| Mus Mujiono | |
|---|---|
| Lahir | Mus Mujiono 5 Maret 1955 Surabaya, Jawa Timur, Indonesia |
| Pekerjaan | |
| Tahun aktif | 1969–sekarang |
| Kerabat | Mus Mulyadi (kakak) |
| Keluarga | Helen Sparingga (ipar) |
| Karier musik | |
| Genre | |
| Instrumen | |
| Artis terkait | |
Mus Mujiono (lahir 5 Maret 1955), atau yang akrab disapa Nono adalah seorang musisi jazz Indonesia. Ia sangat menyukai musik dan menguasai hampir semua alat musik, dari keyboard, drum, gitar, saksofon, kecuali trompet. Nono juga mendapat julukan sebagai 'George Harrison, Jimmy Page, Jimi Hendrix dan George Benson Indonesia'.[1]
Keluarga
suntingNono besar di keluarga musisi. Ayahnya adalah musisi keroncong, sedangkan kakaknya, Mus Mulyadi, juga penyanyi keroncong.[2] Sejak kelas enam SD, Nono sudah belajar gitar. Salah satu gurunya adalah Harris Sormin dari group band AKA dan Phillon. Kemampuannya bermain musik sangat memikat, bahkan di usianya yang baru 18 tahun, Nono telah rekaman dengan bandnya, The Hands sejak Nono di usianya yang baru 14 tahun untuk mendirikan The Hands pada tahun 1969.
Karier
suntingNono mendirikan grup musik yang diberi nama De Hands pada tahun 1969.[3] Sejak dibentuk, pada tahun 1973. Mereka sangat terkenal terutama dengan lagu "Hallo Sayang". Sayangnya tak lama kemudian, mereka bubar. Nono pun bersolo karier dan sampai menghasilkan tujuh album.
Nono belajar jazz dari Jun Sen, gitaris jazz terkemuka asal Surabaya seangkatan Bubi Chen. Dari musisi yang juga pengusaha alat musik itulah ia mulai mengenal berbagai teori jazz. Nono juga belajar privat gitar klasik, agar bisa membaca not balok dengan baik. Pada tahun 1980-an Nono tertarik pada George Benson, karena kesederhanaan permainan gitarnya. Saat itu kebanyakan gitaris ngerock dengan berbagai macam efek aneh-aneh, berbeda dengan George Benson yang hanya memakai mulut saja. Oleh karena itu, Nono mulai mempelajari teknik scating yang merupakan ciri dari George Benson.
Setelah menekuni "jurus-jurus" George Benson, Nono pun mulai dilirik para musisi lain. Nono diajak bergabung dengan Jakarta Power Band.[4] Akhirnya Nono hijrah ke Jakarta yang memang telah menjadi obsesinya.
Pada tahun 1995 bersama Glenn Fredly (vokal), Inang Masalo (drum), Yance Manusama (bass), Eka Bhakti (kibor) dan Irvan Chesmala (kibor), berdirilah Funk Section, dengan Nono pada gitar.[5][6] Mereka membuat album perdana bertajuk "Terpesona". Album ini tidak sukses, begitu juga dengan keberadaan band.
