| Bahasa Jepang
| |||||||||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
Nihon-go dalam Kanji secara vertikal | |||||||||||||||||||||
| Pengucapan | /nihoNษกo/: [ษฒihoลษกo] | ||||||||||||||||||||
| Dituturkanย di | Jepang dan Palau. Masyarakat perantau menuturkan di Amerika Serikat (Hawaii), Brasil, Taiwan, dan lain-lain | ||||||||||||||||||||
| Etnis | Bangsa Jepang (Yamato) | ||||||||||||||||||||
Penutur | 128 juta jiwa[1]ย (2020)
Perincian data penutur Jumlah penutur beserta (jika ada) metode pengambilan, jenis, tanggal, dan tempat.
| ||||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||
| Sistem aksara Jepang (Kanji dan Kana) | |||||||||||||||||||||
| Bahasa Isyarat Jepang | |||||||||||||||||||||
| Status resmi | |||||||||||||||||||||
Bahasa resmiย di | |||||||||||||||||||||
Diakui sebagai bahasa minoritasย di | |||||||||||||||||||||
| Diaturย oleh | NINJAL | ||||||||||||||||||||
| Kode bahasa | |||||||||||||||||||||
| ISO 639-1 | ja | ||||||||||||||||||||
| ISO 639-2 | jpn | ||||||||||||||||||||
| ISO 639-3 | jpn | ||||||||||||||||||||
| Glottolog | nucl1643ย (tidak termasuk Hachijo, Tsugaru, dan Kagoshima)[4]japa1256ย (Japanesic)[5] | ||||||||||||||||||||
| Linguasfer | 45-CAA-a | ||||||||||||||||||||
| IETF | ja | ||||||||||||||||||||
|
| |||||||||||||||||||||
| Lokasi penuturan | |||||||||||||||||||||
Penyebaran bahasa Jepang di seluruh dunia: warna biru tua sebagai bahasa resmi, dan biru muda terdapat masyarakat minoritas berbahasa Jepang | |||||||||||||||||||||
| Perkiraan persebaran penuturan bahasa ini. | |||||||||||||||||||||
| Koordinat:ย 36ยฐN 138ยฐE๏ปฟ / ๏ปฟ36ยฐN 138ยฐE | |||||||||||||||||||||
|
Artikel ini mengandung simbol fonetik IPA. Tanpa bantuan render yang baik, Anda akan melihat tanda tanya, kotak, atau simbol lain, bukan karakter Unicode. Untuk pengenalan mengenai simbol IPA, lihat Bantuan:IPA.
| |||||||||||||||||||||
Bahasa Jepang (ๆฅๆฌ่ช (Nihon-go)) adalah bahasa resmi di Jepang dengan jumlah penutur 128 juta jiwa di seluruh dunia.
Bahasa Jepang juga dipertuturkan di sejumlah negara yang pernah menjadi jajahannya, seperti Korea Selatan dan Tiongkok. Bahasa ini juga dituturkan di Amerika Serikat (di California dan Hawaii) dan Brasil akibat imigrasi orang Jepang ke sana. Namun, keturunan mereka yang disebut nisei (ไบไธ), tidak lagi fasih dalam bahasa tersebut.
Bahasa Jepang terbagi menjadi dua bentuk yaitu Hyoujungo (ๆจๆบ่ช), "pelafalan standar", dan Kyoutsugo (ๅ ฑ้่ช), "pelafalan umum". Hyoujungo adalah bentuk kata/pelafalan yang diajarkan di sekolah dan digunakan di televisi dan tempat formal lainnya.
