Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (November 2025) |
| Jeruk jari Buddha | |
|---|---|
| Jeruk jari Buddha, terlihat seperti "tangan terbuka" saat matang | |
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | |
| (tanpa takson): | |
| (tanpa takson): | |
| (tanpa takson): | |
| Ordo: | |
| Famili: | |
| Genus: | |
| Spesies: | |
| Varietas: | C. m. var. sarcodactylis
|
| Nama trinomial | |
| Citrus medica var. sarcodactylis (Hoola van Nooten) Swingle
| |
Jeruk jari Buddha atau Citrus medica var. sarcodactylis, dikenal pula sebagai Buddha’s hand atau jeruk jari, merupakan salah satu varietas dari jeruk sitrun yang buahnya tersegmentasi menjadi beberapa bagian menyerupai jari. Bentuk buah ini mirip dengan tangan pada patung-patung Buddha, sehingga disebut Buddha’s hand dalam berbagai bahasa seperti Inggris, Mandarin, Jepang, Korea, Vietnam, Jerman, dan Prancis.[1]
Asal dan varietas
suntingBeragam kultivar jeruk tangan Buddha memiliki variasi bentuk yang beragam. Ada tipe “tangan terbuka” (open-hand) dengan jari-jari yang menyebar, serta tipe “tangan tertutup” (closed-hand) dengan jari-jari yang rapat. Beberapa buah juga memiliki bentuk setengah terbuka, di mana bagian pangkal menyatu dan ujungnya terpisah menyerupai jari.[2]
Asal-usul jeruk tangan Buddha biasanya ditelusuri ke wilayah Asia Selatan atau Asia Timur, kemungkinan besar dari timur laut India atau Tiongkok, yang juga merupakan daerah asal banyak spesies jeruk yang dibudidayakan.
Deskripsi
suntingSeperti varietas jeruk sitrun lainnya, Citrus medica var. sarcodactylis tumbuh sebagai semak atau pohon kecil dengan cabang yang panjang, tidak beraturan, dan berduri. Daunnya besar dan lonjong berwarna hijau muda dengan panjang sekitar 10–15 sentimeter. Bunganya berwarna putih dengan semburat ungu di bagian luar dan tumbuh dalam kelompok yang harum.[3]
Buah tangan Buddha sebagian besar tidak memiliki sari atau daging buah seperti jeruk pada umumnya. Bagian dalam buah hanya terdiri dari lapisan putih tebal (albedo) dan sering kali tidak berbiji. Beberapa varietas mengandung sedikit pulp asam, tetapi banyak pula yang sepenuhnya kering.
Tanaman ini sensitif terhadap suhu ekstrem, baik dingin maupun panas, serta terhadap kekeringan. Ia tumbuh paling baik di iklim sedang. Perbanyakan biasanya dilakukan dengan stek dari cabang berumur dua hingga empat tahun atau melalui penyambungan batang bawah jeruk lain yang lebih kuat. Tanaman ini juga rentan terhadap penyakit citrus greening(HLB).[4]
Kegunaan
suntingAromaterapi dan Pewangi
suntingBuah tangan Buddha dikenal karena aromanya yang kuat dan harum. Di Tiongkok dan Jepang, buah ini digunakan sebagai pengharum alami untuk ruangan maupun pakaian. Kulitnya yang kaya minyak esensial juga dimanfaatkan dalam pembuatan parfum tradisional.[5]
Keagamaan
suntingDalam tradisi Buddhisme, buah tangan Buddha sering dijadikan persembahan di kuil. Menurut kepercayaan, Buddha lebih menyukai buah dengan jari-jari yang tertutup menyerupai tangan dalam posisi berdoa, yang melambangkan penghormatan dan doa. Di Tiongkok, buah ini juga menjadi simbol kebahagiaan, panjang umur, dan keberuntungan, serta kerap dijadikan hadiah tahun baru.
