

Gumuk pasir pedalaman adalah gumuk pasir eolian yang ditemukan di daratan pedalaman, jauh dari wilayah pesisir.
Pembentukan
sunting


Di Eropa Tengah, menjelang akhir periode glasial terakhir (sekitar 12.000 tahun yang lalu), suhu udara sekitar 10 derajat lebih dingin dibandingkan hari ini. Oleh karena itu, tidak terdapat tutupan hutan melainkan hanya vegetasi yang tidak merata dalam bentuk tundra. Selain itu, di area-area yang tertutup oleh lapisan es, vegetasi harus tumbuh kembali seiring mencairnya gletser. Akibatnya, angin dapat bertiup nyaris tanpa hambatan. Partikel tanah yang ringan dan berbutir halus, terutama lanau dan pasir terangkat oleh arus udara, sering kali terangkut hingga bermil-mil jauhnya dan kemudian terendapkan di lokasi lain. Angin juga memiliki efek penyortiran—lanau terangkut jauh lebih cepat daripada pasir—dan seiring berjalannya waktu, hal ini mengakibatkan terbentuknya area pasir eolian dan gumuk pasir, sementara lanau terangkut jauh lebih jauh dan terendapkan kembali, misalnya, di tepi utara dataran tinggi.
Saat angin kencang, gumuk pasir memiliki kecenderungan untuk "mengembara". Sebagian besar gumuk pasir pedalaman yang ada saat ini terbentuk pada masa ini. Dengan berakhirnya periode glasial, mobilitas gumuk pasir dengan cepat terhenti sebagai akibat dari reforestasi.
Bentuk gumuk pasir pedalaman bervariasi tergantung pada kekuatan dan arah angin yang dominan. Sebagian besar berupa gumuk pasir yang tidak beraturan atau sabuk pasir yang bergeser. Namun, terdapat pula gumuk pasir parabolik dan gumuk pasir memanjang yang terbentuk dengan sangat sempurna.
Hampir semua fase terkini dari perkembangan gumuk pasir pedalaman dipengaruhi oleh intervensi manusia terhadap tutupan vegetasi. Melalui pembukaan hutan yang disengaja maupun tidak disengaja, gumuk pasir menjadi bergerak kembali di area-area yang sebelumnya telah menjadi stabil.
Analisis partikel arang di dalam gumuk pasir menggunakan penanggalan radiokarbon telah memastikan bahwa aktivitas para pemukim pada periode Neolitikum menyebabkan gumuk pasir menjadi bergerak kembali. Namun, bahkan pada Zaman Perunggu dan Zaman Besi terdapat bukti aktivitas gumuk pasir yang dipicu oleh manusia.
Persebaran
suntingAmerika Utara
suntingBanyak gumuk pasir eolian pedalaman yang tersebar di Amerika Utara, termasuk gumuk pasir eolian bervegetasi (stabil) di Dataran Pesisir Atlantik AS, gumuk pasir di wilayah Danau-Danau Besar Laurentia, gumuk pasir di Dataran Besar Tengah dan Selatan, Bukit Pasir Nebraska, Pasir Putih (New Mexico), Gumuk Pasir Besar (Colorado), gumuk pasir di Dataran Tinggi Colorado bagian selatan, serta ladang gumuk pasir di Gurun Barat Daya.[1]
- Baja California
Pasir di gumuk pasir pedalaman Gurun El Vizcaíno, Baja California, Meksiko, berasal dari sumber-sumber aluvial di sekitarnya. Pada mulanya, pasir-pasir tersebut diperkirakan berasal dari granitoid, sekis, serta sedimen dan batuan vulkanik. Sementara komposisinya menunjukkan bahwa pasir gumuk tersebut berasal dari lingkungan kraton, geokimia mengindikasikan lingkungan tepian benua aktif sebagai asal muasal pasir tersebut.[2]
Amerika Selatan
sunting- Pampas Argentina
