Titik Nol Kilometer Yogyakarta
Gedung BNI 1946 Yogyakarta, salah satu bangunan Titik Nol Kilometer
Nama lokal ꦠꦶꦠꦶꦏ꧀ꦤꦺꦴꦭ꧀ꦏꦶꦭꦺꦴꦩꦺꦠꦼꦂꦔꦪꦺꦴꦒꦾꦏꦂꦠ  (Jawa)
Bagian dari Garis Imajiner Yogyakarta
Tipe Persimpangan
Lokasi Kota Yogyakarta, Indonesia
Koordinat 7°48′05″S 110°21′53″E / 7.801363°S 110.364787°E / -7.801363; 110.364787
Persimpangan
besar
1
Utara Jalan Margo Mulyo
Timur Jalan Panembahan Senopati
Selatan Jalan Pangurakan
Barat Jalan KH Ahmad Dahlan

Titik Nol Kilometer Yogyakarta (bahasa Jawa: ꦠꦶꦠꦶꦏ꧀ꦤꦺꦴꦭ꧀ꦏꦶꦭꦺꦴꦩꦺꦠꦼꦂꦔꦪꦺꦴꦒꦾꦏꦂꦠ, translit. Titik Nol Kilométer Ngayogyakarta) adalah sebuah kawasan persimpangan yang terletak di Gondomanan, Yogyakarta, yang kerap dikunjungi oleh wisatawan karena lokasinya yang strategis dan dekat dengan banyak lokawisata.[1]

Di sekitar Titik Nol Kilometer terdapat Jalan Malioboro, Pasar Beringharjo, Monumen Serangan Umum 1 Maret, Museum Benteng Vredeburg, Taman Pintar, Alun-Alun Utara, Keraton Yogyakarta, Museum Sonobudoyo, Gedung Agung, dan bangunan-bangunan peninggalan Belanda seperti Kantor Pos Indonesia, Bank Indonesia, dan gedung BNI 1946 Yogyakarta.

Gambaran umum

sunting

Sejarah

sunting

Titik nol kilometer Yogyakarta sudah ada pada masa Hamengkubuwana I, ketika membangun kawasan keraton Yogyakarta di wilayah hutan Pabringan pada tahun 1755. Saat itu, kawasan ini menjadi bagian dari Sumbu Imajiner Yogyakarta yang menghubungkan antara Gunung Merapi dengan Keraton Yogyakarta.[2]

Kedatangan Belanda di Yogyakarta membuat kawasan ini mengalami perubahan. Belanda membangun pemukiman untuk warganya di sisi timur laut kawasan ini, dengan nama loji. Belanda juga membangun Benteng Rustenburg pada tahun 1767 yang digunakan untuk mengawasi gerak-gerik dalam keraton. Belanda juga membangun gedung-gedung pemerintahan di kawasan tersebut seperti gedung Chung Hua Tsung Hui pada tahun 1775, Kantor Residen pada 1869, Javasche Bank pada 1879, Post, Telegraaf en Telefoonkantoor pada 1912 dan NILMIJ pada 1921. Keberadaan bangunan-bangunan tersebut saat itu secara tidak langsung merusak filosofi sumbu imajiner yang ada sehingga dianggap mengurangi kewibawaan keraton.

Adanya gedung kantor pos saat itu, membuat Belanda membangun sebuah bundaran di tengah-tengah persimpangan tersebut. Bundaran inilah yang diyakini sebagai titik nol kilometer Yogyakarta, karena berfungsi untuk mengukur jarak dari kota Yogyakarta menuju daerah di sekitarnya, seperti Sleman dan Bantul.[2]

Kawasan ini juga menjadi tempat bermulanya Serangan Umum 1 Maret 1949, dimana kawasan ini menjadi tempat awal berkumpulnya pasukan Indonesia sebelum akhirnya menyebar untuk melakukan penyerangan terhadap Belanda dari segala arah. Untuk memperingati terjadinya serangan tersebut, maka dibangun monumen di komplek Benteng Vredeburg yang terletak pada sisi barat daya kawasan ini.