Dalam tradisi Yudaisme, penggunaan jeruk tangan Buddha sebagai etrog pada perayaan Sukkot pernah dibahas oleh Rabbi Abdallah Somekh dan muridnya, Rabbi Yosef Hayyim, dari Baghdad pada abad ke-19. Rabbi Somekh memperbolehkannya, sementara Rabbi Yosef Hayyim menolak karena tidak ada tradisi yang menguatkan penggunaannya.[6]
Tanaman Hias
suntingJeruk tangan Buddha sering dibudidayakan sebagai tanaman hias di taman maupun dalam pot di teras rumah. Di Amerika Serikat, buahnya yang belum matang pernah dipasarkan dengan nama Goblin Fingers sebagai hiasan bertema Halloween.[7]
Pangan dan Pengobatan Tradisional
suntingMeskipun sebagian besar varietasnya tidak memiliki sari buah, jeruk tangan Buddha tetap dimanfaatkan dalam kuliner karena bentuk dan aromanya yang khas. Kulit buahnya sering digunakan sebagai penyedap alami dalam makanan penutup, hidangan gurih, atau minuman beralkohol seperti vodka dan arak beras. Buah ini juga bisa dibuat manisan atau dikeringkan menjadi camilan.
Dalam pengobatan tradisional Tiongkok, kulit buah tangan Buddha yang telah dikeringkan digunakan sebagai tonik alami. Ia dipercaya membantu memperlancar pernapasan dan pencernaan.[8]
Galeri
sunting-
A fingered citron by Volckamer
-
Fingered citron by Wellcome Trust
-
Huge fruit breaking bearing twig
-
Buddha's hand citron in Val Rahmeh botanical garden
-
Semi-fingered and closed
-
Closed fingers
-
Side view
-
A fingered citron
-
Semi-closed fingers
-
Semi dwarf fingered citron (green)
-
With open fingers
-
Cross section in a Variety etrog citron, and in fingered citron
Lihat pula
suntingReferensi
sunting- ^ Karp, David (Winter 1998). "Buddha's Hand Citron". Flavor and Fortune. 5 (4). Kings Park, NY: Institute for the Advancement of the Science and Art of Chinese Cuisine: 5–6. Diarsipkan dari asli tanggal 6 June 2011. Diakses tanggal 20 April 2010.
- ^ "Citrus medica var. Buddhas Hand". Catalog of the Living Plant Collections. Storrs, CT: University of Connecticut, Department of Ecology & Evolutionary Biology, Plant Growth Facilities. Diakses tanggal 20 April 2010.
- ^ Vitalini, Sara; Iriti, Marcello; Ovidi, Elisa; Laghezza Masci, Valentina; Tiezzi, Antonio; Garzoli, Stefania (2022-03-03). "Detection of Volatiles by HS-SPME-GC/MS and Biological Effect Evaluation of Buddha's Hand Fruit". Molecules (dalam bahasa Inggris). 27 (5): 1666. doi:10.3390/molecules27051666. ISSN 1420-3049. PMC 8911557. PMID 35268766. Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link)
- ^ "Wayback Machine" (PDF). www.researchgate.net. Diakses tanggal 2025-11-10.
- ^ "Buddha's Hand". Melissas Produce (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-10.
- ^ "זבחי צדק - חלק ב - סומך, עבדאללה אברהם יוסף (page 379 of 465)". www.hebrewbooks.org. Diakses tanggal 2025-11-10.
- ^ Goldschmidt, Eliezer E. (2023). The Citron Compendium: The Citron (Etrog) Citrus Medica L.: Science and Tradition. Moshe Bar-Joseph (Edisi 1st ed). Cham: Springer International Publishing AG. ISBN 978-3-031-25775-9.
- ^ Dang, Nguyen Hai; Nhung, Pham Huong; Mai Anh, Bui Thi; Thu Thuy, Dinh Thi; Minh, Chau Van; Dat, Nguyen Tien (2016). "Chemical Composition and α-Glucosidase Inhibitory Activity of Vietnamese Citrus Peels Essential Oils". Journal of Chemistry (dalam bahasa Inggris). 2016 (1): 6787952. doi:10.1155/2016/6787952. ISSN 2090-9071. Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link)
Pranala luar
sunting
Media terkait Buddha's hand di Wikimedia Commons