Ladang gumuk pasir fosil atau ladang gumuk pasir purba yang luas terdapat di Provinsi La Pampa di Argentina. Gumuk-gumuk pasir ini merupakan sisa-sisa dari kondisi iklim masa lampau yang memungkinkan terjadinya pergerakan pasir. Saat ini, gumuk-gumuk tersebut tidak lagi aktif sebagai akibat dari efek stabilisasi oleh rerumputan.[3] Akan tetapi, kondisi gumuk-gumuk tersebut telah mengalami degradasi akibat penggembalaan ternak dan pertanian.[3] Sebuah ladang gumuk pasir tertentu menutupi dasar lembah yang membentang dari timur laut ke barat daya sepanjang 40 km dengan lebar 5 km. Ladang ini tersusun atas gumuk pasir parabolik yang sangat besar dengan gumuk pasir blowout yang lebih kecil terbentuk di atasnya.[3]
- Gurun Atacama
Di dekat Copiapó di wilayah selatan Gurun Atacama, terdapat gumuk pasir terbesar di Chili. Berdasarkan analisis sedimen, disinyalir bahwa gumuk pasir tersebut berasal dari sedimen fluvial. Penjelasan sebelumnya menyatakan bahwa gumuk pasir tersebut berasal dari pasir pantai di teras laut yang mengalami pengangkatan, yang kemudian mengalami deflasi sehingga menyebabkan pasir bermigrasi ke pedalaman. Saat ini, gumuk pasir tersebut masih aktif namun mengalami defisit pasokan sedimen.[4]
- Gran Chaco
Gumuk pasir pedalaman di Gran Chaco, Bolivia dan Paraguay terkonsentrasi di kaki pegunungan Andes. Sebagian besar gumuk pasir ini sudah tidak aktif, dengan beberapa di antaranya berusia hingga 33–36 ribu tahun.[5]
Eropa
sunting- Eropa Tengah
Di Eropa Tengah, definisi gumuk pasir pedalaman tidak mencakup sabuk gumuk pasir pantai di pesisir Laut Utara dan Laut Baltik. Berbeda dengan kerabat pesisirnya, gumuk pasir pedalaman adalah formasi pasir eolian (gumuk pasir) yang diangkut dan kemudian diendapkan oleh angin. Formasi ini sebagian besar tercipta di bawah kondisi iklim dingin periglasial pada akhir zaman Weichselian dan zaman es Würm, yakni kira-kira lebih dari 10.000 tahun yang lalu. Perkembangannya selama periode pasca-glasial sangat dipengaruhi oleh aktivitas manusia.
Contoh terbaik dari ladang pasir kontinental semacam itu adalah Pasir Deliblato yang terkadang dijuluki sebagai "Sahara Eropa". Kawasan ini sebagian besar telah mengalami aforestasi saat ini, dan permukaan pasir terbuka sudah jarang ditemukan, meskipun pasirnya masih bergerak (hembusan eolian bertahap).
- Fennoscandia Utara
Di Swedia bagian utara terdapat banyak gumuk pasir yang sudah tidak aktif. Gumuk-gumuk ini terbentuk dalam konteks periglasial Holosen ketika Lapisan Es Weichsel sedang menyusut. Saat ini, gumuk pasir parabolik yang lebih kecil sedang terbentuk di Swedia utara akibat redeposisi gumuk pasir yang mengalami deflasi. Sebagaimana terekam oleh stratifikasi gumuk, angin yang membentuk gumuk pasir yang lebih besar dan lebih tua tersebut bertiup dari arah barat laut.[6]
Gumuk pasir pedalaman juga dapat ditemukan di Lapland Finlandia di utara Lingkar Arktik dan di Finnmark, Norwegia.[7]
Referensi
sunting- ^ Lancaster, Nicholas; Hesp, Patrick, ed. (2020). "Inland Dunes of North America". Dunes of the World (dalam bahasa Inggris). doi:10.1007/978-3-030-40498-7. ISBN 978-3-030-40497-0. ISSN 2509-7806.
