Masjid Saka Tunggal Banyumas
Masjid Saka Tunggal Banyumas tampak dari depan
PetaKoordinat: 7°28′25″S 109°3′21″E / 7.47361°S 109.05583°E / -7.47361; 109.05583
Agama
AfiliasiIslam
Lokasi
LokasiBanyumas, Jawa Tengah, Indonesia
Arsitektur
TipeMasjid

Masjid Saka Tunggal Banyumas adalah sebuah masjid yang berada di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah atau sekitar 30 kilometer arah barat daya Purwokerto. Masjid ini dipercaya merupakan masjid tertua yang ada di Indonesia, bahkan masjid ini ada sebelum adanya Wali Sanga. Masjid ini dibangun pada tahun 1288 M (687 H) seperti yang tertulis pada Saka Guru (Tiang Utama) masjid ini. Tahun pembuatan masjid ini lebih jelas tertulis pada kitab-kitab yang ditinggalkan pendiri masjid ini, yaitu Kyai Mustolih. Namun, kitab-kitab tersebut telah hilang bertahun-tahun yang lalu.[1]

Sejarah

sunting

Masjid Saka Tunggal didirikan oleh Kiai Mustolih yang cukup lama tinggal di Desa Cikakak untuk berdakwah. Masyarakat Cikakak saat itu masih banyak yang melakukan perbuatan yang menyimpang dari ajaran agama Islam. Kiai Mustholih berpikir diperlukan adanya masjid sebagai pusat dalam menyebarkan dakwah. Dengan alasan tersebut, sebuah masjid pun dibangun. Masjid tersebut dikenal dengan nama Masjid Saka Tunggal Baitussalam. Masjid ini digunakan sebagai pusat dakwah Kiai Mustolih.[2] Masjid ini disebut Saka Tunggal karena tiang penyangga bangunan masjid ini, dulunya hanya satu tiang (tunggal).[3]

Di masjid ini juga ada hutan - hutan yang dihuni oleh monyet liar yang berkeliaran di sekitar area masjid. Meskipun tergolong hewan liar, kera-kera tersebut jinak dan bersahabat selama tidak diganggu. Kera-kera tersebut sering turun ke sekitar masjid dan perumahan warga. Pengunjung bisa mengajak mereka bercengkerama dengan sekadar memberi kacang, pisang, atau makanan kecil lainnya.

Arsitektur Masjid Saka Tunggal

sunting

Tulisan Awaliyah Mudhaffarah bertajuk "Refleksi Budaya Komunitas Islam Aboge Cikakak pada Masjid Saka Tunggal Banyumas" (2017) menyebutkan, masjid ini menggunakan atap sirap kayu.

Selain itu, material dinding masjid awalnya adalah kayu dan anyaman bambu, namun kemudian dilakukan penambahan dinding bata untuk eksterior masjid dengan tujuan preservasi atau pemeliharaan.

Penelitian Arif Sarwo Wibowo berjudul "Historical Assessment of the Saka Tunggal Mosque in Banyumas" yang terhimpun dalam Journal of Asian Architecture and Building Engineering (Volume 15, 2016), menuliskan bahwa pada interior masjid, anyaman bambu digunakan sebagai partisi antar ruangan dan sebagai material plafon. Kolom utama Masjid Saka Tunggal Banyumas terbuat dari kayu solid tanpa sambungan sama sekali yang berukuran 24x24 cm pada pangkalnya. Kolom masjid dihiasi dengan empat buah sayap dan dipenuhi dengan ukiran bercorak flora. Empat buah sayap tersebut melambangkan “papat kiblat lima pancer” atau atau empat mata angin dan satu pusat.

Pada mimbar masjid terdapat ukiran berupa dua buah surya mandala yang melambangkan dua pedoman umat muslim, yakni Al-Qur’an dan Hadits. Ornamen-ornamen yang terdapat pada masjid ini sangat kental dengan simbolisme nilai-nilai Islami yang bersinergi dengan adat-istiadat Jawa. Hal ini menggambarkan harmonisasi Islam dengan budaya lokal yang sudah ada sebelumnya.[2]

Tradisi Unik

sunting
Saka Guru (Tiang Tunggal)

Tradisi unik yang ada di Masjid Saka Tunggal ini antara lain adalah zikir seperti melantunkan kidung Jawa. Keunikan ini cukup terasa pada hari Jumat ketika selama menunggu waktu shalat Jumat dan setelah shalat Jumat, jamaah masjid Saka Tunggal berzikir dan bersalawat dengan nada seperti melantunkan kidung Jawa. Dengan bahasa campuran Arab dan Jawa, tradisi ini disebut tradisi ura-ura.

