Kebenaran artikel ini dipertanyakan. Kemungkinan isinya berupa hoaks. (Kaili-Bare'e) |
Artikel ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan. |
Suku Kaili-Bare'e (Tidak)[1] (To Kaili-Bare'e, Tau Bare'e, atau Orang Bare'e) ialah nama suatu suku yang berasal dari Kabupaten Poso, dan Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah, Indonesia, asal-usul Suku Kaili-Bare'e yaitu berasal dari sejarah berdirinya Kerajaan Tojo tahun 1770 dengan raja pertama Kerajaan Tojo yaitu Pilewiti.
Dua gadis suku Kaili-Bare'e menyambut tamu dengan memakai pakaian adat inodo dengan rok bersusun | |
| Daerah dengan populasi signifikan | |
|---|---|
| |
| Bahasa | |
| Bahasa Kaili-Bare'e (artinya tidak), dan Indonesia. | |
| Agama | |
| Islam, dan Lamoa | |
| Kelompok etnik terkait | |
| Suku Kaili. |

Suku Kaili-Bare'e atau bahasa Belandanya Bare'e-Stammen (Lihat Buku De Bare'e-Sprekende Toradja Van Midden Celebes jilid 1 halaman 119)[2] adalah orang yang berasal dan tinggal di Wilayah Kerajaan Tojo, yang wilayah Kerajaan Tojo tersebut yaitu To Lage, To Tora'u, To Lalaeyo, dan To Rato Bongka.
Jadi ada Suku Bare'e ToLage, Suku Bare'e ToLalaeyo, Suku Bare'e ToTora'u, dan Suku Bare'e Taa atau Suku Taa (To Rato Bongka). Batas Barat dari Wilayah Suku Bare'e yaitu Tolage yang berada di Sausu.
Suku Bare'e To Lage (ToLage) batas utara wilayahnya dari Kecamatan Sausu, Tana Poso, sampai Desa Marompa kecamatan Tojo Barat, batas selatannya adalah wilayah Lore kecuali Napu sampai Kecamatan Pamona selatan yang sekarang termasuk Lamusa, Puumboto, puumbana, dan pakambia, Dan Batas Timur dari Suku Bare'e adalah sampai di Wilayah Pati-Pati.[1]
Adanya penilaian terhadap pembawaan seorang Suku Bare'e, yaitu : "Seperi air sungai yang mengalir hingga ke laut", itu artinya adalah kebiasaan dari penduduk suku bare'e yang membuat rumah tempat tinggal mereka dimulai dari sungai-sungai sampai ke pinggir pantai di tepi laut (Teluk Tomini), rumah-rumah tersebut bisa didapati dimulai dari ujung sungai yang terjauh dari mulut pantai sampai yang terdekat dari laut Teluk Tomini, bahkan hingga ke pinggir pantai. Hal tersebut dilakukan oleh penduduk suku bare'e untuk menghindar dari serangan musuh yang sering melalui Teluk Tomini, jadi rumah penduduk suku bare'e dibikin agak jauh dari laut.[2]
Bahasa Bare'e
suntingWalaupun Kerajaan Tojo sukunya adalah Bare'e dengan bahasa utamanya adalah bahasa Bare'e, tetapi menurut Ada' (adat Bare'e) sebenarnya ada 3 bahasa yang dipakai di Tana Nto Bare'e (wilayah suku Bare'e)[3] yaitu Bahasa Bare'e,[4] Bahasa Taa, dan Bahasa Onda'e (Nde'e), yang mana Bahasa Taa, dan Bahasa Onda'e (Nde'e) tersebut asal-usul bahasanya adalah berasal dari Bahasa Bare'e sebagai induk dari Bahasanya Suku Bare'e.[5] Sementara Luwu Timur dan juga Wotu di provinsi sulawesi selatan bukan berbahasa Bare'e. Bahasa Bare'e (Bare'e-Taal) adalah bahasa yang digunakan oleh Kerajaan Tojo di wilayah tempat tinggal suku bare'e yang disebut TanaNto Bare'e. Bahasa Bare'e tidak sampai ke Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan apalagi Wotu.[butuh rujukan]
Suku Bare'e Tahun 1900an