Sejarah
suntingPrasejarah
suntingProto-Japonik, leluhur dari bahasa Jepang dan Ryukyu diperkirakan telah dibawa ke Kepulauan Jepang dan Ryukyu oleh para pendatang dari Semenanjung Korea sekitar awal hingga pertengahan abad ke-4 SM (Zaman Yayoi), menggantika bahasa-bahasa orang Jลmon (termasuk kerabat dan leluhur dari Ainu).[9] Karena tulisan belum diperkenalkan dari Tiongkok, tidak ada bukti langsung, dan segala sesuatu yang dapat diketahui tentang zaman tersebut harus didasarkan pada rekonstruksi internal dari bahasa Jepang Kuno, atau rekonstruksi perbandingan dengan bahasa Ryukyu dan dialek Jepang.[10]
Jepang Kuno
suntingAksara Tionghoa dibawa ke Jepang dari Baekje sekitar awal abad kelima, bersamaan dengan penyebaran Buddhisme.[11] Naskah paling awal ditulis dengan kaidah Tionghoa Klasik, meskipun beberapa di antaranya kemungkinan dimaksudkan untuk dibaca sebagai bahasa Jepang menggunakan metode kanbun, dan menunjukkan pengaruh tata bahasa Jepang seperti urutan kata bahasa Jepang.[12] Naskah terawal yang diketahui, Kojiki, berasal dari awal abad kedelapan Masehi, dan seluruhnya ditulis dalam aksara Tionghoa, yang digunakan untuk mewakili Tionghoa, kanbun, dan Jepang Kuno.[13] Seperti naskah lain dari periode tersebut, bagian bahasa Jepang Kuno ditulis dalam Man'yลgana, yang menggunakan Kanji dalam hal fonetik dan semantiknya.
Berdasarkan sistem Man'yลgana, bahasa Jepang Kuno dapat direkonstruksi menjadi 88 suku kata yang berbeda. Naskah yang ditulis dengan Man'yลgana menggunakan dua kaidah kanji yang berbeda untuk setiap suku kata yang kini dilafalkan ใ (ki), ใฒ (hi), ใฟ (mi), ใ (ke), ใธ (he), ใ (me), ใ (ko), ใ (so), ใจ (to), ใฎ (no), ใ (mo), ใ (yo), dan ใ (ro).[14] (The Kojiki memiliki 88, tetapi semua naskah setelahnya memiliki 87. Pembeda antara mo1 dan mo2 diduga tidak digunakan lagi segera setelah perpaduannya). Kumpulan penggunaan kana suku kata ini menyusut menjadi 67 dalam bahasa Jepang Pertengahan Awal, meskipun beberapa ditambahkan melalui pengaruh Tionghoa. Man'yลgana juga memiliki simbol untuk /je/, yang menyatu dengan /e/ sebelum akhir periode ini.
Beberapa fosilisasi dasar tata bahasa Jepang Kuno yang masih dipertahankan dalam bahasa Jepang Modern yaitu partikel genitivus tsu (digantikan oleh no modern) diawetkan dalam kata-kata seperti matsuge (har.โ'alis mata'); modern mieru ("untuk dilihat"), dan kikoeru ("untuk didengar") mempertahankan akhiran diatesis mediopasif -yu(ru) (kikoyu โ kikoyuru (bentuk kata sifat atributif, yang perlahan-lahan menggantikan bentuk polos mulai akhir Zaman Heian) โ kikoeru (semua kata kerja dengan pola konjugasi shimo-nidan mengalami pergeseran yang sama dalam bahasa Jepang Modern Awal)); dan partikel genitivus ga tetap dalam ucapan arkais yang disengaja.
Jepang Pertengahan Awal
sunting
Bahasa Jepang Pertengahan Awal adalah bahasa Jepang pada Zaman Heian (tahun 794 hingga 1185). Bahasa ini membentuk kaidah baku tertulis Jepang Klasik, yang tetap umum digunakan hingga awal abad ke-20.
