Asy-Syafi'i
ุงูŽู„ุดูŽู‘ุงููุนููŠูู‘
kaligrafi Arab nama asy-Syafi'i
GelarSyaikhul Islam
Kehidupan pribadi
Lahir767 M
150 H
Gaza, Kekhalifahan Abbasiyah
Meninggal19 January 820 M (umur 54)
204 H
Fustat, Kekhalifahan Abbasiyah
EraZaman Kejayaan Islam
Minat utamaFiqih, Hadis
Ide pentingmazhab Syฤfiโ€˜ฤซ
Karya terkenalAr-Risalah, Kitab al-Umm, Musnad asy-Syafi'i
Kehidupan religius
AgamaIslam
DenominasiSunni
MazhabMujtahid
Muslim leader

Abลซ สฟAbdillฤh Muแธฅammad bin Idrฤซs asy-Syฤfiสฟฤซ (bahasa Arab: ุฃูŽุจููˆ ุนูŽุจู’ุฏู ูฑู„ู„ู‡ู ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏู ุจู’ู†ู ุฅูุฏู’ุฑููŠุณูŽ ูฑู„ุดูŽู‘ุงููุนููŠูู‘; 767 โ€“ Januari 820 M) adalah seorang teolog Muslim beretnis Arab, penulis, dan cendekiawan, yang merupakan salah satu kontributor pertama dari prinsip-prinsip yurisprudensi Islam (Uแนฃลซl al-fiqh). Sering disebut sebagai Syaikhul Islฤm, asy-Syฤfi'ฤซ adalah salah satu dari empat Imam Sunni besar, yang warisannya dalam masalah yuridis dan pengajaran akhirnya mengarah pada pembentukan mazhab fiqh Syafi'i. Dia adalah murid Imam hadis awal yang paling menonjol, Malik bin Anas. Asy-Syฤfi'ฤซ juga pernah diangkat menjadi hakim di Najran.[6][7] Asy-Syฤfi'ฤซ lahir di Palestina (Jund Filastin), dan kemudian tinggal di Makkah dan Madinah di Hijaz, kemudian ia beralih ke Yaman, Mesir, dan Bagdad di Irak.

Historiografi

sunting

Biografi asy-Syafi'i sulit ditemukan. Dawud az-Zahiri dikatakan sebagai orang pertama yang menulis buku yang memuat biografi tentang dirinya, akan tetapi buku tersebut telah hilang.[8][9] Biografi tertua yang masih ada ditulis oleh Ibnu Abi Hatim ar-Razi dan tidak lebih dari kumpulan anekdot, beberapa di antaranya terkesan dilebih-lebihkan. Sebuah sketsa biografi ditulis oleh Zakarฤซya bin Yahya as-Sฤjฤซ kemudian direproduksi, tetapi bahkan kemudian, banyak legenda telah merayap ke dalam kisah kehidupan asy-Syafi'i.[10] Biografi nyata pertama ditulis oleh Ahmad Baihaqi dan dipenuhi dengan apa yang dianggap oleh cendekiawan modern sebagai legenda saleh, dan tampaknya lebih masuk akal.[10]

Biografi

sunting

Leluhur

sunting

Asy-Syฤfiสฟฤซ termasuk dalam klan Quraisy dari Bani Muthalib, yang merupakan saudara dari klan Bani Hasyim, klan nabi Islam Muhammad dan leluhur para khalifah Abbasiyah. Garis keturunan ini mungkin telah memberinya prestise, yang muncul dari suku Muhammad, dan kekerabatan kakek buyut Muhammad dengannya.[10] Namun, asy-Syฤfiสฟฤซ tumbuh dalam kemiskinan, terlepas dari posisi sosial keluarganya yang tinggi.[butuh rujukan]

