Botol pelarut berisi etanol dan aseton.

Pelarut adalah suatu zat yang melarutkan zat terlarut (cairan, padat atau gas yang berbeda secara kimiawi), menghasilkan suatu larutan. Pelarut biasanya berupa cairan tetapi juga bisa menjadi padat, gas, atau fluida superkritis. Kuantitas zat terlarut yang dapat larut dalam volume pelarut tertentu bervariasi terhadap suhu.

Pelarut paling umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah air. Pelarut lain yang juga umum digunakan adalah bahan kimia organik (mengandung karbon) yang juga disebut pelarut organik. Pelarut biasanya memiliki titik didih rendah dan lebih mudah menguap, meninggalkan substansi terlarut yang didapatkan. Untuk membedakan antara pelarut dengan zat yang dilarutkan, pelarut biasanya terdapat dalam jumlah yang lebih besar.

Penggunaan umum untuk pelarut organik terdapat dalam cuci kering (misalnya tetrakloroetilena), seperti thinner cat (misalnya toluena, terpentin), sebagai penghilang cat kuku dan pelarut lem (aseton, etil asetat), pada penghilang noda (misalnya heksana, petroleum eter), dalam deterjen (terpena lemon) serta dalam parfum (etanol).

Larutan dan kelarutan

sunting
Pengaruh pelarut pada kelarutan
Pengaruh pelarut pada kelarutan

Larutan terbentuk dari campuran zat-zat yang homogen, dimana pelarut memiliki komponen dengan jumlah yang lebih banyak daripada zat terlarut. Suatu larutan dengan jumlah maksimum zat terlarut pada suhu tertentu disebut larutan jenuh. Banyaknya zat terlarut dalam satu liter larutan jenuh pada suhu tertentu disebut kelarutan.[1]

Apabila suatu zat terlarut dimasukan ke dalam suatu pelarut, maka partikel zat terlarut akan menyebar ke seluruh pelarut. Kemudahan partikel zat terlarut menggantikan molekul pelarut bergantung pada kekuatan relatif dari interaksi antara pelarut-pelarut, interaksi antara zat terlarut-zat terlarut, dan interaksi antara pelarut-zat terlarut.[2] Jika tarik menarik zat terlarut-pelarut lebih kuat daripada tarik menarik pelarut-pelarut dan tarik menarik zat terlarut-terlarut, maka proses pelarutan akan berlangsung, proses ini disebut reaksi eksotermik. Jika interaksi zat terlarut-pelarut lebih lemah daripada interaksi pelarut-pelarut dan interaksi zat-zat terlarut maka proses ini disebut reaksi endotermik.

Klasifikasi

sunting

Pelarut organik dan anorganik

sunting

Pelarut organik merupakan pelarut yang umumnya mengandung atom karbon dalam molekulnya. Dalam pelarut organik, zat terlarut didasarkan pada kemampuan koordinasi dan konstanta dielektriknya. Pelarut organik dapat bersifat polar dan non-polar bergantung pada gugus kepolaran yang dimilikinya. Pada proses kelarutan dalam pelarut organik, biasanya reaksi yang terjadi berjalan lambat sehingga perlu energi yang didapat dengan cara pemanasan untuk mengoptimumkan kondisi kelarutan.[3] Larutan yang dihasilkan bukan merupakan konduktor listrik. Contoh pelarut organik adalah senyawa dengan fungsionalitas alkohol, eter, ester, keton, dan sebagainya.

Sementara itu, pelarut anorganik merupakan pelarut selain air yang tidak memiliki komponen organik di dalamnya. Dalam pelarut anorganik, zat terlarut dihubungkan dengan konsep sistem pelarut yang mampu mengautoionisasi pelarut tersebut. Biasanya pelarut anorganik merupakan pelarut yang bersifat polar sehingga tidak larut dalam pelarut organik dan non-polar. Larutan yang dihasilkan merupakan konduktor listrik yang baik. Contoh dari pelarut anorganik adalah amonia dan asam sulfat.

Pelarut protik dan aprotik

sunting

Pelarut dengan nilai permitivitas statis relatif (ฮตr) lebih besar dari 15 (seperti kutub atau polarisasi) dapat dibagi menjadi protik dan aprotik. Pelarut protik melarutkan anion dengan kuat (larutan bermuatan negatif) melalui ikatan hidrogen. Air termasuk pelarut protik polar. Pelarut seperti aseton atau diklorometana cenderung memiliki momen dipol yang besar (pemisahan muatan parsial negatif dan muatan parsial positif dalam molekul yang sama) dan melarutkan spesi bermuatan positif melalui dipol negatif.[4] Dalam reaksi kimia penggunaan pelarut polar protik mendukung mekanisme reaksi SN1, sementara pelarut polar aprotik mendukung mekanisme reaksi SN2.

