Lokomotif diesel seri CC 201 yang bernomor CC 201 89 02.
Lokomotif diesel seri CC 201 yang bernomor CC 201 89 02.

Indonesia mengadopsi sistem penomoran kereta api yang digunakan untuk semua bakal pelanting (sarana perkeretaapian). Pada masa sekarang, sistem ini mengadopsi klasifikasi sarana, jenis tenaga, tahun beroperasi, dan nomor urut individu. Indonesia tidak mengadopsi penomoran bakal pelanting standar internasional UIC, dan saat ini menggunakan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 54 Tahun 2016 sebagai acuan penomoran kereta api secara nasional.

Format

sunting

Lokomotif

sunting
Lokomotif SS 1326 (penomoran Jepang: C2826)

Pertama kali sistem penomoran berasal dari sistem penomoran Belanda yang digunakan oleh perusahaaan kereta api di Hindia Belanda seperti Staatsspoorwegen (SS), Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS), Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS), dan lain-lainnya. Pada sistem penomoran lokomotif perusahaan Hindia Belanda, sistem penomoran lokomotif adalah bedasarkan model lokomotif (dapat berasal dari lebih dari satu pabrikan) yang kemudian dinomori sebagai sebuah "kelas" (gaya Eropa). Misalnya, pada kelas SS 1600, individunya dapat diberi nomor 1601, 1602, dan seterusnya.[butuh rujukan]

Semenjak masa pendudukan Jepang, sistem penomoran lokomotif mengikuti format penomoran lokomotif Jepang.[1] Misalnya pada SS 1600, penomorannya diubah menjadi CC50, dan individunya diberi nomor seperti CC5001, CC5002, dan seterusnya. Saat munculnya dieselisasi, penomoran lokomotif diesel diperkenalkan, yang diberi keterangan untuk sumber tenaga, untuk membedakannya dengan lokomotif uap.[butuh rujukan]Sistem penomoran lokomotif Jepang yang diadopsi di Indonesia menggunakan format susunan gandar penggerak UIC, sumber tenaga, urutan generasi, dan nomor urut. Sistem ini masih digunakan pada penomoran lokomotif diesel hingga masa kini.

Dengan berlakunya KM 45 Tahun 2010 yang kemudian disempurnakan dengan PM 54 Tahun 2016, penambahan angka tahun produksi ditambahkan pada sistem penomoran. Untuk penomoran lokomotif diesel, sumber tenaga dinyatakan dengan angka sebagai berikut:[2]

Perbandingan format penomoran lokomotif
FormatContohArti
Belanda (uap)1326Model lokomotif kelas 1300 dengan nomor urut individu 26
Belanda (listrik)3202Model lokomotif kelas 3200 dengan nomor urut individu 02
Jepang (uap)C2826Tiga gandar penggerak saling tersambung, generasi ke-28, nomor urut individu 26
Lokomotif diesel–elektrik, pra-2010CC 201 01Dua bogie dengan masing-masing tiga gandar penggerak (tidak termasuk gandar tak berpenggerak), jenis diesel–elektrik (2), generasi kedua (karena dimulai dari x00), nomor urut individu 01
Lokomotif diesel–hidraulik, pra-2010BB 301 01Dua bogie dengan masing-masing dua gandar penggerak (tidak termasuk gandar tak berpenggerak), jenis diesel–hidraulik (3), generasi kedua (karena dimulai dari x00), nomor urut individu 01
KM 45/2010 dan PM 54/2016CC 201 77 01RDua bogie dengan masing-masing tiga gandar penggerak (tidak termasuk gandar tak berpenggerak), jenis diesel–elektrik (2), generasi kedua (karena dimulai dari x00), mulai produksi 1977, nomor urut individu 01, sudah menjalani mid-life overhaul

Kereta penumpang

sunting

Sebelum tahun 1986, penomoran kereta penumpang masih mengadopsi gaya Belanda.[butuh rujukan]Sejak Maret 1986, penomoran kereta penumpang mengadopsi format baru.[3] Format ini kemudian diubah lagi dengan penetapan KM 45 Tahun 2010 dan disempurnakan dengan PM 54 Tahun 2016.

Pra-1986

sunting

Format penomoran kereta penumpang adalah [kelas dan jenis sarana][jenis rem]-[bahan bodi dan panjangnya][generasi][nomor urut]. Untuk kereta rel listrik dan diesel, format penomorannya adalah [kelas dan jenis sarana][jenis rem] [sumber tenaga][generasi] [nomor urut individu tiga digit].[butuh rujukan]