Masa muda

sunting

Asy-Syฤfiสฟฤซ lahir di Palestina (Jund Filastฤซn) di kota Asqalan pada tahun 150 H (767 M).[11] Ayahnya meninggal di Asy-Syam ketika dia masih kecil. Khawatir akan kehilangan garis keturunan syarฤซf-nya, ibunya memutuskan untuk pindah ke Makkah ketika dia berusia sekitar dua tahun. Selain itu, akar keluarga keibuannya berasal dari Yaman, dan ada lebih banyak anggota keluarganya di Mekkah, di mana ibunya percaya bahwa dia sebaiknya diasuh. Sedikit yang diketahui tentang kehidupan awal asy-Syฤfiสฟฤซ di Makkah, kecuali bahwa ia dibesarkan dalam keadaan miskin dan sejak masa mudanya ia rajin belajar.[10] Sebuah riwayat menyatakan bahwa ibunya tidak mampu membeli kertas, jadi dia menulis hasil pelajarannya pada tulang.[12] Ia belajar di bawah bimbingan Muslim bin Khalid az-Zanji, Mufti Makkah saat itu, yang dianggap sebagai guru pertama asy-Syฤfiสฟฤซ.[13] Pada usia tujuh tahun, asy-Syฤfiสฟฤซ telah menghafal Al-Qur'an. Pada usia sepuluh tahun, dia telah menghafal Muwaแนญแนญaสพ karya Malik bin Anas di luar kepala, yang membuat az-Zanji akan menunjuknya untuk mengajar saat dirinya tidak ada atau berhalangan. Asy-Syฤfiสฟฤซ telah diberi wewenang untuk mengeluarkan fatwa pada usia lima belas tahun.[14]

Belajar dengan Mฤlik

sunting

Asy-Syฤfiสฟฤซ pindah ke Madinah untuk melanjutkan studi hukum Islamnya.[10] Ada perbedaan terhadap pada usia berapa dia berangkat ke Madinah; sebuah riwayat menyatakan bahwa usianya pada saat itu tiga belas tahun,[11] sementara yang lain menyatakan bahwa dia berusia dua puluhan.[10] Di sana, dia diajari selama bertahun-tahun oleh Imam terkenal Mฤlik bin Anas,[15] yang terkesan dengan ingatan, pengetahuan, dan kecerdasannya.[11][16] Menjelang kematian Mฤlik pada tahun 179 H (795 M), asy-Syฤfiสฟฤซ telah memperoleh reputasi sebagai seorang ahli hukum yang brilian.[10] Meskipun kemudian dia tidak setuju dengan beberapa pandangan Mฤlik, asy-Syฤfiสฟฤซ sangat menghormatinya dengan selalu menyebut dia sebagai "Guru".[11]

Fitnah Yamani

sunting

Pada usia tiga puluh tahun, asy-Syฤfiสฟฤซ diangkat sebagai gubernur Abbasiyah di kota Yaman Najran.[11][15] Dia terbukti sebagai administrator yang adil tetapi segera terjerat dengan kecemburuan faksi. Pada 803 M, asy-Syฤfiสฟฤซ dituduh membantu Banu Ali dalam pemberontakan, dan dengan demikian dipanggil dengan dirantai bersama sejumlah Banu Ali ke hadapan khalifah Harun ar-Rasyid (m.ย 786โ€“809) di ar-Raqqah.[10] Sementara para komplotan lainnya dihukum mati, pembelaan asy-Syฤfiสฟฤซ sendiri yang fasih meyakinkan Khalifah untuk menolak tuduhan itu. Riwayat lain menyatakan bahwa ahli hukum Hanafi terkenal, Muแธฅammad bin al-แธคasan asy-Syaibฤnฤซ, hadir di pengadilan dan membela asy-Syฤfiสฟฤซ sebagai tokoh fikih terkenal.[10] Kelak, peristiwa itu membuat asy-Syฤfiสฟฤซ semakin dekat dengan asy-Syaibฤnฤซ, yang kemudian akan menjadi guru asy-Syฤfiสฟฤซ. Juga didalilkan bahwa kejadian ini mendorongnya untuk mengabdikan sisa kariernya pada studi hukum, dan tidak pernah lagi melayani pemerintah.[10]

