HMGNC
Nama lainHomogenic (2002โ€“2015)
AsalBandung, Jawa Barat, Indonesia
Genre
Tahun aktif2002โ€“sekarang
Label
  • FFWD Records (2003-2010)
  • UNKL347 (2011-2012)
  • Papermoon Records (2015-2016)
  • demajors (2017)
  • Hexa Music (2019-sekarang)
Artis terkaitNeonomora, Bottlesmoker, Mocca, The Milo
Situs webhmgnc.net
AnggotaDina Dellyana
Grahadea Kusuf
Amandia Syachridar
Mantan anggotaRisa Saraswati

HMGNC (dibaca Homogenic) adalah kelompok musik Indonesia asal Kota Bandung yang terbentuk pada tahun 2002 oleh Dina Dellyana (synths, programming), Risa Saraswati (vokal; diganti oleh Amandia Syachridar sejak tahun 2010), dan Grahadea Kusuf (synths, programming). Nama โ€™Homogenicโ€™ sendiri terinspirasi dari album musisi ternama asal Islandia, Bjork tahun 1997 berjudul sama. Grup ini telah mendendangkan lagu-lagu dalam bahasa Indonesia dan Inggris dan saat ini telah merilis empat album studio dan satu album mini.[1]

Karier

sunting

Awal Karier

sunting

Homogenic terbentuk pada 2002 dengan anggota asal terdiri Dina Dellyana (synths, programming), Risa Saraswati (vokal), dan Grahadea Kusuf (synths, programming). Nama โ€™Homogenicโ€™ sendiri terinspirasi dari idola mereka pada masa SMA, yakni musisi ternama asal Islandia, Bjork, tanpa berusaha untuk menirukan gaya bermusik beliau.

Bergabung dengan FFWD Records lewat album perdana Epic Symphony pada tahun 2004, mereka menyuguhkan musik yang merupakan campuran trip-hop dan elektronik downbeat disertai vokal bersuara โ€™malaikatโ€™ di tengah meningkatnya minat akan musik elektronik di Indonesia. Pada tahun 2006, Homogenic melanjutkan eksplorasi musik mereka dengan album kedua berjudul Echoes of the Universe, di mana suasana gelap di rilisan sebelumnya menjadi lebih cerah, menandai pengaruh musik indiepop elektronik dalam musik mereka.[2]

Di tengah perjalanan musik Homogenic, โ€Kekalโ€, โ€Mindlessโ€, โ€Unfolding Sympathyโ€, dan beberapa lagu lain dari kedua album mereka menjadi original soundtrack film indie Cin(T)a. Film ini menjadi awal kolaborasi antara Homogenic dengan penulis/sutradara Sammaria Simanjuntak yang berlanjut ke proyek-proyek lainnya. Kegiatan promosi film tersebut yang berlangsung di Inggris membawa Homogenic untuk tampil di London, Birmingham, Newcastle, dan Manchester.[3]

Masa Hiatus dan Formasi Baru

sunting

Setelah empat tahun absen dikarenakan pembenahan masalah internal, pada tahun 2010 Homogenic kembali muncul dengan Amandia Syachridar menggantikan Risa Saraswati sebagai vokalis utama, sekaligus mengubah format mereka menjadi full-band. Perubahan ini membawa warna baru ke dalam musik mereka, mengarah pada terciptanya nada-nada elektronik manis tanpa kehilangan ciri khas Homogenic. Dirilis oleh FFWD Records pada tahun 2010, album ketiga Let a Thousand Flowers Bloom menjadi masa transisi bagi Homogenic, di mana sisi eklektis mereka lebih hidup lewat ketukan serta melodi instrumen synthesizer yang menyenangkan.

Pada tahun 2012, Homogenic kembali berkolaborasi dengan Sammaria Simanjuntak di film Demi Ucok. Mereka turut berkontribusi dalam pembuatan scoring, soundtrack, serta memasukkan lagu-lagu lama yang didaur ulang untuk kemudian dirilis oleh UNKL347 dalam album Let's Talk. โ€Get Up and Goโ€, yang bernada disco upbeat menjadi single pertama dari album ini yang juga masuk ke dalam kompilasi musisi indie Radio Killed The TV Star oleh Organic Records. Single kedua โ€Takkan Berhenti Di Siniโ€ mendapat sambutan positif dari skena drum nโ€™ bass Indonesia. Terlepas dari liriknya yang berbahasa Indonesia, lagu tersebut berhasil memenangkan tiga penghargaan di Voice Independent Music Awards (VIMA) 2013, yakni Best Electronic Dance Song, Best Electro Dance Act, dan Thank you For Existing Awards.

