| Abdi dalem musikan Yogyakarta Royal Orchestra | |
|---|---|
| Orkestra | |
Konser Yogyakarta Royal Orchestra bertajuk Concerto Nusantara di Tebing Breksi, Sleman | |
| Nama pendek | YRO |
| Nama sebelumnya | Kraton Orkest Djocja |
| Didirikan |
|
| Lokasi | Yogyakarta, Indonesia |
| Tempat konser | Bangsal Mandalasana, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat |
| Dirigen utama | Raden Wedana Widyagunamardawa |
Musikan (bahasa Jawa: ๊ฆฉ๊ฆธ๊ฆฑ๊ฆถ๊ฆ๊ง๊ฆ๊ฆค๊ง, dari bahasa Belanda: muzikant) adalah orkestra yang dibentuk di kalangan abdi dalem Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang bertugas memainkan alat musik Barat. Dibentuk pada masa pemerintahan Hamengkubuwana VIII, kesatuan abdi dalem ini umumnya memainkan musik Eropa dengan sentuhan budaya Jawa sehingga memunculkan kolaborasi dan asimiliasi budaya yang khas.
Sejak 2021, abdi dalem musikan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dikonsolidasikan dalam sebuah orkestra yang diberi nama Yogyakarta Royal Orchestra (YRO). Bersama dengan abdi dalem wiyaga dan pelaku pertunjukan lainnya di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, orkestra ini dikelola oleh Kawedanan Kridhamardawa. YRO menjadi satu-satunya orkestra di Indonesia yang dimiliki oleh lembaga swapraja yang masih eksis hingga sekarang.[1]
Sejarah
suntingPembentukan awal
suntingMenurut catatan dari pakar gamelan Sumarsam, musik Eropa sudah dibawa ke Kesultanan Mataram semenjak Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) memberi pengaruh musik Barat untuk menghormati Susuhunan Mataram yang bertakhta. Dalam naskah Babad Giyanti, dikisahkan bahwa saat pemindahan ibu kota Kesultanan dari Kartasura ke Surakarta pada tahun 1745, pasukan VOC dan bregada (prajurit keraton) sama-sama memberi penghormatan dengan tembakan salvo senapan dan meriam serta disusul dengan suara tambur, trompet, bende, serta gamelan monggang, kodhok ngorek, dan carabalen.[2]
Awalnya musik Barat dan gamelan masih berdiri sendiri dan tidak saling berakulturasi.[3] Setelah pemerintahan kolonial mempengaruhi keraton-keraton Jawa pascaperang Jawa 1825โ1830, kehadiran budaya Eropa mulai didomestikasi ke dalam khazanah budaya Jawa, terkhusus melalui seni pertunjukan dan seni musik.[4] Sejumlah abdi dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menceritakan bahwa gamelan dan alat musik Barat telah berkolaborasi bersama pada masa pemerintahan Hamengkubuwana V, sebagai gendhing sabrangan (yang kelak dikenal sebagai gendhing gati atau gendhing mares). Bukti-bukti awal keberadaan gendhing gati adalah Serat Pakem Wirama (1889), yang memuat 13 gendhing gati beserta aturan penggunaannya; tanpa menjelaskan kapan gendhing-gendhing mares tersebut diciptakan.[5]
Kraton Orkest Djocja
sunting
Pada masa pemerintahan Hamengkubuwana VIII, seni budaya di dalam Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, mulai dari wayang wong, tari, karawitan, hingga musik Eropa (Barat) berkembang dengan pesat. Orkestra yang dibentuk pun muncul, dengan nama Kraton Orkest Djocja (terj. har.โ'Orkestra Keraton Yogyakarta').[6] Naskah Ngayogyakarta Pagelaran oleh Kartahasmara menginformasikan tentang keberadaan Kraton Orkest Djocja melalui baris-baris prosa sebagai berikut.[7]
Ngarsa Dalem melengkapi iringani kapang-kapang Bedaya/Srimpi, Beksan Trunajaya, Srimpi Pandhelori, dan Srimpi Muncar, dengan tambahan musik gesek/biola...