Berguru kepada Asy-Syaibฤnฤซ, dan paparan ahli hukum Hanafi

sunting

Asy-Syฤfiสฟฤซ pergi ke Baghdad untuk belajar dengan asy-Syaibฤnฤซ dan lainnya.[15] Di sinilah dia mengembangkan mazhab pertamanya, dipengaruhi oleh ajaran Abu Hanifah dan Malik bin Anas.[butuh rujukan] Karyanya kemudian dikenal sebagai al-Maลผhab al-Qadim lil Imam asy-Syฤfiสฟฤซ, atau Mazhab Lama asy-Syฤfiสฟฤซ.[butuh rujukan]

Di sinilah asy-Syฤfiสฟฤซ secara aktif berpartisipasi dalam argumen hukum dengan para ahli hukum Hanafi, dengan gigih membela mazhab Mฤlikฤซ.[10] Beberapa otoritas menyatakan bahwaa sy-Syฤfiสฟฤซ terkadang kesulitan dalam mempertahankan argumennya.[10] Asy-Syฤfiสฟฤซ akhirnya meninggalkan Baghdad menuju Makkah pada tahun 804 M, kemungkinan karena keluhan dari pengikut Hanafi kepada asy-Syaibฤnฤซ bahwa asy-Syฤfiสฟฤซ telah menjadi agak kritis terhadap posisi asy-Syaibฤnฤซ selama perselisihan mereka. Akibatnya, asy-Syฤfiสฟฤซ dilaporkan telah berdebat dengan asy-Syaibฤnฤซ mengenai perbedaan mereka, meski siapa yang memenangkan debat masih belum diketahui secara pasti.[10]

Di Makkah, asy-Syฤfiสฟฤซ mulai berceramah di Masjidilharam, yang meninggalkan kesan mendalam bagi banyak murid-murid yang mempelajari fikih, termasuk ahli hukum Hanbali yang terkenal, Ahmad bin Hanbal.[10] Penalaran hukum asy-Syฤfiสฟฤซ mulai matang, ketika ia mulai menghargai kekuatan penalaran hukum para ahli hukum Hanafi, dan menyadari kelemahan yang melekat baik pada mazhab Mฤlikฤซ maupun Hanafi.[10]

Berangkat ke Baghdad dan Mesir

sunting
Mausoleum Imam Syafi'i di Kairo

Asy-Syฤfiสฟฤซ akhirnya kembali ke Baghdad pada tahun 810 M. Pada saat ini, statusnya sebagai seorang ahli hukum telah cukup berkembang untuk memungkinkannya membangun garis spekulasi hukum yang independen. Khalifah al-Ma'mun (m.ย 813โ€“833) dikatakan telah menawarkan posisi asy-Syฤfiสฟฤซ sebagai hakim, tetapi dia menolak tawaran tersebut.[10]

Koneksi dengan keluarga Muhammad

sunting

Pada 814 M, asy-Syฤfiสฟฤซ memutuskan untuk meninggalkan Baghdad menuju Mesir. Alasan kepergiannya dari Irak tidak pasti, tetapi di Mesir dia akan bertemu guru lain, Sayyidah Nafisah binti Hasan, yang juga akan membiayai studinya.[3][4][5] Beberapa murid utamanya akan menuliskan apa yang dikatakan asy-Syฤfiสฟฤซ, yang kemudian akan meminta mereka untuk membacanya kembali dengan suara keras sehingga dapat dilakukan koreksi. Semua penulis biografi asy-Syฤfiสฟฤซ setuju bahwa warisan karya-karya atas namanya adalah hasil dari setiap sesi pelajaran dengan murid-muridnya.[10]

Nafisah adalah keturunan dari Muhammad, melalui cucunya Hasan bin Ali, yang menikah dengan keturunan Muhammad lainnya, yaitu Ishaq al-Mu'tamin, putra Ja'far ash-Shadiq, yang kabarnya juga merupakan guru dari Malik bin Anas.[2][17]:โ€Š121โ€Š and Abu Hanifah.[3][4][5] Jadi keempat Imam besar Fiqh Sunni (Abu Hanifah, Malik, asy-Syฤfiสฟฤซ, dan Ibnu Hanbal) sama-sama terhubung dengan Ja'far dari keluarga Muhammad, baik secara langsung maupun tidak langsung.[1]