suntingDi Poso tahun 1907, Suku Bare'e mulai di data oleh pemerintah Hindia Belanda, Suku Bare'e di catat dengan nama Suku Bare'e atau Bare'e-Stammen dengan Bahasa Bare'e sebagai Bahasa Bare'e atau Bare'e-Taal yang digunakan di wilayah Suku Bare'e atau Het Bare'e, dan pemerintah Hindia Belanda juga mulai melakukan taktik Politik pecah belah wilayah Suku Bare'e yang sebelumnya hanya 4 wilayah yaitu : ToRato Bongka, ToLalaeyo, ToTora'u, dan ToLage, dipecah menjadi beberapa daerah baru seperti To Puumboto, To Onda'e, To Pebato, To Bancea, dll, dan setiap wilayah baru diangkat seorang pemimpin Landschap (wilayah bentukkan Hindia Belanda) yang berpangkat dalam Bahasa Bare'e: Mokole Bangke, dan dalam hal taktik Politik pecah belah, pemerintah Hindia Belanda bekerjasama dengan Misionaris Kristen dari Belanda.[6]
Taktik Politik pecah belah oleh pemerintah Hindia Belanda tersebut semakin menjadi-jadi yaitu dimulai dari temuan Hindia Belanda dengan adanya Batu Menhir Watu Mpogaa di Tentena, dan juga dengan melakukan beberapa tradisi dari umat Kristen di Tana Poso untuk menyebarkan adat istiadat dan budaya Suku Bare'e yang memengaruhi suku-suku di luar Suku Bare'e yaitu tradisi mengatakan bahwa "orang Sausu dan Parigi berasal dari daerah aliran sungai Poso setelah terjadi peristiwa Watu Mpogaa. Konon mereka membawa tanaman sinagoeri dari Danau Poso. Ceritanya, semak ini menjadi pohon. Pohon dari Danau Poso ini sekarang digunakan di Parigi sebagai tiang utama rumah kepala lanskap. Namun patut diduga bahwa Orang Parigi aslinya berasal dari Teluk Palu, begitu pula dengan masyarakat Ampibabo yang tinggal di sebelah utara mereka, yang bahkan lebih murni memiliki ciri-ciri kelompok Parigi-Kaili".[7]
Begitu halnya dengan wilayah To Kulawi dengan mengatakan bahwa "To Kulawi memiliki Tadulako yang berasal dari Roh Anitu (roh perang)[8] seperti halnya Suku Bare'e di Grup Poso-Tojo", padahal yang sebenarnya hanya Suku Bare'e lah yang percaya dan memiliki Roh Anitu, dan Roh Anitu[9] berasal dari Bahasa Bare'e, sementara To Kulawi yang memiliki adat istiadat dan budaya Suku Bare'e adalah To Kulawi bentukkan pemerintah Hindia Belanda yang seperti halnya orang-orang parigi yang dibawa pemerintah Hindia Belanda dari pulau Jawa dan beragama Kristen. Jadi seperti halnya tradisi "Tanaman sinagoeri dari danau poso" yang memengaruhi orang Parigi supaya percaya bahwa orang parigi berasal dari Danau Poso.
Tradisi dari umat Kristen di Tana Poso mengenai sausu dan parigi dipraktikkan oleh pemerintah Hindia Belanda yaitu mula-mula dengan membawa orang-orang dari pulau Jawa yang telah beragama Kristen ke wilayah Poso-Tojo di Sulawesi, setelah itu memaksakan suatu cerita Legenda atau tradisi dari Suku Bare'e kepada suku selain Suku Bare'e, dan tahap akhir dari Misionaris Belanda di Sulawesi Tengah yaitu membawa orang-orang yang telah beragama Kristen yang telah terpengaruh tadi dari daerah asalnya ke wilayah Saloe Magoe dan Wotu, di Luwu Timur, dengan mengikuti Legenda Desa Pamona Watu Mpogaa, dan jadilah mereka Suku To Lampu (To Lampoe). Jadi Pamona adalah nama Desa yaitu Desa Pamona yang dibuktikan dengan Menhir Watu Mpogaa, dan mereka disebut Suku To Lampu (To Lampoe) yang beragama kristen, yang tunduk pada Kerajaan Luwu.[10]
Rumah adat Lobo
sunting
Rumah adat Lobo (Lobo) adalah sebuah rumah adat yang berasal dari Kabupaten Poso dan Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah.