Selama masa tersebut, bahasa Jepang mengalami banyak perkembangan fonologis, dalam banyak kasus dipicu oleh masuknya kata-kata serapan dari Tionghoa. Fitur tersebut termasuk perbedaan panjang fonemik untuk pemanjangan konsonan dan vokal, konsonan palatal (contohnya kya) dan gugusan konsonan bibir (contoh: kwa).[15][16] Hal ini menyebabkan perubahan bahasa Jepang menjadi bahasa yang diatur moranya.[15]
Jepang Pertengahan Akhir
suntingMasa Jepang Pertengahan Akhir mencakup tahun-tahun dari 1185 hingga 1600, dan biasanya dibagi menjadi dua bagian, kira-kira sama dengan Zaman Kamakura dam Zaman Muromachi. Bentuk-bentuk selanjutnya dari bahasa Jepang Pertengahan Akhir adalah yang pertama dijelaskan oleh sumber-sumber non-Jepang, dalam hal ini para misionaris Yesuit dan Fransiskana; dan dengan demikian ada catatan fonologi Jepang Pertengahan Akhir yang lebih baik daripada bentuk-bentuk sebelumnya (contoh: Arte da Lingoa de Iapam). Di antara perubahan bunyi lainnya, urutan /au/ bergabung menjadi /ษห/, berlawanan dengan /oห/; /p/ diperkenalkan kembali melalui kata serapan dari bahasa Tionghoa; dan /we/ bergabung dengan /je/. Beberapa bentuk yang agak lebih akrab bagi penutur bahasa Jepang Modern mulai muncul โ akhiran kesinambungan -te mulai berkurang menjadi kata kerja (contoh: yonde yang diturunkan dari yomite), sisipan -k- pada suku akhir kata sifat menghilang (contoh: shiroi yang diturunkan dari shiroki); dan beberapa bentuk ada di mana bahasa Jepang baku modern mempertahankan bentuk sebelumnya (contoh: hayaku > hayau > hayษษ, di mana bahasa Jepang baku modern hanya memiliki hayaku, meskipun bentuk alternatif dipertahankan dalam sapaan umum o-hayล gozaimasu berarti "selamat pagi"; akhiran ini adalah juga terlihat pada o-medetล berarti "selamat", diturunkan dari medetaku).
Bahasa Jepang Pertengahan Akhir memiliki kata serapan awal dari bahasa-bahasa Eropa โ kata-kata umum yang sekarang dipinjam ke dalam bahasa Jepang pada periode ini termasuk pan ("roti") dan tabako ("tembakau", kini "rokok"), semuanya dari bahasa Portugis.
Jepang Modern
suntingBahasa Jepang Modern dianggap dimulai dengan Zaman Edo (yang berlangsung dari tahun 1603 hingga 1867). Sejak bahasa Jepang Kuno, bentuk baku de facto bahasa Jepang berdasarkan dialek Kansai, terutama Kyoto. Namun, selama Zaman Edo, Edo (kini Tokyo) berkembang menjadi kota terbesar di Jepang, dan dialek daerah Edo menjadi bahasa Jepang baku. Sejak berakhirnya kebijakan "pembatasan" paksa oleh Jepang pada tahun 1853, aliran kata serapan dari bahasa-bahasa Eropa telah meningkat secara besar-besaran. Masa sejak 1945 telah melihat banyak kata yang dipinjam dari bahasa lain seperti Jerman, Prancis, dan Inggris.[17] Banyak kata serapan bahasa Inggris khususnya terkait dengan teknologi, contohnya pasokon (singkatan dari personal computer), intฤnetto ("internet"), dan ]]kamera]]. Karena banyaknya kata pinjaman bahasa Inggris, bahasa Jepang modern dapat membedakan bunyi [tษi] dan [ti], serta [dสi] dan [di].[18]
Lafal vokal
sunting
Bahasa Jepang baku mempunyai 5 huruf vokal yaitu /a/, /i/, /ษฏ/, /e/, dan /o/.
Lafal vokal bahasa Jepang baku mirip seperti bahasa Indonesia.
Contohnya:
- /a/ seperti "bapak"
- /i/ seperti "ibu"
- /ษฏ/ seperti "peuyeum" dalam bahasa Sunda
- /e/ seperti "besok"
- /o/ seperti "obor"
Penulisan bahasa Jepang
suntingSistem penulisan bahasa Jepang berasal dari aksara Tionghoa (ๆผขๅญ/kanji) yang diperkenalkan pada abad ke-4 Masehi. Sebelumnya, orang Jepang tidak mempunyai sistem penulisan sendiri.
Sistem penulisan bahasa Jepang terbagi menjadi tiga:
- Kanji (ใใใ / ๆผขๅญ) yang berasal dari Tiongkok
- Hiragana (ใฒใใใช / ๅนณไปฎๅ) dan
- Katakana (ใซใฟใซใ / ็ไปฎๅ); keduanya berunsur dari aksara kanji dan dikembangkan pada abad ke-8 Masehi oleh rohaniawan Buddha untuk membantu melafalkan aksara-aksara Tionghoa.
