Midang adalah tradisi memperkenalkan pasangan calon pengantin kepada masyarakat dengan melakukan pawai. Pesertanya adalah pasangan yang akan menikah beserta para pemuda dan pemudi dari kedua keluarga yang akan menjalin kekeluargaan. Tujuan Midang adalah untuk memberitahukan ke masyarakat bahwa calon pengantin perempuan telah dilamar sehingga tidak boleh diajak berhubungan dengan lelaki lain. Midang juga menjadi bagian dari mahar pernikahan dalam masyarakat Sumatera Selatan.[1]
Midang ๐ Wikipedia
๐ Artikel Terkait di Wikipedia
Kayu Agung, Ogan Komering Ilir
sampai kematian diatur dan dituntun oleh adat istiadat budaya setempat. Midang (tradisi arak-arakan yang diiringi musik tradisional seperti tanjidor) merupakan
Sunda Midang
SundaMidang (SM) adalah majalah yang pernah terbit dalam khasanah media massa dan Pers Indonesia di akhir tahun 2004, oleh Penerbit "Yayasan Mitra Raksa
Jawa Tengah
antiklinorium dengan lebar mencapai 30ย km pada daerah Lukulo (selatan Banjarnegara-Midangan 1043 m) atau sering disebut tinggian Kebumen (Kebumen High). Pada bagian
Dhipa Galuh Purba
Tulisannya pernah dimuat di Majalah Mangle, Seni Budaya, Bina Daโwah, Sunda Midang, Cupumanik, KSM Galura, Giwangkara, Kudjang, Koran Sunda, Tadjuk, HU. Pikiran
Kabupaten Ogan Komering Ilir
lainnya dan Midang Bebuke yang dilakukan untuk memeriahkan hari Raya Idul Fitri pada hari ketiga dan keempat. Midang Bebuke disebut juga Midang Morge Siwe
Midang, Gunungsari, Lombok Barat
Midang merupakan salah satu desa yang ada di kecamatan Gunungsari, kabupaten Lombok Barat, provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Desa merupakan satu
Bandung TV
Jati Diri Pasundan (slogan primer) Kataji Nomer Hiji (slogan sekunder) Midang Klip Parahyangan Mandalawangi Reaksi (Remaja, Aksi dan Kreasi) SoundXplore
Sumatera Selatan
lainnya di Sumatera Selatan. Tradisi terkenal dari Jime Owam sendiri adalah Midang Bebuke. Berdasarkan data dari Sensus Badan Pusat Statistik Tahun 2010. Berikut