Kematian dan makam

sunting
Makam Imam Syafi'i di Kairo

Setidaknya satu otoritas meriwayatkan bahwa asy-Syฤfiสฟฤซ meninggal akibat luka yang diderita akibat serangan oleh pendukung pengikut Maliki yang bernama Fityan. Cerita berlanjut bahwa asy-Syฤfiสฟฤซ memenangkan perdebatan dan Fityan yang tidak terima, kemudian melakukan pelecehan. Gubernur Mesir pada masa itu, yang memiliki hubungan baik dengan asy-Syฤfiสฟฤซ, memerintahkan agar Fityan dihukum dengan diarak melalui jalan-jalan kota dengan membawa papan dan menyebutkan alasan hukumannya. Pendukung Fityan sangat marah dengan perlakuan ini dan menyerang asy-Syฤfiสฟฤซ sebagai pembalasan setelah asy-Syฤfiสฟฤซ selesai berceramah. Asy-Syฤfiสฟฤซ meninggal beberapa hari kemudian.[18] Namun, Ibnu Hajar al-Asqalani dalam biografinya tentang asy-Syฤfiสฟฤซ, Tawฤlฤซ al-Ta'sฤซs, meragukan cerita ini dengan mengatakan "Saya tidak mempertimbangkan [cerita] ini sebagai sumber yang dapat dipercaya".[19] Namun, asy-Syฤfiสฟฤซ juga diketahui menderita penyakit usus serius/wasir,[20] yang membuatnya menjadi lemah dan sakit selama tahun-tahun terakhir hidupnya. Dengan demikian, penyebab pasti kematian asy-Syฤfiสฟฤซ tidak diketahui.[21]

Menjelang kematian Asy-Syafi'i akibat menderita suatu penyakit, dirinya ditemani oleh Al-Muzani.[22] Asy-Syฤfiสฟฤซ meninggal pada usia 54 tahun pada tanggal 30 Rajab tahun 204 H (20 Januari 820 M), di Fustat, Mesir, dan dimakamkan di kubah Bani Abdul Hakam, dekat Gunung al-Muqattam.[10] Sebuah qubbah (bahasa Arab: ู‚ูู€ุจูŽู‘ู€ุฉ) dan makam dibangun pada tahun 608 H (1212 M) oleh Sultan Ayyubiyah, al-Kamil (m.ย 1218โ€“1238), dan tetap menjadi situs penting saat ini.[23][24] Salahuddin al-Ayyubi membangun madrasah dan tempat suci di lokasi makam Asy-Syafi'i. Saudara laki-laki Salahuddin, Afdal, membangun mausoleum untuknya pada tahun 1211 setelah kekalahan Fatimiyah. Tempat ini tetap menjadi situs di mana orang mengajukan petisi untuk keadilan.[25]

Warisan

sunting

Mazhab Syafi'i

sunting

Mazhab Syafi'i, salah satu dari empat mazhab Sunni, yang diberi nama berdasarkan Asy-Syฤfi'ฤซ, yang juga berjasa mendirikan kerangka mazhab tersebut. yurisprudensi Islam dengan menetapkan urutan kepentingan relatif dari berbagai sumbernya sebagai berikut:

  1. Al-Qur'an;
  2. Hadis, yaitu kumpulan kata-kata, dan tindakan dari Muhammad. (Bersama dengan Al-Qur'an, sumber-sumber ini merupakan "sumber-sumber wahyu");
  3. Ijma', yaitu konsensus komunitas Muslim (tradisional murni);
  4. Qiyas, yaitu metode analogi.[26][27][28][29][30]

