Amfoterisin B
Data klinis
Nama dagangFungizone, Mysteclin-F, lainnya
AHFS/Drugs.commonograph
Rute
pemberian
Intravena (hanya infus lambat)
Kode ATC
Status hukum
Status hukum
  • Rx-only, di rumah sakit
Data farmakokinetika
Bioavailabilitas100% (IV)
Metabolismeginjal
Waktu paruh eliminasifase awalย : 24 jam,
fase keduaย : sekitar 15 hari
Ekskresi40% ditemukan di urin setelah kumulasi beberapa hari
bilier
Pengenal
  • (1R,3S,5R,6R,9R, 11R,15S,16R,17R,18S,19E,21E, 23E,25E,27E,29E,31E,33R,35S,36R,37S)- 33-[(3-amino- 3,6-dideoksi- ฮฒ-D-mannopiranosil)oksi]- 1,3,5,6,9,11,17,37-oktahidroksi- 15,16,18-trimetil- 13-okso- 14,39-dioksabisiklo [33.3.1] nonatriakonta- 19,21,23,25,27,29,31-heptaena- 36-asam karboksilat
Nomor CAS
PubChem CID
DrugBank
ChemSpider
KEGG
ChEBI
ChEMBL
NIAID ChemDB
CompTox Dashboard (EPA)
ECHA InfoCard100.014.311 Sunting di Wikidata
Data sifat kimia dan fisik
RumusC47H73NO17
Massa molar924,091 g/mol
Model 3D (JSmol)
Titik leleh170ย ยฐC (338ย ยฐF)
  • O=C(O)[C@@H]3[C@@H](O)C[C@@]2(O)C[C@@H](O)C[C@@H](O)[C@H](O)CC[C@@H](O)C[C@@H](O)CC(=O)O[C@@H](C)[C@H](C)[C@H](O)[C@@H](C)C=CC=CC=CC=CC=CC=CC=C[C@H](O[C@@H]1O[C@H](C)[C@@H](O)[C@H](N)[C@@H]1O)C[C@@H]3O2
  • InChI=1S/C47H73NO17/c1-27-17-15-13-11-9-7-5-6-8-10-12-14-16-18-34(64-46-44(58)41(48)43(57)30(4)63-46)24-38-40(45(59)60)37(54)26-47(61,65-38)25-33(51)22-36(53)35(52)20-19-31(49)21-32(50)23-39(55)62-29(3)28(2)42(27)56/h5-18,27-38,40-44,46,49-54,56-58,61H,19-26,48H2,1-4H3,(H,59,60)/b6-5+,9-7+,10-8+,13-11+,14-12+,17-15+,18-16+/t27-,28-,29-,30+,31+,32+,33-,34-,35+,36+,37-,38-,40+,41-,42+,43+,44-,46-,47+/m0/s1ย checkY
  • Key:APKFDSVGJQXUKY-INPOYWNPSA-Nย checkY
ย ย (verify)

Amfoterisin B adalah obat antijamur yang digunakan untuk mengobati infeksi jamur berat dan leismaniasis.[1] Amfoterisin B efektif untuk mengobati infeksi jamur seperti aspergilosis, blastomikosis, kandidiasis, koksidioidomikosis, dan kriptokokosis.[2] Untuk beberapa jenis infeksi, amfoterisin B diberikan bersamaan dengan flusitosin.[3] Obat ini diberikan secara intravena.[2]

Efek samping yang umum terjadi antara lain demam, menggigil, dan sakit kepala setelah obat diberikan, serta gangguan ginjal.[2] Gejala alergi seperti anafilaksis dapat terjadi.[2] Efek samping berat lainnya antara lain hipokalemia dan miokarditis.[1] Amfoterisin B relatif aman digunakan pada pasien hamil.[2] Terdapat formulasi dengan lipid yang memiliki risiko efek samping lebih rendah.[2] Obat ini termasuk dalam kelas poliena dan bekerja dengan merusak membran sel jamur.[1][2]

