Muhammad Toha
Foto Muhammad Toha yang telah direstorasi
Lahir1927
Bandung, Hindia Belanda
Meninggal11 Juli 1946 (umur 18-19)
Bandung, Indonesia
Pengabdian Indonesia
Dinas/cabangSeinendan (1942–45)
Barisan Rakjat Indonesia (1945)
Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (1945–46)
PangkatKomandan militer
KomandanUnit I BRI
Perang/pertempuranRevolusi Nasional Indonesia
PeringatanJalan Muhammad Toha

Muhammad Toha (1927 – 11 Juli 1946) adalah seorang revolusioner dan pahlawan perang Indonesia, yang dipuja sebagai martir di Indonesia atas tindakan pengorbanan dirinya di Bandung selama Revolusi Nasional Indonesia.

Biografi

sunting

Toha dilahirkan di Jalan Banceuy, Desa Suniaraja, Kota Bandung pada tahun 1927. Ayahnya bernama Suganda dan ibunya yang berasal dari Kedunghalang, Bogor Utara, Bogor, bernama Nariah. Toha menjadi anak yatim ketika pada tahun 1929 ayahnya meninggal dunia. Ibu Nariah kemudian menikah kembali dengan Sugandi, adik ayah Toha. Namun tidak lama kemudian, keduanya bercerai dan Muhammad Toha diambil oleh kakek dan neneknya dari pihak ayah yaitu Bapak Jahiri dan Ibu Oneng. Toha mulai masuk Volk School (Sekolah Rakyat) pada usia 7 tahun hingga kelas 4. Sekolahnya terhenti ketika Perang Dunia II pecah.

Saat masa pendudukan Jepang, Toha mulai mengenal dunia militer dengan memasuki Seinendan. Sehari-hari Toha juga membantu kakeknya di Biro Sunda, kemudian bekerja di bengkel motor di Cikudapateuh. Selanjutnya, Toha belajar menjadi montir mobil dan bekerja di bengkel kendaraan militer Jepang sehingga ia juga mampu bercakap dalam bahasa Jepang.

Setelah Indonesia merdeka, Toha terpanggil untuk bergabung dengan badan perjuangan Barisan Rakjat Indonesia (BRI), yang dipimpin oleh Ben Alamsyah, paman Toha sendiri. BRI selanjutnya digabungkan dengan Barisan Pelopor yang dipimpin oleh Anwar Sutan Pamuncak menjadi Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI). Dalam laskar ini ia duduk sebagai Komandan Seksi I Bagian Penggempur. Menurut keterangan Ben Alamsyah, paman Toha, dan Rachmat Sulaeman, tetangga Toha dan juga Komandannya di BBRI, pemuda Toha adalah seorang pemuda yang cerdas, patuh kepada orang tua, memiliki disiplin yang kuat serta disukai oleh teman-temannya. Pada tahun 1945 itu, Toha digambarkan sebagai pemuda pemberani dengan tinggi 1,65 m, bermuka lonjong dengan pancaran mata yang tajam.

Peran dalam Bandung Lautan Api

sunting

Setelah penandatanganan perjanjian kapitulasi Jepang, seluruh persenjataan Tentara Kekaisaran Jepang diserahkan tanpa syarat kepada Tentara Sekutu yang akan mengembalikan kekuasaan Belanda di Hindia Belanda. Namun persenjataan Tentara Kekaisaran Jepang banyak direbut oleh pejuang kemerdekaan Republik Indonesia. Pada tanggal 21 November 1945, Tentara Sekutu mengeluarkan ultimatum pertama agar kota Bandung bagian utara dikosongkan oleh pihak Republik Indonesia selambat-lambatnya tanggal 29 November 1945. Para milisi dan pejuang kemerdekaan Republik Indonesia harus menyerahkan senjata yang mereka rampas dari Tentara Kekaisaran Jepang. Karena apabila ultimatum penyerahan tersebut tidak diindahkan, tentara Sekutu akan mengambil tindakan militer untuk menegakkan tujuan tersebut.

