Onderafdeling Poso (bahasa Belanda: Onderafdeeling Poso), adalah salah satu onderafdeling di Afdeling Poso. Onderafdeling ini sebelumnya merupakan bagian dari Afdeling Midden Celebes, dan pada tanggal 8 Agustus 1924 dipindahkan ke Afdeling Poso yang baru dibentuk.[1] Ibu kotanya terletak di Poso. Onderafdeling Poso dikepalai oleh seorang Kontrolir dan dibagi menjadi tiga wilayah Landschap, yaitu Landschap Poso Lage, Landschap Lore, Landschap Tojo, dan Landschap Una-Una.[2] Wilayah Landschap dikepalai oleh seorang pengawas dan dijabat oleh orang Belanda.

Sejarah

sunting

Pada tahun 1800an, tokoh Hindia Belanda, Adriani dan Kruyt dalam buku mereka yang berjudul De Bare'e-sprekende Toradja's van Midden-Celebes mengistilahkan istilah Toradja(Toraja) untuk sebagian kecil orang yang hidup seperti yang sekarang ini disebut "gelandangan".[3]

Di Sulawesi bagian tengah (midden celebes) yaitu Wilayah Grup Poso-Tojo, istilah Toraja (Toradja) dinamakan Belanda untuk mengidentifikasikan Suku Bare'e (Alfouren) yang masih beragama Lamoa (Tuhan PueMpalaburu), dan semua Toraja (Toradja) yang tertarik agama kristen harus mengakui dirinya adalah Suku To Lampu (To Lampoe) dan bukan lagi Suku Bare'e (Bare'e-Stammen), dan Suku To Lampu (To Lampoe) inilah yang setelah diteliti asalnya berasal dari tempat menhir Watu Mpogaa berasal yaitu Legenda desa Pamona yang semua penduduk Toraja To Lampu yang didapatkan Belanda dari wilayah Poso-Tojo tersebut berasal dari Saloe Magoe, dan juga Wotu, di wilayah Luwu Timur, dan mereka semua adalah suku asli yang beragama kristen yaitu Suku To Lampu (To Lampoe).[4]

Walaupun begitu masih sangat banyak juga Suku Bare'e yang beragama Lamoa yang ikut Suku Bare'e (Bare'e-Stammen) yang beragama Islam (Mohammadisme) karena Suku Bare'e tersebut tidak cocok dengan gaya hidup orang Belanda yang berkulit putih dan berambut kuning. Namun, perkembangannya Suku Bare'e yang beragama Lamoa lebih banyak yang ikut dengan Suku Bare'e yang beragama islam karena belum terbiasa dengan kebiasaan hidup Orang-orang Belanda yang berkulit putih dan bermata biru.

Dan dengan adanya Suku "To Lampu" (To Lampoe) dari wilayah Grup Poso-Tojo, yang kemudian keagamaannya diistilahkan Belanda dengan istilah "Van Heiden Tot Christen",[5] yang kemudian disekolahkan di sekolah-sekolah Belanda yang ada di wilayah Grup Poso-Tojo untuk mempelajari tujuh "batu penyebaran" atau disebut Watu Mpogaa (Vatu Mpogaa) yang batu menhirnya masih dapat ditemukan sampai saat ini di Tentena.[6] Setelah mempelajari Watu Mpoga'a,[7] maka Suku To Lampu (To Lampoe) dari Desa To Lampoe dari wilayah Saloe Magoe yang telah menjadi Umat Kristen tersebut mengetahui asal-usul mereka sebelum berada di wilayah Grup Poso-Tojo yaitu berasal dari wilayah Saloe Magoe dan juga Wotu, Luwu Timur.[8]