Kedua aksara terakhir ini biasa disebut kana dan keduanya terpengaruh fonetik Bahasa Sanskerta. Hal ini bisa dilihat dari urutan aksara Kana. Selain itu, ada juga sistem alih aksara yang disebut romaji.
Bahasa Jepang yang kita kenal sekarang ini, ditulis dengan menggunakan kombinasi aksara Kanji, Hiragana, dan Katakana. Kanji dipakai untuk menyatakan arti dasar dari kata (baik berupa kata benda, kata kerja, maupun kata sifat). Hiragana ditulis sesudah kanji untuk mengubah arti dasar dari kata tersebut, dan menyesuaikan dengan peraturan tata bahasa Jepang.
Kana
suntingAksara Hiragana dan Katakana (kana) memiliki urutan seperti dibawah ini, memiliki 46 set huruf masing-masing. Keduanya (Hiragana dan Katakana) tidak memiliki arti apapun, seperti abjad dalam Bahasa Indonesia, hanya melambangkan suatu bunyi tertentu, meskipun ada juga kata-kata dalam bahasa Jepang yang terdiri dari satu 'suku kata', seperti me (mata), ki (pohon), ni (dua), dsb. Abjad ini diajarkan pada tingkat pra-sekolah (TK) di Jepang.
Kanji
suntingBanyak sekali kanji yang diadaptasi dari Tiongkok, sehingga menimbulkan banyak kesulitan dalam membacanya. Dai Kanji Jiten adalah kamus kanji terbesar yang pernah dibuat, dan berisi 30.000 kanji. Kebanyakan kanji sudah punah, hanya terdapat pada kamus, dan sangat terbatas pemakaiannya, seperti pada penulisan suatu nama orang.
Oleh karena itu, Pemerintah Jepang membuat suatu peraturan baru mengenai jumlah aksara kanji dalam Joyล Kanji atau kanji sehari-hari yang dibatasi penggunaannya sampai 1945 huruf saja. Aksara kanji melambangkan suatu arti tertentu. Suatu Kanji dapat dibaca secara dua bacaan, yaitu Onyลmi (adaptasi dari cara baca China) dan Kunyลmi (cara baca asli Jepang). Satu kanji bisa memiliki beberapa bacaan Onyomi dan Kunyomi.[19]
Tanda baca
suntingDalam kalimat bahasa Jepang tidak ada spasi yang memisahkan antara kata dan tidak ada spasi yang memisahkan antara kalimat. Walaupun bukan merupakan tanda baca yang baku, kadang-kadang juga dijumpai penggunaan tanda tanya dan tanda seru di akhir kalimat.
Tanda baca yang dikenal dalam bahasa Jepang:
- ใ(ๅฅ็น/kuten) Fungsinya serupa dengan tanda baca titik yakni untuk mengakhiri kalimat.
- ใ(่ชญ็น/toten) Fungsinya hampir serupa dengan tanda baca koma yakni untuk memisahkan bagian-bagian yang penting dalam kalimat agar lebih mudah dibaca
Angka dan Sistem Penghitungan
suntingBangsa Jepang pada zaman dahulu (dan dalam jumlah yang cukup terbatas pada zaman sekarang) menggunakan angka-angka Tionghoa, yang lalu dibawa ke Korea dan sampai ke Jepang. Berikut ini adalah daftar angka-angka Jepang.
| ไธ Ichi 1 |
ไบ Ni 2 |
ไธ San 3 |
ๅ Yon 4 |
ไบ Go 5 |
ๅ
ญ Roku 6 |
ไธ Nana 7 |
ๅ
ซ Hachi 8 |
ไน Kyลซ 9 |
ๅ Jลซ 10 |
Setelah Kekaisaran Jepang mulai dipengaruhi oleh Eropa, angka-angka Arab mulai digunakan secara besar-besaran, dan hampir mengganti sepenuhnya kegunaan angka Tionghoa ini.
