Perang Banjar
Bagian dari Kampanye Militer Kerajaan Belanda

Kapal uap Celebes berperang melawan benteng rakit apung yang disebut Kotamara dikemudikan orang Dayak pada tanggal 6 Agustus 1859 di pulau Kanamit, sungai Barito.
LokasiKesultanan Banjar (sekarang Kalimantan Selatan, dan sebagian Kalimantan Tengah)
Hasil Kemenangan pihak Belanda
Pihak terlibat
ย Kerajaan Belanda
Kesultanan Banjar (pro-Belanda)
Kesultanan Banjar
Tokoh dan pemimpin
Korban
  • mencapai 5000 jiwa
  • 2 Kapal uap
  • 6000 jiwa lebih[1]
  • Perang Banjar[2][3][4][5] atau Perang Banjar-Barito atau Perang Kalimantan Selatan[6] adalah perang perlawanan terhadap penjajahan kolonial Belanda di Kerajaan Banjar[7] yang berlangsung hampir setengah abad (1859โ€“1906), sehingga menjadikannya perang terlama di Nusantara.[8] Jika dilihat coraknya, perlawanan dapat dibedakan antara perlawanan ofensif yang berlangsung dalam waktu relatif pendek (1859โ€“1863),[9][10] dan perlawanan defensif yang mengisi yang mengisi seluruh perjuangan selanjutnya (1863โ€“1905/06).[11][12]

    Konflik dengan Belanda sebenarnya sudah mulai sejak Belanda memperoleh hak monopoli dagang di Kesultanan Banjar. Dengan ikut campurnya Belanda dalam urusan kerajaan, kekalutan makin bertambah. Pada tahun 1785, Pangeran Nata yang menjadi wali putra mahkota, mengangkat dirinya menjadi raja dengan gelar Sultan Tahmidullah II (1761โ€“1801[13]) dan membunuh semua putra almarhum Sultan Muhammad. Pangeran Amir, satu-satunya pewaris tahta yang selamat, berhasil melarikan diri lalu mengadakan perlawanan dengan dukungan pamannya Gusti Kasim (Arung Turawe), tetapi gagal. Pangeran Amir (kakek Pangeran Antasari) akhirnya tertangkap dan dibuang ke Ceylon Belanda.[2][6][14][15][16]

    Strategi

    sunting

    Pangeran Hidayatullah dan Pangeran Antasari menggunakan strategi perang gerilya dengan membuat kerajaan baru di pedalaman dan membangun benteng-benteng pertahanan di hutan-hutan. Semangat perlawanan dari persatuan rakyat Banjar dan Dayak diikat dengan relasi kekeluargaan dan kekerabatan melalui ikatan pernikahan. Ikatan tersebut melahirkan status pegustian dan temenggung yang menjadi sarana pemersatu dan solidaritas Banjar-Dayak menghadapi Belanda.[17]

    Pangeran Antasari juga menggalang kerja sama dengan Kesultanan Kutai Kertanegara melalui kerabatnya di Tenggarong. Pangeran Antasari menyurati pangeran-pangeran lainnya dari Kutai seperti Pangeran Nata Kusuma, Pangeran Anom, dan Kerta. Mereka semua adalah mata rantai penyelundupan senjata api dari Kutai ke Tanah Dusun (Banjar). Namun, ketika Perang Banjar dilanjutkan oleh keturunan Pangeran Antasari, Sultan Kutai Aji Muhammad Sulaiman tidak merespons positif permintaan bantuan dari Pangeran Perbatasari. Bahkan, Pangeran Perbatasari diserahkan kepada Belanda pada 1885.[17]

    Benteng-benteng pertahanan yang terkenal di hulu dan hilir Teweh:

    1. Benteng Gunung Sulit
    2. Benteng Guyu
    3. Benteng Bayan Begok
    4. Benteng Liang Umbung
    5. Benteng Pangin
    6. Benteng Takko, dekat perbatasan Kutai
    7. Benteng Bamunan
    8. Benteng Terumbang

