27 Oktober 2025. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
- ^ Mediatama, Grahanusa (12 Juni 2019). "Manfaatkan rute-rute pendek, Lorena (LRNA) kejar pertumbuhan 20% tahun ini". kontan.co.id. Diakses tanggal 29 Januari 2026.
- ^ "Sempat Miliki Kelas Super Eksekutif, Bus Ini Nyalakan Sein Kiri di Lintasan Padang-Jakarta, Belum Ada Tanda Akan Bangkit Lagi » Tirasonline.com". 19 Juni 2024. Diakses tanggal 22 Januari 2026.
- ^ Mediatama, Grahanusa (27 November 2018). "Eka Sari Lorena (LRNA) bakal buka rute baru Transjabodetabek". kontan.co.id. Diakses tanggal 29 Januari 2026.
- ^ D., Pahrevi; Patnistik, E. (11 November 2018). "Penggemar Transjakarta Sayangkan Bus Lorena Dipensiunkan". Kompas.com. Diakses tanggal 27 Oktober 2025.
- ^ Mediatama, Grahanusa (10 Februari 2016). "Eka Sari Lorena mengincar rute bus feeder Tangsel". kontan.co.id. Diakses tanggal 22 Januari 2026.
- ^ Pratama, I. (16 Januari 2020). "Lorena Buka Rute Shuttle Dari Cibubur dan BSD, Ini Tarifnya". OtoDriver. Diakses tanggal 23 Januari 2026.
- ^ Husada 1996, hlm. 133.
- ^ Binekasri, Romys. "Lorena & Sinar Mas Kerjasama Bisnis Pengadaan Transportasi". CNBC Indonesia. Diakses tanggal 22 Januari 2026.
- ^ "Bus Lorena Alih Fungsi Jadi Angkutan Limbah Medis". TopBusiness (dalam bahasa American English). 24 Agustus 2020. Diakses tanggal 22 Januari 2026.
Daftar pustaka
sunting- Husada, S. (1996). 36 profil wirausaha sukses Indonesia. Jakarta: Elex Media Komputindo. ISBN 9789796630653. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Makugoru, P.; Reda, C. (2003). "Gusti Terkelin Soerbakti: Berangkat dari Rasa Tidak Puas". Reformata. I (4): 12.
Pranala luar
sunting
Media terkait Lorena buses di Wikimedia Commons
- (Indonesia) Situs web resmi

- (Indonesia) Daftar kantor perwakilan dan agen Lorena