Infobox orangSuhail bin Amr
Nama dalam bahasa asli(ar) ุณู‡ูŠู„ ุจู† ุนู…ุฑูˆ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ Suntingan nilai di Wikidata
Biografi
Kelahiran556 (Kalender Masehi Gregorius) Suntingan nilai di Wikidata
Makkah Suntingan nilai di Wikidata
Kematian639 Suntingan nilai di Wikidata (82/83 tahun)
Emaus Suntingan nilai di Wikidata
Data pribadi
AgamaIslam Suntingan nilai di Wikidata
Kegiatan
Pekerjaanpembicara Suntingan nilai di Wikidata
KonflikPertempuran Badar dan Pertempuran Yarmuk Suntingan nilai di Wikidata
Keluarga
AnakAbdullah bin Suhail, Abu Jandal bin Suhail Suntingan nilai di Wikidata

Suhail bin Amr (bahasa Arab: ุณู‡ูŠู„ ุจู† ุนู…ุฑูˆ; meninggal tahun 18 H / 639 M) adalah seorang sahabat Nabi Muhammad yang merupakan salah satu tokoh terkemuka di Makkah dan seorang khatib atau orator. Ia masuk Islam setelah penaklukan Makkah tepatnya setelah Pengepungan Thaif. Putranya, Abdullah bin Suhail, terlebih dahulu masuk Islam.

Kehidupan

sunting

Suhail adalah salah satu tetua Mekkah pada masa-masa awal Islam. Ia termasuk di antara mereka yang bertugas memberi makan para jamaah haji. Ia adalah salah satu pemimpin yang menolak melindungi Muhammad sekembalinya dari Thaif pada tahun 620, dengan mengatakan, "Amir bin Luayy tidak memberikan perlindungan terhadap klan Kaab," yang terakhir merupakan mayoritas kaum Quraisy.[1]

Pada tahun 622, kaum Quraisy mendengar bahwa beberapa jamaah haji dari Madinah telah bertemu dengan Muhammad di Aqaba dan berjanji untuk memerangi mereka. Suhail dan beberapa orang lainnya mengejar orang-orang Madinah dan menangkap salah satu pemimpin mereka, Sa'ad bin Ubadah. Mereka mengikat tangannya ke leher dengan ikat pinggangnya sendiri dan menyeretnya dengan menarik rambutnya kembali ke Mekkah, sambil memukulinya di sepanjang perjalanan. Sa'ad berkata bahwa ia berharap Suhail akan memperlakukannya dengan baik, tetapi Suhail justru memberikan "pukulan keras di wajahnya". Namun, ketika Sa'ad meminta bantuan, kaum Quraisy menyadari bahwa ia memiliki sekutu di Mekah dan mereka pun melepaskannya.[1]

Pertempuran Badar

sunting

Pada tahun 624, Suhail dan putranya, Abdullah, berangkat bersama pasukan Quraisy untuk menemui kafilah Abu Sufyan. Ketika mereka tiba di Badar, tempat pasukan Muhammad menunggu, Abdullah meninggalkan kaum Quraisy dan bergabung dengan pihak Muslim dalam Pertempuran Badar.โ€Š Setelah kalah dari pertempuran Badar, Suhail termasuk di antara mereka yang ditangkap dan ditawan dalam pertempuran tersebut. Umar menawarkan untuk merontokkan dua gigi depannya agar "lidahnya akan menjulur keluar dan ia tidak akan pernah bisa berbicara menentangmu lagi;" tetapi Muhammad tidak mengizinkannya.[2]โ€Š Ia sempat melarikan diri dengan pura-pura kencing hingga lepas dari pengawasan Malik bin Ad-Dukhsyum, lalu dikejar kembali oleh muslimin hingga ditemukan di pepohonan.[3]

Suhail dibawa ke Madinah dengan tangan terikat di lehernya. Putrinya, Sahlah binti Suhail yang telah berislam hanya bisa melihat ayahnya dibawa sebagai tawanan. Suhail dibawa ke rumah mantan saudara iparnya, Sauda, yang mengenang,"Saya hampir tidak dapat menahan diri ketika melihat Abu Yazid dalam keadaan ini dan saya berkata, 'Wahai Abu Yazid, kamu menyerah terlalu mudah! Kamu seharusnya mati dengan mulia!'" lupa bahwa dia telah bertempur di pihak lawan-lawannya. Pada waktunya Mikraz bin Hafs ibn al-Akhyaf datang untuk menegosiasikan tebusan Suhail,[4] yang disetujui Muhammad untuk diambil dengan unta. Karena Mikraz tidak membawa hewan-hewan tersebut, ia tetap tinggal di Madinah sebagai jaminan sementara Suhail kembali ke Mekah untuk mengatur pembayaran.[1]

