Siwa
Dewa pelebur
Yang Mahakuasa (Saiwa)[5]
Anggota Trimurti[6]
Nama lain
Genderpria
Afiliasi
Kediaman
Mantra
Simbol
Senjata
WahanaNandi[9]
Hari
Pemujaan
KepercayaanHindu
Aliranaliran Saiwa
Perayaan
Keluarga
IstriSati, Parwati, dan berbagai manifestasi dari Sakti.
Anak

Siwa (Dewanagari: เคถเคฟเคต;ย ,IAST:ย ลšiva, เคถเคฟเคต), juga dikenal sebagai Mahadewa (Dewanagari: เคฎเคนเคพเคฆเฅ‡เคต;ย ,IAST:ย Mahฤdeva, เคฎเคนเคพเคฆเฅ‡เคต), adalah salah satu dari tiga dewa utama (Trimurti) dalam agama Hindu. Kedua dewa lainnya adalah Brahma dan Wisnu. Dalam ajaran agama Hindu, Siwa adalah dewa pelebur, bertugas melebur segala sesuatu yang sudah usang dan tidak layak berada di dunia fana lagi sehingga harus dikembalikan kepada asalnya.

Karakteristik

sunting
Arca Siwa Di Candi Prambanan, Indonesia

Umat Hindu, khususnya umat Hindu di India, meyakini bahwa Dewa Siwa memiliki ciri-ciri yang sesuai dengan karakternya, yakni:

  • Bertangan empat, masing-masing membawa:
    trisula, camara, tasbih/aksamala, kendi
  • Bermata tiga (tri netra)
  • Mengenakan hiasan kepala berbentuk ardha chandra (bulan sabit)
  • Ikat pinggang dari kulit harimau
  • Hiasan di leher dari ular kobra
  • Kendaraan atau wahana-nya lembu Nandini

Oleh umat Hindu Bali, Dewa Siwa dipuja di Pura Dalem, sebagai dewa yang mengembalikan manusia dan makhluk hidup lainnya ke unsurnya, menjadi Panca Maha Bhuta. Dalam pengider Dewata Nawa Sanga (Nawa Dewata), Dewa Siwa menempati arah tengah dengan warna panca warna. Ia bersenjata padma dan mengendarai lembu Nandini. Aksara sucinya I dan Ya. Ia dipuja di Pura Besakih.

Dalam tradisi Indonesia lainnya, kadangkala Dewa Siwa disebut dengan nama Batara Guru. Adya / Siwa / Pusat / Segala Warna (Cahaya) = peleburan kemanunggalan.

Putra

sunting

Menurut cerita-cerita keagamaan yang terdapat dalam kitab-kitab suci umat Hindu, Dewa Siwa memiliki putra-putra yang lahir dengan sengaja ataupun tidak disengaja. Beberapa putra Dewa Siwa tersebut yakni:

  1. Dewa Kumara (Kartikeya)
  2. Dewa Kala
  3. Dewa Ganesa

Lihat pula

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ "Yogeshvara". Indian Civilization and Culture. M.D. Publications Pvt. Ltd. 1998. hlm.ย 115. ISBNย 978-81-7533-083-2.
  2. ^ Shiva Samhita, e.g. Mallinson 2007; Varenne 1976, hlm.ย 82; Marchand 2007 for Jnana Yoga.
  3. ^ Indian Civilization and Culture. M.D. Publications Pvt. 1998. hlm.ย 116. ISBNย 9788175330832.
  4. ^ Dalal 2010, hlm.ย 436.
  5. ^ "Hinduism". Encyclopedia of World Religions. Encyclopaedia Britannica, Inc. 2008. hlm.ย 445โ€“448. ISBNย 978-1593394912.
  6. ^ Zimmer 1972, hlm.ย 124.
  7. ^ Zimmer 1972, hlm.ย 124โ€“126.
  8. ^ a b Fuller 2004, hlm.ย 58.
  9. ^ Javid 2008, hlm.ย 20โ€“21.
  10. ^ Dalal 2010, hlm.ย 137, 186.
  11. ^ Cush, Robinson & York 2008, hlm.ย 78.
  12. ^ Williams 1981, hlm.ย 62.

Pranala luar

sunting
  • Siwa di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring, Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia
  • Siwa di Wiktionary, the free dictionary
  • Shiva at Encyclopรฆdia Britannica
  • Shaivism, Peter Bisschop, Oxford Bibliographies
  • Shaivism literature, Karl Potter, University of Washington

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Batalyon Infanteri 328

Linud ini berdiri pada tanggal 16 Mei 1958 dengan personel dari eks kompi Syiwa I dan II. Batalyon ini terdiri dari kompi A, B, C, Kompi Markas dan Kompi

Agus Subiyanto

Cilodong untuk selama lebih kurang sembilan bulan untuk menjalani latihan Syiwa Yudha, pelatihan kualifikasi pemburu, anti-teror, dan gerilya. Setelah menjalani

Gajah Mada

mengantarkan Majapahit ke puncak kejayaannya. Ia diketahui menganut keyakinan Syiwa-Budha. Gajah Mada terkenal dengan sumpahnya, yaitu Sumpah Palapa, yang tercatat

Indonesia

dari Wangsa Rajasa. Raden Wijaya lalu mendirikan Majapahit yang bercorak Syiwa-Buddha pada tahun 1293. Majapahit kemudian berkembang menjadi sebuah negara

Pegunungan Dieng

Banjarnegara, Jawa Tengah Candi Sembadra, Banjarnegara, Jawa Tengah Arca dewa Syiwa Trimukha di Museum Dieng Kailasa Daftar gunung berapi di Indonesia Parahyangan

Kompleks Candi Dieng

Kumpulan candi Hindu beraliran Syiwa ini diperkirakan dibangun antara akhir abad ke-7 sampai abad ke-8 dan terletak di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten

Candi Srikandi

Banjarnegara. Fungsinya untuk penyembahan kepada Trimurti yakni Wisnu, Syiwa dan Brahma. Bentuk dan ukuran Candi Srikandi menyerupai kubus dengan dinding

Aturan makan dalam Hindu

dianggap sebagai hewan suci, lambang kehidupan, serta jelmaan dari Dewa Syiwa. Sapi adalah hewan yang harus dirawat dan dilestarikan. Menyembelih, membunuh