โโKartahasmara, Ngayogyakarta Pagelaran
Meskipun instrumen Barat dikenal jauh sejak awal berdirinya Keraton yang catatan tertulisnya baru ada pada masa Hamengkubuwana VIII, tercatat bahwa telah direkrut abdi dalem yang bertugas memainkan instrumen-instrumen Eropa untuk menyambut tamu-tamu dari para pejabat kolonial Hindia Belanda atau dari luar negeri.[8] Dalam catatan Ngayogyakarta Pagelaran tersebut, Hamengkubuwana VIII telah menghendaki penggunaan alat musik biola bersama gamelan untuk mengiringi tarian-tarian tersebut. Selain itu, kelompok abdi dalem yang memainkan alat musik Barat juga diminta oleh Hamengkubuwana VIII untuk menampilkan repertoar Eropa. Hamengkubuwana VIII mengundang Walter Spies, seniman berdarah Jerman, untuk mempertunjukkan orkestra yang dipimpinnya di Keraton. Selama di Yogyakarta, Spies tinggal di Ndalem Jayadipuran dan sempat belajar gamelan Jawa di Pura Pakualaman.[9][10]
Pada 26 Mei 1923, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Dirk Fock (1921โ1926) berkunjung ke Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Secara protokoler, penyambutan Gubernur Jenderal harus disambut dengan lagu kebangsaan Kerajaan Belanda, "Wilhelmus" dan gamelan monggang.[11] Hamengkubuwana VIII juga menyelenggarakan pentas musik Eropa. Untuk melaksanakan pementasan tersebut, dilakukan persiapan termasuk membuat pakaian seragam khusus dan mengutus seorang Belanda dan dua abdi dalem untuk membeli alat-alat musik Barat ke Batavia. Kebutuhan protokoler inilah yang diduga menjadi alasan mengapa kelompok musikan dibentuk.[12]
Walter Spies adalah seniman multitalenta: perupa dan pemusik berdarah Jerman, lahir di Moskow, Rusia. Pada awal tahun 1923, Spies berlayar ke Jawa dan bermukim di Bandung. Pada November 1923, Spies berkunjung ke Yogyakarta untuk menemui penyanyi Maria Sitsen-Russer. Karena kemampuan bermain pianonya yang menarik perhatian banyak orang, ia pun diminta untuk menggelar konser duet. Banyak yang ingin belajar piano dari Spies, tetapi ia hanya mau mengajari anak-anak Sitsen. Saat peringatan kenaikan takhta Hamengkubuwana VIII, Spies masuk ke Keraton dan merasa terpesona dengan alunan gamelan. Hal ini menyebabkan Hamengkubuwana VIII mengutus K.R.T. Djojodipoero untuk merekrutnya sebagai pimpinan orkestra Barat dengan tawaran honor ฦ100. Meski ia juga ditawari untuk main di gedung societeit (sekarang Taman Budaya) dengan honor ฦ1.000, ia memilih untuk bekerja di Keraton dan ia pun resmi diangkat sebagai abdi dalem pada 1 Januari 1924.[13]
Kraton Orkest Djocja memiliki 40 anggota dan nama-nama anggotanya diberi nama dengan kata-kata dari bahasa Belanda. Contohnya nama-nama yang berkaitan dengan nama hari dan bulan dalam bahasa Belanda: Zondag (Minggu), Maandag (Senin), dan Dinsdag (Selasa); atau Januari, Februari, Maart, April, dan Mei. Ada juga yang menggunakan judul opera seperti Aida (1871) karya G. Verdi, atau Carmen (1875) karya Georges Bizet. Atau menggunakan nama komponis opera seperti Leoni (Franco Leoni). Penggunaan nama-nama tersebut dilakukan turun-temurun, dan dapat digunakan kembali oleh keturunan-keturunannya yang bertugas di situ.[12]
Selama masa tugasnya di Yogyakarta, Spies tinggal di kediaman milik K.R.T. Djojodipoero (Ndalem Jayadipuran), dan musisi anggotanya tinggal di sebuah perkampungan yang terletak di sisi timur Bangsal Pagelaran, yang kelak diberi nama Kampung Musikanan. Di area Kedhaton sendiri berdiri sebuah bangsal kecil mirip gazebo yang diberi nama Bangsal Mandalasana. Spies berhenti bekerja pada 1927 dan memilih untuk pindah ke Bali. Di Bali, ia mencoba mengadaptasikan tari tradisional Bali, Kecak, untuk kepentingan pariwisata. Sebelum ke Bali, ia meninggalkan beberapa adaptasi notasi gamelan ke piano.[14]