Pakaian Imam dan muazin

sunting

Imam masjid tidak menggunakan penutup kepala yang lazimnya digunakan di Indonesia yang biasanya menggunakan peci, kopiah, tetapi menggunakan udeng atau pengikat kepala. Khotbah Jumat juga disampaikan seperti melantunkan sebuah kidung.

Empat muazin sekaligus

sunting

Empat orang muazin berpakaian sama dengan imam, yakni menggunakan baju lengan panjang warna putih dan udeng bermotif batik. Keempat muazin tersebut mengumandangkan azan secara bersamaan.

Semua rangkaian sholat jumat dilakukan berjama’ah

sunting

Seluruh rangkaian salat Jumat dilakukan secara berjamaah, mulai dari salat Tahiyatul Masjid, Qabliyah Jumat, salat Jumat, Ba'diyah Jumat, shalat Zuhur, hingga Ba’diyah Zuhur.

Tanpa Pengeras Suara

sunting

Masjid Saka Tunggal Baitussalam hingga saat ini masih mempertahankan tradisi untuk tidak menggunakan pengeras suara. Meski demikian, suara azan yang dilantunkan oleh empat muazin sekaligus tetap terdengar lantang dari masjid ini.

27 Rajab

sunting

Setiap tanggal 27 Rajab di masjid ini, diadakan pergantian jaro dan pembersihan makam Kyai Mustolih.

Referensi

sunting
  1. ^ Biro Humas Jawa Tengah. "Masjid Saka Tunggal Dan Taman Kera". Promo Jateng. Diarsipkan dari asli tanggal 2016-03-08. Diakses tanggal 15 September 2021.
  2. ^ a b Parinduri, Alhidayath (28 April 2021). "Sejarah Masjid Saka Tunggal Banyumas: Dibangun Sebelum Majapahit?". Tirto.id.
  3. ^ Masjid Saka Tunggal

Pranala luar

sunting

Berita pada situs Kabupaten Banyumas[pranala nonaktif permanen]

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Masjid Sаka Tunggal

Masjid Saka Tunggal (bahasa Jawa: ꦩꦱ꧀ꦗꦶꦢ꧀ꦏꦫꦠꦺꦴꦤ꧀ꦱꦏꦠꦸꦁꦒꦭ꧀code: jv is deprecated , translit. [مسجد ساك توڠڬل] Galat: {{Transliteration}}: transliteration

Masjid Saka Tunggal Darussalam Pekuncen

Masjid Darussalam Pekuncen (Arab : مسجد دارالسلام) atau dikenal sebagai Masjid Saka Tunggal Darussalam Pekuncen merupakan salah satu cagar budaya berupa

Masjid Istiqlal, Jakarta

ditopang 12 tiang besar. Minaret tunggal setinggi total 96,66 meter menjulang di sudut selatan selasar masjid. Masjid ini mampu menampung lebih dari 200

Masjid Agung Banten

Masjid Agung Banten (bahasa Arab:مسجد بنتن الكبير) (aksara Sunda: ᮙᮞ᮪ᮏᮤᮓ᮪ ᮃᮍᮥᮀ ᮘᮔ᮪ᮒᮨᮔ᮪) adalah salah satu masjid tertua di Indonesia yang penuh dengan

Masjid Sheikh Zayed Surakarta

Masjid Raya Sheikh Zayed, Solo (bahasa Arab: جَامِع ٱلشَّيْخ زَايِد ٱلْكَبِيْر، سوْلوcode: ar is deprecated , translit. Jāmiʿ Aš-Šaykh Zāyid Al-Kabīr,

Masjid Raya Al-Jabbar

Masjid Raya Al-Jabbar (bahasa Arab: مسجد جامع الجبارcode: ar is deprecated ), disingkat MRAJ atau yang lebih dikenal dengan Masjid Terapung Gedebage adalah

Masjid Al-Hakim Padang

Masjid Al-Hakim Padang adalah sebuah masjid bergaya Taj Mahal di tepi Pantai Padang, Kota Padang, Sumatera Barat, Indonesia. Masjid ini mulai dibangun

Cikakak, Wangon, Banyumas

arah utara melalui jalan nasional. Desa Cikakak terkenal memiliki Masjid Saka Tunggal. Batas-batas wilayahnya adalah sebagai berikut: Dusun Baron Dusun