Topan Muroto (1934)
Analisis cuaca permukaan terhadap topan di dekat Jepang pada 21 September
Sejarah meteorologi
Terbentuk13 September 1934
Ekstratropis21 September 1934
Menghilang25 September 1934
Topan
10-minute sustained (JMA)
Angin tertinggi80
Hembusan angin tertinggi126
Tekanan terendah911,9 hPa (mbar); 26,93 inHg
(Rekor terendah untuk badai yang melanda daratan Jepang)
Efek keseluruhan
Korban jiwaTotal 3066
Kerusakan≥$300 juta (1934 USD)
Daerah yang terkena dampakJepang, Alaska
IBTrACSSunting di Wikidata

Bagian dari Musim topan Pasifik 1934

Pada September 1934 (tahun Showa ke-9), sebuah topan dahsyat menyebabkan kerusakan hebat di Jepang, dengan lebih dari 3.000 orang tewas. Diberi nama Topan Muroto (室戸台風, Muroto Taifū),[1] sistem ini pertama kali diidentifikasi pada tanggal 13 September di barat Federasi Mikronesia. Setelah bergerak condong ke barat laut, topan ini akhirnya tiba di Kepulauan Ryukyu pada tanggal 20 September. Topan lalu berbelok ke timur laut, kecepatannya bertambah dan menghantam Shikoku dan selatan Honshu pada pagi berikutnya. Angin topan lalu mendarat di Muroto, Kaifu, Pulau Awaji, dan Kobe. Tekanan sebesar 911,9 hektopascal (26,93 inHg) tercatat di Muroto, menjadi tekanan udara daratan terendah di seluruh dunia yang pernah tercatat, meski akhirnya dikalahkan pada tahun berikutnya dalam badai Hari Buruh 1935. Setelah melintasi Jepang, badai ekstratropis tersebut bergerak ke timur lalu melemah. Berbelok ke utara pada tanggal 24 September, sistem tersebut kembali menguat dan menerjang Kepulauan Aleut; dan menghilang pada hari berikutnya di barat Alaska.

Dianggap sebagai "bencana terbesar kedua di Jepang modern" setelah Gempa Besar Kantō 1923, Topan Muroto meluluhlantakkan sebagian besar Osaka. Puluhan ribu bangunan rusak atau hancur, menyebabkan sekitar 200.000 orang kehilangan tempat tinggal. Di antara 3.066 orang yang tewas, terdapat 421 anak-anak dan guru yang meninggal karena tertimpa reruntuhan sekolah mereka. Hal ini menjadikannya topan paling mematikan dalam sejarah Jepang di masa itu. Selain korban jiwa, 13.184 orang terluka. Total kerugian ditaksir melebihi 300 juta dolar AS (1934 USD).

Sejarah meteorologi

sunting
Peta yang menggambarkan jalur dan kekuatan badai, menurut skala Saffir–Simpson
Map key
  Depresi tropikal (≤38 mph, ≤62 km/h)
  Badai tropikal (39–73 mph, 63–118 km/h)
  Kategori 1 (74–95 mph, 119–153 km/h)
  Kategori 2 (96–110 mph, 154–177 km/h)
  Kategori 3 (111–129 mph, 178–208 km/h)
  Kategori 4 (130–156 mph, 209–251 km/h)
  Kategori 5 (≥157 mph, ≥252 km/h)
  Tidak diketahui
Tipe badai
▲ Siklon ekstratropikal / Sisa badai / Gangguan tropis / Depresi monsoon

Pada tanggal 13 September 1934, badai tropis ini terbentuk di Kepulauan Caroline bagian barat. Badai tersebut awalnya bergerak condong ke barat laut, lalu melakukan putaran siklon singkat pada tanggal 14–15 September. Setelah bergerak hampir lurus ke utara pada tanggal 17 September, badai tropis mulai berbelok ke timur laut. Badai tersebut mencapai tenggara Kepulauan Ryukyu pada 20 September saat berakselerasi menuju timur laut. Pada pagi hari tanggal 21 September, topan tersebut menghantam pulau utama Shikoku dan Honshu.[2] Menurut Observatorium Meteorologi Pusat (sekarang Badan Meteorologi Jepang), kecepatan angin maksimum yang berkelanjutan mencapai 150 km/jam (90 mil/jam),[3] dengan hembusan melebihi 215 km/jam (130 mil/jam).[4]

