Mohammad Amir
Menteri Negara ke-1
Masa jabatan
2 September 1945ย โ€“ 14 November 1945
PresidenSoekarno
Wakil Gubernur Sumatera ke-1
Masa jabatan
Desember 1945ย โ€“ 1946
GubernurTeuku Mohammad Hasan
Informasi pribadi
Lahir(1900-01-27)27 Januari 1900
Belanda Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat, Hindia Belanda
Meninggal20 Desember 1949(1949-12-20) (umurย 49)
Belanda Amsterdam, Belanda
KebangsaanIndonesia
Partai politikNon Partai
Suami/istriC.M Amir-Fournier
AnakAnton Amir
Anneke Amir
Sunting kotak info
Sunting kotak infoย โ€ข Lย โ€ข B
Bantuan penggunaan templat ini

dr. Mohammad Amir (27 Januari 1900ย โ€“ย 20 Desember 1949) merupakan politikus dan menjabat sebagai menteri di Indonesia. Dia menjabat sebagi menteri negara pada Kabinet Presidensial pada tahun 1945. Ia juga menjadi Wakil Gubernur Sumatera mendampingi Teuku Mohammad Hasan pada Desember 1945.[1]

Riwayat Hidup

sunting

Asal-usul

sunting

Mohammad Amir lahir dari pasangan M. Joenoes Soetan Malako dan Siti Alamah. Dalam adat Minangkabau yang matrilineal, Amir mengikuti suku ibu yakni suku Mandaliko. Keluarganya merupakan kaum yang terpelajar. Selain Amir, kedua sepupunya yakni Mohammad Yamin dan Djamaludin Adinegoro juga merupakan tokoh pergerakan Indonesia.

Pendidikan

sunting

Pada waktu belia, Amir dibawa kakak ibunya Mohammad Jaman gelar Radjo Endah ke Palembang. Di kota ini Amir belajar di HIS, sekolah dasar untuk anak-anak pribumi. Sebelum tamat HIS, Amir pindah ke Batavia dan melanjutkan pendidikan dasarnya di ELS. Amir meneruskan studinya ke jenjang pendidikan menengah di MULO. Disana ia tamat belajar pada tahun 1918 untuk kemudian melanjutkan ke STOVIA. Setelah tamat STOVIA, antara tahun 1924-1928, Amir mendapat kesempatan untuk meneruskan belajar di Fakultas Kedokteran Universitas Utrecht, Belanda dengan beasiswa dari perkumpulan Teosofi.

Aktivis

sunting

Tanggal 8 Desember 1917, Amir bersama Tengku Mansur dan sejumlah siswa Sumatra lainnya mendirikan Jong Sumatranen Bond (JSB), mengikuti jejak pemuda-pemuda Jawa yang mendirikan Jong Java dua tahun sebelumnya. Para pemuda inipun bergabung untuk mempersiapkan diri sebagai penggerak dalam upaya memperbaiki taraf kehidupan rakyat Sumatra. Menurut majalah Pemoeda Soematra yang mulai diterbitkan sejak 1918, dalam satu tahun jumlah anggota perhimpunan menjadi sekitar 500 orang dengan cabang di Jakarta dan Padang yang paling banyak anggotanya. Pada rapat tahunan JSB tanggal 26 Januari 1919, Amir terpilih sebagai wakli pengurus mendampingi Tengku Mansur yang menjabat sebagai ketua. Setahun kemudian Amir terpilih menjadi ketua menggantikan Mansur yang telah lulus dari STOVIA. Tahun 1922, posisi Amir sebagai ketua umum digantikan oleh Bahder Djohan. Di Belanda, tahun 1925 ia terpilih menjadi komisaris Perhimpunan Indonesia.

Tanggal 14 Agustus 1945, bersama Teuku Mohammad Hasan, Amir menghadiri sidang PPKI mewakili rakyat Sumatra. Pada masa pembentukan kabinet Presidensial, Amir ditunjuk menjadi menteri negara bersama dengan Wahid Hasjim, R.M Sartono, A. A. Maramis, dan Otto Iskandardinata. Pada bulan Desember 1945, Amir diangkat menjadi wakil gubernur Sumatra mendampingi Teuku Moh. Hasan yang telah terlebih dahulu diangkat menjadi gubernur.

Pemberontakan sosial yang terjadi di Sumatra Timur menjadi ancaman bagi Amir dan keluarganya. Atas peristiwa ini Amir dipindahkan dari Medan ke Sabang. Kemudian dari kota itu, Amir diterbangkan ke Utrecht, tempat ia belajar semasa muda. Karena tindakannya itu Amir dituduh sebagai pengkhianat bangsa.