Nenek moyang Suku Bare'e berasal dari wilayah pedalaman Sulawesi Tengah, khususnya di sekitar wilayah yang kemudian menjadi pusat Kerajaan Tojo yang didirikan tahun 1770 untuk mempersatukan keempat wilayah dari Suku Bare'e karena rasa persaudaraan berbudaya dan bahasa yang sama yaitu Bare'e, dan Bare'e (Bare'e-Stammen) merupakan penduduk asli yang mendiami lembah-lembah di Poso hingga wilayah Tojo. Berbeda dengan nenek moyang Suku To Lampoe (To Lampu) yang berasal dari nama kepala desa pertama di suatu desa di wilayah Saloe Magoe di Luwu Timur, yaitu To Lampoe (To Lampu), yang kemudian menamakan desa yang didirikannya seperti namanya sendiri yaitu Desa To Lampoe, yang mana penduduk Desa To Lampoe ini berasal dari penduduk Bekas Desa Pamona (Dorp Pamona) yang dulu pernah ada, dan dibuktikan dengan adanya Menhir Watu Mpogaa di Tentena, yang tunduk pada Kerajaan Luwu.[9]

Penolakan istilah Toraja di Sulawesi Tengah

sunting

Bugis dan To Luwu adalah masyarakat yang pertama kali menolak penyebutan Toraja untuk Umat Kristen di Sulawesi Selatan, dan hal tersebut diakui oleh Makkole dan Maddika Luwu saat itu, dan juga karena wilayah yang dihuni Suku Toraja adalah wilayah Kerajaan Luwu yang mana wilayah kerajaan Luwu mulai dari Selatan, Pitumpanua ke utara Morowali,[10] dan dari Tenggara Kolaka (Mengkongga) sampai ke seluruh wilayah Tana Toraja, oleh karena itu To Luwu menolak terhadap istilah Toraja (Toradja) untuk penyebutan Umat Kristen di Sulawesi Selatan.

Penolakan atas istilah Toraja inilah yang membuat ragu masyarakat Sulawesi pada saat terjadi gerakkan Monangu Buaya oleh Kerajaan Luwu, karena bunyi dari Monangu Buaya adalah sangat bertentangan dengan penolakan istilah Toraja (Toradja) yang terjadi di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah, karena bunyi dari Monangu Buaya (Monangu Buaja) adalah "Semua Suku Toraja (Toradja-Stammen) dan Umat Kristen di Tana Poso harus mendukung semua Budaya Luwu termasuk Monangu Buaya", dan itu sangat tidak mungkin terjadi di mana sedang terjadi salah paham dan "pengusiran" antara pihak masyarakat Sulawesi Selatan yang menentang istilah Toraja ciptaan misionaris Belanda dan Budaya Luwu Monangu Buaya yang didukung misionaris Belanda dengan kata lain sedang terjadi permusuhan antara masyarakat Sulawesi Selatan dengan pihak misionaris Belanda, sehingga semua masyarakat Sulawesi berkesimpulan bahwa gerakan menarik upeti Monangu Buaya (Monangu Buaja; krokodilzwemmen)[11] adalah bukan dari Kerajaan Luwu tetapi Monangu Buaya adalah ciptaan misionaris Hindia Belanda. Terbukti dari Monangu Buaya mengutip ayat dari Alkitab Injil yaitu " dengan melihat kepada Tokoh Alkitab Injil yaitu "sejarah kematian Lazarus" yang menceritakan bahwa Baju Adat Inodo bukan bajunya umat kristen yang diwakili tokoh Lazarus".[12] Masalah yang muncul kemudian adalah "pengkaburan sejarah tana poso", mengenai siapakah pemilik tana poso, Karena tidak mungkin satu wilayah memiliki dua suku dan tidak mungkin juga satu wilayah dimiliki dua kerajaan yang berbeda yaitu Suku Bare'e di pihak Kerajaan Tojo dan Suku To Lampoe (To Lampu) (pamona) kristen di pihak Kerajaan Luwu, dan Kerajaan Luwu tidak memiliki bukti kepemilikan Tana Poso seperti Arajang[13] Kerajaan Tojo.[14]

Di zaman modern para peneliti dan akademisi Sulawesi seperti Priyanti Pakan, Mashudin Masyhuda, Andi Mattulada, dan Lorraine Aragon juga pada awalnya menolak penerapan istilah Toraja bagi penduduk Sulawesi Tengah.[15]