Hudaibiyah

sunting

Suhail berperan penting dalam penyelesaian Perjanjian Hudaybiyyah pada tahun 628. Ia bersikeras agar perjanjian tersebut ditandatangani dari pihak Muslim sebagai Muhammad, putra Abdullah (Muhammad ibn Abdullah), bukan Nabi Muhammad, dengan mengatakan bahwa pihak Quraisy tidak menerima kenabiannya. Namanya tertulis sebagai perwakilan Quraisy.[5]

Sebelum perjanjian itu selesai, putra Suhail, Abu Jandal, muncul dan mengatakan bahwa ia seorang Muslim dan ingin pergi ke Madinah. Suhail menampar wajahnya dan mengingatkan Muhammad bahwa mereka baru saja sepakat bahwa tidak ada orang Mekah yang diizinkan membelot ke Madinah. Muhammad setuju, dan Abu Jandal harus kembali ke Mekah. Umar berjalan di sampingnya, menawarkan pedang, yang ia harap akan digunakan Abu Jandal untuk membunuh ayahnya; Namun Abu Jandal tidak menerimanya.[1]

Ketika Muhammad menunaikan Umrah Qadha, setelah hari ke-4, Suhail datang mengingatkan bahwa waktunya sudah selesai untuk kembali ke Madinah.[6] Suhail bergabung dengan Ikrimah bin Abi Jahl dalam perlawanan terakhir Mekah melawan Muhammad di Jalur Khandama. Namun, perlawanan tersebut dipadamkan oleh pasukan berkuda Khalid bin al-Walid.[1]

Masuk Islam

sunting

Ketika Muhammad memasuki Mekah sebagai penakluk, Suhail dimaafkan bersama semua orang lainnya setelah dibantu anaknya bicara dengan Muhammad. Muhammad memberinya hadiah seratus unta "untuk memenangkan hatinya" setelah Pengepungan Thaif, lalu ia berislam di Ji'ranah[7] (Utara Mekah), tempat Muhammad memulai niat untuk Umrah. Saat Haji Wada, Suhail berkurban beberapa ekor unta dan mengambil potongan rambut Muhammad.[3] Ia sering mendengar lantutan ayat Quran yang dibacakan Muadz bin Jabal selaku pendakwah di Mekah.[8]

Az-Zubair bin Bakkar berkata, "Setelah Suhail memeluk Islam, maka dia sering shalat, berpuasa dan bersedekah. Suhail bersama jamaahnya berangkat ke Syam untuk berjihad. Dikatakan bahwasanya dia sering berpuasa dan bertahajud hingga wajahnya berubah terlihat pucat. Dia sering menangis ketika mendengar ayat-ayat suci Al-Qur'an dilantunkan. Dia menduduki jabatan amir pasukan membawahi Kardus (jumlah besar pasukan) pada Perang Yarmuk."[7]

Ia ikut serta dalam pertempuran Yarmuk bersama kaum Muslim dengan membawa keluarganya dengan semangat tinggi.[9] Ia tidak berniat kembali ke Mekah setelah berjihad ke Syam.[10]

Kematian

sunting

Suhail meninggal sebagai penakluk Suriah selama Wabah Amwas.[11] Dalam riwayat lainnya ia terbunuh dalam Pertempuran Yarmuk bersama Ikrimah bin Abu Jahal.[12]