Topan tersebut pertama kali mendarat di Muroto di Prefektur Kōchi, sehingga dijuluki "topan Muroto".[4] Tekanan barometrik terendah yang pernah tercatat di dunia untuk stasiun pengamatan di darat sebesar 911,9 hektopascal (26,93 inHg) di Muroto.[5][6][7] Meskipun angka tersebut dikalahkan kurang dari setahun kemudian saat badai Hari Buruh 1935 di Florida, angka tersebut tetap menjadi nilai terendah yang pernah dicatat di daratan Jepang dan terendah ketiga di seluruh negeri.[5][6] Badai tersebut sempat muncul di atas Selat Kii sebelum menghantam Distrik Kaifu di Prefektur Tokushima. Sistem tersebut kemudian melewati Selat Kii sekali lagi dan mampir di Pulau Awaji. Setelah sempat berada di atas air, badai tersebut mendarat tepat di Kobe, Prefektur Hyōgo, hanya 30 kilometer (19 mi) di sebelah barat Osaka. Tekanan barometrik sebesar 954,3 hektopascal (28,18 inHg) teramati di Osaka.[4] Setelah melintasi daratan Jepang, badai tersebut melewati Laut Jepang sebelum memasuki utara Pulau Honshu.[2]

Kenampakan fron yang menonjol, yang merupakan ciri khas siklon ekstratropis, berkembang pada akhir tanggal 21 September, dengan fron dingin yang meluas ke selatan sejauh Filipina.[8] Sistem tersebut terus bergerak ke arah timur dan terakhir tercatat dalam International Best Track Archive pada tanggal 22 September bergerak menjauh dari Hokkaido.[2] Analisis cuaca permukaan menggambarkan sistem tersebut terus bergerak ke timur, melintasi Garis Tanggal Internasional (180°) pada tanggal 23 September. Selama waktu ini, tekanan pusatnya naik menjadi sekitar 985–990 hektopascal (29,1–29,2 inHg).[9][10] Pada tanggal 24 September, badai berbelok ke utara menuju Kepulauan Aleut di Alaska dan menguat.[11] Angin berkekuatan 10—89 hingga 102 km/jam (55 hingga 63 mil/jam)—pada skala Beaufort bertiup di sebagian wilayah Kepulauan Aleut dan tekanan 964 hektopascal (28,5 inHg) diamati di dekat 48°00′N 160°30′W / 48°N 160.5°W / 48; -160.5.[12] Setelah melintasi Laut Bering, sistem tersebut mulai menghilang pada tanggal 25 September di barat Teritori Alaska.[13]

Dampak

sunting
Kuil bersejarah Shitennō-ji di Osaka yang porak-poranda akibat badai

Topan Muroto pada waktu itu disebut-sebut sebagai "bencana terbesar kedua di Jepang modern",[14] dan "topan terburuk dalam satu generasi",[3] badai tersebut menyebabkan kerusakan yang luar biasa di Shikoku dan Honshu, dengan daerah di dan sekitar Osaka mengalami efek terparah.[3] Kerusakan yang ditimbulkannya pada saat itu hanya kalah dari Gempa Besar Kantō tahun 1923.[14] Di seluruh Jepang, 3.066 orang tewas,[15] dengan setidaknya 1.665 kematian di Prefektur Osaka, dengan 13.184 lainnya cedera.[16] Hal ini menjadikannya topan paling mematikan dalam sejarah Jepang, hingga Topan Vera pada tahun 1959 yang merenggut nyawa sekitar 5.000 orang.[17][18] Sebanyak 34.262 bangunan hancur, 40.274 lainnya rusak parah,[16] dan 401.157 terendam banjir atau terdampak.[19] Total kerugian jauh melebihi $300 juta (1934 USD).[14] Sekitar 200.000 orang di Osaka kehilangan tempat tinggal,[16] dan setidaknya 250.000 orang memerlukan bantuan.[20]

Di Prefektur Kōchi, tempat badai pertama kali mendarat, hembusan angin kencang berkecepatan hingga 234 km/jam (145 mil/jam)—menyebabkan kerusakan yang luar biasa. Hujan deras turut menyertai badai tersebut. Di seluruh Kōchi, 1.815 rumah hancur dan 6.064 rusak atau terendam banjir; 81 orang meninggal dan 399 lainnya mengalami luka-luka.[21] Enam puluh tiga orang tewas di Muroto ketika gelombang pasang menyapu 550 rumah.[22]

