Broome Pearling Lugger Pidgin adalah sebuah pidgin yang berkembang di Broome, Australia Barat pada awal abad ke-20 sebagai bahasa perantara dalam industri penangkapan mutiara. Bahasa ini digunakan di atas kapal lugger oleh pekerja multietnis yang tidak memiliki bahasa bersama.
Latar belakang
suntingIndustri mutiara di Broome mempertemukan pekerja dari berbagai wilayah, termasuk Jepang, Melayu, Filipina, Sri Lanka, Tiongkok Hakka, Korea, serta berbagai kelompok Penduduk asli Australia. Kondisi kerja di kapal yang sempit dan multibahasa menyebabkan kebutuhan akan sistem komunikasi sederhana yang kemudian berkembang menjadi pidgin.
Sebagian besar awak kapal terdiri dari pekerja Aborigin dan Asia seperti Melayu, Jepang, Koepanger, dan lainnya, yang berinteraksi dalam konteks kerja laut tanpa bahasa dominan tunggal.
Asal-usul dan pembentukan
suntingBroome Pearling Lugger Pidgin terutama berbasis Melayu Kupang sebagai substrat utama, dengan tambahan dari:
- Bahasa Jepang (terutama partikel tata bahasa)
- Bahasa Inggris (melalui Pidgin Inggris Aborigin Australia)
- Bahasa Hakka
- bahasa-bahasa Aborigin lokal
Meskipun terdapat pengaruh Eropa, struktur dasar bahasa ini tidak sepenuhnya berbasis Inggris, melainkan dominan Austronesia.
Ciri linguistik
suntingKosakata
suntingKosakata dasar banyak berasal dari Melayu, misalnya:
- karaja (kerja)
- tera (tidak / negasi)
- ratang (datang)
- ujan (hujan)
- banyaa (banyak)
- kotor (kotor)
Pengaruh Jepang
suntingBahasa ini juga mengadopsi partikel Jepang seperti:
- -ka (pertanyaan ya/tidak)
- -ya (kopula)
- -nga (penanda topik)
Uniknya, partikel -ka juga dapat digunakan dalam konteks kondisional dengan perbedaan intonasi.
Contoh kalimat
sunting- po:rr kicchi:-ya
(โmutiara itu kecilโ)
- ujan banya: ratang -ka: tera karaja dekko anga:
(โJika hujan semakin deras, kita berhenti bekerja dan menurunkan jangkar.โ)
Fonologi dan intonasi
suntingBeberapa penelitian mencatat adanya perbedaan intonasi pada partikel:
- nada tinggi: makna kondisional
- nada rendah: makna pertanyaan
Sejarah penggunaan
suntingPidgin ini digunakan terutama dalam konteks kerja di kapal mutiara hingga pertengahan abad ke-20. Tidak ada penutur asli (L1), karena bahasa ini hanya digunakan sebagai bahasa kerja (L2).
Dengan menurunnya keberagaman tenaga kerja di industri mutiara dan meningkatnya dominasi bahasa Inggris, penggunaan pidgin ini mulai menghilang sekitar akhir 1960-an.
Kosakata pinjaman dari Melayu
suntingBerikut beberapa istilah Broome Pearling Lugger Pidgin yang berasal dari bahasa Melayu:
Daftar istilah
suntingIstilah-istilah ini menunjukkan dominasi leksikal Melayu dalam pembentukan pidgin tersebut.
Warisan
suntingMeskipun sudah tidak lagi digunakan, beberapa unsur kosakata masih bertahan dalam komunitas lokal sebagai penanda identitas sejarah pekerja mutiara multietnis di Broome.
Lihat juga
suntingReferensi
sunting- ^ a b Broome Pearling Lugger Pidgin di Ethnologue (edisi ke-25, 2022)
- ^ Hammarstrรถm, Harald; Forkel, Robert; Haspelmath, Martin, ed. (2023). "Broome Pearling Lugger Pidgin". Glottolog 4.8. Jena, Jerman: Max Planck Institute for the Science of Human History. ; ;
- ^ P3 Broome Pearling Lugger Pidgin at the Australian Indigenous Languages Database, Australian Institute of Aboriginal and Torres Strait Islander Studies
- ^ "Bahasa pijin kapal pengangkut mutiara Broome". www.ethnologue.com (dalam bahasa Inggris). SIL Ethnologue.
Bacaan lanjut
sunting- Hosokawa, Komei (1987). "Malay Talk on Boat: An Account of Broome Pearling Lugger Pidgin". In D. Laycock & W. Winter (eds.), A World of Language. Pacific Linguistics. hlm. 287โ296.
- McGregor, William (2004). The Languages of the Kimberley, Western Australia. Taylor & Francis.
- The Language Closet (2022). "Probably the weirdest language crossover". Blog linguistik daring.