To Lamusa

sunting

Dengan memperhatikan wilayah dari Suku Bare'e yang tahun 1770 membentuk Kerajaan Tojo di wilayah yang mereka huni, kini muncullah suatu skema To Lamusa dari Kerajaan Luwu, tetapi sayangnya skema To Lamusa dari Kerajaan Luwu itu tidak terbukti yaitu dari pernyataan Walter Kaudern yang menyatakan "...adapun kalau ditempati, tanah tersebut sudah ditinggalkan dalam waktu yang lama sekali, karena tanahnya seperti jurang yang sangat sulit untuk dibuatkan semacam rumah tempat tinggal", karena berupa "jurang" sehingga pastilah orang akan beranggapan tanah yang dulunya merupakan hunian pemukiman penduduk setelah itu tempat hunian tersebut menjadi jurang, pastilah orang beranggapan bahwa hal tersebut bisa terjadi karena faktor bencana alam dan salah satunya adalah Gempa bumi, dan di zaman modern pernyataan tersebut dibuktikan dengan tidak adanya garis patahan gempa yang melewati wilayah tempat yang dulu dinamakan Lamusa di TandongKasa (Tando Ngkasa), desa Lamoesa, dan Pantjawoe Enoe.[16]

Zaman Hindia Belanda

sunting

Ketika pertama kali bertemu penguasa Tana Poso yaitu Kerajaan Tojo, pemerintah koloni Hindia Belanda selalu beralasan yang punya Tana Poso adalah "Pangeran Bone", tetapi Kerajaan Tojo menanggapi pihak Belanda dengan sangat tenang karena Kerajaan Tojo memiliki Tombak Arajang[17] pemberian dari Kerajaan Bone dari Sulawesi Selatan sewaktu mendirikan Kerajaan Tojo tahun 1770 oleh Raja Tojo Pilewiti yang merupakan sepupu Raja Bone.

Dan Sekitar tahun 1905 pemerintah Hindia Belanda menduduki Buyumboyo, dan setelah itu terjadi gerakan Misionaris besar-besaran di wilayah Tana Poso bermodalkan Taktik Politik pecah belah wilayah Suku Bare'e yang para Misionaris Belanda tersebut dipimpin oleh Albertus Christiaan Kruyt, Nicolaas Adriani, dan Philip Heinrich Christoph Hofman yang semuanya berwarga negara Belanda.

Legenda dan Tradisi Bare'e

sunting

Di Poso tahun 1907, pemerintah Hindia Belanda mulai melakukan taktik Politik pecah belah wilayah Suku Bare'e yang sebelumnya hanya 4 wilayah yaitu : ToRato Bongka, ToLalaeyo, ToTora'u, dan ToLage, dipecah menjadi beberapa daerah baru seperti To Puumboto, To Onda'e, To Pebato, To Bancea, dll, dan setiap wilayah baru diangkat seorang pemimpin Landschap (wilayah bentukkan Hindia Belanda) yang berpangkat dalam Bahasa Bare'e: Mokole Bangke, dan dalam hal taktik Politik pecah belah, pemerintah Hindia Belanda bekerjasama dengan Misionaris Kristen dari Belanda.

Taktik Politik pecah belah oleh pemerintah Hindia Belanda tersebut yaitu dengan melakukan beberapa tradisi dari umat Kristen di Tana Poso untuk menyebarkan adat istiadat dan budaya Suku Bare'e yang memengaruhi suku-suku di luar Suku Bare'e yaitu tradisi mengatakan bahwa "orang Sausu dan Parigi berasal dari daerah aliran sungai Poso setelah terjadi peristiwa Watu Mpogaa. Konon mereka membawa tanaman sinagoeri dari Danau Poso. Ceritanya, semak ini menjadi pohon. Pohon dari Danau Poso ini sekarang digunakan di Parigi sebagai tiang utama rumah kepala lanskap. Namun patut diduga bahwa Orang Parigi aslinya berasal dari Teluk Palu, begitu pula dengan masyarakat Ampibabo yang tinggal di sebelah utara mereka, yang bahkan lebih murni memiliki ciri-ciri kelompok Parigi-Kaili".[18]