Namun, kerusakan terbesar terjadi di Teluk Osaka bagian timur. Gelombang pasang maksimum setinggi 3,1–4,2 meter (10–14 ft) terjadi di sana, menjadi ombak tertinggi yang pernah terjadi di wilayah tersebut.[4][6] Daerah hingga 8 kilometer (5,0 mi) dari bibir pantai tergenang oleh gelombang badai topan,[19] total area seluas 49,31 kilometer persegi (19,04 sq mi) terendam banjir.[4] Kota Osaka lumpuh akibat topan, listrik padam total, pasokan air mengalami kerusakan signifikan, dan komunikasi terganggu. Angin kencang juga menghancurkan sekolah-sekolah di kota yang dibangun dengan konstruksi yang buruk,[3] menghancurkan 128 bangunan.[23] Di antaranya, setidaknya 421 anak dan guru tewas, sementara 1.100 lainnya mengalami luka-luka.[3] Seorang guru, Masuji Ashida, dipuji sebagai pahlawan karena mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan murid-muridnya dengan menopang pintu keluar kelasnya yang runtuh dengan tubuhnya sendiri; murid-muridnya berhasil melarikan diri sebelum ia tertimpa puing-puing bangunan.[20] Sebuah rumah sakit jiwa di pinggiran kota hanyut terbawa arus dan 60 pasien hilang.[3] Sebuah pagoda lima lantai (dibangun pada tahun 1812) di kuil Shitennō-ji runtuh, menewaskan 3 orang dan 20 lainnya terjebak.[19] Rumah sakit perawatan kusta Sotojima hancur; 260 pasien diyakini tenggelam setelah bangunan runtuh di tengah air yang naik dan angin kencang.[14] Di dekat Ōtsu, Prefektur Shiga, sebuah kereta berpenumpang tergelincir, menewaskan 10 orang dan melukai 165 lainnya.[3]

Sektor industri kota tersebut mengalami kerugian besar, melebihi US$90 juta.[24] Lebih dari 3.000 pabrik hancur dan ribuan lainnya rusak.[14] Program amunisi Angkatan Darat Jepang mengalami kemunduran signifikan karena hancurnya pabrik amunisi.[24] Setidaknya 100 orang tenggelam di pelabuhan kota tempat lebih dari 1.600 kapal laut kandas, tenggelam, atau rusak.[14]

Tiga puluh dari empat puluh enam prefektur di Jepang terdampak oleh bencana tersebut.[24] Kerusakan signifikan terjadi di Prefektur Aichi, Gifu, Kyoto, Nagano, Nagasaki, Tokushima, Tottori, Wakayama, dan Yamanashi.[20][23] Di Kyoto, setidaknya 209 orang tewas dan 858 orang terluka.[20][23]

Penanggulangan

sunting
Reruntuhan bangunan di Nishijin, Kyoto

Segera setelah bencana topan melanda, militer Jepang dikerahkan ke Osaka sebelum malam tiba pada tanggal 21 September dengan air bersih diangkut menggunakan truk.[23] Pejabat di Prefektur Osaka segera mengeluarkan dana bantuan sebesar ¥10 juta.[20] Baron Kichizaemon Sumitomo menyumbangkan ¥1 juta (US$300.000) untuk dana bantuan, sumbangan pribadi terbesar dalam sejarah negeri Jepang pada masanya.[24] Kabinet Jepang menggelar sesi pertemuan khusus untuk membahas operasi darurat.[20] Tiga kapal perusak dari Distrik Angkatan Laut Kure, yang dimuat dengan peralatan medis dan kebutuhan pokok lainnya, dikerahkan untuk membantu pendistribusian bantuan.[24] Wabah demam tifoid, disentri, dan demam Scarlet segera merebak di antara para penyintas.[25]

Dalam rapat kabinet pada tanggal 5 Oktober, Menteri Pendidikan Genji Matsuda menyarankan agar sekolah-sekolah dibangun dengan rangka baja mengingat banyaknya siswa yang tewas.[26] Pembangunan ulang daerah terdampak membutuhkan sekitar 100.000 ton baja.[27] Parlemen Nasional mengadakan rapat khusus pada bulan November untuk membahas penanganan pascabencana.[28]

Setelah bencana tersebut, terjadi peningkatan yang signifikan dalam hal mitigasi dan penanggulangan terhadap peristiwa gelombang badai dan topan. Di seluruh Osaka, pembangunan pemecah gelombang dan tanggul mengurangi risiko banjir di komunitas pesisir, mengurangi risiko korban jiwa-korban selamat dari sekitar 10−3 menjadi 10−7 saat Topan Nancy menerjang pada tahun 1961. Sebelum dimulainya Perang Dunia II, total konstruksi anti-banjir di Osaka mencakup 36,68 kilometer (22,79 mi); Ini mencakup 16,52 kilometer (10,27 mi) di sepanjang sungai dan kanal, 11,08 kilometer (6,88 mi) tanggul, dan 11,08 kilometer (6,88 mi) pemecah ombak. Proyek ini melindungi kota dari gelombang pasang setinggi hingga 3,5 meter (11 ft) di atas Pelabuhan Osaka. Beberapa proyek lain untuk memperluas dan membangun kembali sistem anti-banjir dilakukan pada dekade setelah Perang Dunia II.[4]