Tabel sifat-sifat pelarut umum

sunting

Pelarut dikelompokkan menjadi pelarut non-polar, polar aprotik, dan polar dan diurutkan berdasarkan kenaikan polaritas. Polaritasnya dinyatakan sebagai konstanta dielektrik. Sifat pelarut yang melebihi air ditulis tebal.

Pelarut Rumus kimia Titik didih[5] Konstanta dielektrik[6] Massa jenis
Pelarut Non-Polar
Heksana CH3-CH2-CH2-CH2-CH2-CH3 69ย ยฐC 2.0 0.655 g/ml
Benzena C6H6 80ย ยฐC 2.3 0.879 g/ml
Toluena C6H5-CH3 111ย ยฐC 2.4 0.867 g/ml
Dietil eter CH3CH2-O-CH2-CH3 35ย ยฐC 4.3 0.713 g/ml
Kloroform CHCl3 61ย ยฐC 4.8 1.498 g/ml
Etil asetat CH3-C(=O)-O-CH2-CH3 77ย ยฐC 6.0 0.894 g/ml
Pelarut Polar Aprotik
1,4-Dioksana /-CH2-CH2-O-CH2-CH2-O-\ 101ย ยฐC 2.3 1.033 g/ml
Tetrahidrofuran (THF) /-CH2-CH2-O-CH2-CH2-\ 66ย ยฐC 7.5 0.886 g/ml
Diklorometana (DCM) CH2Cl2 40ย ยฐC 9.1 1.326 g/ml
Aseton CH3-C(=O)-CH3 56ย ยฐC 21 0.786 g/ml
Asetonitril (MeCN) CH3-Cโ‰กN 82ย ยฐC 37 0.786 g/ml
Dimetilformamida (DMF) H-C(=O)N(CH3)2 153ย ยฐC 38 0.944 g/ml
Dimetil sulfoksida (DMSO) CH3-S(=O)-CH3 189ย ยฐC 47 1.092 g/ml
Pelarut Polar Protik
Asam asetat CH3-C(=O)OH 118ย ยฐC 6.2 1.049 g/ml
n-Butanol CH3-CH2-CH2-CH2-OH 118ย ยฐC 18 0.810 g/ml
Isopropanol (IPA) CH3-CH(-OH)-CH3 82ย ยฐC 18 0.785 g/ml
n-Propanol CH3-CH2-CH2-OH 97ย ยฐC 20 0.803 g/ml
Etanol CH3-CH2-OH 79ย ยฐC 30 0.789 g/ml
Metanol CH3-OH 65ย ยฐC 33 0.791 g/ml
Asam format H-C(=O)OH 100ย ยฐC 58 1.21 g/ml
Air H-O-H 100ย ยฐC 80 1.000 g/ml

Dampak kesehatan

sunting

Bahaya kesehatan umum yang terkait dengan paparan pelarut meliputi toksisitas pada sistem saraf, kerusakan reproduksi, kerusakan hati dan ginjal, gangguan pernapasan, kanker, dan dermatitis.[7]

Paparan akut

sunting

Banyak pelarut dapat menyebabkan hilangnya kesadaran secara tiba-tiba jika terhirup dalam jumlah besar. Pelarut seperti dietil eter dan kloroform telah digunakan dalam pengobatan sebagai anestesi, sedatif, dan hipnotik untuk waktu yang lama. Etanol (alkohol biji-bijian) adalah obat psikoaktif yang banyak digunakan dan disalahgunakan. Dietil eter, kloroform, dan banyak pelarut lainnya (misalnya dari bensin atau lem) digunakan sebagai hiburan dalam sniffing lem, sering menimbulkan efek kesehatan jangka panjang yang berbahaya seperti neurotoksisitas atau kanker.

Jika tertelan, alkohol (selain etanol) seperti metanol, propanol, dan etilen glikol memetabolisme menjadi aldehida beracun dan asam, yang berpotensi menyebabkan asidosis metabolik fatal. Dengan demikian, pelarut metanol yang umum tersedia dapat menyebabkan kebutaan atau kematian permanen jika tertelan. Pelarut 2-butoksietanol, yang digunakan dalam fracking fluid, dapat menyebabkan hipotensi dan asidosis metabolik.[8]

Paparan kronis

sunting

Beberapa pelarut termasuk kloroform dan benzena (bahan umum dalam bensin) dikenal sebagai karsinogen, sementara banyak lainnya dipertimbangkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia sebagai kemungkinan merupakan karsinogen. Pelarut dapat merusak organ dalam seperti hati, ginjal, sistem saraf, atau otak. Efek kumulatif dari paparan pelarut jangka panjang atau berulang disebut ensefalopati kronis yang diinduksi pelarut (CSE).

Paparan kronis pelarut organik di lingkungan kerja dapat menghasilkan berbagai efek neuropsikiatrik yang merugikan. Misalnya, paparan kerja terhadap pelarut organik telah dikaitkan dengan jumlah pelukis yang lebih tinggi yang menderita alkoholisme.[9] Etanol memiliki efek sinergis bila dikonsumsi bersamaan dengan banyak pelarut; Misalnya, kombinasi toluena/benzena dan etanol menyebabkan lebih banyak mual/muntah daripada zat baik saja.