Dalam penggunaannya di Bahasa Jepang, angka-angka ini tidak bisa digunakan sendiri untuk menyatakan sebuah jumlah dari suatu barang, waktu dan sebagainya. Pertama-tama, jenis barangnya harus dipertimbangkan, lalu ukurannya, dan akhirnya jumlahnya. Cara berhitung untuk waktu dan tanggal pun berbeda-beda, maka satu hal yang harus dilakukan adalah menghafalkan cara angka-angka ini bergabung dengan satuannya.
Cara menghitung barang
suntingBarang secara umum
suntingSelain sistem angka Tionghoa, Bahasa Jepang juga memiliki sistem satuan sendiri untuk menghitung apapun, kecuali untuk orang dan makhluk hidup lainnya. Satuan ini hanya berlaku untuk 1 sampai 10 kemudian digunakan lagi angka biasanya. Berikut ini adalah satuannya.
| Satu | Dua | Tiga | Empat | Lima | Enam | Tujuh | Delapan | Sembilan | Sepuluh |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| ใฒใจใค | ใตใใค | ใฟใฃใค | ใใฃใค | ใใคใค | ใใฃใค | ใชใชใค | ใใฃใค | ใใใฎใค | ใจใ |
| hitotsu | futatsu | mittsu | yottsu | itsutsu | muttsu | nanatsu | yattsu | kokonotsu | tou |
Barang panjang
suntingUntuk mengucapkan barang panjang, hanya perlu angka biasa ditambahkan dengan satuan ใปใ (hon) sebagai akhiran, Misal: 1 batang ใใฃใฝใ (ippon), 2 batang ใซใปใ (nihon), 3 batang ใใใผใ (sanbon), 4 batang ใใใปใ (yonhon), 5 batang ใใปใ (gohon), dst. Bisa digunakan untuk menghitung jumlah pensil, pulpen, dan benda panjang lainya.
Barang tipis
suntingUntuk menghitung barang tipis, hanya perlu angka biasa ditambahkan dengan satuan ใพใ (mai) sebagai akhiran, Misal: 1 lembar ใใกใพใ (ichimai), 2 lembar ใซใพใ (nimai), 3 lembar ใใใพใ (sanmai), 4 lembar ใใใพใ (yonmai), 5 lembar ใใพใ (gomai), dst.. Bisa digunakan untuk menghitung jumlah kertas, baju, prangko, dan benda tipis lainnya.
Barang besar
suntingUntuk menghitung barang besar, hanya perlu angka biasa ditambahkan dengan satuan ใ ใ (dai) sebagai akhiran, Misal: 1 buah ใใกใ ใ (ichidai), 2 buah ใซใ ใ (nidai), 3 buah ใใใ ใ (sandai), 4 buah ใใใ ใ (yondai), 5 buah ใใ ใ (godai), dst.. Bisa digunakan untuk menghitung jumlah barang elektronik yang besar, atau barang besar pada umumnya, seperti televisi, kulkas, rumah, mobil dan sebagainya.
Orang
suntingUntuk mengucapkan seorang dan seterusnya menggunakan angka biasa ditambahkan dengan satuan ใซใ (nin), misal: 3 orang ใใใซใ (sannin), 7 orang ใใกใซใ/ใชใชใซใ (shichinin/nananin), untuk satu orang dan dua orang, terjadi pengecualian yaitu: 1 orang ใฒใจใ (hitori) dan 2 orang ใตใใ (futari).
Tata bahasa
suntingTata kalimat dalam Bahasa Jepang memakai aturan subjek-objek-verba. Subjek, objek dan relasi gramatika lainnya biasa ditandai dengan partikel, yang menyisip di kalimat dan disebut posisi akhir (postposition). Struktur dasar kalimat memakai cabang topik. Contohnya dalam kalimat ็งใฏใใใใ้ฃในใพใ (Watashi-wa ringo-wo tabemasu), di sini watashi bertindak sebagai topik karena diikuti oleh partikel topik wa, sedangkan kalimat ringo-wo tabemasu bertindak sebagai pelengkap/informasi tentang topik tersebut.