Deskripsi

sunting

Titik nol kilometer Yogyakarta berbentuk persimpangan yang mempertemukan empat ruas jalan. Sisi utara adalah Jalan Margo Mulyo, bagian dari Kawasan Malioboro. Sisi selatan adalah Jalan Pangurakan, jalan utama menuju keraton. Sedangkan sisi timur adalah Jalan Panembahan Senopati, yang merupakan akses menuju kota Yogyakarta dari arah timur, dan Jalan KH Ahmad Dahlan di sisi barat yang menjadi akses menuju kota Yogyakarta dari arah barat.

Di ujung jalan Pangurakan, pada awalnya terdapat sebuah gapura milik keraton yang bernama Gapura Gladhag, namun saat ini sudah tidak ada lagi. Bundaran yang dibangun sejak zaman kolonial Belanda juga sempat diubah menjadi air mancur pada dekade 1970-an, sebelum akhirnya dibongkar permanen pada pertengahan dekade 1980-an.[2]

Pemanfaatan

sunting

Kawasan ini memiliki area pedestarian yang luas dan dilengkapi dengan beberapa kursi taman, dihiasi oleh lampu-lampu jalan, serta bangunan-bangunan peninggalan Belanda,[3] menjadikan kawasan ini menjadi salah satu ruang publik dan pusat perekonomian yang dipadati masyarakat dan wisatawan di kota Yogyakarta.[4][5]

Referensi

sunting
  1. ^ Prasetya, Anggara Wikan, ed. (9 Oktober 2020). "Wisata ke Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Ada Kantor Pos Zaman Belanda". Kompas.com. Diakses tanggal 19 November 2021.
  2. ^ a b c "Sejarah Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Sudah Ada Sejak 1775 dan Ada Air Mancurnya". inews.com. 28 Agustus 2022. Diakses tanggal 29 November 2022.
  3. ^ "Mengenal Titik Nol Kilometer, Persimpangan Istimewa di Jogja". detikcom. 19 November 2019. Diakses tanggal 19 November 2021.
  4. ^ "KM 0 JOGJA, Tempat Wisata di Kota Jogja". www.yogyes.com. 15 Agustus 2021. Diakses tanggal 19 November 2021.
  5. ^ "Kawasan Nol Kilometer Yogyakarta". pariwisata.jogjakota.go.id. 21 Februari 2019. Diakses tanggal 19 November 2021.

Lihat pula

sunting

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Kilometer Nol

Nol untuk seluruh jalan di pulau Luzon dan keseluruhan Filipina. Kilometer Nol di Budapest ditandai oleh sebuah monumen, membentuk angka "nol". Titik

Titik nol

titik tetap acuan untuk geometri ruang sekitarnya. Dalam sistem koordinat Kartesius, titik nol adalah titik yang memotong pada kedua sumbu. Titik nol

Titik Nol Ibu Kota Nusantara

Titik Nol Ibu Kota Nusantara atau Titik Nol IKN adalah sebuah monumen yang terletak di kawasan Ibu Kota Nusantara. Monumen ini dibangun pada Februari

Perempuan di Titik Nol

Perempuan di Titik Nol adalah novel yang ditulis oleh Nawal El Saadawi dan terbit pertama kali dalam bahasa Arab yang berjudul Emra'a enda noktas el sifr

Nol mutlak

karena itu, dapat dikatakan bahwa pada temperatur nol mutlak, energi molekular bernilai minimal. Titik nol pada skala temperatur termodinamika di seperti

Kota Sabang

sebanyak 42.717 jiwa, dengan kepadatan 350 jiwa/km². Sabang merupakan "titik nol" untuk wilayah barat Indonesia. Setelah pembukaan Terusan Suez pada tahun

Energi titik nol

Energi titik nol (bahasa Inggris: zero-point energy), juga dikenal sebagai energi titik nol vakum kuantum, Energi titik nol adalah energi terendah yang

Sistem koordinat geografi

mengukur sudut antara suatu titik dengan titik nol di Bumi yaitu Greenwich di London Britania Raya yang merupakan titik bujur 0° atau 360° yang disepakati