Peringatan ini tidak dihiraukan oleh pihak tentara Republik. Sejak saat itu sering terjadi bentrokan senjata dengan tentara Sekutu. Kota Bandung terbagi menjadi dua, Bandung Utara dan Bandung Selatan. Oleh karena persenjataan yang tidak memadai, pasukan TKR dan para pejuang lainnya tidak dapat mempertahankan Bandung Utara. Akhirnya Bandung Utara dikuasai oleh tentara Sekutu.

Pada tanggal 23 Maret 1946 tentara Sekutu kembali mengeluarkan ultimatum ke-2. Mereka menuntut agar semua masyarakat dan pejuang TKR mengosongkan kota Bandung bagian selatan. Perlu diketahui bahwa sejak 24 Januari 1946, TKR telah mengubah namanya menjadi TRI.

Demi mempertimbangkan politik dan keselamatan rakyat, pemerintah memerintahkan TRI dan para pejuang lainnya untuk mundur dan mengevakuasi Bandung Selatan. setelah mengadakan musyawarah, para pejuang sepakat untuk menuruti perintah pemerintah. Namun mereka tidak mau menyerahkan kota Bandung bagian selatan itu secara utuh.

Rakyat pun diungsikan ke luar kota Bandung. Para anggota TRI dengan berat hati meninggalkan Bandung bagian selatan. Sebelum ditinggalkan Bandung Selatan dibumihanguskan oleh para pejuang dan anggota TRI. Peristiwa ini di kenal dengan sebutan "Bandung Lautan Api". Dalam peristiwa ini juga terlahir lagu Halo, Halo Bandung yang dinyanyikan para tentara Republik dalam penantian mereka untuk kembali ke rumah mereka di Bandung.

Tanggal 11 Juli 1946, Toha terlibat dalam suatu penyerangan ke gudang mesiu sekutu di Dayeuhkolot beserta pejuang dari kelompok Hizbullah. Dalam jalan operasi, Toha tertembak, dan agar tidak membebani rekannya, menggunakan granat untuk meledakkan dirinya beserta gudang mesiu tersebut.[1]

Dalam budaya populer

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ Liputan6.com (2017-03-24). "Jejak Ledakan Gudang Mesiu Target Pejuang Bandung Lautan Api". liputan6.com. Diakses tanggal 2025-03-25. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)

Pranala luar

sunting

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Muhammad Toha (pemain sepak bola)

Juli 1997) adalah pesepakbola profesional Indonesia yang saat ini bermain sebagai bek kanan untuk klub Liga 1 Persita Tangerang. Muhammad Toha Soccerway

Bandung Lautan Api

gudang amunisi besar milik Tentara Sekutu. Dalam pertempuran ini Muhammad Toha dan Muhammad Ramdan, dua anggota milisi BRI (Barisan Rakjat Indonesia) terjun

Mohammad Toha (politikus)

Drs. Mohammad Toha, S.Sos, M.Si (lahir 25 Mei 1964) adalah anggota DPR RI periode 2009 – 2014, 2014 – 2019, dan 2019 – sekarang dari PKB mewakili Jawa

Abu Bakar bin Muhammad as-Segaf Gresik

Abu Bakar bin Muhammad bin Umar bin Abu Bakar bin al-Imam Wadi al-Ahqaf Umar bin Segaf bin Muhammad bin Umar bin Toha bin Umar bin Toha bin Umar ash-Shafi

Mills

Jack Brown Cleopas Sambu Pramudita Marc Klok Miftah Anwar Sani Muhammad Iqbal Muhammad Toha Ocean Erwin Lim Putu Gede Rangga Muslim Riyan Ardiansyah Riyatno

Liga Super (Indonesia) 2025–2026

larangan bermain satu pertandingan kepada pemain Persita Tangerang, Muhammad Toha, karena menghalangi lawan mencetak gol dan menerima kartu merah langsung

Fatimah az-Zahra

Fatimah binti Muhammad (bahasa Arab: فَاطِمَة بِنْت مُحَمَّدcode: ar is deprecated , translit. Fāṭimah binti Muḥammad; 605/15–632 M), umumnya dikenal

Ahmad Musadeq

merupakan anak laki laki dari pendiri padepokan silat Sin Lam Ba ; H. Muhammad Toha Bin Sieng, menghabiskan masa kecil di padepokan silat yang terkenal