Sarjana John Burton memuji asy-Syafi'i yang tidak hanya karena membangun ilmu fikih dalam Islam, namun juga pentingnya ilmu tersebut bagi agama. Dia berkata, "Ketika orang-orang sezamannya dan para pendahulunya mendefinisikan Islam sebagai sebuah fenomena sosial dan sejarah, Syafi'i berusaha untuk mendefinisikan sebuah Hukum yang diwahyukan."[31] Asy-Syฤfiโ€˜ฤซ menekankan otoritas akhir dari sebuah hadis dari Muhammad sehingga bahkan Al-Qur'an pun "harus ditafsirkan berdasarkan tradisi (yaitu hadis), dan bukan sebaliknya."[32][33] Meskipun secara tradisional Al-Qur'an dianggap berada di atas Sunnah dalam otoritasnya, Asy-Syafi'i "dengan tegas menyatakan" bahwa sunah berdiri "sejajar dengan Al-Qur'an", (menurut sarjana Daniel Brown) karena โ€“ seperti yang dikatakan Al-Syafi'i itu โ€“ "perintah Nabi (Muhammad) adalah perintah Allah."[34][35]

Fokus komunitas Muslim pada hadis Muhammad dan ketidaktertarikan terhadap hadis para sahabat Muhammad (yang hadisnya umum digunakan sebelum asy-Syฤfiโ€˜ฤซ karena sebagian besar dari mereka masih hidup dan menyebarkan ajarannya setelah kematiannya) dipikirkan untuk mencerminkan keberhasilan doktrin asy-Syฤfiโ€˜ฤซ.[36]

Pengaruh asy-Syฤfiโ€˜ฤซ sedemikian rupa sehingga ia mengubah penggunaan istilah Sunnah, "sampai yang dimaksud hanyalah Sunnah Nabi." Menurut John Burton, hal ini adalah "pencapaian prinsipnya").[37] Padahal sebelumnya, sunnah digunakan untuk menyebut tata krama dan adat istiadat suku.[38] Asy-Syฤfi'ฤซ membedakan antara "sunnah umat Islam" yang tidak otoritatif dan diikuti dalam praktik keagamaan, dengan "sunah Nabi" yang harus diikuti oleh seluruh umat Islam.[31] Dengan demikian, definisi sunnah menurut asy-Syฤfi'ฤซ hanya mencakup sunnah dari nabi Islam Muhammad saja.[37]

Dalam ilmu-ilmu Islam, Burton memujinya dengan "penetapan perbedaan teoretis formal" antara 'Sunnah Nabi' dan Al-Qur'an, "terutama ketika dua sumber fundamental tersebut tampaknya berbenturan".[37]

Penentang Mu'tazilah

sunting

Asy-Syฤfiโ€˜ฤซ adalah bagian dari para teolog tradisionalis awal yang sangat menentang Mu'tazilah dan mengkritik para teolog spekulatif karena meninggalkan Al-Qur'an dan Sunnah melalui adopsi mereka terhadap Filsafat Yunani dalam Metafisika.[39]

Pengikut

sunting

Di antara pengikut mazhab asy-Syฤfi'ฤซ adalah:

Karya

sunting

Asy-Syฤfi'ฤซ menulis lebih dari 100 buku.[43] Namun kebanyakan dari mereka belum sampai kepada kita. Karya-karyanya yang masih ada dan dapat diakses saat ini adalah:

Selain itu, asy-Syafi'i adalah seorang penyair yang fasih, yang banyak menggubah puisi pendek yang ditujukan untuk membahas moral dan perilaku. Yang paling terkenal adalah syair al-Diwan miliknya.