Infleksi dan konjugasi
suntingDalam bahasa Jepang, kata benda tidak memiliki bentuk numeral, jenis kelamin, atau aspek lainnya. Contohnya pada kata benda hon (ๆฌ) yang mungkin berarti buku atau berarti buku-buku. Juga pada kata hito (ไบบ) yang mungkin berarti orang atau sekumpulan orang. Kata untuk menyebut orang biasanya dalam bentuk tunggal, contohnya Harada-san. Jika kata panggil jamak, biasanya ditambahkan akhiran -tachi. Misalnya tomodachi (teman) ditambahkan tachi menjadi tomodachitachi yang berarti teman-teman.
Pertanyaan mempunyai bentuk yang sama dengan kalimat afirmatif. Intonasi akan meninggi setiap akhir dari kalimat pertanyaan. Dalam situasi resmi, biasanya kalimat pertanyaan disertai partikel -ka. Contohnya, kalimat ii desu (ใใใงใ) yang berarti "Baiklah" menjadi bentuk ii desu ka (ใใใงใใ?) yang berarti "Boleh kan?". Biasanya pada situasi tidak resmi, partikel -no (ใฎ) untuk menunjukkan penekanan, contohnya pada kalimat Doshite konai-no? yang berarti "Kenapa (kamu) tidak datang?".
Kalimat negatif dibentuk dengan mengubah bentuk kata kerja. Contohnya pada kalimat Pan-(w)o tabemasu (ใใณใ้ฃในใพใ) yang artinya "Saya makan roti" menjadi Pan-(w)o tabemasen (ใใณใ้ฃในใพใใ) yang artinya "Saya tidak makan roti".
Adjektiva
suntingAda tiga bentuk kata sifat dalam bahasa Jepang:
- ๅฝขๅฎน่ฉ (keiyoshi) yaitu penambahan partikel -i, yang memiliki akhiran konjugasi ใ (i). Contohnya: ๆใๆฅ (atsui hi) yang berarti "hari yang panas"
- ๅฝขๅฎนๅ่ฉ (keiyodoshi) yaitu penambahan partikel -na. Contoh: ๅคใชใฒใจ (henna hito) yang berarti "orang aneh"
- ้ฃไฝ่ฉ (rentaishi) yaitu kata sifat sebenarnya. Contoh: ใใฎๅฑฑ (ano yama)
Partikel
suntingBahasa Jepang juga memiliki beberapa partikel yaitu:
- ใ ga untuk bentuk nominatif
- ใซ ni untuk bentuk datif
- ใฎ no untuk bentuk genitif
- ใ (w)o untuk bentuk akusatif
- ใ ka untuk bentuk interogatif
Kesopanan
suntingBiasanya untuk menghormati orang yang lebih tinggi, seperti kepada menteri atau direktur, dipakai bahasa Jepang sopan yang disebut (ไธๅฏง่ช) teineigo. Untuk menyebut nama menteri, diakhiri dengan partikel -sama atau -sangi. Contoh: Katsumoto-sangi (ๅๆฌใผๅ่ญฐ). Untuk berkenalan, kita harus menggunakan bentuk bahasa sopan. Namun, kalau sudah akrab, kita boleh memakai bahasa umum.
Kosakata
suntingBahasa Asli Jepang yaitu berasal dari bahasa asli pemukim Jepang zaman dahulu disebut yamato kotoba (ๅคงๅ่จ่) yang berarti kosakata Yamato. Kosakata Jepang sebagian besar berakar atau berasal dari bahasa Tionghoa disebut kango (ๆผข่ช) yang masuk pada abad ke-5 lewat Semenanjung Korea. Jepang banyak mengadopsi kosakata dari bahasa Inggris, kata-kata adopsi ini umumnya ditulis menggunakan huruf katakana. Contoh: ใใคใซใผ (maikaa - sama dengan pelafalan "my car") yang berarti "mobil saya"
Belajar Bahasa Jepang
suntingBeberapa universitas internasional di dunia mengajarkan bahasa Jepang. Mulainya ketertarikan belajar bahasa Jepang sewaktu abad ke-18 Masehi, lalu melonjak ketika Jepang mulai memimpin ekonomi dunia pada tahun 1980. Bahasa Jepang semakin diminati karena mendominasi dunia kartun (anime dan manga) di seluruh penjuru dunia. Kebanyakan dari otaku (penggemar anime) bisa berbicara bahasa Jepang walaupun hanya dasarnya. Pemerintah Jepang sebagai pihak yang mengatur bahasa Jepang menyediakan tes profisiensi sejenis TOEFL yaitu JLPT (Japanese Language Proficiency Test).