Amfoterisin B diisolasi dari Streptomyces nodosus pada tahun 1955 dan mulai digunakan sebagai obat pada tahun 1958.[4][5] Obat ini terdapat dalam Daftar Obat Esensial Organisasi Kesehatan Dunia.[6] Obat ini tersedia dalam bentuk generik.[2] Biaya pengobatan dengan obat ini di negara berkembang pada 2010 sebesar 162-229 USD.[1]

Indikasi

sunting

Antijamur

sunting

Indikasi utama amfoterisin B adalah untuk mengobati infeksi jamur sistemik. Karena efek sampingnya yang banyak, obat ini hanya digunakan pada pasien dengan infeksi yang berat, atau pada pasien yang mengalami imunodefisiensi. Obat ini digunakan sebagai terapi lini pertama untuk infeksi mukormikosis invasif, meningitis kriptokokus, dan infeksi aspergillus dan kandida tertentu.[7][8] Obat ini masih sering digunakan walau dikembangkan pertama kali lima puluh tahun yang lalu karena kejadian resistensi terhadap obat ini yang rendah. Hal ini bisa terjadi karena agar suatu spesies bisa resisten terhadap amfoterisin B, organisme tersebut memerlukan pengorbanan pada bagian terpenting dari organisme tersebut sehingga akan lebih rentan dan terlalu lemah untuk menyebabkan infeksi.[9]

Antiprotozoa

sunting

Amfoterisin B umum digunakan pada infeksi protozoa seperti leismaniasis viseral[10] dan naegleriasis.[11]

Spektrum kepekaan

sunting

Tabel berikut menunjukkan kepekaan amfoterisin B dari berbagai spesies jamur yang sering menginfeksi manusia.

Spesies Kadar Penghambatan Minimum

(Minimum Inhibitory Concentration/MIC) (mg/L)

Aspergillus fumigatus 1[12]
Aspergillus terreus Resisten[12][13]
Candida albicans 1[12]
Candida krusei 1[12]
Candida glabrata 1[12]
Candida lusitaniae Resisten secara intrinsik[13]
Cryptococcus neoformans 2[14]
Fusarium oxysporum 2[14]

Formulasi yang tersedia

sunting

Intravena

sunting

Amfoterisin B tidak larut dalam larutan garam fisiologis pada pH 7. Oleh karena itu, dibuat beberapa formulasi untuk meningkatkan bioavailabilitas intravena.[15] Formulasi amfoterisin B berbasis lipid tidak lebih efektif dibandingkan formulasi konvensional, walau terdapat bukti bahwa formulasi berbasis lipid memiliki efek samping yang lebih sedikit.[16]

Deoksikolat

sunting

Formulasi awal menggunakan natrium deoksikolat untuk meningkatkan kelarutan.[13] Amfoterisin B deoksikolat (AmBD) diberikan secaraintravena.[17] Formulasi ini sering disebut sebagai amfoterisin "konvensional".[18]

Liposom

sunting

Agar pasien dapat menggunakan amfoterisin B dengan aman dengan efek samping yang lebih rendah, telah dikembangkan formulasi lain yang berbasis lipid.[13] Berdasarkan hasil uji klinis, amfoterisin B dengan formulasi liposom memiliki toksisitas pada ginjal yang lebih rendah dibandingkan deoksikolat,[19][20] dan lebih sedikit kejadian reaksi setelah pemberian melalui infus.[13] Formulasi ini memiliki harga yang lebih mahal dibandingkan dengan amfoterisin B deoksikolat.[21]

AmBisome (LAmB) adalah amfoterisin B dengan formulasi liposom yang digunakan secara infus. Liposom dari formulasi tersebut terdiri dari campuran fosfatidilkolin, kolesterol dan distearoil fosfatidilgliserol yang dalam media air akan membentuk vesikel unilamelar mengandung amfoterisin B.[13][22]