Pujian

sunting

Ahmad bin Hanbal menganggap asy-Syafi'i sebagai "Imam yang paling setia pada tradisi" yang memimpin Ahlul Hadis menuju kemenangan melawan eksponen Ahlur Raโ€™yi.[47] Ibnu Hanbal juga menyatakan bahwa โ€œTidak pernah ada orang penting dalam ilmu pengetahuan yang tidak banyak melakukan kesalahan, dan lebih mengikuti sunnah Nabi daripada asy-Syafiโ€™i.โ€[47]

Shah Waliullah Dehlawi, ulama Sunni abad ke-18 menyatakan:[48] "Seorang Mujaddid muncul di akhir setiap abad: Mujaddid abad ke-1 adalah Imam Ahlul Sunnah, Umar bin Abdul Aziz. Mujaddid abad ke-2 adalah asy-Syafi'i Mujaddid abad ke-3 adalah Imam Ahlul Sunnah Abu al-Hasan al-Asy'ari Mujaddid abad Abad ke-4 adalah Hakim an-Naisaburi."[12][49][50][51][52]

Referensi

sunting
  1. ^ a b "Imam Ja'afar as Sadiq". History of Islam. Diarsipkan dari asli tanggal 21 Juli 2015. Diakses tanggal 27 November 2012.
  2. ^ a b Dutton, Yasin, The Origins of Islamic Law: The Qurสผan, the Muwaแนญแนญaสผ and Madinan สปAmal, hlm.ย 16
  3. ^ a b c "Nafisa at-Tahira". www.sunnah.org. Diarsipkan dari asli tanggal 26 Juni 2019. Diakses tanggal 19 Oktober 2016.
  4. ^ a b c Zayn Kassam; Bridget Blomfield (2015), "Remembering Fatima and Zaynab: Gender in Perspective", dalam Farhad Daftory (ed.), The Shi'i World, I.B Tauris Press
  5. ^ a b c Aliyah, Zainab (2 Februari 2015). "Great Women in Islamic History: A Forgotten Legacy". Young Muslim Digest. Diakses tanggal 18 Februari 2015.
  6. ^ Day, Stephen W. (25 Juni 2012). Regionalism and Rebellion in Yemen: A Troubled National Union (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. hlm.ย 30. ISBNย 978-1-107-02215-7.
  7. ^ Islam, M. R.; Zatzman, Gary M.; Islam, Jaan S. (13 November 2013). Reconstituting the Curriculum (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. ISBNย 978-1-118-86790-7.
  8. ^ An-Nawawi, Tahdhib al-Asma wal-Lughat, v.1, pg.82
  9. ^ Ibnu Hajar al-Asqalani, Tawalli al-Ta`sis li-Ma'ali Muhammad bin Idris, pg.26
  10. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r Khadduri, Majid (2011). Translation of al-Shฤfi'i's Risฤla โ€“ Treatise on the Foundations of Islamic Jurisprudence. England: Islamic Texts Society. hlm.ย 8, 11โ€“16. ISBNย 978-0946621-15-6.
  11. ^ a b c d e Haddad, Gibril Fouad (2007). The Four Imams and Their Schools. United Kingdom: Muslim Academic Trust. hlm.ย 189, 190, 193. ISBNย 978-1-902350-09-7.
  12. ^ a b Ibn Abi Hatim, Manaaqibush-Shaafi'ee, pg. 39
  13. ^ Ibn Kathir, Tabaqat Ash-Shafi'iyyin, Vol 1. Page 27 Dฤr Al-Wafaโ€™
  14. ^ Ibn Abฤซ Hฤtim. Manฤqib al-Shฤfi'ฤซ wa-ฤ€bฤduh. Dar Al Kotob Al-Ilmiyyah. hlm.ย 39.
  15. ^ a b c A.C. Brown, Jonathan (2014). Misquoting Muhammad: The Challenge and Choices of Interpreting the Prophet's Legacy. Oneworld Publications. hlm.ย 35. ISBNย 978-1780744209.
  16. ^ "The Biography of Imam Ash Shafii | Shafii Fiqh.com | Shafii Institute". Diarsipkan dari asli tanggal 20 April 2012. Diakses tanggal 23 Februari 2012.
  17. ^ Haddad, Gibril F. (2007). The Four Imams and Their Schools. London, the U.K.: Muslim Academic Trust. hlm.ย 121โ€“194.
  18. ^ Khadduri, pp. 15โ€“16 (Translator's Introduction). Khadduri cites for this story Yaqut's Muโ€˜jam al-Udabฤ, vol. VI pp. 394โ€“95 (ed. Margoliouth, London: 1931), and Ibn Hajar's Tawฤlฤซ al-Ta'sฤซs, p. 86.
  19. ^ Ibn Hajar's Tawฤlฤซ al-Ta'sฤซs, p.185 DKi 1986 edition
  20. ^ Ibn Hajar's Tawฤlฤซ al-Ta'sฤซs, p.177 DKi 1986 edition
  21. ^ Khadduri, p. 16 (Translator's Introduction).
  22. ^ Al-Mishri, Mahmud (2011). Yasir, Muhammad (ed.). Semua Ada Saatnya [Sa'atan Sa'atan]. Diterjemahkan oleh Somad, Abdul. Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar. hlm.ย 235. ISBNย 978-979-592-779-2. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  23. ^ "Archnet". Diarsipkan dari asli tanggal 15 Desember 2013.
