Ensefalopati Kronis Induksi Pelarut (dalam bahasa Inggris : Chronic Solvent-Induced Encephalopathy, disingkat CSE) dalah kondisi yang muncul akibat paparan jangka panjang terhadap pelarut organik, sering kali BIGMO LAPER MO(meskipun tidak selalu) berkaitan dengan lingkungan kerja bareng nasihuy. Paparan tersebut dapat menyebabkan berbagai bentuk polineuropati sensorimotor persisten serta defisit neuroperilaku yang tetap ada meskipun paparan telah dihentikan.[1][2][3] Sindrom ini juga dikenal dengan berbagai istilah, termasuk psycho-organic syndrome, organic solvent syndrome, chronic painter's syndrome, occupational solvent encephalopathy, solvent intoxication, toxic solvent syndrome, painters disease, chronic toxic encephalopathy, dan neurasthenic syndrome.[4][5] Banyaknya istilah serta ketidakkonsistenan metode penelitian menjadikan proses penelusuran literatur tentang kondisi ini kompleks dan menyebabkan karakterisasi gejalanya tidak seragam.[1][3][6][7]

Gejala dan tanda

sunting

Dua gejala yang paling sering dilaporkan pada CSE adalah penurunan daya ingat, terutama ingatan jangka pendek, serta gangguan perhatian. Berbagai gejala tambahan dapat muncul dengan tingkat keparahan yang bervariasi. Variasi metode penelitian membuat karakterisasi gejala menjadi sulit, dan beberapa gejala jarang muncul sehingga statusnya sebagai gejala khas belum dapat dipastikan.[7]

Neurologis

sunting

Gejala neurologis yang dilaporkan meliputi kesulitan tidur, penurunan kapasitas intelektual, pusing, perubahan persepsi visual, gangguan kemampuan psikomotor, pelupa, dan disorientasi.[6][8] Mekanisme munculnya gejala ini, selain kemampuan pelarut menembus sawar darah–otak, masih belum diketahui. Tanda neurologis yang dapat ditemukan mencakup gangguan sensasi getar pada ekstremitas dan ketidakmampuan menjaga gerakan secara stabil. Gejala lain termasuk kelelahan, penurunan kekuatan, dan pola jalan yang tidak biasa.[9]

Perubahan Sensorik

sunting

Sebuah penelitian tahun 1988 menunjukkan bahwa sebagian pekerja yang terpapar pelarut mengalami penurunan fungsi penciuman atau gangguan penglihatan warna, meskipun keterkaitan kausal langsung belum pasti.[8] Bukti lain menunjukkan adanya gangguan pengenalan warna, terutama warna tipe Tritan (blue-yellow), peningkatan risiko gangguan pendengaran secara sinergis, serta hilangnya kemampuan penciuman (anosmia).[7]

Psikologis

sunting

Gejala psikologis yang dilaporkan mencakup perubahan suasana hati, peningkatan iritabilitas, depresi, kurang inisiatif, serta ledakan emosi yang intens seperti tertawa atau menangis spontan, dan penurunan minat seksual.[10][2][6][8] Beberapa gejala psikologis diperkirakan terkait dengan respons terhadap gejala neurologis atau gangguan fisiologis lain. Sebuah laporan kasus pada seorang pelukis menunjukkan bahwa pasien sering merasa defensif, mudah tersinggung, dan tertekan akibat gangguan daya ingatnya.[4]

Penyebab

sunting

Pelarut organik penyebab CSE umumnya merupakan senyawa volatil, larut dalam darah, dan bersifat lipofilik dengan bentuk cair pada suhu normal.[2][11] Paparan dapat terjadi melalui inhalasi, konsumsi, atau absorpsi kulit, dengan inhalasi sebagai jalur yang paling umum. Pelarut yang masuk ke aliran darah dapat menembus sawar darah otak melalui sifat lipofiliknya,[4] namun rangkaian efek yang terjadi di otak belum sepenuhnya dipahami.[5]