Kompleks lipid

sunting

Terdapat pula formulasi dalam kompleks lipid. Abelcet disetujui oleh FDA pada tahun 1995.[23] Formulasi ini terdiri dari amfoterisin B dan dua lipid dalam perbandingan jumlah 1:1 yang membentuk struktur seperti pita besar.[13] Amphotec adalah kompleks amfoterisin dan natrium kolestil sulfat dalam perbandingan jumlah 1:1. Dua molekul tersebut membentuk tetramer yang teragregasi menjadi untaian spiral pada kompleks seperti cakram.[22] Formulasi tersebut disetujui oleh FDA pada tahun 1996.[23]

Oral

sunting

Hingga saat ini, belum terdapat sediaan amfoterisin B yang dapat diminum.[24] Kelarutan dan permeabilitasnya yang rendah membuat pengembangan amfoterisin B yang bisa diminum menjadi sukar mengingat bioavailabilitasnya yang rendah. DUlu, amfoterisin B digunakan untuk infeksi jamur pada permukaan saluran pencernaan seperti sariawan, tetapi sekarang telah digantikan oleh antijamur lain seperti nistatin dan flukonazol.[25]

Efek samping

sunting

Amfoterisin B dikenal karena efek sampingnya yang berat dan mengancam jiwa. Salah sati efek samping yang sangat sering terjadi adalah reaksi segera setelah infus (dalam 1 sampai 3 jam). Reaksi tersebut terdiri dari demam tinggi, menggigil kedinginan, hipotensi, anoreksia, mual, muntah, sakit kepala, dispnea dan takipnea, rasa kantuk, dan rasa lemah.[26][27]

Penggunaan amfoterisin B walau dalam rentang indeks terapeutik dapat menyebabkan kegagalan organ multipel. Kerusakan ginjal merupakan efek samping yang sering dilaporkan. Kerusakan ginjal tersebut bisa bersifat berat dan/atau ireversibel. Penggunaan formulasi liposom (seperti AmBisome) dapat menurunkan kejadian kerusakan ginjal dan telah menjadi pilihan bagi pasien dengan gangguan ginjal.[28][29] Bentuk liposom tersebut akan berubah setelah berikatan dengan dinding sel jamur dan akan melepaskan amfoterisin B. Namun pada sel mamalia, bentuk liposom tersebut tidak berubah,[30] sehingga mampu mengurangi amfoterisin B yang berinteraksi dengan sel di ginjal dan efek nefrotoksik yang dihasilkan lebih sedikit.[31]

Selain itu efek samping tersebut, gangguan kadarelektrolit seperti hipokalemia dan hipomagnesemia juga sering terjadi.[32]

Mekanisme kerja

sunting

Amfoterisin B berikatan dengan ergosterol, komponen membran sel jamur. Setelah itu, amfoterisin B membentuk pori-pori yang menyebabkan kebocoran ion monovalen dengan cepat (K+, Na+, H+ dan Cl-), sehingga menyebabkan kematian sel jamur. Mekaninsme tersebut merupakan mekanisme utama amfoterisin B sebagai antijamur.[33][34] Kompleks amfoterisin B/ergosterol yang membentuk pori-pori tersebut bersifat stabil karena adanya interaksi Van der Waals.[35] Amfoterisin B juga menyebabkan stres oksidatif dalam sel jamur,[36] tetapi masih belum diketahui sejauh mana stres oksidatif ini memengaruhi efektivitas obat.[33]

Mekanisme toksisitas

sunting

Baik membran sel mamalia dan jamur memiliki sterol, target utama bagi amfoterisin B. Karena membran mamalia dan jamur memiliki kemiripan dalam hal struktur dan komposisi, amfoterisin B memiliki efek samping yang berat. Amfoterisin B dapat membentuk pori-pori di membran inang serta membran jamur. Kerusakan membran inilah yang membuat amfoterisin B memiliki efek samping yang mengancam jiwa.[36][37][38] Ergosterol yang merupakan komponen membran sel jamur memiliki sensitivitas yang lebih tinggi terhadap amfoterisin B dibandingkan kolesterol yang merupakan komponen membran sel mamalia. Reaktivitas dengan membran juga bergantung pada konsentrasi sterol.[39]

Pemberian amfoterisin dibatasi oleh reaksi setelah infus. Hal ini diduga karena produksi imun bawaan dari sitokin proinflamasi.[37][40]