Tahun 2004, bersama grup Canizzaro merilis album Reinkarnasi Canizzaro yang mengandalkan tembang "Seperti Dulu" (dengan menghadirkan Trie Utami sebagai bintang tamu).[7]
Sampai usianya yang hampir setengah abad, bersama dengan Agus Dhukun, Erren Dwi Pratiwi alias Tiwi KDI 4, Irghi Barens, Vino D Rossy dan Deddy Namoza, Nono tetap ingin berkarya dengan mendirikan A-Dhu Band. Kendati terbilang baru tetapi delapan lagu telah disiapkan A-Dhu Band untuk mengisi album perdana mereka. Sebagian lagu dalam album tersebut diciptakan oleh Nono. Judul-judul lagu di album A-Dhu Band antara lain Sedaci, Siti Djainab, Ini Duniaku, Dosa Cinta?, Kejujuran Cinta Agus Dhukun, Ly, @ku Adalah @ku dan Mba Yayu.[8]
Nono juga membuat beberapa album lagu rohani.[9]
Diskografi
suntingAlbum studio
sunting- Gengsi Dong (1983)
- Azab Tuhan (1985)
- Yang Pertama (1988)
- Masih Bau Kencur (1989)
- Ta'kan Kubiarkan (1991)
- Suara Hati (1992)
- The Best of Mus Mujiono: Abadinya Cinta (1994)
Album kolaborasi
sunting- Tak Terpisahkan (1992)
Album Kompilasi
sunting- "Mesra" – Indonesia Sepuluh (1989)
- Satu Jam Lagi (1991)
- Tiada Maaf Bagimu (1995)
Singel
sunting- Kutakut Tuhan Marah - Mus Mujiono & Deddy Dhukun
- Tertunda
- Sun Dipipi
- Gelombang Hidup
- Bebas
- Forever You
- Kembalilah Waktu - duet dengan Vina Panduwinata
- Masih Ada Keindahan - duet dengan Tommy Marie
- Dunia semakin Tua
- Keagungan Cinta - duet dengan Dorie Kalmas (2002)
- Dia Lagi, Dia Lagi (1986)
- Dunia Semakin
- Gara-Gara Dia - duet dengan Wachid Ajie
- Takut (Lima Tahun Lagi) duet dengan Deddy Dhukun (1999)
- Kata Hatiku - duet dengan Yongki Alamsyah (2001)
- Suara Hati (1992) - duet dengan Deddy Dhukun
- Apa Kabar
- Dilema
- Melody - duet dengan Budi B
- Adinda
- Hard Rock Cafe
- Kebimbangan - duet dengan Phardi A
- Bebas (1989)
- Perdamaian - (1988) bernyanyi bersama Dian Pramana Poetra & Deddy Dhukun, Jayanthi Mandasari, Ramona Purba, dan Helda Febrina
- The Best Of Yopie Latul and Mus Mujiono diproduksi Harpa record
- Sunday Jazz diproduksi oleh Enteng Tanamal
Filmografi
suntingFilm
sunting| Tahun | Judul | Peran | Catatan | Ref |
|---|---|---|---|---|
| 2025 | Arti Cinta |
Dimas |
| Menandakan film yang belum dirilis untuk saat ini |
Pranala luar
sunting- (Indonesia) Profil di KapanLagi.com
Referensi
sunting- ^ Adhityo, Fajar (2012-09-26). "10 Gitaris Terbaik Indonesia". KapanLagi.com. Diakses tanggal 2026-01-18.
- ^ "Mus Mujiono Anggap Mus Mulyadi Sebagai Kakak Sekaligus Sosok Ayah". kumparan. Diakses tanggal 2026-01-18.
- ^ P, Suryadi A. (2002). Gerakan pemuda pelajar berjuang: KAPPI, Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia. Hanindita. hlm. 103. ISBN 978-979-8849-25-1. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ "Mus Mujiono: Jazz dan Pop Era 1980-an". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2026-01-18.
- ^ Tim Redaksi (2008-12-01). "Mus Mujiono Reuni di JakJazz 2008". liputan6.com. Diakses tanggal 2026-01-18.
- ^ Pangerang, Andi (2015-10-18). "Setelah 20 Tahun, Glenn Fredly dan Funk Section "Terpesona" Lagi". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2026-01-18.
- ^ Siregar, Roullandi (2004-02-20). "CANIZZARO: REINKARNASI UNTUK MELEBUR PASAR". WartaJazz.com | Indonesian Jazz News. Diakses tanggal 2026-01-18.
- ^ Redaksi (2007-04-04). "A-Dhu Band Gandeng Mus Mujiono". KapanLagi.com. Diakses tanggal 2026-01-18.
- ^ Rachmawati, Yunita (2009-11-16). "Mus Mujiono Rilis Keroncong Religi Dua Bahasa". KapanLagi.com. Diakses tanggal 2026-01-18.