Orang Samaria
เ ”เ Œเ “เ ‰เ Œโ€Ž
ืฉื•ืžืจื•ื ื™ื
ุงู„ุณุงู…ุฑูŠูˆู†
Orang Samaria merayakan Paskah di Gunung Gerizim, dekat Nablus modern dan Shechem kuno, 2006
Jumlah populasi
~900 (2024)[1]
Daerah dengan populasi signifikan
ย Israel (Holon)460 (2021)
Palestina[a] (Kiryat Luza)380 (2021)[1]
Bahasa
Bahasa percakapan:
Hebrew Israel and Levantine Arabic
Liturgi:
Samaritan Hebrew and Samaritan Aramaic
Agama
Samaritanisme
Kelompok etnik terkait
Yahudi and other Orang-orang berbahasa Semit yang lain
Orang Samaria

Israelite Samaritan atau Orang Samaria adalah penduduk wilayah Israel bagian utara, yang dulunya menjadi wilayah Kerajaan Israel.[2] Sejak abad ke-6 SM, ada pertentangan antara orang-orang Samaria dengan orang-orang Yahudi, yang berlangsung hingga masa Perjanjian Baru.[2] Pertentangan tersebut terutama disebabkan alasan etnisitas, yang mana orang-orang Yahudi menganggap orang-orang Samaria tidak berdarah Israel murni karena merupakan hasil pernikahan campur orang Israel dengan non-Israel.[2] Orang-orang Samaria menolak disebut sebagai Yahudi, mengklaim mereka berasal dari Suku Yusuf dan Suku Lewi.

Selain itu, dalam hal keagamaan juga ada perbedaan di antara keduanya sehingga Yahudi menganggap ibadah Samaria tidaklah benar.[2] Disisi lain, Samaria juga melihat Yahudi secara negatif. Orang-orang Samaria menganggap diri mereka sebagai bangsa Israel asli, dan memisahkan diri dari kalangan bangsa Israel yang telah dicemarkan oleh imam Eli pada zaman Samuel.[3]

Letak Geografis

sunting

Daerah tempat tinggal orang Samaria terletak di tengah-tengah Yudea di Selatan dan Galilea di Utara, yang mana keduanya merupakan tempat tinggal bagi mayoritas orang-orang Yahudi.[4] Karena itu, orang-orang Yahudi yang terletak di Galilea sering terancam diserang oleh perampok-perampok Samaria bila hendak menuju ke Yudea, atau sebaliknya.[2] Alternatif lain bagi orang Yahudi di Galilea untuk ke Yudea adalah melewati jalan di sebelah Timur Sungai Yordan yang lebih panjang.[2]

Latar Belakang

sunting

Akar dari orang-orang Samaria adalah penduduk Israel Utara, yang pada tahun 722 SM ditaklukan oleh bangsa Asyur.[2] Kebijakan Asyur saat itu adalah membuang sebagian penduduk Israel Utara ke tempat lain, dan memasukkan penduduk bangsa-bangsa lain ke daerah Israel Utara.[2] Hal itu dilakukan untuk mencegah pemberontakan.[2] Orang-orang Samaria kemudian dianggap sebagai hasil asimilasi antara orang-orang Israel dengan penduduk bangsa lain yang ditaruh di sana.[2]

Pada saat orang-orang Yahudi yang berasal dari Kerajaan Yehuda kembali dari Pembuangan, mereka mulai merumuskan kembali identitas Yahudi dan disertai pelbagai peraturan keagamaan.[5] Mereka menekankan kemurnian darah Israel, sehingga memandang negatif orang-orang Samaria.[5] Hubungan keduanya semakin diperburuk ketika pada tahun 128 M, Yohanes Hirkanus, yang menjadi pemimpin orang Yahudi waktu itu, menghancurkan bait suci orang Samaria di bukit Gerizim dalam rangka memperluas daerah Yudea.[5] Karena itu, hubungan antara orang Yahudi dan orang Samaria yang penuh ketegangan terus berlanjut.[5]

Keagamaan

sunting

Pola keagamaan orang Samaria mirip dengan umat Yahudi dalam hal menyembah satu Tuhan Israel Yang Maha Esa / Satu satunya TUHAN/Allah Dari segala Tuhan Dunia (YHWH), perayaan hari Sabat, perayaan Paskah, dan sebagainya.[4] Akan tetapi, ada beberapa hal lain yang membedakan pola keagamaan orang Samaria dengan orang Yahudi.[4]