Setelah Spies berhenti bekerja di Keraton, Kraton Orkest Djocja dipimpin oleh Raden Lurah Regimentsdochter. Setelah Regimentsdochter meninggal pada 5 Agustus 1931, jabatan dirigen diserahkan pada putranya yang bernama Leoni (Raden Lurah Regimentsdochter II atau Raden Riya Suryawaditra), kemudian pada 11 Januari 1950 naik pangkat menjadi Raden Wedana Pradjawaditra.[15]
Di bawah pimpinannya, Kraton Orkest Djocja banyak dilibatkan dalam acara-acara Keraton. Misalnya, pertunjukan musik untuk mengawal gunungan saat Garebeg Sawal, penyambutan gubernur jenderal saat kunjungan di keraton, penobatan Pakubuwana XI di Surakarta, penyambutan Pakubuwana XI ke Keraton Yogyakarta, dan juga pementasan dalam rangka penobatan Hamengkubawana IX. Selain itu, Kraton Orkest Djocja juga tampil dalam acara pisowanan di Pagelaran, pementasan dua kali sebulan di gedung Societeit de Vereeniging (sekarang Taman Budaya Yogyakarta).[12]
Perkembangan pascakemerdekaan, Yogyakarta Royal Orchestra
sunting
Pada masa Hamengkubuwana X, abdi dalem musikan kembali dihidupkan setelah dibubarkan.[16] Sebelum tahun 2019, keberadaan abdi dalem musikan masih berada dalam lingkup terbatas. Kesatuan ini secara formal sempat dibubarkan karena Keraton mengalami kesulitan keuangan dan berkurangnya acara-acara protokoler yang menggunakan musik Barat. Upaya revitalisasi kesatuan ini sudah diupayakan dalam lingkup terbatas. Contohnya pada 2013, saat pernikahan Gusti Kanjeng Ratu Hayu dengan Kanjeng Pangeran Harya Notonegoro, dengan memadukan gamelan dan musik Barat dalam acara Dhaup Ageng-nya.[17]
Upaya merevitalisasi musikan akhirnya berhasil pada tanggal 18 Agustus 2019. Sebuah pementasan reguler abdi dalem musikan di Bangsal Mandalasana digelar dalam rangka peringatan kemerdekaan ke-74 tahun Republik Indonesia.[18] Pada kesempatan berikutnya abdi dalem musikan kembali melakukan pertunjukan beberapa kali pada hari-hari besar nasional.[19] Kemudian pada 21 Juni 2021 dibentuklah Yogyakarta Royal Orchestra (YRO) yang salah satu tujuannya adalah mewadahi para seniman Yogyakarta dalam sebuah wadah orkestra untuk menyalurkan bakat mereka di bidang musik klasik di Keraton.[20]
Konser terkenal
suntingYogyakarta Royal Orchestra sejak pembentukannya pada tahun 2021 telah menggelar berbagai konser baik itu konser orkestra, ansambel, ataupun kolaborasi. Konser-konser besar yang pernah digelar di antaranya:
- Konser Peluncuran Yogyakarta Royal Orchestra. Konser perdana ini dislenggarakan di Bangsal Pagelaran, Keraton Yogyakarta pada tanggal 21 Juni 2021. Konser ini membawakan lagu-lagu klasik orkestra barat.[21]
- Konser Peresmian Taman Budaya Gunungkidul. Konser ini diselenggarakn pada 20 Desember 2021 berkolaboras dengan seniman diaspora Indonesia, Iskandar Widjaya.[22]
- Conserto Nusantara. Konser ini adalah konser peringatan ualng tahun pertama Yogyakarta Royal Orchestra dan untuk memperingati hari musik dunia.[23] Pada konser ini Yogyakarta Royal Orchestra berkolaborasi kembali dengan Iskandar Widjaja sebagai solois biola, Natallino Mela sebagi solois sasando, Mak Hasanawi sebagai solois saluang, dan beberaa musisi lainnya.[24] Konser ini diselenggarakan pada 21 Juni 2022 di Tebing Breksi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.[25]
- Konser memeriahkan Maritime Award 2021. Konser ini diselenggarakan pada 10 Februari 2023 di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta.[26] Pada Konser kali ini Yogyakarta Royal Orchestra berkolaborasi dengan Dira Sugandi dan Daniel Christianto.[27][28]
Referensi
sunting- ^ Zakiah, Umi (2025-01-07). "Mengenal Yogyakarta Royal Orchesta dan Agendanya di 2025". IDN Times Jogja. Diakses tanggal 2025-08-08.
- ^ Sumarsam 2016, hlm.ย 100-102.
- ^ Sumarsam 2016, hlm.ย 103-104.
- ^ Sumarsam 2016, hlm.ย 108.
- ^ Sumarsam 2016, hlm.ย 104.
- ^ Humas Jogja (2023-06-18), Ngobrolin Jogja | Yogyakarta Royal Orkestra (Rare Rumpaka), diakses tanggal 2025-08-08
- ^ Kartahasmara 1990, hlm.ย 193.
