Litografi oleh Auguste van Pers yang menggambarkan seorang pangeran dari pulau Madura dan pelayannya pada masa Hindia Belanda

Pangeran adalah gelar bagi keturunan laki-laki (utamanya anak laki-laki) dari penguasa monarki (raja, sultan, kaisar). Gelar ini juga dapat merujuk kepada penguasa monarki yang tingkatannya statusnya satu tingkat berada di bawah Raja / Sultan yang disebut Adipati atau Duke. Dalam bahasa Indonesia, gelar untuk wanita yang sejajar dengan pangeran adalah prinses, dapat digunakan untuk keturunan perempuan penguasa monarki ataupun istri dari pangeran.

Makna

sunting

Pangeran berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti pelindung. Hal ini berasal dari keyakinan Dewanata bahwa para bangsawan adalah titisan Tuhan Yang Maha Melindungi yang turun ke bumi. Ungkapan "pangeran" berasal dari kata ngher, yang bermakna melindungi.

Peran sebagai anggota dinasti

sunting

Dalam bahasa Indonesia, gelar pangeran lebih identik dengan gelar bagi keturunan laki-laki dari penguasa monarki. Seorang pangeran memiliki tugas yang berbeda-beda di tiap negara dan kebudayaan.

Pada masa Kekaisaran Tiongkok, kedudukan para pangeran disetarakan dengan para pejabat istana. Di Korea pada masa Dinasti Joseon, hanya putra mahkota yang diperkenankan tinggal di istana kerajaan sampai dewasa, sedangkan pangeran yang lain akan hidup di luar istana setelah menikah.

Di Eropa, para pangeran biasanya diangkat menjadi adipati dan memimpin suatu wilayah di kerajaan. Di Turki Utsmani, para pangeran akan diutus memimpin suatu provinsi dengan didampingi ibunya sebagai bekal pelatihan untuk menjadi calon pewaris takhta. Sang pangeran dan ibunya hanya akan tinggal kembali di ibu kota saat telah menjadi sultan dan ibu suri. Namun sejak masa Sultan Ahmed I, aturan ini dihapuskan dan para pangeran akan tetap tinggal di istana sampai naik takhta.

Meskipun sama-sama keturunan penguasa monarki, tetapi para putri memiliki tugas yang berbeda. Biasanya putri tidak diberikan kekuasaan untuk memimpin sebagai adipati sebagaimana para pangeran, kecuali dalam beberapa monarki seperti di Majapahit. Di banyak kebudayaan, tugas utama putri biasanya terkait pernikahan mereka. Melalui pernikahan antar dinasti, diharapkan terjadi jalinan persahabatan antar kerajaan dan kekaisaran. Para permaisuri dari raja dan kaisar Eropa banyak yang merupakan putri dari negara lain. Katherine dari Aragon yang merupakan istri Henry VIII, Raja Inggris, adalah putri Spanyol. Marie Antoinette yang merupakan istri Louis XVI, Raja Prancis, awalnya adalah putri dari Kekaisaran Romawi Suci. Dalam beberapa kasus, pernikahan antar dinasti juga akan mengantarkan kepada penyatuan dua kerajaan pada masa mendatang. Hal ini memungkinkan bila sang putri adalah pewaris dari kerajaan tersebut. Hal ini terjadi pada pernikahan Putri Isabel, pewaris takhta Kastilia dan Leon, dengan Pangeran Fernando, putra mahkota Kerajaan Aragon, yang pada keberjalanannya akan menjadi penyatuan Spanyol.

Di beberapa kebudayaan, pernikahan antar sesama anggota dinasti yang sama juga dilakukan untuk menjaga kemurnian darah. Hal ini terjadi pada masa Mesir Kuno. Seorang firaun kerap menikah dengan saudari tiri mereka. Hal ini juga dilakukan di Jepang pada masa lampau. Kaisar Bidatsu menikah dengan saudarinya seayah, Putri Nukatabe, yang kemudian juga naik takhta sebagai Maharani Suiko sepeninggal suami sekaligus saudaranya. Kaisar Jomei menikahi keponakannya, Putri Takara. Sebagaimana Suiko, Putri Takara juga naik takhta sepeninggal suaminya dengan nama Maharani Kōgyoku.