Akhir hidup

sunting

Pada masa akhir hidupnya, atas bantuan D. J. Warouw ia tinggal di Sulawesi, berpindah-pindah dari Gorontalo, Palu, dan akhirnya Makassar. Saat Amir menetap di Makassar tepatnya pada bulan Oktober 1949, ia terserang penyakit jantung yang membuat dia harus ke berobat ke Belanda. Sayangnya ia menghembuskan nafas terakhirnya karena penyakit jantung di Amsterdam, Belanda pada tanggal 20 Desember 1949.[2]

Karya

sunting

Mohammad Amir menyukai dan tergerak oleh tulisan-tulisan yang ada di surat kabar dan majalah yang tesedia di STOVIA. Amir memperoleh bimbingan menulis dari Landjoenan gelar Datoek Temenggung, penerbit majalah bulanan Suluh Pelajar, Cahaya Hindia, dan harian Neraca. Amir sendiri menulis berbagai karangan dalam bahasa Belanda, antara lain tentang karya sastra Belanda rangkaian Mathilde ciptaan Jacques Perk dan tentang Multatuli sebagai pemikir etika dan pejuang politik. Selain bekerja sebagai psikiater, Amir juga sering terlibat dalam penulisan artikel di majalah Pujangga Baru. Di sini ia menentang gagasan Sutan Takdir Alisjahbana yang mempropagandakan pembaratan pada masyarakat Indonesia. Tahun 1940 kumpulan tulisan Amir diterbitkan di Medan dengan judul Bunga Rampai.

Referensi

sunting
  1. ^ https://historia.id/politik/articles/yang-terpaksa-jadi-gubernur-DO4wj
  2. ^ Suryadi, Suryadi. "PPM #229: Putra Talawi Dr. M. Amir meninggal dunia di Belanda (20-12 1949)". Diakses tanggal 2020-08-18.
  • Amir, Moh; Boenga Rampai, Melawat ke Djawa
  • Aswab Mahasis dan Ismed Natsir, Kaum cendekiawan di Indonesia:suatu sketsa sosiologi
  • Hamka, Merantau ke Deli, Kenang-kenangan Hidup
  • Hatta, Mohammad, Memoir

Pranala luar

sunting

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Mohammad Hatta

Drs. Mohammad Hatta (nรฉ: Mohammad Athar; 12 Agustus 1902ย โ€“ย 14 Maret 1980) atau juga dikenal dengan sapaan Bung Hatta adalah seorang negarawan, konseptor

Mohammad Yamin

Ramana Usman, pelopor korps diplomatik Indonesia. Selain itu sepupunya, Mohammad Amir, juga merupakan tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia. Yamin mendapatkan

Amir Sjarifoeddin

Kemudian Amir pindah ke asrama pelajar Indonesisch Clubgebouw, Kramat 106, ia ditampung oleh senior satu sekolahnya, Mohammad Yamin. Amir pernah divonis

Amir Hamzah

Tengku Amir Hamzah atau lebih dikenal hanya dengan nama pena Amir Hamzah (28 Februari 1911ย โ€“ย 20 Maret 1946) adalah sastrawan Indonesia angkatan Poedjangga

Mohammad Husni Thamrin

Mohammad Husni Thamrin (Ejaan Van Ophuijsen: Mohammad Hoesni Thamrin, 16 Februari 1894ย โ€“ย 11 Januari 1941) adalah seorang pemikir politik dan nasionalis

Mohammad Natsir

Mohammad Natsir Datuk Sinaro Panjang (17 Juli 1908ย โ€“ย 6 Februari 1993) adalah seorang ulama, politikus, dan pejuang kemerdekaan Indonesia. Ia merupakan

Ahmed al-Sharaa

al-Sharโ€™a (bahasa Arab: ุฃุญู…ุฏ ุญุณูŠู† ุงู„ุดุฑุนcode: ar is deprecated ) alias Abu Mohammad al-Julani (bahasa Arab: ุฃุจูˆ ู…ุญู…ุฏ ุงู„ุฌูˆู„ุงู†ูŠcode: ar is deprecated ), adalah

Sartono (politikus)

menjabat sebagai Menteri Negara di Kabinet Presidensial bersama dengan Mohammad Amir, Abdul Wahid Hasyim, Alexander Andries Maramis, dan Oto Iskandar di