Banyak pelarut diketahui atau diduga bersifat katarak, sangat meningkatkan risiko pengembangan katarak di lensa mata.[10] Paparan pelarut juga dikaitkan dengan kerusakan neurotoksik yang menyebabkan gangguan pendengaran.[11][12] dan timbulnya penyakit buta warna.[13]

Lihat pula

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ Tinoco, Ignacio; Sauer, Kenneth and Wang, James C. (2002) Physical Chemistry Prentice Hall hal. 134 ISBN 0-13-026607-8
  2. ^ Lowery and Richardson, hal. 181โ€“183
  3. ^ Srivastava. 2007. Chemistry Vol (1&2). New Delhi: V. K Enterprises.
  4. ^ Lowery and Richardson, hal. 183.
  5. ^ Solvent Properties โ€“ Boiling Point. Xydatasource.com. Diakses tanggal 26 Januari 2013.
  6. ^ Dielectric Constant Diarsipkan 2010-07-04 di Wayback Machine.. Macro.lsu.edu. Diakses tanggal 26 Januari 2013.
  7. ^ U.S. Department of Labor > Occupational Safety & Health Administration > Solvents. osha.gov
  8. ^ Hung, Tawny; Dewitt, Christopher R.; Martz, Walter; Schreiber, William; Holmes, Daniel Thomas (July 2010). "Fomepizole fails to prevent progression of acidosis in 2-Butoxyethanol and ethanol coingestion". Clinical Toxicology. 48 (6): 569โ€“571. doi:10.3109/15563650.2010.492350. PMIDย 20560787.
  9. ^ Lundberg I, Gustavsson A, Hรถgberg M, Nise G (1992). "Diagnoses of alcohol abuse and other neuropsychiatric disorders among house painters compared with house carpenters". Br J Ind Med. 49 (6): 409โ€“15. doi:10.1136/oem.49.6.409. PMCย 1012122. PMIDย 1606027.
  10. ^ Raitta, C; Husman, K; Tossavainen, A (1976). "Lens changes in car painters exposed to a mixture of organic solvents". Albrecht von Graefes Archiv fรผr klinische und experimentelle Ophthalmologie. 200 (2): 149โ€“56. doi:10.1007/bf00414364. PMIDย 1086605.
  11. ^ Campo, Pierre; Morata, Thais C.; Hong, OiSaeng. "Chemical exposure and hearing loss". Disease-a-Month. 59 (4): 119โ€“138. doi:10.1016/j.disamonth.2013.01.003. PMCย 4693596. PMIDย 23507352.
  12. ^ Johnson AC and Morata,, TC (2010). "Occupational exposure to chemicals and hearing impairment. The Nordic Expert Group for Criteria Documentation of Health Risks from Chemicals" (PDF). Arbete och Hรคlsa. 44: 177. Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)
  13. ^ Mergler, D; Blain, L; Lagacรฉ, J. P. (1987). "Solvent related colour vision loss: An indicator of neural damage?". International Archives of Occupational and Environmental Health. 59 (4): 313โ€“21. doi:10.1007/bf00405275. PMIDย 3497110.

Bibliografi

sunting

Pranala luar

sunting

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Kelarutan

terhadap suatu pelarut. Contohnya adalah etanol di dalam air. Sifat ini lebih dalam bahasa Inggris lebih tepatnya disebut miscible. Pelarut umumnya merupakan

Larutan

Larutan ideal mematuhi hukum Raoult, yaitu bahwa tekanan uap pelarut (cair) berbanding tepat lurus dengan fraksi mol pelarut dalam larutan. Larutan yang

Pelarut protik

umum, semua pelarut yang mengandung H+ disebut pelarut protik. Molekul pelarut semacam ini mudah mendonasikan proton (H+) kepada zat terlarut (solut), sering

Emas

asam, meski dapat larut dalam air raja (campuran asam nitrat dan asam klorida), membentuk sebuah anion tetrakloroaurat yang larut. Hanya asam nitrat

Pelarut aprotik polar

Pelarut aprotik polar adalah pelarut yang tidak memiliki proton asam dan bersifat polar. Pelarut semacam ini tidak memiliki gugus hidroksil dan amina.

Pelarut dalam reaksi kimia

terlarut-zat terlarut, dan interaksi antara pelarut-zat terlarut. Jika tarik menarik zat terlarut-pelarut lebih kuat daripada tarik menarik pelarut-pelarut

Larutan dapar

masing-masing komponen asam atau basa lemah, lihat Zat pendapar. Larutan dapar atau Larutan penyangga (lebih tepatnya, dapar pH atau dapar ion hidrogen) (bahasa

Parfum

aroma, fiksatif, dan pelarut yang digunakan untuk memberikan bau wangi pada tubuh manusia, objek, atau ruangan. Jumlah dan jenis pelarut yang bercampur dengan