Penguasa monarki

sunting

Gelar pangeran juga dapat merujuk pada penguasa monarki yang tingkatannya berada di bawah raja dan sultan, seperti pada Praja Mangkunegara. Kedudukannya yang berupa kadipaten berada di bawah Kasunanan dan Kesultanan, sehingga pemimpinan Mangkunegara tidak berhak menyandang gelar sultan, sunan, atau raja, melainkan Pangeran Adipati Arya. Di Eropa, monarki yang dipimpin oleh pangeran adalah Monako, Liechtenstein, dan Andorra. Meskipun ketiganya adalah negara berdaulat, tetapi sesuai tingkatan kebangsawanan Eropa, kedudukan mereka berada di bawah king (raja).

Pangeran sebagai gelar substantif

sunting

Pangeran Non-Wangsa dan Pangeran Tituler

sunting
Lambang kebesaran Pangeran Otto von Bismarck, Kekaisaran Jerman
Tanda kebesaran Pangeran Waterloo, Belanda

Di beberapa negara di benua Eropa, seperti Prancis, pangeran dapat menjadi gelar bangsawan bagi seseorang yang memiliki pangkat bangsawan tinggi atau penguasa wilayah kekuasaan yang signifikan, tetapi tidak memerintah wilayah yang sebenarnya dan tanpa hubungan yang diperlukan dengan keluarga kerajaan, seperti Andorra, yang membuatnya sulit dibandingkan dengan sistem pangeran kerajaan Inggris.

Di kasus lain, seorang penguasa dapat memberikan gelar pangeran kepada seseorang yang berjasa seperti dalam trakat atau kemenangan pertempuran yang hebat. Contohnya:

Pangeran dalam berbagai kebudayaan

sunting

Larantuka

sunting

Pada Kerajaan Larantuka, Kakang (secara harfiah berarti saudara laki-laki) merupakan gelar sepuluh penguasa kepangeranan herediter non-wangsa kerajaan (Hadung, Boleng, Lamalera, Horowura, Pamakayo, Lewolein, Wobo, Muda Kaputu, Lewingo dan Lewotobi) yang memilih untuk mengakui suzerenitas Sira Demon Pagong Molang pada masa pembentukan kerajaan dan wilayah kekuasaan mereka menjadi wilayah tanggungan kerajaan[1][2]. Mereka diperbolehkan untuk memiliki keraton (court) mereka masing-masing, serta dapat memerintah wilayah mereka layaknya negara vasal, memberikan upeti dan serdadu ketika dibutuhkan[3].

Mataram

sunting

Dalam penggunaan resminya di Kesultanan Yogyakarta, gelar untuk anak laki-laki dengan permaisuri adalah Gusti Bendara Pangeran Harya (GBPH), sedangkan untuk anak laki-laki dengan istri-selir bergelar Bendara Pangeran Harya (BPH). Menantu pria sultan juga mendapat gelar pangeran, seperti suami GKR Mangkubumi yang bergelar Kanjeng Pangeran Harya. Sedangkan di Kasunanan Surakarta, gelar untuk anak laki-laki sunan dengan permaisuri adalah Kanjeng Gusti Pangeran Harya (KGPH), sedangkan anak laki-laki dari istri-selir bergelar Bendara Kanjeng Pangeran (BKP). Gelar ini diberikan saat sudah dewasa.

Melayu

sunting
  • Tengku, Tunku, Tuanku dan Raja gelar untuk pangeran dalam Malaysia. Bentuk gelar ini boleh disematkan kepada laki-laki maupun perempuan.
  • Pengiran. Di Brunei Darussalam, gelar ini disematkan kepada keturunan sultan, laki-laki dan perempuan, dengan perincian:
    • Pengiran Muda Mahkota: Putra mahkota, pewaris takhta
    • Pengiran Muda: anak laki-laki sultan selain putra mahkota. Istri pengiran muda bergelar pengiran anak istri.
    • Pengiran Anak Puteri: anak perempuan sultan
    • Pengiran Anak: cucu sultan

Timur tengah dan Asia selatan

sunting
  • Amir (أمير), gelar bahasa Arab yang awalnya bermakna pemimpin. Di masa selanjutnya, gelar ini juga dapat disepadankan dengan pangeran, baik dalam konteksnya sebagai keturunan laki-laki penguasa, atau gelar untuk penguasa itu sendiri. Di Arab Saudi dan Yordania, gelar ini disandang oleh keturunan laki-laki raja. Amir juga disandang oleh penguasa monarki Qatar dan Kuwait. Dalam konteksnya sebagai penguasa monarki, wilayah yang dikuasai amir disebut keamiran. Bentuk wanita dari amir adalah amirah (أميرة).
  • Syahzadeh (شاهزاده). Gelar yang berasal dari bahasa Persia. 'Syah' adalah gelar bagi raja-raja Persia dan akhiran -zadeh bermakna 'keturunan dari'. Di Persia, gelar ini dapat digunakan untuk keturunan raja atau kaisar, baik yang laki-laki maupun perempuan. Dalam Kekaisaran Mughal, gelar ini disandang oleh para pangeran, sedangkan para putri menyandang gelar syahzadi. Di Utsmaniyah, gelar ini dieja syehzade dan disandang oleh para pangeran.