Referensi

sunting
  1. ^ a b c d Control of the leishmaniasis: report of a meeting of the WHO Expert Committee on the Control of Leishmaniases (PDF). World Health Organization. March 2010. hlm.ย 55, 88, 186. ISBNย 9789241209496. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2017-03-15.
  2. ^ a b c d e f g h "Amphotericin B". The American Society of Health-System Pharmacists. Diarsipkan dari asli tanggal 2015-01-01. Diakses tanggal Jan 1, 2015.
  3. ^ WHO Model Formulary 2008 (PDF). World Health Organization. 2009. hlm.ย 145. ISBNย 9789241547659. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 13 December 2016. Diakses tanggal 8 December 2016.
  4. ^ Walker, S. R. (2012). Trends and Changes in Drug Research and Development (dalam bahasa Inggris). Springer Science & Business Media. hlm.ย 109. ISBNย 9789400926592. Diarsipkan dari asli tanggal 2017-09-10.
  5. ^ Fischer, Jnos; Ganellin, C. Robin (2006). Analogue-based Drug Discovery (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. hlm.ย 477. ISBNย 9783527607495.
  6. ^ "WHO Model List of Essential Medicines (19th List)" (PDF). World Health Organization. April 2015. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 13 December 2016. Diakses tanggal 8 December 2016.
  7. ^ Drugs Active against Fungi, Pneumocystis, and Microsporidia. hlm.ย 479โ€“494.e4. ISBNย 978-1-4557-4801-3.
  8. ^ Moen, Marit D.; Lyseng-Williamson, Katherine A.; Scott, Lesley J. (2012-09-17). "Liposomal Amphotericin B". Drugs. 69 (3): 361โ€“392. doi:10.2165/00003495-200969030-00010. ISSNย 0012-6667. PMIDย 19275278.
  9. ^ Rura, Nicole (2013-10-29). "Understanding the evolution of drug resistance points to novel strategy for developing better antimicrobials". Diarsipkan dari asli tanggal 2016-11-15. Diakses tanggal 2016-11-14 โ€“ via Whitehead Institute.
  10. ^ den Boer, Margriet; Davidson, Robert N. (2006-04-01). "Treatment options for visceral leishmaniasis". Expert Review of Anti-Infective Therapy. 4 (2): 187โ€“197. doi:10.1586/14787210.4.2.187. ISSNย 1744-8336. PMIDย 16597201.
  11. ^ Grace, Eddie; Asbill, Scott; Virga, Kris (November 2015). "Naegleria fowleri: Pathogenesis, Diagnosis, and Treatment Options". Antimicrobial Agents and Chemotherapy. 59 (11): 6677โ€“6681. doi:10.1128/AAC.01293-15. PMCย 4604384. PMIDย 26259797.
  12. ^ a b c d e "European Committee on Antimicrobial Susceptibility Testing: Antifungal Agents, Breakpoint tables for interpretation of MICs" (PDF). 2015-11-16. Diakses tanggal 2015-11-17.
  13. ^ a b c d e f g Hamill, Richard J. (2013-06-01). "Amphotericin B Formulations: A Comparative Review of Efficacy and Toxicity". Drugs. 73 (9): 919โ€“934. doi:10.1007/s40265-013-0069-4. ISSNย 0012-6667. PMIDย 23729001.
  14. ^ a b "Index | The Antimicrobial Index Knowledgebase - TOKU-E". antibiotics.toku-e.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2015-11-09. Diakses tanggal 2015-11-17.
  15. ^ Dutcher, James D. (1968-10-01). "THe discovery and development of amphotericin b". Chest. 54 (Supplement_1): 296โ€“298. doi:10.1378/chest.54.Supplement_1.296. ISSNย 0012-3692.
  16. ^ Steimbach, Laiza M., Fernanda S. Tonin, Suzane Virtuoso, Helena HL Borba, Andrรฉia CC Sanches, Astrid Wiens, Fernando Fernandezโ€Llimรณs, and Roberto Pontarolo. "Efficacy and safety of amphotericin B lipidโ€based formulationsโ€”A systematic review and metaโ€analysis." Mycoses 60, no. 3 (2017): 146-154.