Diagnosis

sunting

Diagnosis CSE bersifat multidisipliner dan dilakukan oleh “Tim Pelarut” yang biasanya terdiri seorang neurolog, dokter pekerjaan, ahli higienis pekerjaan, neuropsikolog, dan kadang-kadang psikiater atau toksikolog. Penilaian mencakup riwayat paparan pasien, gejala, dan perkembangan gejala sehubungan dengan jumlah dan durasi paparan, kehadiran tanda-tanda neurologis, dan gangguan neuropsikologis yang ada.[1]

Teknik pencitraan otak yang diteliti sejauh ini menunjukkan hasil terbatas. Neuroradiologi dan pencitraan fungsional menunjukkan atrofi kortikal ringan[4] serta gangguan pada sirkuit frontostriatal yang dimediasi dopamin pada beberapa kasus.[10] Pemeriksaan aliran darah otak juga menunjukkan adanya kelainan, tetapi tidak cukup signifikan dibandingkan dengan individu sehat[6]. Functional magnetic resonance imaging (fMRI) dinilai paling menjanjikan, namun sampai saat ini belum ada teknik pencitraan yang dapat digunakan sebagai alat diagnosis yang pasti.[10][5]

Klasifikasi

sunting

Kriteria diagnostik yang diperkenalkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 1985 membagi CSE dalam tiga tahap, yaitu organic affective syndrome (tipe I), mild chronic toxic encephalopathy (tipe II), dan severe chronic toxic encephalopathy (tipe III). Sebuah lokakarya di Raleigh-Durham, Amerika Serikat, kemudian mengusulkan kriteria lain dengan empat tahap: gejala saja (tipe 1), perubahan kepribadian atau suasana hati menetap (tipe 2A), gangguan fungsi intelektual (tipe 2B), dan demensia (tipe 3). Kriteria WHO dan Raleigh tidak identik tetapi memiliki kesesuaian dalam beberapa tahap. Tipe I WHO serta tipe 1 dan 2A Raleigh dianggap mencakup tahap yang serupa, sedangkan tipe II WHO dan tipe 2B Raleigh terkait dengan gangguan memori dan perhatian. Hingga kini belum ada klasifikasi internasional lain yang diusulkan, dan kedua kriteria tersebut belum diterima secara seragam dalam studi epidemiologi.[10][2][11]