    Tokoh dan pemimpin

    sunting
    • Tokoh Rakyat Banjar:
    1. Pangeran Hidayatullah
    2. Pangeran Antasari
    3. Aling
    4. Tumenggung Antaludin โ€“ Pemimpin Benteng Gunung Madang
    5. Tumenggung Surapati
    6. Pambakal Sulil
    7. Tumenggung Singapati
    8. Raden Mas Warga Nata
    9. Mas Anom
    10. Demang Lehman
    11. Panglima Bukhari
    12. Tumenggung Jalil โ€“ Pemimpin Benteng Tundakan โ€“ Baruh Bahinu
    13. Panembahan Muhammad Sa'id
    14. Panglima Batur
    15. Panglima Umbung
    16. Panglima Wangkang
    17. Penghulu Muda
    18. Penghulu Rasyid
    19. Penghulu Suhasin
    20. Raden Djaija โ€“ Kepala Pulau Petak Hilir
    21. Tagab Obang
    22. Pambakal Sulil โ€“ Pemimpin Perjuangan Di Sungai Kapuas Murung
    23. Muhammad Seman
    24. Kiai Suta Kara โ€“ Pemimpin Benteng Martagiri-Tapin
    25. Suta Karsa โ€“ Pemimpin Benteng Pamaton Tatas Muning
    26. Pangeran Tjitra Kasoema โ€“ Pemimpin benteng Gunung Jabuk
    27. Pangeran Singa Terbang alias Goestie Tapa- pemimpin benteng Tamiang Layang-Telang
    28. Kiai Raksapati- pemimpin benteng Gunung Pamaton
    29. Toemenggoong Aria Pattie โ€“ Kepala Dusun Hilir)
    30. Temenggung Karta Pata โ€“ Pemimpin Benteng Terumbang, Hilir Teweh
    31. Ratu Zaleha
    32. Wulan Jihad โ€“ Pejuang Wanita Dayak Kenyah
    33. Tumenggung Gamar
    34. Pangeran Miradipa โ€“ Pemimpin Benteng Tundakan-Baruh Bahinu
    35. Pangeran Syarif Umar bin Zein Bahasyim (Adik lpar Pangeran Hidayatullah) โ€“ Gugur Dalam Pertempuran Paringin
    36. Tumenggung Naro
    37. Haji Buyasin (Hadji Boeijasin)[18]
    38. Temenggung Kiai Tjakra Wati โ€“ pemimpin benteng Gunung Madang
    39. Galuh Sarinah โ€“ isteri Kiai Tjakra Wati
    40. Aji Pangeran Kusumanegara โ€“ Raja Cantung-Buntar Laut
    41. Panglima Unggis, dimakamkan di desa Ketapang โ€“ Gunung Timang โ€“ Barito Utara.
    42. Panglima Sogo, yang turut menenggelamkan kapal Onrust milik Belanda 26 Desember 1859 di Lewu Lutung Tuwur โ€“ makamnya di desa Malawaken, Teweh Tengah โ€“ Barito Utara.
    43. Panglima Batu Balot (Tumenggung Marha Lahew) โ€“ panglima wanita yang pernah menyerang Fort Muara Teweh tahun 1864โ€“1865, makamnya di desa Malawaken (Teluk Mayang), Kecamatan Teweh Tengah, Barito Utara.
    44. Dammung Sayu โ€“ kepala suku Dayak Maanyan Kampung Magantis
    45. Patih Gangsarmas โ€“ kepala suku Dayak Taboyan
    46. Gusti Buasan โ€“ Pejuang Dari Desa Marindi โ€“ Haruai โ€“ Tabalong
    47. Gusti Berakit (Berkek) โ€“ Cucu Pangeran Antasari
    48. Amir โ€“ Pejuang Suku Aceh
    49. Yusuf โ€“ Pejuang Suku Aceh
    50. Pangeran Perbatasari
    51. Pangeran Muhammad Aminullah, menantu Pangeran Prabu Anom
    52. Antung Durrahman
    53. Gusti Atjil
    54. Kiai Sari Kodaton โ€“ Kepala Distrik Margasari
    55. Haji Butaher Amuntai
    56. Tagap Kundi Sampit
    57. Tumenggung Djidan
    58. Putri Bulan
    59. Aluh Idut
    60. Syarif Ali bin Ismaโ€™il Ar-Rifaโ€™i โ€“ Pemimpin Arab Kalimantan Barat
    61. Panglima Mat Narung dari Putussibau
    62. Panglima Wangkang
    63. Tamanggung Awan