Asia Timur

sunting

Dalam kebudayaan Asia Timur, gelar untuk pangeran dan putri berbeda-beda tergantung status kekerabatan mereka dengan raja atau kaisar.

Tiongkok

sunting

Sebelum Dinasti Qin, pangeran (dalam arti anggota keluarga kerajaan) tidak memiliki gelar khusus. Para pangeran Dinasti Zhou secara khusus disebut sebagai Wangzi (王子) dan Wangsun (王孫), yang berarti "putra raja" dan "cucu raja", sementara para pangeran dari negara-negara vasal disebut sebagai Gongzi (公子) dan Gongsun (公孫), yang masing-masing berarti "putra tuan" dan "cucu tuan". Putra-putra vasal dapat menerima gelar bangsawan seperti Jun (君), Qing (卿), Daifu (大夫), dan Shi (仕).

Sejak Dinasti Han, anggota keluarga kerajaan bergelar Wang (王, lit. Raja), gelar tertinggi sebelumnya yang kemudian digantikan oleh Huangdi (皇帝, lit. Kaisar). Sejak zaman Jin Barat, pangkat Wang dibagi menjadi dua, Qin Wang (親王, lit. Raja Darah) dan Jun Wang (郡王, lit. Raja Komando). Hanya keluarga Kaisar yang dapat bergelar Qin Wang, sehingga pangeran biasanya diterjemahkan sebagai Qin Wang, misalnya 菲利普親王 (Pangeran Philip). Untuk putra penguasa, pangeran biasanya diterjemahkan sebagai Huang Zi (皇子, lit. Putra Kaisar) atau Wang Zi (王子, lit. Putra Raja), misalnya 查爾斯王子 (Pangeran Charles).

Pada Zaman Tiga Negara, beberapa kaisar dari dinasti Cao Wei menganugerahkan gelar Xian Wang (县王, lit. Raja County) kepada beberapa vasalnya [4], sebuah gelar yang lebih rendah dari Jun Wang.

Sebagai gelar bangsawan, pangeran dapat diterjemahkan sebagai Qin Wang menurut tradisi, Da Gong (大公, harfiah: Adipati Agung) jika ingin menekankan bahwa gelar tersebut sangat tinggi tetapi di bawah Raja (Wang), atau hanya Zhu Hou (诸侯, harfiah: pangeran) yang merujuk pada pangeran dari semua tingkatan secara umum. Misalnya, 摩納哥親王 (Pangeran Monako).

Korea

sunting

Wonja (원자). Gelar untuk putra tertua raja, sebelum dinobatkan sebagai putra mahkota.

  • Wangseja (왕세자). Putra Mahkota. Istri utama putra mahkota bergelar Wangsejabin (왕세자빈).
  • Wangseson (왕세손). Putra wangseja.
  • Daegun (대군), gelar untuk putra raja dengan permaisuri, sedangkan untuk putri raja dengan permaisuri adalah gongju (공주).
  • Gun (군), gelar untuk putra raja dengan selir, sedangkan putri raja dengan selir bergelar ongju (옹주).

Jepang

sunting
  • Shinnō (親王), gelar untuk kerabat dekat kaisar, yakni anak, cucu, dan cicit laki-lakinya dari jalur laki-laki. Untuk putri kaisar, cucu, dan cicit perempuan kaisar dari jalur laki-laki, gelarnya adalah naishinnō (内親王). Gelar untuk istri shinnō adalah shinnōhi (親王妃).
  • Ō (王) adalah gelar bagi pangeran yang silsilahnya masih tersambung dengan kaisar dari jalur ayah, tetapi bukan merupakan kerabat dekat kaisar. Untuk putri yang merupakan kerabat jauh kaisar bergelar Joō/Nyoō (女王). Istri Ō bergelar ōhi (王妃). Gelar ō dan joō juga digunakan untuk merujuk raja dan ratu non-Jepang.