  24. ^ "Tour Egyptย :: The Mausoleum of Imam al-Shafi".
  25. ^ Ruthven Malise, Islam in the World. 3rd edition Granta Books London 2006 ch. 4, page 122
  26. ^ Schacht, Joseph (1959) [1950]. The Origins of Muhammadan Jurisprudence. Oxford University Press. hlm.ย 1.
  27. ^ Snouck Hurgronje, C. Verspreide Geschriften. v.ii. 1923-7, page 286-315
  28. ^ ร‰tude sur la thรฉorie du droit musulman (Parisย : Marchal et Billard, 1892โ€“1898.)
  29. ^ Margoliouth, D.S., The Early Development of Mohammedanism, 1914, page 65ff
  30. ^ Schacht, Joseph in Encyclopedia of Islam, 1913 v.IV, sv Usul
  31. ^ a b Burton, Islamic Theories of Abrogation, 1990: p.14
  32. ^ J. SCHACHT, An Introduction to Islamic Law (1964), supra note 5, at 47
  33. ^ Forte, David F. (1978). "Islamic Law; the impact of Joseph Schacht" (PDF). Loyola Los Angeles International and Comparative Law Review. 1: 13. Diakses tanggal 19 April 2018.
  34. ^ al-Shafii โ€˜โ€™Kitab al-Risalaโ€™โ€™, ed. Muhammad Shakir (Cairo, 1940), 84
  35. ^ Brown, Daniel W. (1996). Rethinking tradition in modern Islamic thought. Cambridge University Press. hlm.ย 8. ISBNย 0521570778. Diakses tanggal 10 Mei 2018.
  36. ^ Schacht, Joseph (1959) [1950]. The Origins of Muhammadan Jurisprudence. Oxford University Press. hlm.ย 4.
  37. ^ a b c Burton, Islamic Theories of Abrogation, 1990: p.15
  38. ^ Burton, Islamic Theories of Abrogation, 1990: p.12
  39. ^ Abrahamov, Binyamin (1998). "Chapter 3: Traditionalism Against Rationalism- The Traditionalists' Criticism of the use of Rational Methods". Islamic Theology: Traditionalism and Rationalism. George Square, Edinburgh: Edinburgh University Press. hlm.ย 28โ€“29. ISBNย 0-7486-1102-9. Al-Shafi'ฤซ's attitude towards the Mutazilites was no less severe. His judgement of them is that they should be smitten with palm branches and shoes in the presence of many people and then it will be said: this is the punishment of those who abandoned the Qur'an and the Sunna and turned to the Greek
  40. ^ The Levels of the Shafiee scholars by Imam As-Subki ุทุจู‚ุงุช ุงู„ุดุงูุนูŠุฉ ู„ู„ุณุจูƒูŠ
  41. ^ Nahyan Fancy, Science and Religion in Mamluk Egypt (2013, ISBN 1136703616), page 23: "... highlighted by the latter-day Shafi'i authority, Jalal al-Din al-Suyuti."
  42. ^ Scott C. Lucas, Constructive Critics, แธคadฤซth Literature, and the Articulation of Sunni Islam (2004, ISBN 9004133194), page 72: "It is somewhat astonishing that al-Dhahabi, a purported adherent to the Shafi'i madhhab, does not honor al-Shafi'i with the sobriquet Shayk al-Islam." (Emphasis added.)
  43. ^ David Waines, An Introduction to Islam, Cambridge University Press, 2003, p. 68
  44. ^ "ุงุฎุชู„ุงู ุงู„ุญุฏูŠุซ - ุท ุงู„ููƒุฑ ุจุขุฎุฑ ูƒุชุงุจ ุงู„ุฃู… - ุงู„ู…ูƒุชุจุฉ ุงู„ุดุงู…ู„ุฉ". shamela.ws. Diakses tanggal 5 Oktober 2023.
  45. ^ "ูƒุชุงุจ ุงู„ุณู†ู† ุงู„ู…ุฃุซูˆุฑุฉ ู„ู„ุดุงูุนูŠ - ุงู„ู…ูƒุชุจุฉ ุงู„ุดุงู…ู„ุฉ". shamela.ws. Diakses tanggal 5 Oktober 2023.
  46. ^ "ูƒุชุงุจ ุฌู…ุงุน ุงู„ุนู„ู… - ุงู„ู…ูƒุชุจุฉ ุงู„ุดุงู…ู„ุฉ". shamela.ws. Diakses tanggal 5 Oktober 2023.
  47. ^ a b Glodziher, Dr. Ignaz (2008). "Chapter 3". The Zahiris, Their Doctrine and their History: A Contribution to the History of Islamic Theology. Koninklijke Brill NV, Leiden, The Netherlands: Brill Publishers. hlm.ย 23. ISBNย 978-90-04-16241 9.
  48. ^ Izalat_al-Khafa p. 77 part 7
  49. ^ Diwan al-Imam al-shafi'i, (book of poems โ€“ al-shafi'i) p. 100; Dar El-Mrefah Beirut โ€“ Lebanon 2005. ISBN 9953-429-33-2
  50. ^ Dhammul-Kalaam (Q/213)
  51. ^ Dhahabi, as-Siyar (10/30)
  52. ^ Schacht, Joseph (1959) [1950]. The Origins of Muhammadan Jurisprudence. Oxford University Press. hlm.ย 13.