    64. Tumenggung Silam
    65. Tamanggung Balere
    66. Tamanggung Ecut
    67. Raden Sahidar
    68. Raden Timbang
    69. Panglima Kumis Baja
    70. H.M.Amin
    71. Panglima Bitik Bahe (dari Lanjas)
    72. Damang Luntung (dari Pendreh)
    73. Damang Laju (dari Jingah)
    74. Tamanggung Danom
    75. Tamanggung Angis (dari Montallat)
    76. Raden Joyo
    77. Panglima Inti
    78. Upeng
    79. Tamanggung Jadam (dari Sungai Teweh)
    80. Panglima Bahi
    81. Tamanggung Lawas (dari Sungai Lahei)
    82. Pambakal Melinkan dari lanskap Karau.[19]
    83. GoESTI OMAR.
    84. GoESTI LAUN.
    85. Toemenggoeng Mangkoe Sarie
    86. Tommongong GENTING
    87. Tommongong TOENDAM (zoon van het hoofd der Kapoers).
    88. Hadjie MATARIP
    89. Tewoeng, Singa atau kepala kampung Sanger-Wassi dan Djaรคr
    90. DJOERAGAN KAOET alias RADEN DJAJA ANOEM[20][21]
    91. Sambang (Sultan Koening)[22][23]
    92. Raden Naun gelar Raden Mas Jaya Kusuma
    93. Basah gelar Temenggung Mangku Negara
    94. Pangeran Wiera Anta Kesoema alias Radhen Hassan โ€“ anak angkat Demang Lehman
    95. Pangeran Mas Nata Widjaja, sepupu Pangeran Djaija Pamenang
    96. Syarif Umar Baโ€™bud - mati di gantung
    97. Syarif Alawi Baโ€™bud (Tuan Lewis) - mati di gantung.
    • Tokoh Pihak Kolonial Belanda:
    1. Augustus Johannes Andresen
    2. George Frederik Willem Borel
    3. Karel Cornelis Bunnik
    4. F.P. Cavaljรฉ
    5. P.P.H. van Ham
    6. Karel van der Heijden
    7. Christiaan Antoon Jeekel
    8. H.L. Kilian
    9. Franz Lodewijk Ferdinand Karel von Pestel
    10. Evert Willem Pfeiffer
    11. Joost Hendrik Romswinckel
    12. Charles de Roy van Zuydewijn
    13. C.E. Uhlenbeck
    14. Gustave Verspijck
    15. Johannes Jacobus Wilhelmus Eliza Verstege
    16. Jacobus Agustinus Vetter
    17. Stephanus Johannes Boers
    18. Pangeran Djaija Pamenang โ€“ Regent Martapura
    19. Radhen Adipati Danoe Redjo โ€“ Regent Amuntai
    20. Toemenggoeng Nicodemus Djaija Negara โ€“ Kepala distrik Pulau Petak
    21. Pangeran Syarif Muhammad Taha bin Pangeran Syarif Ali Alaydrus โ€“ HOOFD VAN BATOE LITJIN.[24][25]
    22. Pangeran Syarif Hamid bin Pangeran Syarif Ali Alaydrus โ€“ HOOFD VAN BATOE LITJIN.
    23. Soeto Ono โ€“ Kepala distrik Sihoeng
    24. Toemenggoeng Djaja Kartie โ€“ Kepala distrik Patai
    25. Haji Kuwit
    26. Kiai Ranga Nitie
    27. Tumenggung Silam
    28. Demang Sylvanus
    29. Pangeran Muda Arifin Billah, Raja Cengal, Manunggul, Bangkalaan
    30. Raja Pagatan
    31. Pangeran Syarif Abdurrahman bin Hamid (Batavia)
    32. Syarif Alawi (Banjarmasin)
    33. Pangeran Syarif Husein bin Muhammad Zain Al-Qudsi
    34. Pangeran Syarif Hasyim bin Muhammad Zain Al-Qudsi
    35. Syarif Hasan bin Muhammad Zain Al-Qudsi
    36. Syarif Ali bin Hasan Al-Qudsi
    37. Syarif Muhammad bin Ali Alaydrus
    38. Pangeran Syarif Ahmad bin Ali Alaydrus
    39. Pangeran Syarif Hasan bin Ali Alaydrus
    40. Pangeran Syarif Musthafa bin Ali Alaydrus
    41. Syarif Abbas bin Hamid Alaydrus
    42. Pangeran Syarif Ali bin Hasyim Al-Qudsi.

