Pertempuran Passempe (Bahasa Makassar: Bundu’ka ri Passempe’),[1] disebut juga sebagai Perang Passempaka[2] dan Perang Pasompak,[3] merupakan pertempuran yang terjadi di Pasempe, yang terletak sekitar 10 kilometer sebelah barat Watampone. Pertempuran ini terjadi antara Kesultanan Gowa dan sekutunya yang dipimpin oleh Karaeng Cenrana sebagai kepala ekspedisi,[4] dan Kesultanan Bone yang dipimpin oleh La Tenriaji. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 18 April hingga 25 Mei 1646.[2]

Pertempuran Passempe Kedua
Tanggal18 April–25 Mei 1646[2]
(1 bulan dan 1 minggu)
LokasiPasempe, Kesultanan Bone
Hasil
  • Kemenangan Gowa dan sekutu
  • Status Bone diturunkan dari negara bawahan menjadi jajahan Gowa[7]
Perubahan
wilayah
Wajo merebut kembali Timurung, Amali, Mampu, Sailong, Bunne, dan Pammana[8]
Pihak terlibat
Kesultanan Gowa
Kesultanan Wajo
Kesultanan Luwu
Kerajaan Soppeng[4]
Kesultanan Bone
Pro-Bone Soppeng[5][6]
Tokoh dan pemimpin
Malikussaid
Karaeng Cenrana
La Tenriaji (POW)
Arung Kung (POW)
Daeng Pabila (POW)
Arung Palakka (POW)[9][5]

Latar Belakang

sunting

Pada tahun 1611, Kerajaan Bone diserbu oleh Kesultanan Gowa dalam perang, dan Bone berpindah agama menjadi Islam.[10][11] Bone kemudian menikmati masa kemakmuran sebelum pertengahan abad ke-17.[12]

Pada masa pemerintahan Raja La Maddaremmeng, yang berkuasa dari tahun 1626 sampai 1643, ia menerapkan ajaran Islam yang lebih ketat di Bone,[13] tanpa mempertimbangkan adaptasi kontekstual lingkungan kerajaan pada saat itu.[3] Beliau mengeluarkan kebijakan untuk tidak mempekerjakan budak belian (ata), karena beliau menganggap bahwa semua umat Islam adalah orang merdeka. Semua budak harus dibebaskan atau diberi upah atas kerja kerasnya, kecuali budak yang diwariskan.[14][15][13]

Tentu saja ada pertentangan dari para bangsawan, namun dipimpin oleh ibunya sendiri, Datu Pattiro.[16][5] Akan tetapi, Maddaremmeng tetap ingin melaksanakan kebijakan tersebut dan menyebarkan ajaran Islamnya[5] ke daerah sekitar Bone seperti Wajo, Soppeng, Sawitto, Massepe, dan Bacukiki. Kerajaan-kerajaan sekitar Bone menafsirkan gerakan ini dalam konteks persaingan politik.[17] Para bangsawan Bone dan ibu Maddaremmeng meminta bantuan kepada Malikussaid untuk berperang melawan Maddaremmeng.[18][17]

Pertempuran Passempe Pertama

sunting

Malikussaid, penguasa Gowa, segera menanggapi kejadian tersebut dengan mengirimkan utusannya yang membawa surat untuk Maddaremmeng, tetapi ia tidak membalas surat tersebut.[19] Dengan alasan tersebut, Malikussaid bersiap untuk berperang melawan Bone. Pertempuran Passempe pertama terjadi pada 8 Oktober 1643,[20][21][a] Bone dikalahkan oleh Gowa yang dibantu oleh pasukan Wajo dan Soppeng, dan lebih dari 30.000 orang Bugis ditawan.[22] Maddaremmeng dan adiknya, La Tenriaji melarikan diri ke Larompong di Luwu[20] tetapi Tenriaji memutuskan untuk kembali ke Bone secara diam-diam.[23][4] Setelah Maddaremmeng akhirnya dikalahkan dan dibawa secara paksa ke Gowa,[4][b] Bone menjadi vasal Gowa.[18] Pada bulan November 1643, mereka mengganti penguasa Bone yang digulingkan dengan seorang bangsawan Bone yang ditunjuk oleh Makassar, I Tobala,[20][22] tetapi rakyat Bone menunjuk adik Maddaremmeng, La Tenriaji sebagai penguasa baru Bone tanpa sepengetahuan penguasa Gowa.[3]