- ^ "Siapa Abdi Dalem Musikan Keraton Yogyakarta yang Ikut Pencanangan Gerakan Indonesia Raya Bergema?". Kompas.tv. Diakses tanggal 2025-08-08.
- ^ Rhodius, Hans; Darling, John (1980 & Darling 1980, hlm.ย 21-27.
- ^ Surtihadi 2014, hlm.ย 35.
- ^ "de G.G. in Djokja". de Preangerbode (2e blad). 28 Mei 1923.
- ^ a b c crew, kraton. "Musikan, Kesatuan Musik Diatonik Keraton Yogyakarta". kratonjogja.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-08-15.
- ^ Surtihadi 2014, hlm.ย 35-36.
- ^ Surtihadi 2014, hlm.ย 36-37.
- ^ Surtihadi 2014, hlm.ย 37.
- ^ Pertana, Pradito Rida. "Pertama Kali setelah Indonesia Merdeka! Pentas Musikan di Keraton Yogya". detiknews. Diakses tanggal 2025-08-11.
- ^ Rintoko 2022, hlm.ย 96.
- ^ "80 Tahun Vakum, Pentas Abdi Dalem Musikan Kraton Yogyakarta Akhirnya Kembali Dihidupkan". asitajogja.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-08-11.
- ^ "Google Search". www.google.com. Diakses tanggal 2025-08-11.
- ^ Hadinigrat, Karaton Ngayogyakarta. "Hari Musik Dunia, Keraton DIY Gelar Royal Orchestra". hiburan. Diakses tanggal 2025-08-11.
- ^ Program, Admin (2021-06-20). "Peluncuran Royal Orchestra (21 Juni 2021)". Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-08-11.
- ^ Pertana, Pradito Rida. "Pertama Kali setelah Indonesia Merdeka! Pentas Musikan di Keraton Yogya". detiknews. Diakses tanggal 2025-08-11.
- ^ News, Editor. "Concerto Nusantara, Musik Wajah Peradaban Sebuah Bangsa - Radar Jogja". Concerto Nusantara, Musik Wajah Peradaban Sebuah Bangsa - Radar Jogja. Diakses tanggal 2025-08-12.
- ^ "Yogyakarta Royal Orchestra Gelar Concerto Nusantara Peringati Hari Musik Dunia, Tiket Ludes Terjual Dalam 3 Hari". Suarajogja.id. Diakses tanggal 2025-08-12.
- ^ Content, Editor. "Jogjakarta Royal Orchestra Sajikan Lagu Nusantara - Radar Jogja". Jogjakarta Royal Orchestra Sajikan Lagu Nusantara - Radar Jogja. Diakses tanggal 2025-08-12.
- ^ Mediatama, Grahanusa (2023-01-17). "Pelabuhan Sunda Kelapa Dipilih sebagai Tempat Perhelatan Maritime Award". pressrelease.id. Diakses tanggal 2025-08-12.
- ^ developer, mediaindonesia com. "Pertama di Indonesia, Yogyakarta Royal Orchestra Gelar Konser Musik di Pelabuhan Sunda Kelapa". mediaindonesia.com. Diakses tanggal 2025-08-12.
- ^ developer, mediaindonesia com. "Pertama di Indonesia, Yogyakarta Royal Orchestra Gelar Konser Musik di Pelabuhan Sunda Kelapa". mediaindonesia.com. Diakses tanggal 2025-08-12.
Daftar pustaka
sunting- Surtihadi (2014-04-10). "Instrumen Musik Barat dan Gamelan Jawa dalam Iringan Tari Keraton Yogyakarta". Journal of Urban Society's Arts. 1 (1): 27โ43. doi:10.24821/jousa.v1i1.786. ISSNย 2355-214X.
- Kartahasmara, (1990). Ngayogyakarta Pagelaran. Diterjemahkan oleh Harianto, W. Yogyakarta: Mahadewa. Pemeliharaan CS1: Status URL (link) Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)
- Rhodius, Hans; Darling, John (1980). Walter Spies and Balinese Art. Amsterdam: Terra Zutphen. ISBNย 978-9062550791.
- Sumarsam (2016). "Soal-soal Masa Lampau dan Kini Seputar Hibriditas Musik Jawa-Eropa: Gendhing Mares dan Genre-Genre Hibrid Lain". Dalam Barendregt, Bart; Bogaerts, Els (ed.). Merenungkan Gema: Perjumpaan Musikal Indonesia-Belanda. Diterjemahkan oleh Simatupang, Landung. Jakarta: KITLV Jakarta dan Pustaka Obor. ISBNย 9789794616352. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)