Kekerabatan bahasa Jepang
suntingPara pakar bahasa tidak mengetahui secara pasti kekerabatan bahasa Jepang dengan bahasa lain. Ada yang menghubungkannya dengan bahasa Altai, tetapi ada pula yang menghubungkannya dengan bahasa Austronesia.[20] Selain itu ada pula kemiripan secara tata bahasa dan dalam susunan kalimat serta secara fonetik dengan bahasa Korea meski secara kosakata tidaklah begitu mirip.
Bilangan dalam bahasa Jepang dengan bahasa Indonesia
sunting| Bilangan | Aksara Sino-Jepang | Kanji | Bahasa Jepang | Bahasa Indonesia |
|---|---|---|---|---|
| 0 | ้ถ | ใใ ใใ |
rei zero |
nol |
| 1 | ไธ | ใใก | ichi | satu |
| 2 | ไบ | ใซ | ni | dua |
| 3 | ไธ | ใใ | san | tiga |
| 4 | ๅ | ใใ ใ |
yon shi |
empat |
| 5 | ไบ | ใ | go | lima |
| 6 | ๅ ญ | ใใ | roku | enam |
| 7 | ไธ | ใช ใช ใใก |
nana shichi |
tujuh |
| 8 | ๅ ซ | ใฏใก | hachi | delapan |
| 9 | ไน | ใใ
ใ ใ |
kyลซ ku |
sembilan |
| 10 | ๅ | ใใ ใ | jลซ | sepuluh |
| 11 | ๅไธ | ใใ ใใใก | jลซ-ichi | sebelas |
| 20 | ไบๅ | ใซใใ ใ | ni-jลซ | dua puluh |
| 30 | ไธๅ | ใใ ใใ ใ | san-jลซ | tiga puluh |
| 40 | ๅๅ | ใใใใ ใ | shi-jลซ | empat puluh |
| 50 | ไบๅ | ใใใ ใ | go-jลซ | lima puluh |
| 60 | ๅ ญๅ | ใใใใ ใ | roku-jลซ | enam puluh |
| 70 | ไธๅ | ใชใชใใ ใ | nana-jลซ | tujuh puluh |
| 80 | ๅ ซๅ | ใฏใกใใ ใ | hachi-jลซ | delapan puluh |
| 90 | ไนๅ | ใใ ใใใ ใ | kyลซ-jลซ | sembilan puluh |
| 100 | ็พ | ใฒใใ | hyaku | seratus |
| 1.000 | ไธ | sen | seribu | |
| 10.000 | ๅ | man | sepuluh ribu | |
| 100.000 | ๅๅ | jลซ-man | seratus ribu | |
| 1.000.000 | ็พๅ | hyaku-man | satu juta | |
| 10.000.000 | ไธๅ | sen-man | sepuluh juta | |
| 100.000.000 | oku | seratus juta | ||
| 1.000.000.000 | jลซ-oku | satu miliar | ||
| 1.000.000.000.000 | chล | satu triliun |
Referensi
suntingCatatan kaki
sunting- ^ "Japanese". Languages of the World. Diakses tanggal 2008-02-29.
- ^ Vovin (2017).
- ^ ๆณๅถๅทๅใณใฉใ ้ใๆณๅพใจๅฝ่ชใปๆฅๆฌ่ชใ (dalam bahasa Jepang). Legislative Bureau of the House of Councillors. Diakses tanggal 19 Januari 2009.