Bibliografi

sunting

Pranala luar

sunting

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Immanuel Kant

ISBNย 978-0-5216-5729-7. Vanzo, Alberto (January 2013). "Kant on Empiricism and Rationalism". History of Philosophy Quarterly. 30 (1): 53โ€“74. Diarsipkan dari versi

Filsafat

Knowing Purely by Thinking Blackburn 2008, Empiricism Blackburn 2008, Rationalism Steup & Neta 2020, 4. The Structure of Knowledge and Justification Truncellito

Empirisme

Filosofia, 3rd edition, Garzanti, Milan, Italy. Markie, P. (2004), "Rationalism vs. Empiricism" in Edward D. Zalta (ed.), Stanford Encyclopedia of Philosophy

Bauhaus

Catherine Weill-Rochant (April 2009). The Tel-Aviv Schoolย : a constrained rationalism. DOCOMOMO journal (Documentation and conservation of buildings, sites

Kresna

(Desember 1994). "Reflections on the Relation Between Religion and Modern Rationalism". Diarsipkan dari asli tanggal 2011-01-04. Diakses tanggal 2008-04-12

Interlingua

religion[pranala nonaktif permanen] The Humanist Manifesto at the Dutch website Rationalism Dokumen dan kesusastraan Manifesto de Interlingua (by Alexander Gode)

Atsariyah

Binyamin (1998). "Introduction". Islamic Theology: Traditionalism and Rationalism. George Square, Edinburgh: Edinburgh University Press. hlm.ย viiiโ€“ix.

Yahudi Konservatif

2011-07-26 di Wayback Machine., second Printing (1990) pp. 14โ€“15 "Jewish Rationalism Reemergent," Conservative Judaism, Volume 36, Issue 4, Page 81 "torah-misinai"