Referensi

sunting
  1. ^ a b c d e Al-Mubarakfuri, Shafiyyurrahman (2012). Sirah Nabawiyah. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. ISBN 978-602-98968-3-1
  2. ^ BASTONI, HEPI ANDI (2015-10-03). MANAJEMEN KEMENANGAN: BELAJAR DARI PERANG BADAR. Pustaka Bustan. hlm.ย 190. ISBNย 978-979-1324-32-8. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. ^ a b Jam'ah, Ahmad Khalil (2022-08-25). Putri-Putri Sahabat Rasulullah. Darul Falah. hlm.ย 187. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. ^ Al-Muafiri, Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam (2020-12-18). Sirah Nabawiyah lbnu Hisyam: Jilid 1 (dalam bahasa Melayu). Darul Falah. hlm.ย 629. ISBNย 978-979-3036-16-8. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  5. ^ Mu'nis, Prof Dr Husain (2022-07-20). Quraisy: Dari Kabilah Makkah Ke Peradaban Dunia. Pustaka Al-Kautsar. hlm.ย 465. ISBNย 978-979-592-984-0. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  6. ^ Ridha, Muhammad (2021-05-01). Perang Khaibar serta Masuk Islamnya โ€˜Amr Ibnul โ€˜Ash dan Khalid Bin Walid. Hikam Pustaka. hlm.ย 21. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  7. ^ a b Ash-Shallabi, Prof Dr Ali Muhammad. Sejarah Lengkap Rasulullah Jilid 2. Pustaka Al-Kautsar. hlm.ย 441. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  8. ^ Al-Basya, DR Abdurrahman Ra'fat (2016-03-02). Sirah 65 Sahabat Rasulullah: Kisah Kehidupan dan Perjuangan 65 Sahabat Rasulullah Pilihan (dalam bahasa Melayu). Zikrul Hakim Bestari. hlm.ย 548. ISBNย 978-602-342-061-2. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  9. ^ Rinanda, Julfa (2023-03-23). Heroiknya Sahabat Rasulullah. Universe Library. hlm.ย 653. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  10. ^ Khalid, Khalid Muhammad (2017-03-20). Biografi 60 Sahabat Rasulullah S.A.W. Qisthi Press. hlm.ย 391. ISBNย 978-979-1303-73-6. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  11. ^ Kamil Salman Al-Jabburi (2003). ู…ุนุฌู… ุงู„ุฃุฏุจุงุก ู…ู† ุงู„ุนุตุฑ ุงู„ุฌุงู‡ู„ูŠ ุญุชู‰ ุณู†ุฉ 2002ู… (dalam bahasa Arab). Vol.ย 3. Beirut: Dar Al-Kotob Al-Ilmiyah. hlm.ย 103. ISBNย 978-2-7451-3694-7. LCCNย 2003489875. OCLCย 54614801. OLย 21012293M. Wikidataย Q111309344.
  12. ^ Lee, Fizah (2020-02-07). "Itsar Dan Kisah Tiga Sahabat Dalam Perang Yarmuk". tzkrh.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-08-18.

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Suku Quraisy

'Amir bin Luay bin Ghalib bin Fihr. Beberapa anggota klan: Suhail bin Amr Abu Jandal bin Suhail Abdullah bin Suhail Abdullah bin Sa'ad Wahb bin Sa'ad

Abdullah bin Suhail

Abdullah bin Suhail bin Amr (bahasa Arab: ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ุจู† ุณู‡ูŠู„ ุจู† ุนู…ุฑูˆcode: ar is deprecated ) adalah seorang sahabat Nabi Muhammad yang berasal dari klan

Perjanjian Hudaibiyyah

Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Ini perjanjian antara Muhammad dan Suhail bin Amr, perwakilan Quraisy. Tidak ada peperangan dalam jangka waktu sepuluh

Sahabat Nabi

Sufyan bin Abdullah ats-Tsaqafi Sufyan bin 'Auf Suhail bin Amr Suraqah bin Malik Syaddad bin Aus Syafiโ€™ bin As-Saโ€™ib Syaibah bin Utsman Syuja' bin Wahab

Saudah binti Zam'ah

Amr bin Zaid. Awalnya Saudah menikah dengan sepupunya Sakran bin Amr saudara Suhail bin Amr, kemudian mereka bersama hijrah ke Habasyah (Ethiopia) lalu

Amr bin Ash

Amr bin al-Ash bin Wa'il bin Hasyim (bahasa Arab: ุนู…ุฑูˆ ุจู† ุงู„ุนุงุต ุจู† ูˆุงุฆู„ ุจู† ู‡ุงุดู…code: ar is deprecated ; 664โ€”573) atau Amru bin al-Ash atau Amru bin Ash

Abu Hudzaifah bin Utbah

Sufyan. Ibunya bernama Fatimah binti Shafwan bin Umayyah, istrinya bernama Sahlah binti Suhail bin Amr. Abu Hudzaifah bertubuh tinggi, tampan dan bergigi

Abu Jandal bin Suhail

Hudaibiyyah. Abu Jandal juga merupakan saudara Abdullah bin Suhail dan putra Suhail bin Amr bin Abdu Syams, seorang orator Quraisy dari Bani Amir. Abu