    Lokasi

    sunting

    Daerah pertempuran berada di daerah Kalimantan Selatan dan sebagian Kalimantan Tengah. Termasuk di daerah sungai Barito.[26]

    Akhir perang

    sunting

    Setelah Pangeran Hidayatullah tertangkap dan Pangeran Antasari wafat, perjuangan tetap berlanjut yang di pimpin oleh Gusti Mat Seman, Gusti Acil, Gusti Muhammad Arsyad, dan Antung Durrahman. Oleh pemimpin-pemimpin tersebut, rakyat masih bergerilya dengan se-sekali melakukan serangan kepada Belanda sampai awal abad ke-20.

    Dampak

    sunting
    • Bidang politik.
    1. Daerah Kalimantan Selatan dikuasai sepenuhnya oleh pemerintah kolonial Belanda.
    2. Dibubarkannya negara Kesultanan Banjar.
    • Bidang ekonomi
      1. Dikuasainya tambang batubara dan perkebunan di daerah Kalimantan Selatan.

    Referensi

    sunting
    1. ^ https://kumparan.com/berita-hari-ini/kronologi-perang-banjar-bentuk-perlawanan-rakyat-indonesia-terhadap-belanda-1v3MiJoV1xo
    2. ^ a b Mayur, Gusti (1979). Perang Banjar. Rapi. hlm.ย 9.
    3. ^ (Indonesia) Drs. Tugiyono Ks. Pengetahuan Sosial Sejarah 2. Grasindo. hlm.ย 37. ISBNย 9797323838.ISBN 9789797323837
    4. ^ (Indonesia) Eryadi, S.Pd. Intisari Pengetahuan Sosial Lengkap (IPSL) SMP. Kawan Pustaka. hlm.ย 278. ISBNย 9797570053.ISBN 9789797570057
    5. ^ (Indonesia) Mila Saraswati & Ida Widaningsih. Be Smart Ilmu Pengetahuan Sosial. PT Grafindo Media Pratama. hlm.ย 34. ISBNย 6020000710.ISBN 9786020000718
    6. ^ a b (Indonesia) Mudjibah Utami (2015). Cerita Perang Kemerdekaan Indonesia. WahyuMedia. hlm.ย 20. ISBNย 6023780334. ISBN 9786023780334
    7. ^ wilayah provinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah
    8. ^ https://jejakislam.net/haji-dan-perlawanan-dalam-perang-banjar-1859-1906/
    9. ^ De Gids (dalam bahasa Belanda). Vol.ย 30. Stichting de Gids. 1866. hlm.ย 33.
    10. ^ De tijdspiegel (dalam bahasa Belanda). Fuhri. hlm.ย 179.
    11. ^ Nugroho Notosusanto (2008). Sejarah Nasional Indonesia Jilid 4: Kemunculan Penjajahan. Balai Pustaka. hlm.ย 271. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: contributors list (link)
    12. ^ "Colonial warfare and indigenous resistance, 1815โ€“1910". Diarsipkan dari asli tanggal 2014-03-23. Diakses tanggal 2011-07-24.
    13. ^ Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Regnal
    14. ^ (Indonesia)Nasution, Harun (1992). Ensiklopedi Islam Indonesia.
    15. ^ (Indonesia)SEJARAH Untuk SMP dan MTs. Grasindo. ISBNย 979025198X. ISBN 9789790251984
    16. ^ (Indonesia) Pranadipa Mahawira (1 Jan 2013). Cinta Pahlawan Nasional Indonesia: Terlengkap & Terupdate. WahyuMedia. hlm.ย 20. ISBNย 9797957519. Pemeliharaan CS1: Tanggal dan tahun (link) ISBN 9789797957513
    17. ^ a b Sjamsuddin, Helius (2001). Pegustian & Temenggung Akar Sosial, Politik, Etnis, dan Dinasti Perlawanan di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah 1859โ€“1906. Balai Pustaka & Penerbit Ombak.
    18. ^ "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2016-08-22. Diakses tanggal 2015-11-03.
    19. ^ (Belanda) Le Rutte, J. M. C. E. (1863). Episode uit den Banjermasingschen oorlog. A.W. Sythoff. hlm.ย 95.
    20. ^ Verzameling der merkwaardigste vonnissen gewezen door de Krijgsraden te velde in de Zuid- en Ooster-afdeeling van Borneo gedurende de jaren 1859โ€“1864: bijdrage tot de geschiedenis van den opstand in het Rijk van Bandjermasin (dalam bahasa Belanda). Ter Landsdrukkerij. 1865. hlm.ย 93.
    21. ^ De gids: nieuwe vaderlandsche letteroefeningen (dalam bahasa Belanda). Vol.ย 3. G.J.A. Beijerinck. 1866. hlm.ย 47.
    22. ^ Julius Mรผhlfeld (1875). Wereldgeschiedenis van de jaren 1848โ€“1870 (dalam bahasa Belanda). Van Hoogstraten en Gorter. hlm.ย 50.
    23. ^ (Belanda) Verzameling der merkwaardigste vonnissen gewezen door de Krijgsraden te velde in de Zuid- en Ooster-afdeeling van Borneo gedurende de jaren 1859โ€“1864: bijdrage tot de geschiedenis van den opstand in het Rijk van Bandjermasin. Ter Landsdrukkerij. 1865. hlm.ย 31.
    24. ^ (Belanda) Landsdrukkerij (Batavia), Landsdrukkerij (Batavia) (1862). Almanak van Nederlandsch-Indiรซ voor het jaar. Vol.ย 36. Lands Drukkery. hlm.ย 156.
    25. ^ (Belanda) De bandjermasinsche krijg van 1859โ€“1863: met portretten, platen en een terreinkaart. Vol.ย 2. D. A. Thieme. 1865. hlm.ย 154.
    26. ^ Sejarah Daerah Kalimantan Selatan. hlm.ย 53.