Rumah Adat Lobo menggunakan konstruksi berciri khas rumah adat di Provinsi Sulawesi Tengah yang tidak ada di provinsi lain di Indonesia. Rumah adat Lobo ini terbuat dari kayu hitam eboni. Tahun 1914 di wilayah Tojo, Lobo masih bisa didapati di beberapa desa, terutama di Taliboi dan Makoepa (makupa).[1]
Lobo sudah tercatat di museum provinsi Sulawesi Tengah sebagai Rumah adat yang dimiliki oleh Suku Bare'e.[11]
Suku Bare'e mengatakan : " Ohaio !, Orang Tojo kemana-mana selalu membawa Lobonya ".[12]
Baju adat Inodo
suntingInodo adalah Pakaian adat tradisional Suku Bare'e yang berasal dari Kabupaten Tojo Una-una, Sulawesi Tengah.
Pakaian adat tradisional Inodo jika menggunakan hijab dengan ikat kepala kecil dari kain yang dirajut yaitu Tali Bonto, atau kalau laki-laki dari Suku Bare'e dipakaikan dengan kain ikat kepala yang dinamakan Siga.
Lamoa
suntingLamoa[1] adalah bentuk kepercayaan lama kepada tuhan PueMpalaburu (Pue Mpalaburu) yang dipraktikkan dan dianut oleh semua penduduk asli Suku Bare'e, di Sulawesi Tengah.
Bentuk peribadatannya disebut "Molamoa" yaitu membentuk lingkaran dengan berpegangan tangan, ataupun tanpa berpegangan tangan. Tadulako melakukan pengayauan karena dorongan kepercayaan mereka dimana diajarkan apabila ada musibah seperti panen gagal atau ada anggota masyarakat yang meninggal maka mereka harus mencari tengkorak kepala orang sebagai penolak bala. Demikian lalu tengkorak kepala yang didapatkan dari hasil pengayauan di letakan di tengah Lobo, lalu dalam rangka ibadah Molamoa kepada Pue Mpalaburu kemudian ditarikan oleh masyarakat suku bare'e secara melingkar dengan gaya yang sama seperti yang kita kenal sekarang dengan nama "Dero atau Modero.[13]
Alam Dunia : Dunia Atas dan Dunia Bawah
suntingAlam Dunia[1] yaitu konsep alam dalam kepercayaan Suku Bare'e bahwa alam dunia itu terbahagi menjadi dua bagian yaitu dunia bahagian atas dan dunia bahagian bawah.
1. Dunia bagian atas ialah daratan yang letaknya antara langit dan bumi,dan
2. Dunia bagian bawah terbagi 2 yaitu bumi dan lautan.
Keterangan :
1. Dunia bagian atas ialah daratan yang letaknya antara langit dan bumi, Langit dilukiskan berbentuk sebuah lingkaran atau persegi empat menghubungkan arah mata angin yang dilambangkan sebagai alam dunia.
2. Dunia bagian bawah terbahagi 2, yaitu :
2.a Kepercayaan dunia bagian bawah ialah bumi, dan
2.b Kepercayaan dunia lautan.
Tadulako
sunting
Tadulako bagi Suku Bare'e terdiri dari kata Tadu yang artinya pemimpin, imam atau pemimpin ibadah Lamoa, dan lako artinya pergi. Jadi Tadulako adalah Seorang pemimpin yang menunjukkan bagaimana cara pergi. Orang-orang ini bukan pendukung, tetapi semacam imam bagi ibadah Lamoa bagi tuhannya Suku Bare'e yaitu Pue Mpalaburu yang ibadahnya disebut Molamoa yang gerakannya disebut Dero atau Modero.
Momparilangka
sunting
Semua wanita dari Suku Bare'e harus mengikuti Adat istiadat Momparilangka dengan menggunakan Baju adat Dukun wanita (Wurake, Vurake) minimal lebih dari sekali dalam seumur hidupnya. Kaum wanita dari Suku Bare'e yang harus mengangkat derajatnya sebagai wanita dari suku bare'e sampai setinggi-tingginya sebelum tinggal menetap diwilayah suku bare'e, dan langit adalah tempat yang tinggi dimaksud. Dengan Momparilangka atau biasa juga disebut Pakawurake bisa diartikan bahwa seorang wanita belum lengkap menjadi wanita dari Suku Bare'e kalau belum pernah mengikuti Pesta Momparilangka minimal lebih dari sekali dalam seumur hidupnya.
