Persekusi (bahasa Inggris: persecution) adalah perlakuan buruk secara sistematis oleh individu atau kelompok terhadap individu atau kelompok lainnya. Bentuk yang paling umum adalah persekusi agama, rasisme, dan persekusi politik. Menimbulkan penderitaan, pelecehan, pemenjaraan, pengasingan, ketakutan atau rasa sakit adalah unsur-unsur yang dapat dikategorikan sebagai persekusi, tetapi tidak semua tindakan yang menimbulkan penderitaan dapat dianggap sebagai tindakan persekusi. Ambang batas keparahan persekusi telah menjadi topik yang banyak diperdebatkan.[1]

Hukum internasional

sunting

Sebagai bagian dari Prinsip Nuremberg, kejahatan terhadap kemanusiaan adalah bagian dari hukum internasional. Prinsip VI dalam Prinsip Nuremberg menyatakan bahwa:

Kejahatan yang selanjutnya ditetapkan dapat dihukum sebagai kejahatan menurut hukum internasional: ...

(c) Kejahatan terhadap kemanusiaan:

Pembunuhan, pemusnahan, perbudakan, deportasi, dan tindakan tidak manusiawi lainnya yang dilakukan terhadap penduduk sipil mana pun, atau persekusi atas dasar politik, ras, atau agama, ketika tindakan tersebut dilakukan atau persekusi tersebut dilakukan dalam pelaksanaan atau yang berhubungan dengan kejahatan apa pun terhadap perdamaian atau kejahatan perang.

Telford Taylor, yang merupakan Penasihat Penuntutan di Pengadilan Nuremberg menulis "[di] pengadilan kejahatan perang Nuremberg, pengadilan menolak beberapa upaya penuntut untuk membawa kekejaman 'domestik' seperti itu dalam lingkup hukum internasional sebagai 'kejahatan terhadap kemanusiaan".[2] Beberapa perjanjian internasional berikutnya memasukkan prinsip ini, tetapi beberapa pihak telah membatalkan pembatasan "sehubungan dengan kejahatan apa pun terhadap perdamaian atau kejahatan perang apa pun" yang ada dalam Prinsip Nuremberg.

Dalam Pasal 7.1 Statuta Roma, persekusi terhadap suatu kelompok dianggap sebagai salah satu bentuk kejahatan terhadap kemanusiaan:

Untuk keperluan Statuta ini, โ€œkejahatan terhadap kemanusiaanโ€ berarti salah satu dari perbuatan berikut ini apabila dilakukan sebagai bagian dari serangan meluas atau sistematik yang ditujukan kepada suatu kelompok penduduk sipil, dengan mengetahui adanya serangan itu: (h) Persekusi terhadap suatu kelompok yang dapat diidentifikasi atau kolektivitas atas dasar politik, ras, nasional, etnis, budaya, agama, gender sebagai didefinisikan dalam ayat 3, atau atas dasar lain yang secara universal diakui sebagai tidak diizinkan berdasarkan hukum internasional, yang berhubungan dengan setiap perbuatan yang dimaksud dalam ayat ini atau setiap kejahatan yang berada dalam jurisdiksi Mahkamah

Referensi

sunting
  1. ^ Rempell, Scott (2011). "Defining Persecution". Utah Law Review. 2013 (1). Social Science Research Network. doi:10.2139/ssrn.1941006.
  2. ^ Telford Taylor "When people kill a people", The New York Times, March 28, 1982.

Lihat pula

sunting

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Tito Karnavian

Solok, AKBP Susmelawati Rosya karena dianggap kurang tegas menangani persekusi yang diduga dilakukan Front Pembela Islam (FPI) terhadap seorang dokter

Anti-Sunni

Anti-Sunni adalah gerakan kebencian, prasangka, diskriminasi, persekusi, dan kekerasan terhadap Muslim Sunni . Sebagai kata lain dari "Sunnifobia", yaitu

Yaqut Cholil Qoumas

melindungi hak-hak komunitas Syiah dan Ahmadiyah di Indonesia, yang menghadapi persekusi di Indonesia. Ia juga menjelaskan niatnya untuk mencegah penyebaran populisme

Ade Armando

kejadian, Belmondo Scorpio adalah salah satu peserta yang mecegah terjadinya persekusi. Sebelumnya, dalam wawancara dengan CNN Indonesia, Ade mengaku tidak ikut

Bahรกสผรญ

kemunculannya, komunitas Bahรก'รญ Timur Tengah khususnya di Persia menghadapi persekusi dan diskriminasi yang berkelanjutan. Pada awal abad kedua puluh satu,

Arya Wedakarna

DPD. Dalam laporan itu, Arya Wedakarna diduga menjadi otak pelaku atas persekusi yang dialami oleh Abdul Somad di Denpasar, Bali. Dalam pembelaannya, Arya

Persekusi Wikipediawan di Belarus

Persekusi Wikipediawan di Belarus adalah serangkaian penangkapan, penahanan dan bentuk tekanan lain bermotif politik oleh otoritas Belarusia yang mentargetkan

Totaliterisme

lainnya meliputi penggunaan kamp konsentrasi, polisi rahasia yang represif, persekusi atau larangan terhadap kebebasan beragama atau berlakunya ateisme negara