- ^ Kasper-Zubillaga, Juan José; Zolezzi-Ruiz, Hugo (2007). "Grain size, mineralogical and geochemical studies of coastal and inland dune sands from El Vizcaíno Desert, Baja California Peninsula, Mexico" (PDF). Revista Mexicana de Ciencias Geológicas. 24 (3): 423–438. Diakses tanggal 17 July 2016.
- ^ a b c Tripaldi, Alfonsina; Mejl, Adriana ; Zárate, Marcelo A. (2018). "Parabolic megadunes in a subtropical Quaternary inland dune field, southwestern Pampas, Argentina". Geomorphology. 321: 103–116. Bibcode:2018Geomo.321..103T. doi:10.1016/j.geomorph.2018.08.021. hdl:11336/87624. S2CID 134057792.
- ^ Paskoff, Roland; Cutiño, Lucía; Manríquez, Hermann (2003). "Origen de las arenas dunares de la región de Copiapó, Desierto de Atacama, Chile ". Revista Geológica de Chile (dalam bahasa Spanyol). 30 (2): 355–361. doi:10.4067/s0716-02082003000200012.
- ^ Tripaldi, Alfosina; Zárate, Marcelo A. (2014). "A review of Late Quaternary inland dune systems of South America east of the Andes". Quaternary International.
- ^ Seppälä, Matti (1972). "Location, morphology and orientation of inland dunes in northern Sweden". Geografiska Annaler: Series A, Physical Geography. 54 (2): 85–104. Bibcode:1972GeAnA..54...85S. doi:10.1080/04353676.1972.11879860.
- ^ {{Cite book | title = Wind as a Geomorphic Agent in Cold Climates | first = Matti | last = Seppälä | author-link=Matti Seppälä | publisher = Cambridge University Press | year = 2004 | isbn = 9780521564069 | chapter= Accumulation | pages =207–208 }}
Literatur
sunting- Alisch, M. (1995): Das äolische Relief der mittleren Oberen Allerniederung (Ostniedersachsen) - spät- und postglaziale Morphogenese, Ausdehnung und Festlegung historischer Wehsande, Sandabgrabungen und Schutzaspekte. - 176 pp.; Cologne. - [Kölner Geographische Arbeiten, H. 62]
- Alisch, M. (1994a): Kritische Abwägung natürlicher Prozeßkomponenten im Ursachenkomplex der holozänen Flugsandreaktivierung des mitteleuropäischen Binnenlandes. - In: 1. Mitteleuropäische Geomorphologentagung Wien 1994, 19.-21. July 1994 [Tagungsband]: pp. 91–92; Vienna.
- Alisch, M., & Brunotte, E. (1992): Aktuelle äolische Morphodynamik der Binnendünen und Flugsandebenen in der Allerniederung bei Gifhorn. - In: GRUNERT, J., & Höllermann, P. [ed.]: Geomorphologie und Landschaftsökologie. Eine Zusammenstellung von Beiträgen anläßlich der 17. Tag. des dt. Arb.-Kreises für Geomorphologie in Bonn 1991: pp. 186Ó195; Bonn. - [Bonner geogr. Abh., 85]
- Bettag, E. (1989): Fauna der Sanddünen zwischen Speyer und Dudenhofen. - Pollichia Buch 17: 148 pp.; Bad Dürkheim.
- Philippi, G. (1973): Sandfluren und Brachen kalkarmer Flugsande des mittleren Oberrheingebietes. Veröff. Landesst. Naturschutz und Landschaftspflege Bad.-Württ. 41: 24–62.
- Pyritz, E. (1972): Binnendünen und Flugsandebenen im Niedersächsischen Tiefland. - Göttinger Geogr. Abh., 61: 153 pp.; Göttingen.
- Pyritz, E. (1974): Äolische Prozesse an einer Binnendüne im Allertal. - Abh. Akad. Wiss. Göttingen, math.-phys. Kl., 3rd series, 29: pp. 219–225; Göttingen.
- Volk, 0. H. (1931): Beiträge zur Ökologie der Sandvegetation der Oberrheinischen Tiefebene. Zeitschr. f. Botanik 24: 81–185, Jena.