    Pranala luar

    sunting

    ๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

    Kesultanan Banjar

    sebagai "Kerajaan Kayu Tangi". Setelah perang saudara panjang yang meruntuhkan Negara Daha, Suriansyah dari Banjar (m.ย 1526โ€“1540) keluar sebagai pemenang

    Pangeran Antasari

    Khalifatul Mukminin adalah Sultan Banjar yang memerintah pada tahun 1862, serta merupakan salah satu tokoh penting dalam Perang Banjar. Pada tahun 1968, ia dinobatkan

    Hidayatullah II dari Banjar

    Banjar yang memerintah antara tahun 1859 sampai 1862 dan tokoh utama yang memimpin faksi oposisi pada Perang Banjar, konflik antara Kesultanan Banjar

    Perang Banjar-Negara Daha

    Perang Banjar-Negara Daha atau Perang saudara Pangeran Samudera melawan Pangeran Tumenggung terjadi di Bandarmasih yang berakhir damai disertai penyerahan

    Daftar tokoh Banjar

    Daftar tokoh Banjar berikut ini memuat nama tokoh-tokoh yang berasal dari etnis Banjar serta yang secara genetis berdarah Banjar, baik yang lahir di Kalimantan

    Perang Padri

    Perang Padri (juga dikenal sebagai Perang Minangkabau) adalah perang yang terjadi dari tahun 1803 sampai 1838 di Sumatera Barat, Indonesia antara kaum

    Muhammad Seman

    Tumenggung Surapati, panglima Dayak (Siang) dalam Perang Barito. Sultan Muhammad Seman merupakan Sultan Banjar yang berdarah Dayak dari pihak ibunya. Pada 3

    Tamjidillah II dari Banjar

    saudaranya, Hidayatullah II dari Banjar yang kemudian menyebabkan terjadinya Perang Banjar. Ia merupakan Sultan Banjar terakhir versi Belanda. Pangeran