Menurut laporan tahun 2010 oleh Dewan Pencegahan Bencana Pusat, jika badai yang serupa dengan topan Muroto tahun 1934 terjadi di zaman modern, akan menewaskan sekitar 7.600 orang.[29]

Referensi

sunting
  1. ^ Hatsuo Ishizaki (15 Oktober 1965). "The Distributions of Damaged Houses and Strong Winds by Typhoons" (PDF). Bulletin of the Disaster Prevention Research Institute. 15 (86). Kyoto University.
  2. ^ a b c Knapp, Kenneth R.; Kruk, Michael C.; Levinson, David H.; Diamond, Howard J.; Neumann, Charles J. (2010). 1934 Missing (1934256N06142). The International Best Track Archive for Climate Stewardship (IBTrACS): Unifying tropical cyclone best track data (Report). Bulletin of the American Meteorological Society. Diarsipkan dari asli tanggal 16 Februari 2016.
  3. ^ a b c d e f g "Typhoon Kills 867 in Japan". Warren Times Mirror. Vol. 35. Tokyo. Associated Press. 21 September 1934. hlm. 1 – via Newspapers.com. publikasi akses terbuka - bebas untuk dibuka
  4. ^ a b c d e f Yoshito Tsuchiya; Yoshiaki Kawata (9 Juni 1986). "Historical Study of Changes in Storm Surge Disasters in the Osaka Area" (PDF). National Disaster Science. 8 (2). Japan Society for Natural Disaster Science: 1–18. ISSN 0388-4090.
  5. ^ a b Kevin Boyle; Gary Padgett (4 Februari 2004). "September 2003 Tropical Weather Summary" (.TXT). Typhoon 2000.
  6. ^ a b c Hiroji Otao (2011). "A Brief Outline of the Ise-Wan Typhoon" (PDF). Coastal Engineering Proceedings. 1 (7): 931–941. doi:10.9753/icce.v7.54.
  7. ^ "Record Barometric Low Set by Typhoon". The Kane Republican. Vol. 41, no. 8. Tokyo. United Press. 25 September 1934. hlm. 1 – via Newspapers.com. publikasi akses terbuka - bebas untuk dibuka
  8. ^ "21 September 1934, Surface Weather Analysis" (PDF). United States Weather Bureau. National Oceanic and Atmospheric Administration. 1934.
  9. ^ "September 22, 1934, Surface Weather Analysis" (PDF). United States Weather Bureau. National Oceanic and Atmospheric Administration. 1934.
  10. ^ "September 23, 1934, Surface Weather Analysis" (PDF). United States Weather Bureau. National Oceanic and Atmospheric Administration. 1934.
  11. ^ "24 September 1934, Surface Weather Analysis" (PDF). United States Weather Bureau. National Oceanic and Atmospheric Administration. 1934.
  12. ^ Willis E. Hurd (September 1934). "North Pacific Ocean, September 1934" (PDF). Monthly Weather Review. 62 (9). American Meteorological Society: 352. Bibcode:1934MWRv...62..352H. doi:10.1175/1520-0493(1934)62<352:NPOS>2.0.CO;2.
  13. ^ "Surface Weather Analysis" (PDF). United States Weather Bureau. National Oceanic and Atmospheric Administration. 25 September 1934.
  14. ^ a b c d e f Glenn Babb (22 September 1934). "Second Greatest Catastrophe for Japan in Typhoon". Corsicana Semi-Weekly Light. Tokyo. Associated Press. hlm. 3.
  15. ^ Pingping Luo; Yousuke Yamashiki; Kaoru Takara; Daniel Nover; Bin He (2010). "Assessment of Japanese and Chinese Flood Control Policies" (PDF). Annuals of Disaster Prevention Research Institute (53 B). Kyoto University: 61–70. Diakses tanggal February 16, 2016.
  16. ^ a b c Bernard F. Doucette (September 1934). "Typhoons in the Far East During September 1934" (PDF). Monthly Weather Review. 62 (9). American Meteorological Society: 353–354. Bibcode:1934MWRv...62..353D. doi:10.1175/1520-0493(1934)62<353:TITFED>2.0.CO;2 – via Weather Bureau.
  17. ^ James Cary (30 September 1959). "Typhoon Vera Officially Japan's Worst Storm". The Florence Times. Vol. 100, no. 183. Tokyo. Associated Press. hlm. 4.
  18. ^ Tilden, Charles E. (1959). 1959 Annual Typhoon Report (PDF) (Report). Annual Tropical Cyclone Report. San Francisco, CA: Joint Typhoon Warning Center. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal February 21, 2013.
  19. ^ a b c "室戸台風襲来!". tanken.com (dalam bahasa Jepang). 4 Oktober 2004.
  20. ^ a b c d e f Ray G. Marshall (22 September 1934). "Japan Counts Dead, Injured in Typhoon". Vol. 8. United Press. hlm. 2 – via Newspapers.com. publikasi akses terbuka - bebas untuk dibuka
  21. ^ "昭和9年の室戸台風: 高知県" (dalam bahasa Jepang). 四国災害アーカイブス. 2016.
  22. ^ "昭和9年の室戸台風: 室戸市" (dalam bahasa Jepang). 四国災害アーカイブス. 2016.
  23. ^ a b c d Glenn Babb (21 September 1934). "Typhoon Takes Over 1,346 Lives On Japan Coast". The Sedalia Democrat. Vol. 66, no. 255. Associated Press. hlm. 1 – via Newspapers.com. publikasi akses terbuka - bebas untuk dibuka
  24. ^ a b c d e "Japan Acts to Aid Area of Typhoon". The Salt Lake Tribune. Tokyo. Associated Press. 22 September 1934. hlm. 2 – via Newspapers.com. publikasi akses terbuka - bebas untuk dibuka
  25. ^ "Disease Stalks Typhoon-Hit Area". Roseburg News-Review. Vol. 37, no. 37. Osaka. Associated Press. 25 September 1934. hlm. 1 – via Newspapers.com. publikasi akses terbuka - bebas untuk dibuka
  26. ^ "Storm-Proof School Plan Urged in Japan". Oakland Tribune. Vol. 121, no. 97. Tokyo. United Press. 5 Oktober 1934. hlm. 20 – via Newspapers.com. publikasi akses terbuka - bebas untuk dibuka
  27. ^ "Expect Autos to Boost Steel". The Evening News. No. 5, 478. Cleveland, Ohio. 15 Oktober 1934. hlm. 8 – via Newspapers.com. publikasi akses terbuka - bebas untuk dibuka
  28. ^ "Veiled Talk of War". The Age. No. 24, 797. Tokyo. 2 Oktober 1934. hlm. 9 – via Newspapers.com. publikasi akses terbuka - bebas untuk dibuka
  29. ^ "Japan's coast menaced by storm surges". The Japan Times. Kyodo News. 23 November 2013.