Pusat Ibadah orang-orang Samaria di Gunung Gerizim

Pusat Ibadah di Gunung Gerizim

sunting

Orang-orang Samaria tidak mengakui Yerusalem sebagai tempat ibadah utama, melainkan mendirikan bait suci yang menjadi pusat peribadahan mereka di dekat Gunung Gerizim.[2] Gunung Gerizim mereka anggap sebagai tempat suci pilihan Allah dan di situlah mereka menyelenggarakan ibadah mereka sendiri.[4] Tidak diketahui dengan pasti kapan bait tersebut dibangun, tetapi pastinya telah berdiri sebelum tahun 128 SM ketika dihancurkan oleh Yohanes Hirkanus dari bangsa Hasmoni.[5]

Orang Samaria dan Taurat Samaria.

Taurat Musa

sunting

Sebagai kitab suci, mereka hanya mengakui Taurat Musa yang disadur sedikit sesuai keyakinan mereka, yang disebut sebagai "Taurat Samaria".[4] Kitab-kitab para nabi dan kitab-kitab lain di dalam Kitab Suci Ibrani tidak mereka akui sebagai bagian kitab suci.[2] Kitab Taurat tersebut disusun kurang lebih abad ke-1 atau ke-2 SM, dan berisi legitimasi atas pentingnya Gunung Gerizim atau Sikhem sebagai tempat ibadah.[6] Sebaliknya, mereka menolak Yerusalem dan Bait Suci di sana sebagai tempat beribadah yang benar.[6]

Referensi

sunting
  1. ^ a b SamUp 2022.
  2. ^ a b c d e f g h i j k l S. Wismoady Wahono.1986. Di Sini Kutemukan. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hal. 338-339
  3. ^ (Inggris)Etienne Nobet. 1997. A Search for the Origins of Judaism: From Joshua to Mishnah. Sheffield: Sheffield Academic Press. P. 123.
  4. ^ a b c d e C. Groenen. 1984.Pengantar Ke Dalam Perjanjian Baru. Yogyakarta: Kanisius. Hal. 39-40
  5. ^ a b c d e (Indonesia)John Stambaugh, David Balch. 1997. Dunia Sosial Kekristenan Mula-Mula. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hal. 111-114.
  6. ^ a b (Inggris)Bernard M. Levinson. 2008. Legal Revision and Religious Renewal in Ancient Israel. Cambridge: Cambridge University Press. P. 127-128.

Pranala luar

sunting


Kesalahan pengutipan: Ditemukan tanda <ref> untuk kelompok bernama "lower-alpha", tapi tidak ditemukan tanda <references group="lower-alpha"/> yang berkaitan

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Taurat Samaria

pertama dalam Alkitab Ibrani, ditulis dengan Abjad Samaria dan dipandang sebagai kitab suci oleh orang Samaria. Naskah ini merupakan keseluruhan kanon Alkitab

Perumpamaan orang Samaria yang murah hati

Orang Samaria yang murah hati adalah sebuah perumpamaan yang diajarkan oleh Yesus kepada murid-muridnya. Kisah ini tercantum di dalam Lukasย 10:25-37.

Samaria

lainnya."[2] Samaria digunakan oleh orang-orang yang ingin menekankan hubungan Israel dan orang Yahudi dengan tanah mereka. Misalnya, Samaria, bersama-sama

Abjad Samaria

Abjad Samaria digunakan oleh orang-orang Samaria untuk naskah-naskah keagamaan, termasuk Taurat Samaria, ditulis dalam bahasa Ibrani Samaria; dan untuk

Perempuan Samaria di sumur Yakub

perempuan Samaria itu kepada-Nya: "Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?" (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria

Bahasa Ibrani Samaria

Arab Samaria). Fonologi bahasa Ibrani Samaria mirip dengan bahasa Arab Samaria, dan digunakan oleh orang Samaria dalam doa. Saat ini, orang Samaria umumnya

Gereja Orang Samaria Yang Baik Hati, Paramaribo

Gereja Orang Samaria Yang Baik Hati (bahasa Belanda: Barmhartige Samaritaan Kerkcode: nl is deprecated ) adalah sebuah gereja paroki Katolik yang terletak

Bahasa Aram Samaria

kotak, atau simbol lain. Bahasa Aram Samaria adalah ragam dari bahasa Aram yang digunakan oleh orang-orang Samaria. Bahasa ini merupakan salah satu dari