Pertempuran

sunting

Setelah La Tenriaji diangkat sebagai raja baru oleh rakyat Bone, ia mengerahkan pasukan untuk memberontak terhadap Kesultanan Gowa.[4] Setelah mendengar berita tentang perkembangan tersebut, Malikussaid melancarkan ekspedisi melawan Bone untuk menghancurkan perlawanan yang dipimpin oleh Tenriaji.[4][5] Gerakan yang dilakukan Tenriaji didukung oleh keluarga La Tenritatta dari Soppeng,[5][6] keluarga Arung Palakka. Malikussaid mulai mengumpulkan pasukannya lagi, memanggil La Makkarakka (penguasa Wajo), La Basso (Luwu), dan We Addang (Soppeng) untuk ikut serta, dan mengangkat Karaeng Cenrana sebagai kepala ekspedisi.[4] Setelah mengetahui pasukan pimpinan Gowa sedang dalam perjalanan memasuki Bone, Tenriaji mengerahkan pasukannya ke Passempe, sebuah daerah perbukitan yang tidak jauh dari Watampone dan sangat ideal untuk dijadikan markas pertahanan.[25] Akhirnya terjadilah pertempuran sengit di Passempe yang ditulis dalam Lontara Bilang sebagai Bundu'ka ri Passempe' (Pertempuran di Passempe).[26] Namun sekali lagi, Bone dikalahkan oleh Gowa yang dibantu oleh pasukan Wajo, Luwu, dan Soppeng.[4] La Tenriaji menjadi tawanan perang termasuk Arung Kung dan Daeng Pabila.[4] Anggota keluarga La Tenritatta termasuk Arung Palakka disandera[27] atau menjadi tawanan perang;[9][5] dan dijadikan abdi di istana Karaeng Pattingalloang.[18][28]

Akibat

sunting

Setelah kekalahan Kesultanan Bone di Pasempe untuk kedua kalinya, status Bone diturunkan lagi menjadi "budak" (yakni koloni) oleh Kesultanan Gowa.[d][3] Untuk mencegah pemberontakan kembali terjadi, maka semua bangsawan Bone diasingkan ke Gowa.[3] Sejak tahun 1644, diangkatlah Jennang (pengawas) yang kemudian muncul kembali pada tahun 1646, yang bertugas mengawasi Bone agar tidak terjadi lagi perlawanan yang mengganggu.[30] Apabila ada bangsawan yang berani menentang, mereka akan dibawa ke Makassar untuk dipaksa untuk ikut serta dalam pembangunan benteng.[30] Setelah kemenangan pasukan yang dipimpin Gowa, penguasa Wajo, Luwu, dan Soppeng berkumpul di Baruga Baliya untuk menegaskan kembali Perjanjian Topaceddo, yang disebut Singkerru Patolae dalam bahasa Bugis.[4] Dalam perjanjian itu, Wajo merebut kembali wilayah dari Bone yang dianggapnya sebagai miliknya, seperti Timurung, Amali, Mampu, Sailong, Bunne, dan Pammana.[8] Daripada mengikuti kebiasaan mempertahankan penguasa yang ditaklukkan atau anggota keluarga kerajaan setempat sebagai vasal, Gowa memilih untuk mengangkat seorang kali (bupati), sebuah tindakan yang memicu ketidakpuasan dan akhirnya berpuncak pada sebuah peristiwa dramatis dua dekade kemudian.[7]