  17. ^ Maertens, J. A. (2004-03-01). "History of the development of azole derivatives". Clinical Microbiology and Infection. 10: 1โ€“10. doi:10.1111/j.1470-9465.2004.00841.x. ISSNย 1469-0691. PMIDย 14748798.
  18. ^ Clemons, KV; Stevens, DA (April 1998). "Comparison of Fungizone, Amphotec, AmBisome, and Abelcet for Treatment of Systemic Murine Cryptococcosis". Antimicrobial Agents and Chemotherapy. 42 (4): 899โ€“902. doi:10.1128/AAC.42.4.899. PMCย 105563. PMIDย 9559804.
  19. ^ Botero Aguirre, Juan Pablo; Restrepo Hamid, Alejandra Maria (2015-11-23). "Cochrane Database of Systematic Reviews". Cochrane Database of Systematic Reviews (dalam bahasa Inggris) (11): CD010481. doi:10.1002/14651858.cd010481.pub2. PMIDย 26595825.
  20. ^ Mistro, Sรณstenes; Maciel, Isis de M.; Menezes, Rouseli G. de; Maia, Zuinara P.; Schooley, Robert T.; Badarรณ, Roberto (2012-06-15). "Does Lipid Emulsion Reduce Amphotericin B Nephrotoxicity? A Systematic Review and Meta-analysis". Clinical Infectious Diseases. 54 (12): 1774โ€“1777. doi:10.1093/cid/cis290. ISSNย 1058-4838. PMIDย 22491505.
  21. ^ Bennett, John (2000-11-15). "Editorial Response: Choosing Amphotericin B Formulationsโ€”Between a Rock and a Hard Place". Clinical Infectious Diseases (dalam bahasa Inggris). 31 (5): 1164โ€“1165. doi:10.1086/317443. ISSNย 1058-4838. PMIDย 11073746.
  22. ^ a b Slain, Douglas (1999-03-01). "Lipid-Based Amphotericin B for the Treatment of Fungal Infections". Pharmacotherapy. 19 (3): 306โ€“323. doi:10.1592/phco.19.4.306.30934. ISSNย 1875-9114.
  23. ^ a b "Drugs@FDA: FDA Approved Drug Products". www.accessdata.fda.gov. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-09-05. Diakses tanggal 2015-11-03.
  24. ^ "Highly Effective oral amphotericin B formulation against murine visceral leishmaniasis". J Infect Dis. 200 (3): 357โ€“360. 2009. doi:10.1086/600105. PMIDย 19545212.
  25. ^ Pappas, Peter G.; Kauffman, Carol A.; Andes, David; Benjamin, Daniel K.; Calandra, Thierry F.; Edwards, John E.; Filler, Scott G.; Fisher, John F.; Kullberg, Bart-Jan (2009-03-01). "Clinical practice guidelines for the management of candidiasis: 2009 update by the Infectious Diseases Society of America". Clinical Infectious Diseases. 48 (5): 503โ€“535. doi:10.1086/596757. ISSNย 1537-6591. PMIDย 19191635.
  26. ^ "Shake and Bake". TheFreeDictionary.com. Diakses tanggal 2016-12-09.
  27. ^ Hartsel, Scott. "Studies on Amphotericin B" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 20 December 2016. Diakses tanggal 8 December 2016.
  28. ^ Walsh, Thomas J.; Finberg, Robert W.; Arndt, Carola; Hiemenz, John; Schwartz, Cindy; Bodensteiner, David; Pappas, Peter; Seibel, Nita; Greenberg, Richard N. (1999-03-11). "Liposomal Amphotericin B for Empirical Therapy in Patients with Persistent Fever and Neutropenia". New England Journal of Medicine. 340 (10): 764โ€“771. doi:10.1056/NEJM199903113401004. ISSNย 0028-4793. PMIDย 10072411.