Eropa

sunting
  • Sebagian besar gelar dalam bahasa-bahasa di Eropa untuk pangeran berakar dari bahasa Latin "princeps" yang bermakna "kepala" dan "orang pertama". Gelar ini kemudian diturunkan ke dalam berbagai bahasa di Eropa.
    • Prince dalam bahasa Inggris. Dapat digunakan untuk merujuk kepada keturunan penguasa atau gelar bagi penguasa itu sendiri yang kedudukannya di bawah raja. Bentuk wanitanya adalah princess.
    • Prinz dalam bahasa Jerman. Digunakan untuk merujuk kepada keturunan penguasa. Bentuk wanitanya adalah prinzessin. Sedangkan pangeran dalam artian penguasa monarki yang berada di bawah raja adalah fürst (bentuk wanitanya fürstin).
  • Infante, gelar bagi pangeran di kerajaan-kerajaan semenanjung Iberia. Bentuk wanitanya adalah infanta.
  • Tsarevich, gelar bagi putra tsar. Untuk putri tsar dan istri tsarevich bergelar tsarevna.

Penggunaan lain

sunting

Dalam bahasa Jawa, pangeran juga dapat digunakan untuk merujuk kepada Tuhan, terutama jika digabung dengan kata awal Gusti.

Lihat juga

sunting
  1. ^ Barnes, R. H. (2008). "The Power of Strangers in Flores and Timor". Anthropos. 2 (103). Nomos Verlag: 345.
  2. ^ Taum, Yoseph Yapi (1997). "Struktur Birokrasi dan Sistem Kekuasaan Tradisional di Flores Timur". Basis. Yogyakarta: Yayasan B.P BASIS.
  3. ^ Penelope, Graham (1985). Issues in Social Structure in Eastern Indonesia. Oxford University Press. hlm. 127.
  4. ^ Catatan Tiga Kerajaan, Volume 20, "Biografi Raja dan Adipati Dinasti Wu dan Wen": "[Pada tahun kelima Huangchu], sebuah dekrit kekaisaran dikeluarkan: 'Raja-raja terdahulu mendirikan kerajaan mereka sesuai dengan zamannya. Kaisar Gaozu dari Han memperluas prefektur yang didirikan oleh Qin, tetapi Kaisar Guangwu, karena menipisnya kekayaan kerajaan, menghapus semua prefektur dan county. Dibandingkan dengan masa kini, ini masih belum cukup. Oleh karena itu, semua raja dengan ini diberi gelar Raja county.

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Diponegoro

Mas Antawirya diwisuda sebagai pangeran dengan nama Bendara Pangeran Harya Dipanegara pada Juli 1812. Gelar Pangeran Dipanegara atau Diponegoro ini sebenarnya

William, Pangeran Wales

adalah anak pertama yang lahir dari seorang Pangeran dan Putri Wales sejak Pangeran John lahir dari Pangeran George dan Putri Mary (kemudian menjadi Raja

Pemberontakan Delapan Pangeran

Pemberontakan Delapan Pangeran, Pemberontakan Delapan Raja, atau Perang Delapan Pangeran (Hanzi sederhana: 八王之乱; Hanzi tradisional: 八王之亂; Pinyin: bā wáng

Daftar Kepala Monarki Rusia

sepanjang sejarah Rusia, yakni para Pangeran Novgorod, para Pangeran Agung Kiev, para Pangeran Agung Vladimir, para Pangeran Agung Moskow, para Tsar Seluruh

Pangeran Antasari

sebagai Pahlawan nasional Indonesia secara anumerta. Pangeran Antasari merupakan cucu Pangeran Amir. Namanya semasa muda adalah Gusti Inu Kartapati,

Hassanal Bolkiah dari Brunei

yang 33 tahun lebih muda dari Sultan. Mereka bercerai pada tahun 2010. Pangeran Al-Muhtadee Billah adalah putra mahkota dan pewaris Sultan, anak tertua

Pangeran Purbaya

tangan VOC. Pangeran Purbaya yang ketiga adalah putra Pakubuwana I raja Kartasura (1705-1719). Sepeninggal sang ayah, Pangeran Purbaya dan Pangeran Blitar

Pangeran Mangkunagara

Pakubuwana I, dia diberi nama Pangeran Riya. Selain itu semenjak kecil RM. Sura diasuh dan dirawat oleh pamannya, Pangeran Purbaya. KPA. Mangkunegara memiliki