  • Jenis sarana yang digunakan memiliki kode:
  • Jenis rem yang digunakan memiliki kode:
    • L: Rem vakum
    • O: Tidak menggunakan rem
    • R: Rem tangan
    • U: Saluran udara (Westinghouse)
    • W: Rem udara (Westinghouse)
Jenis keretaContohArti
Kereta penumpangCW-9001Kereta penumpang kelas tiga, rem udara
Kereta makanFW/AC-9014Kereta makan, rem udara, menggunakan penyejuk udara
Kereta bagasiDKW-9001Kereta bagasi, mampu memuat kendaraan, rem udara
Kereta pembangkitDPW-9001Kereta bagasi dan pembangkit, rem udara
Kereta posPW-9001Kereta pos, rem udara
Kereta tidurSAGW-9001Kereta tidur, kelas satu, gang, rem udara
Kereta rel listrikVCW 800 001Kereta trailer, kelas tiga, rem udara
Kereta rel dieselMCW 302 001Kereta penggerak, kelas tiga, rem udara

1986–2010

sunting

Format penomoran kereta penumpang adalah [jenis dan kelas sarana]-[dua digit tahun produksi, kecuali produksi tahun 2000 ke atas ditulis lengkap][jenis roller bearing bogie atau bogie penggerak untuk kereta rel][nomor individu].[3]

  • Jenis sarana yang digunakan memiliki kode:
    • B: kereta bagasi
    • D: kereta rel diesel
    • I: kereta inspeksi
    • K: kereta penumpang
    • L: kereta rel listrik
    • M: kereta makan
    • P: kereta pembangkit
    • S: kereta spesial
    • T: kereta tidur
    • KC: kereta couchette
    • KZ: kereta kelas super eksekutif (Argo Bromo Anggrek)
    • 1: kelas 1/eksekutif
    • 2: kelas 2/bisnis
    • 3: kelas 3/ekonomi
Jenis keretaContohArti
Kereta penumpangK1-97901Kereta penumpang kelas eksekutif, mulai produksi tahun 1997, bogie K9, nomor urut 01
Kereta makanM1-65501Kereta makan kelas eksekutif, mulai produksi 1965, bogie K5, nomor urut 01
Kereta bagasiB-65501Kereta bagasi, mulai produksi 1965, bogie K5, nomor urut 01
Kereta couchetteKC-64701Kereta couchette, mulai produksi 1964, bogie K7, nomor urut 01
Kereta pembangkitP-78701Kereta pembangkit, mulai produksi 1978, bogie K7, nomor urut 01
Kereta inspeksiI-67501Kereta inspeksi, mulai produksi 1967, bogie K5, nomor urut 01
Kereta spesialS-67802Kereta spesial, mulai produksi 1967, bogie K8, nomor urut 02
Kereta tidurKT-67501Kereta penumpang dengan fasilitas tidur, mulai produksi 1967, bogie K5, nomor urut 01
Kereta rel listrikKL3-97248Kereta rel listrik kelas tiga, mulai produksi 1997, dua bogie penggerak, nomor urut 48
Kereta rel dieselKD3-82201Kereta rel diesel kelas tiga, mulai produksi 1982, dua bogie penggerak, nomor urut 01

2010–sekarang

sunting

Format penomoran kereta penumpang adalah [jenis dan kelas sarana] [jenis sumber tenaga] [dua digit tahun produksi] [nomor individu].[2]

Jenis keretaContohArti
Kereta penumpangK1 0 24 44Kereta penumpang kelas eksekutif, ditarik lokomotif, mulai produksi 2024, nomor urut 44
Kereta makanM1 0 24 03Kereta makan kelas eksekutif, ditarik lokomotif, mulai produksi 2024, nomor urut 03
Kereta bagasiB 0 24 01Kereta bagasi, ditarik lokomotif, mulai produksi 2024, nomor urut 01
Kereta pembangkitP 0 24 03Kereta pembangkit, ditarik lokomotif, mulai produksi 2024, nomor urut 03
Kereta tidurT1 0 08 01Kereta tidur kelas eksekutif, ditarik lokomotif, mulai produksi 2008, nomor urut 01
Kereta rel listrikK3 1 01 03Kereta penumpang kelas ekonomi, KRL, mulai produksi 2001, nomor urut 03
Kereta rel diesel–elektrikK3 2 12 01Kereta penumpang kelas ekonomi, KRDE, mulai produksi 2012, nomor urut 01
Kereta rel diesel–hidraulikK3 3 13 01Kereta penumpang kelas ekonomi, KRDH, mulai produksi 2013, nomor urut 01

Gerbong

sunting

Pra-2010

sunting

Sebelum tahun 2010, penomoran gerbong masih mengadopsi gaya Belanda. Format ini kemudian diubah lagi dengan penetapan KM 45 Tahun 2010 dan disempurnakan dengan PM 54 Tahun 2016. Formatnya adalah [jenis gerbong][jenis rem]-[nomor urut], kemudian berubah menjadi [jenis gerbong][jenis rem]-[kuat muat][mulai produksi][nomor urut].[butuh rujukan]