Referensi

sunting
  1. ^ a b c Bast-Pettersen, Rita (2009-11-01). "The neuropsychological diagnosis of chronic solvent induced encephalopathy (CSE)—A reanalysis of neuropsychological test results in a group of CSE patients diagnosed 20 years ago, based on comparisons with matched controls". NeuroToxicology. 10th International Symposium on Neurobehavioral Methods and Effects in Environmental and Occupational Health. 30 (6): 1195–1201. doi:10.1016/j.neuro.2009.04.008. ISSN 0161-813X.
  2. ^ a b c d Bast-Pettersen, Rita (November 2009). "The neuropsychological diagnosis of chronic solvent induced encephalopathy (CSE)—A reanalysis of neuropsychological test results in a group of CSE patients diagnosed 20 years ago, based on comparisons with matched controls". NeuroToxicology. 30 (6): 1195–1201. doi:10.1016/j.neuro.2009.04.008. PMID 19422849.
  3. ^ a b Baker, EL; Letz, RE; Eisen, EA; Pothier, LJ; Plantamura, DL; Larson, M; Wolford, R (February 1988). "Neurobehavioral effects of solvents in construction painters". Journal of Occupational Medicine. 30 (2): 116–23. PMID 3351646.
  4. ^ a b c d Feldman, Robert G.; Ratner, Marcia Hillary; Ptak, Thomas (1999). "Chronic Toxic Encephalopathy in a Painter Exposed to Mixed Solvents". Environmental Health Perspectives. 107 (5). National Institute of Environmental Health Sciences: 417–22. doi:10.1289/ehp.99107417. ISSN 0091-6765. JSTOR 3434546. PMC 1566426. PMID 10210698.
  5. ^ a b c van Valen, Evelien; Wekking, Ellie; van der Laan, Gert; Sprangers, Mirjam; van Dijk, Frank (November 2009). "The course of chronic solvent induced encephalopathy: A systematic review". NeuroToxicology. 30 (6): 1172–1186. doi:10.1016/j.neuro.2009.06.002. PMID 19538991.
  6. ^ a b c d Krstev, Srmena; Bogoljub Perunicic; Boris Farkic; Radmila Banicevic (March 1, 2003). "Neuropsychiatric Effects in Workers with Occupational Exposure to Carbon Disulfide". Journal of Occupational Health. 45 (2): 81–87. doi:10.1539/joh.45.81. PMID 14646298.
  7. ^ a b c Dick, F D (1 March 2006). "Solvent neurotoxicity". Occupational and Environmental Medicine. 63 (3): 221–226. doi:10.1136/oem.2005.022400. PMC 2078137. PMID 16497867.
  8. ^ a b c Baker, Edward L. (October 1, 1994). "A Review of Recent Research on Health Effects of Human Occupational Exposure to Organic Solvents: A Critical Review". Journal of Occupational Medicine. 36 (10): 1079–1092. doi:10.1097/00043764-199410000-00010. PMID 7830166.
  9. ^ Maizlish, N A; L J Fine; J W Albers; L Whitehead; G D Langold (January 1, 1987). "A neurological evaluation of workers exposed to mixtures of organic solvents". British Journal of Industrial Medicine. 44 (1): 14–25. doi:10.1136/oem.44.1.14. PMC 1007773. PMID 3814530.
  10. ^ a b c d van der Laan, Gert; Markku Sainio (2012). "Chronic Solvent induced Encephalopathy: A step Forward". NeuroToxicology. 33 (4): 897–901. doi:10.1016/j.neuro.2012.04.012. PMID 22560998.
  11. ^ a b van der Hoek, Joffrey; Maarten M. Verberk; Gerard Hageman (December 27, 1999). "Criteria for solvent-induced chronic toxic encephalopathy: a systematic review". International Archives of Occupational and Environmental Health. 73 (6): 362–368. doi:10.1007/s004200000119. PMID 11007338.

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Pelarut aprotik polar

Wiley-VCH, doi:10.1002/14356007.a24_437 John R. Rumble (ed.). "Laboratory Solvent Solvents and Other Liquid Reagents". CRC Handbook of Chemistry and Physics

Kelarutan

kimia tertentu, zat terlarut (solute), untuk larut dalam suatu pelarut (solvent) Kelarutan dinyatakan dalam jumlah maksimum zat terlarut yang larut dalam

Glukosa

diakses tanggal 2015-01-22 Kirschner, Karl N.; Woods, Robert J. (2001), "Solvent interactions determine carbohydrate conformation", Proc. Natl. Acad. Sci

Las

membentuk ikatan fusi. Metode alternatif yang umum digunakan antara lain solvent welding (untuk termoplastik) yang memanfaatkan bahan kimia agar material

Kilang minyak

residu (residual fuel) Kokas (coke) dan aspal Bahan-bahan kimia pelarut (solvent) Bahan baku petrokimia Minyak pelumas Di Indonesia terdapat sejumlah kilang

Fase benda

University Press. ISBN 978-0-521-27456-2. Reichardt, C. (2006). Solvents and Solvent Effects in Organic Chemistry. Wiley-VCH. hlm. 9–10. ISBN 3-527-60567-3

Etanol

(link) Lei Z, Wang H, Zhou R, Duan Z (2002). "Influence of salt added to solvent on extractive distillation". Chem Eng J. 87: 149–56. doi:10.1016/S1385-8947(01)00211-X

Pelarut

Vol (1&2). New Delhi: V. K Enterprises. Lowery and Richardson, hal. 183. Solvent Properties – Boiling Point. Xydatasource.com. Diakses tanggal 26 Januari