Catatan kaki

sunting
  1. ^ "Edisi Ke – 2 : Pelurusan Sejarah Arung Palakka (Raja Bone) dan Sultan Hasanuddin (Raja Gowa)". spionase-news.com. 2022-10-25. Diakses tanggal 2025-05-29.
  2. ^ a b c Cummings 2010, hlm. 66.
  3. ^ a b c d e Anawagis 2023, hlm. 103.
  4. ^ a b c d e f g h i j Andaya 1981, hlm. 42.
  5. ^ a b c d e f g h Fatma (2020), hlm. 53.
  6. ^ a b Patunru 1989, hlm. 119-120.
  7. ^ a b c Andaya 1981, hlm. 43.
  8. ^ a b Andaya 1981, hlm. 42-43.
  9. ^ a b Ali 1980, hlm. 34-35.
  10. ^ Noorduyn, J. (1987). "Makasar and the Islamization of Bima". Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde. 143 (2/3): 312–342. doi:10.1163/22134379-90003330. JSTOR 27863842. The Makasarese king understood the meaning of this and began what is known as the Islamic war, in Makasarese bunduq kasallannganga, by which he succeeded in the next four years in forcing the major Buginese kingdoms to accept Islam one by one, Bone as the last in 1611.
  11. ^ Pamelleri 2006.
  12. ^ "Sejarah Kabupaten Bone". Website Resmi Pemerintah Kabupaten Bone. 2019-12-05. Diakses tanggal 2022-04-18.
  13. ^ a b Andaya 1981, hlm. 39.
  14. ^ Fatma (2020), hlm. 52.
  15. ^ Palloge 2006, hlm. 111-112.
  16. ^ Andaya 1981, hlm. 39-40.
  17. ^ a b Andaya 1981, hlm. 40.
  18. ^ a b c Darmawijaya (2017), hlm. 29.
  19. ^ Andaya 1981, hlm. 40-41.
  20. ^ a b c Andaya 1981, hlm. 41.
  21. ^ a b Cummings 2010, hlm. 62.
  22. ^ a b Pelras 1996, hlm. 142.
  23. ^ Macknight, Paeni & Hadrawi 2020, hlm. 51-52.
  24. ^ Palloge 2006, hlm. 113.
  25. ^ "Edisi Ke – 2 : Pelurusan Sejarah Arung Palakka (Raja Bone) dan Sultan Hasanuddin (Raja Gowa)". spionase-news.com. 2022-10-25. Diakses tanggal 2025-05-29.
  26. ^ "Edisi Ke – 2 : Pelurusan Sejarah Arung Palakka (Raja Bone) dan Sultan Hasanuddin (Raja Gowa)". spionase-news.com. 25-10-2022. Diakses tanggal 2025-05-29.
  27. ^ Andaya 1981, hlm. 51.
  28. ^ Andaya 1981, hlm. 53.
  29. ^ Macknight, Paeni & Hadrawi 2020, hlm. 52.
  30. ^ a b Fatma (2020), hlm. 54.
  1. ^ Sejarah Makassar menyebut konflik ini sebagai Perang Pare-Pare: "nabattu karaenga nabetana Boné ri bunduq ri Pare-parea [...]" (Karaeng (Malikussaid) datang setelah menaklukkan Bone dalam perang Pare-Pare [...])[21]
  2. ^ Menurut Palloge dan Fatma, Maddaremmeng dikalahkan dalam pertempuran Cimpu.[5][24]
  3. ^ Andaya (1981) keliru menyebutkan pertempuran ini terjadi pada tahun 1644.[29]
  4. ^ "Sekarang akan diceritakan kekalahan Passempe pada tahun 1644,[c] penghancuran total pemegang dupa, perbudakan total tanah Boné oleh Goa." [7]

Sumber

sunting

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Laha Bete

orang-orang Bugis-Sinjai saja. Untuk daerah Bugis lainnya seperti Sidrap, Bone, Wajo, Soppeng dan Pinrang biasanya menyebutnya dengan lawa bale dikarenakan perbedaan

Kerajaan Sunda

30959/patanjala.v10i3.376. S2CID 192336846. "Sejarah Kabupaten Cirebon". Cirebon Regency. Diakses tanggal 16 January 2013. Teguh, Irfan. "Kesedihan di Balik Prasasti

Kerajaan Kadiri

K-Media. ISBN 978-602-6287-19-9. https://www.britannica.com/place/Kediri-regency-Indonesia "Prasasti Kamalagean dusun Klagen, desa Tropodo, kecamatan Krian

Daftar bandar udara menurut kode ICAO: W

(LHI) – Bandar Udara Lereh – Lereh WAJM (LII) – Bandar Udara Mulia – Mulia WAJO (OKL) – Bandar Udara Oksibil – Oksibil WAJR (WAR) – Bandar Udara Waris –

Daftar kunjungan kerja Joko Widodo

puncak acara ‘Ngunduh Mantu’ Kahiyang dan Bobby di Perumahan Bumi Hijau Regency, Taman Setia Budi Indah, Kota Medan Presiden Jokowi menghadiri Peresmian

Ulama Minangkabau

awal abad ke-17. Dalam Lontara Gowa, Lontara Tallo, dan Lontara Sukkuna Wajo, Datuk Ri Bandang, Datuk Ri Tiro, dan Datuk Patimang disebutkan berasal dari

Kabupaten Wonosobo

bps.go.id/id/publication/2025/02/28/44ac706cf04749eb1df846a6/wonosobo-regency-in-figures-2025.html. ; Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak

Kabupaten Nagekeo

2019-07-07. Diakses tanggal 2019-07-07. (Indonesia) Situs web resmi pemerintah Kabupaten Nagekeo Wikimedia Commons memiliki media mengenai Nagekeo Regency.