  • Jenis sarana yang digunakan memiliki kode:
    • B: ballast (kricak)
    • G: gesloten (tertutup)
    • H: hopper (curah)
    • J: jerami
    • K: kool (batu bara) dan ketel
    • P: plaat (datar)
    • NR: nood rijtuigen (kereta penolong)
    • T: teleskopik
    • V: vee (ternak)
    • W: weger (penimbang)
    • Y
    • Z: zand (pasir), tetapi dapat juga digunakan untuk kricak
    • Perulangan huruf di atas melambangkan gerbong tersebut menggunakan gandar empat (misal, K: gandar dua; KK: gandar empat)
    • Diikuti dengan huruf pengikut jika jenisnya khusus:
      • C: container (peti kemas)
      • K: khusus
      • O: onder (bukaan bawah)
  • Jenis rem yang digunakan memiliki kode:
    • L: Rem vakum
    • O: Tidak menggunakan rem
    • R: Rem tangan
    • U: Saluran udara (Westinghouse)
    • W: Rem udara (Westinghouse)
Jenis gerbongContohArti
Gerbong datarPPCW-451056Gerbong datar, gandar empat, rem Westinghouse, kuat muat 45 ton, mulai produksi 2010, nomor urut individu 56
Gerbong terbukaTTW-100Gerbong teleskopik, gandar empat, rem Westinghouse, nomor urut individu 100
Gerbong tertutupGGW-305001Gerbong tertutup, gandar empat, rem Westinghouse, 305 milik Pupuk Sriwidjaja, nomor urut individu 001
Gerbong ketelKR-7Gerbong ketel, gandar dua, rem tangan, nomor urut 7
Kereta penolongNR-9Nood rijtuigen dengan nomor urut 9

2010–sekarang

sunting

Format penomoran gerbong adalah [jenis gerbong] [kuat muat dalam ton] [tahun produksi] [nomor urut].[2]

  • Jenis gerbong memiliki kode:
    • GD: gerbong datar
    • GB: gerbong terbuka
    • GT: gerbong tertutup
    • GK: gerbong ketel
Jenis gerbongContohArti
Gerbong datarGD 54 14 144Gerbong datar, kuat muat 54 ton, mulai produksi 2014, nomor urut individu 144
Gerbong terbukaGB 30 16 01Gerbong terbuka, kuat muat 30 ton, mulai produksi 2016, nomor urut individu 01
Gerbong tertutupGT 30 85 18Gerbong tertutup, kuat muat 30 ton, mulai produksi 1985, nomor urut individu 18
Gerbong ketelGK 30 65 129Gerbong ketel, kuat muat 30 ton, mulai produksi 1965, nomor urut individu 129

Peralatan khusus dan bakal pelanting lainnya

sunting

Format penomoran ini baru diperkenalkan pada 2010 untuk sarana nonpendapatan, peralatan khusus, atau alat pemeliharaan jalan rel lainnya. Dengan format:[2] [kode sarana khusus] [jenis sarana khusus] [tahun mulai produksi] [nomor urut]

  • Kode sarana khusus dinyatakan dalam 2 huruf sebagai berikut:
    • SI untuk kereta inspeksi (KAIS);
    • SN untuk kereta penolong;
    • SU untuk kereta ukur;
    • SC untuk kereta derek;
    • SR untuk kereta pemeliharaan jalan rel;
    • SK untuk kereta khusus.
  • Jenis sarana khusus dinyatakan seperti halnya jenis sarana kereta, yaitu:
    • 0 untuk sarana khusus yang ditarik lokomotif;
    • 1 untuk sarana khusus berpenggerak listrik;
    • 2 untuk sarana khusus berpenggerak diesel elektrik;
    • 3 untuk sarana khusus berpenggerak diesel hidraulik.

Contoh:

Jenis gerbongContohArti
Kereta ukurSU 3 22 01Kereta ukur, penggerak diesel hidraulik, mulai produksi 2022 dengan nomor urut 01
Kereta inspeksiSI 0 67 01Kereta inspeksi, ditarik lokomotif yang mulai produksi 1967 dengan nomor urut 01

Tipografi

sunting

Penulisan sistem penomoran ini memiliki ketentuan rupa huruf yang digunakan adalah Arial dengan ukuran 140. Huruf dan angka menggunakan warna putih dengan latar belakang warna hitam.

Referensi

sunting
  1. ^ Parikesit, D.; et al. (et al.) (2021). Jalan Rel. Surabaya: Scopindo Media Pustaka. hlm. 10. ISBN 9786233650229. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. ^ a b c d Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 45 Tahun 2010
  3. ^ a b Instruksi Kepala Perusahaan Jawatan Kereta Api Nomor 1 Tahun 1986, tanggal 6 Maret 1986

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Daftar kata serapan dari bahasa Inggris dalam bahasa Indonesia

concept - konsep conjunction - konjungsi console - konsol contact - kontak container - kontainer contamination - kontaminasi contemporary - kontemporeri content