Mereka telah berbagi panggung dengan nama-nama besar di Indonesia hingga internasional yakni Yeah Yeah Yeahs, Club 8, The Radio Dept., The Whitest Boy Alive, Jens Lekman, Sophie Ellis-Bextor, Naughty by Nature, Bone Thugs-n-Harmony, Totally Enormous Extinct Dinosaurs, dan Telefon Tel Aviv di festival-festival seperti Java Soulnation, Java Soundsfair, dan Love Garage (Ismaya) di Indonesia, serta Mosaic Music Festival dan Baybeats Festival di Singapura.

Kini, Homogenic kembali dengan singel โ€Today and Foreverโ€, buah karya pertama dari proses kreatif intensif yang melalui tahap daur ulang materi berkali-kali untuk mendapatkan hasil terbaik. Selain menandai fase pendewasaan musik di tubuh Homogenic, lagu ini juga menerapkan proses rilis secara bertahap yang cukup inovatif di Indonesia. Setelah 13 tahun eksis di dunia musik, seperti semangat di salah satu lagu mereka, Homogenic tidak menunjukkan tanda-tanda untuk berhenti.

Kini di mulai tahun 2015, Homogenic kembali aktif dengan mengeluarkan single โ€Today and Foreverโ€ dan โ€Memories That Last a Dreamโ€ dengan pengaruh dari genre musik elektronik future-bass, R&B era 90's hingga ambient. Di mana kedua single tersebut juga dijadikan album remix oleh produser-produser dan beberapa DJ kenamaan Indonesia. Dan sebagai penanda re-branding Homogenic, mereka mengganti penulisan nama Homogenic menjadi HMGNC. Maret 2016 HMGNC kembali mengeluarkan single ketiga yang berjudul "This Too Shall Pass", sebuah single yang bercerita tentang perempuan yang acap kali sering dianggap sebelah mata. HMGNC merilis album ke-5 pada Oktober 2017, dengan single pertamanya 'Buka Hati Buka Kembali'.

Diskografi

sunting

Album studio

sunting

Album mini

sunting

Singel

sunting

Kompilasi

sunting
  • โ€œArtificial Humanityโ€ (Jakarta Movement, Aksara Records, 2005)
  • โ€œSolarisโ€ (Rolling Stone Rare and Raw Vol.1, Rolling Stone Indonesia, 2007)
  • โ€œGet Up and Goโ€ (Radio Killed the TV Star, Organic Records, 2012)

Iklan

sunting

Penghargaan

sunting
Voice Independent Music Awards (VIMA) 2013[4][5]
  • Best Electronic Dance Song
  • Best Electro Dance Act
  • Thank You for Existing Awards

Referensi

sunting
  1. ^ "Tentang Homogenic" Diarsipkan 2017-02-05 di Wayback Machine., Kapan Lagi, Retrieved in 2002.
  2. ^ "Homogenic Review: Epic Symphony" Diarsipkan 2018-10-16 di Wayback Machine., Deathrockstar, Retrieved in 27 April 2004.
  3. ^ "Cin(T)a: The Beauty of Pluralism" Diarsipkan 2022-04-08 di Wayback Machine., Jakarta Post, Retrieved in 30 August 2009.
  4. ^ 2013 VIMA winners Diarsipkan 2022-07-03 di Wayback Machine. Hype Malaysia (February 28, 2013). Retrieved on February 17, 2014.
  5. ^ Fajar Adithyo (February 26, 2013). Homogenic berpesta di penghargaan ASEAN VIMA 2013 Diarsipkan 2022-03-17 di Wayback Machine. Kapanlagi.com. Retrieved on February 17, 2014.

Pranala luar

sunting

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Penyintesis

Agustus 2020. Twells, John (15 September 2016). "The 14 most important synths in electronic music history โ€“ and the musicians who use them". Fact (dalam

The Upstairs

Adriantoro (drum), Alfa Chaniago (bass & keyboard), Alta Emanuella (keyboards & synths), Delvy Maryati (vokal latar 1) dan Futi Rievana (vokal latar 2). Matraman

I Got a Boy (lagu)

dengan neon berlian merah muda di latar belakang, disertai dengan mid rock-synths yang kemudian rusak ke bagian dubstep dengan kata-kata "Ayo stop, let me

Final Masquerade

Billboard, lagu tersebut mendapat respon positif dan dijelaskan sebagai, "Synths dan gitar palm-muted membawa verse bertempo sedang menjadi chorus hard rock

Behringer

on Sound. SOS Publications Group. Diakses tanggal 2020-11-27. "5 Popular Synths That Keep Going Down in Price". reverb.com (dalam bahasa Inggris). Diakses

Do What U Want

ini adalah sebuah lagu R&B dan synthpop yang mengandung '80s throbbing synths and an electronic beat. Lyrically, the song is straightforward and finds

Dancing Queen (lagu)

pertama dari teaser tersebut bertemu dengan audio menggunakan mid rock-synths kemudian terurai menjadi dubstep dengan Tiffany bilang, "Ayo stop, let me

Metalcore

22 October 2015. most electronicore is essentially metalcore with some synths tacked on for good measure Birchmeier, Jason. "I See Stars โ€“ Biography"