Begitu halnya dengan wilayah To Kulawi dengan mengatakan bahwa "To Kulawi memiliki Tadulako yang berasal dari Roh Anitu (roh perang)[19] seperti halnya Suku Bare'e di Grup Poso-Tojo", padahal yang sebenarnya hanya Suku Bare'e lah yang percaya dan memiliki Roh Anitu, dan Roh Anitu[20] berasal dari Bahasa Bare'e, sementara To Kulawi yang memiliki adat istiadat dan budaya Suku Bare'e adalah To Kulawi bentukkan pemerintah Hindia Belanda yang seperti halnya orang-orang parigi yang dibawa pemerintah Hindia Belanda dari pulau Jawa dan beragama Kristen. Jadi seperti halnya tradisi "Tanaman sinagoeri dari danau poso" yang memengaruhi orang Parigi supaya percaya bahwa orang parigi berasal dari Danau Poso (Suku Bare'e) bukan dari Teluk Palu yaitu tempatnya Suku Kaili berasal, seperti itulah Misionaris Kristen Belanda memengaruhi dan mengajak suku-suku di Sulawesi Tengah untuk mengenal agama Kristen, dan konon tradisi dan budaya dari Suku Bare'e ini jangkauan wilayahnya sampai ke wilayah Suku Mongondow di Sulawesi Utara terutama dalam hal Tari Moraego, Tari Mokayori, Baju Kulit Kayu (Inodo, Fuya), dll, hal tersebut bisa dibuktikan dengan peninggalan dokumen di zaman Hindia Belanda.

Tradisi dari umat Kristen di Tana Poso mengenai sausu dan parigi dipraktikkan oleh pemerintah Hindia Belanda yaitu mula-mula dengan membawa orang-orang dari pulau Jawa yang telah beragama Kristen ke wilayah Poso-Tojo di Sulawesi, setelah itu memaksakan suatu cerita Legenda atau tradisi dari Suku Bare'e kepada suku selain Suku Bare'e, dan tahap akhir dari Misionaris Belanda di Sulawesi Tengah yaitu membawa orang-orang yang telah beragama Kristen yang telah terpengaruh tadi dari daerah asalnya ke wilayah Wotu, Luwu Timur, dengan mengikuti Legenda Desa Pamona Watu Mpogaa.[21]