  29. ^ Perfect, John R.; Dismukes, William E.; Dromer, Francoise; Goldman, David L.; Graybill, John R.; Hamill, Richard J.; Harrison, Thomas S.; Larsen, Robert A.; Lortholary, Olivier (2010-02-01). "Clinical Practice Guidelines for the Management of Cryptococcal Disease: 2010 Update by the Infectious Diseases Society of America". Clinical Infectious Diseases. 50 (3): 291โ€“322. doi:10.1086/649858. ISSNย 1058-4838. PMCย 5826644. PMIDย 20047480. Diarsipkan dari asli tanggal 2016-05-21.
  30. ^ Jill Adler-Moore,* and Richard T. liposomal formulation, structure, mechanism of action and pre-clinical experience. Journal of Antimicrobial Chemotherapy (2002) 49, 21โ€“30
  31. ^ J. Czub, M. Baginski. Amphotericin B and Its New Derivatives Mode of action. Department of pharmaceutical Technology and Biochemistry. Faculty of Chemistry, Gdnsk University of Technology. 2009, 10-459-469.
  32. ^ Zietse, R.; Zoutendijk, R.; Hoorn, E. J. (2009). "Fluid, electrolyte and acidโ€“base disorders associated with antibiotic therapy". Nature Reviews Nephrology. 5 (4): 193โ€“202. doi:10.1038/nrneph.2009.17. PMIDย 19322184.
  33. ^ a b Mesa-Arango, Ana Cecilia; Scorzoni, Liliana; Zaragoza, Oscar (2012-01-01). "It only takes one to do many jobs: Amphotericin B as antifungal and immunomodulatory drug". Fungi and Their Interactions. 3: 286. doi:10.3389/fmicb.2012.00286. PMCย 3441194. PMIDย 23024638. Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link)
  34. ^ O'Keeffe, Joseph; Doyle, Sean; Kavanagh, Kevin (2003-12-01). "Exposure of the yeast Candida albicans to the anti-neoplastic agent adriamycin increases the tolerance to amphotericin B". Journal of Pharmacy and Pharmacology. 55 (12): 1629โ€“1633. doi:10.1211/0022357022359. ISSNย 2042-7158. PMIDย 14738588.
  35. ^ "Molecular modelling of amphotericin B-ergosterol primary complex in water II". Biophysical Chemistry. 141.
  36. ^ a b Baginski, M.; Czub, J. (2009). "Amphotericin B and Its New Derivativesโ€“Mode of Action". Current Drug Metabolism. 10 (5): 459โ€“69. doi:10.2174/138920009788898019. PMIDย 19689243.
  37. ^ a b Laniado-Laborin R. and Cabrales-Vargas MN. Amphotericin B: side effects and toxicity. Revista Iberoamericana de Micologia. (2009): 223โ€“7.
  38. ^ Pfizer. Amphocin. Accessed at "Archived copy" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2011-04-19. Diakses tanggal 2010-02-18. Pemeliharaan CS1: Salinan terarsip sebagai judul (link) on Feb 18 2010.
  39. ^ Vertut-Croquin, Aline; Bolard, Jacques; Chabbert, Marie; Gary-Bobo, Claude (1983). "Differences in the Interaction of the Polyene Antibiotic Amphotericin B with Cholesterol- or Ergosterol-Containing Phospholipid Vesicles. A Circular Dichroism and Permeability Study". Biochemistry. 22 (12): 2939โ€“2944. doi:10.1021/bi00281a024.
  40. ^ Drew, R. Pharmacology of amphotericin B. Uptodate. Sep 2009. Accessed at http://www.utdol.com/online/content/topic.do?topicKey=antibiot/4619&selectedTitle=2~150&source=search_result[pranala nonaktif permanen] on Feb 18 2010.

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Ekinokandin

Randomized, Double-Blind Study for the Treatment of Candidemia and Invasive Candidiasis- The STRIVE Trial |https://academic.oup.com/cid/advance-article/doi/10

Mikafungin

(August 2004). "Successful treatment of oesophageal candidiasis by micafungin: a novel systemic antifungal agent". Alimentary Pharmacology & Therapeutics