Pranala luar

sunting

Media terkait 1934 Muroto typhoon di Wikimedia Commons

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Indonesia

dominant rainfall regions within Indonesia and their relationship to sea surface temperature". International Journal of Climatology. 23 (12): 1435–1452

Hujan

tanggal 2011-05-14. Diakses tanggal 2010-01-29. David Roth. "Unified Surface Analysis Manual" (PDF). Hydrometeorological Prediction Center. Diarsipkan dari

Bumi

jarak antara kutub dan khatulistiwa. Pidwirny, Michael (2006-02-02). "Surface area of our planet covered by oceans and continents.(Table 8o-1)". University

Suhu permukaan laut

Suhu permukaan laut (bahasa Inggris: Sea surface temperature; disingkat SST) adalah suhu perairan yang memiliki jarak dekat dengan permukaan lautan. Arti

Polusi udara

PMID 31143547. Aggarwal P, Jain S (2015). "Impact of air pollutants from surface transport sources on human health: A modeling and epidemiological approach"

Daftar padanan istilah bahari

melacak dan memantau aktivitas kapal penangkap ikan. Virtual population analysis (VPA) Analisis populasi maya (APM) Analisis jumlah populasi ikan yang menggunakan

Tanggap bencana

"Heterogeneous Wireless Mesh Network Technology Evaluation for Space Proximity and Surface Applications". SpaceOps 2014 Conference. American Institute of Aeronautics

Musim

thermal seasons, Finnish Meteorological Institute P. D. Jones et al.: Surface Air Temperature and its Changes Over the Past 150 Years, Figure 7 (Seite