Referensi

sunting
  1. ^ Tirtosudarmo 2008, hlm. 12.
  2. ^ Mahid, Sadi & Darsono 2012, hlm. 297-298.
  3. ^ De bare'e-sprekende toradja's van midden-celebes, SERIES [1]", Diakses 5 Maret 2023.
  4. ^ BUKU DE BARE'E-SPREKENDE DE TORADJA VAN MIDDEN CELEBES jilid 1 halaman 5, [2].
  5. ^ Van Heiden tot Christen, dari agama suku masuk agama kristen [3]",
  6. ^ Gobée 2007, hlm. 3.
  7. ^ DATA CAGAR BUDAYA DI SULAWESI TENGAH (per Des 2014) [4]", Diakses 14 Mei 2023.
  8. ^ Idwar Anwar (2005). Ensiklopedi Sejarah Luwu. Collaboration of Komunitas Kampung Sawerigading, Pemerintah Kota Palopo, Pemerintah Kabupaten Luwu, Pemerintah Kabupaten Luwu Utara, and Pemerintah Kabupaten Luwu Timur. ISBN 979-98372-1-9.
  9. ^ Sejarah Suku To Lampoe dan Monangu Buaja (krokodilzwemmen), [5]
  10. ^ KEDATUAN LUWU WILAYAHNYA HANYA SAMPAI MOROWALI, KABUPATEN POSO, SULAWESI TENGAH. [6].
  11. ^ Sumber buku "POSSO" LIHAT & DOWNLOAD HALAMAN 151: MONANGU BUAJA (krokodilzwemmen), menyatakan Monangu buaya yaitu budaya ciptaan Misionaris Belanda dengan meminjam nama dari Kerajaan Luwu , [7], Diakses 30 Juni 2023.
  12. ^ "POSSO" LIHAT & DOWNLOAD HALAMAN 151: MONANGU BUAJA (krokodilzwemmen), kematian Lazarus yang berbaju apa adanya (To Lampu) berbeda dengan Baju Mewah atau Baju Inodo yang milik dari Suku Bare'e (Bare'e-Stammen), [8].
  13. ^ DERIJKSSIERADEN VAN TODJO, De Bare'e-Sprekende de Toradja van midden celebes jilid 1 halaman 75-83.[9].
  14. ^ Buku POSSO, HALAMAN 151, Monangu buaja (krokodilzwemmen). [10].
  15. ^ Aragon 2000, hlm. 2.
  16. ^ Peta Patahan (Sesar) gempa di Sulawesi.[11].
  17. ^ TOMBAK ARAJANG KERAJAAN TOJO, foto tombak arajang bisa dilihat pada halaman 3, kamus bahasa bare'e terjemahan dari Bare’e-Nederlandsch Woordenboek (Brill, 1928, sebaiknya di download terlebih dahulu) di : https://id.scribd.com/document/665733193/KAMUS-BAHASA-BARE-E-BARE-E-TAAL-Bahasanya-Suku-Bare-e.[12].
  18. ^ VERSPREIDING VAN DE POSSO’SCH-TODJO’SCHE GROEP, page 6.[13].
  19. ^ Chapter. TADOELAKO TO KOELAWI.[14].
  20. ^ De Bare'e-Sprekende de Toradja van midden celebes jilid 1 halaman 285, DE GEESTEN INDEN DORP STEMPEL,[15].
  21. ^ LEGENDA DESA PAMONA (DORP PAMONA), halaman 5.[16].

Bacaan lebih lanjut

sunting

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Kabupaten Timor Tengah Selatan

Midden Timor yaitu wilayah administrasi kolonial Belanda setingkat onderafdeling. Wilayah ini adalah penggabungan tiga kerajaan yaitu Kerajaan Amanatun

Sulawesi Tenggara

Afdeling. Onderafdeling ini kemudian dikenal dengan sebutan Onderafdeling Boeton Laiwoi dengan pusat Pemerintahannya di Bau-Bau. Onderafdeling Boeton Laiwui

Onderafdeling

Onderafdeling adalah suatu wilayah administratif setingkat kawedanan yang diperintah oleh seorang wedana bangsa Belanda yang disebut Kontroleur (istilah

Onderafdeling Mamasa

Onderafdeling Mamasa adalah sebuah onderafdeling yang dibentuk dalam wilayah Afdeling Mandar pada tanggal 1 Juni 1940 dalam masa pemerintahan Hindia Belanda

Kota Sorong

luasnya wilayah onderafdeling Sorong maka pada tahun 1952, onderafdeling kemudian dipecah menjadi 2 (dua) onderafdeling yaitu: Onderafdeling Sorong-Olie Onderafdeling

Jatinegara, Jakarta Timur

berbatasan langsung dengan Regentschap Buitenzorg (Kabupaten Bogor), Onderafdeling Djonggol (Kawedanan Jonggol), Karesidenan Bogor di selatan, Regentschap

Luwuk, Banggai

kemudian tahun 1908 dipindahkan ke Bau-Bau, Luwuk menjadi pusat wilayah onderafdeling pada tahun 1924. Kampung pertama yang terbentuk di pesisir Luwuk (teluk)

Kabupaten Donggala

meliputi: Onderafdeling Palu terdiri dari: Landschap Kulawi di Kulawi, Landschap Sigi Dolo di Biromaru, Landschap Palu di Palu Onderafdeling Parigi terdiri