- ^ Hammarstrรถm, Harald; Forkel, Robert; Haspelmath, Martin, ed. (2023). "Japanese". Glottolog 4.8. Jena, Jerman: Max Planck Institute for the Science of Human History. ; ;
- ^ Hammarstrรถm, Harald; Forkel, Robert; Haspelmath, Martin, ed. (2023). "Japanesic". Glottolog 4.8. Jena, Jerman: Max Planck Institute for the Science of Human History. ; ;
- ^ "UNESCO Interactive Atlas of the World's Languages in Danger" (dalam bahasa bahasa Inggris, Prancis, Spanyol, Rusia, and Tionghoa). UNESCO. 2011. Diarsipkan dari asli tanggal 29 April 2022. Diakses tanggal 26 Juni 2011. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
- ^ "UNESCO Atlas of the World's Languages in Danger" (PDF) (dalam bahasa Inggris). UNESCO. 2010. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 31 Mei 2022. Diakses tanggal 31 Mei 2022.
- ^ "Bahasa Jepang". www.ethnologue.com (dalam bahasa Inggris). SIL Ethnologue.
- ^ Wade, Nicholas (4 May 2011). "Finding on Dialects Casts New Light on the Origins of the Japanese People". The New York Times. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-01-03. Diakses tanggal 7 May 2011.
- ^ Frellesvig & Whitman 2008, hlm.ย 1.
- ^ Frellesvig 2010, hlm.ย 11.
- ^ Seeley 1991, hlm.ย 25โ31.
- ^ Frellesvig 2010, hlm.ย 24.
- ^ Shinkichi Hashimoto (February 3, 1918)ใๅฝ่ชไปฎๅ้ฃ็ ็ฉถๅฒไธใฎไธ็บ่ฆโ็ณๅก้พ้บฟใฎไปฎๅ้ฃๅฅฅๅฑฑ่ทฏใซใคใใฆใใๅธๅฝๆๅญฆใ26โ11(1949)ใๆๅญๅใณไปฎๅ้ฃใฎ็ ็ฉถ(ๆฉๆฌ้ฒๅๅๅฃซ่ไฝ้ ็ฌฌ3ๅ)ใ(ๅฒฉๆณขๆธๅบ)ใ
- ^ a b Frellesvig 2010, hlm.ย 184
- ^ Labrune, Laurence (2012). The Phonology of Japanese. The Phonology of the World's Languages. Oxford University Press. hlm.ย 89โ91. doi:10.1093/acprof:oso/9780199545834.003.0003. ISBNย 978-0-19-954583-4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-10-27. Diakses tanggal 2021-10-14.
- ^ Miura, Akira, English in Japanese, Weatherhill, 1998.
- ^ Hall, Kathleen Currie (2013). "Documenting phonological change: A comparison of two Japanese phonemic splits" (PDF). Dalam Luo, Shan (ed.). Proceedings of the 2013 Annual Conference of the Canadian Linguistic Association. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2019-12-12. Diakses tanggal 2019-06-01.
- ^ Hary Gunarto, Building Kanji Dictionary as Basic Tool for Machine Translation in Natural Language Processing Applications, Journal of Ritsumeikan Studies in Language and Culture, April 2004, 15/ 3, 177-185
- ^ Starostin et al. (2003:8โ9)
Daftar pustaka
sunting- Starostin, Sergei A., Anna V. Dybo, and Oleg A. Mudrak. 2003. Etymological Dictionary of the Altaic Languages, 3 volumes. Leiden: Brill Academic Publishers. ISBN 90-04-13153-1.
- Vovin, Alexander (2017), "Origins of the Japanese Language", Oxford Research Encyclopedia of Linguistics (dalam bahasa Inggris), Oxford University Press, doi:10.1093/acrefore/9780199384655.013.277.
Pranala luar
sunting- Tentang Bahasa dan Aksara Jepang
- Kelas Bahasa Jepang Online di Internet, Gratis
- Kanji - Kamus Online Jepang Indonesia Diarsipkan 2009-08-30 di Wayback Machine. (BPPT)
- ใใฑใใใซๅ ฅใใคใณใใใทใข[pranala nonaktif permanen] Indonesia dalam Saku
- Atrinia.Com - Kamus on the Fly Diarsipkan 2019-12-20 di Wayback Machine. Kamus Jepang-Indonesia-Inggris
- Komunitas Belajar Bahasa Jepang di Indonesia, untuk level pemula dan menengah
- Bahasa Jepang abjad latihan gerak badan (PDF)