Struktur Keluarga Suku Bare'e
suntingSeorang kepala keluarga dari Suku Bare'e disebut Tadulako,[14] dan istri dari Tadulako disebut Tadumwurake atau kadang hanya disebut Wurake saja karena pengaruh pembagian kasta pada Suku Bare'e, dan Tadumwurake merupakan kasta tertinggi dari para Wurake (penyihir).[15] Dan anak-anak dari keluarga Suku Bare'e bertindak sebagai calon Tadulako (Bahasa Bare'e;Kede ;Ende;anak laki-laki), dan calon Tadumwurake atau Wurake (Bahasa Bare'e;Mea;Bea;anak perempuan).[16]
Kerajaan Tojo
suntingKerajaan Tojo (ejaan Van Ophuijsen: Todjo) adalah sebuah kerajaan yang terletak di Provinsi Sulawesi Tengah. Awal sejarah terbentuknya Kerajaan Tojo, bermula dari penjemputan bakal raja Pilewiti oleh orang dari langit yang bernama Talamoa dari Sausu menuju Tanjung Pati-Pati.[1]
Arajang Kerajaan Tojo
suntingDi zaman Hindia Belanda, pemerintah koloni Hindia Belanda selalu beralasan yang punya Tana Poso adalah "Pangeran Bone", tetapi Kerajaan Tojo menanggapi pihak Belanda dengan sangat tenang, karena Kerajaan Tojo memiliki Tombak Arajang pemberian dari Kerajaan Bone dari Sulawesi Selatan sewaktu mendirikan Kerajaan Tojo tahun 1770 oleh Raja Tojo Pilewiti yang merupakan sepupu Raja Bone.
Referensi
sunting- ^ a b c d e f Adriani, N. (1912). De Bare'e-sprekende Toradja's van Midden-Celebes (dalam bahasa Nederlands). Landsdrukkerij. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
- ^ a b "Gevonden in Delpher -". www.delpher.nl (dalam bahasa Belanda). Diakses tanggal 2023-10-01.
- ^ Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta | Perpustakaan Museum Negeri Sonobudoyo.
- ^ BARE'E-TAAL, De Bare'e-Sprekende de Toradja Van midden celebes jilid 1 halaman 119, [1].
- ^ "Studi Masyarakat Indonesia | PDF". Scribd. Diakses tanggal 2023-10-01.
- ^ POSSO, Halaman 151: krokodilzwemmen, kematian Lazarus yang berbaju apa adanya (To Lampu). [2].
- ^ VERSPREIDING VAN DE POSSO’SCH-TODJO’SCHE GROEP, page 6.[3].
- ^ Chapter. TADOELAKO TO KOELAWI.[4].
- ^ De Bare'e-Sprekende de Toradja van midden celebes jilid 1 halaman 285, DE GEESTEN INDEN DORP STEMPEL,[5].
- ^ LEGENDA DESA PAMONA (DORP PAMONA), "pamona bukan nama suku, tetapi pamona hanya nama desa, suku pamona yang asli adalah Suku To Lampu (To Lampoe) yang beragama kristen", halaman 5.[6].
- ^ MINIATUR RUMAH ADAT LOBO SUKU BARE'E, di Museum Provinsi Sulawesi Tengah.[7].
- ^ OHAIO-LIEDEREN (LAGU OHIO !), RUMAH ADAT LOBO SEBAGAI SIMBOL ADAT ISTIADAT DAN BUDAYA SUKU BARE'E, suku bare'e di tojo kemana-mana selalu membawa Lobo-nya, De Bare'e-Sprekende de Toradja van midden celebes jilid 3, halaman 593.[8].
- ^ Adriani, N. (1919). Posso (dalam bahasa Nederlands). Boekhandel van den Zendingsstudie-Raad. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
- ^ TADULAKO, De Bare'e-Sprekende de Toradja in midden celebes Eerste Deel, jilid 1 halaman 365 , [9].
- ^ XII.PRIESTERESSEN, De Bare'e-Sprekende de Toradja in midden celebes Eerste Deel, jilid 1, halaman 364-365 , [10].
- ^ KELUARGA BARE'E-STAMMEN, De Bare'e-Sprekende de Toradja in midden celebes Eerste Deel, jilid 1, halaman 364-365 , [11].