Baloh Apui atau yang lebih dikenal sebagai Bloh Apui, adalah sebuah atraksi kesenian tradisional dari Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh. Atraksi ini menampilkan aksi melompati api. Pada masa lalu, Bloh Apui sering kali diadakan secara rutin pada bulan Safar sebagai ritual tolak bala atau untuk mengusir musibah. Upacara ini biasanya diakhiri dengan kenduri apam atau kenduri kanji, yang merupakan tradisi masyarakat setempat. Saat ini, kesenian Bloh Apui masih sering ditampilkan dalam acara-acara budaya dan pertunjukan kesenian.[1][2]

Pelaksanaan Bloh Apui

sunting

Bloh Apui adalah salah satu budaya tradisional yang menggabungkan kesenian musik, tarian serta kekuatan supranatural. Dalam penampilannya Bloh Apui menyajikan atraksi berjalan dalam bara api yang sebelumnya sudah diritualkan secara khusus (yang tidak bertentangan dengan syariat Islam) dengan diiringi tabuhan rapai serta serune kale.[1]

Untuk melakukan upacara atau pementasan Bloh Apui dibutuhkan persiapan yang matang baik dari segi spiritual, unsur seni maupun segi peralatan dan perlengkapan. Untuk perlengkapan bloh apui dimulai dengan mengumpulkan Bak Mane (pohon laban) yang berdiameter 10 sampai 20 cm dipotong โ€“ potong sekitar 1 sampai 2 meter. Setelah bak mane terkumpul sekitar 100 sampai 150 potong maka bak mane tersebut ditumpuk dan dibakar, untuk proses pengumpulan arang dibutuhkan waktu 1 atau dua hari. Setelah semua arang terkumpul sekitar 1 atau 1,5 karung besar, arang tersebut dijemur selama 1 sampai 2 hari, selanjutnya arang tersebut disimpan ditempat yang kering. Dalam waktu bersamaan dengan proses pengumpulan arang, juga mengumpulkan boh kruet (jeruk purut) sekitar 10 sampai 15 buah serta mengumpulkan tanah sebanyak 2 sampai 3 karung kecil. Setelah semua bahan terkumpul dan diserahkan kepada Pawang, maka pawang mulai melakukan puasa hajad selama 3 hari dan malamnya shalat hajad 2 rakaat. Setelah shalat hajad Pawang berzikir untuk merajah bahan โ€“ bahan seperti arang, tanah dan boh kruet. Pada malam ketiga Pawang meyertakan air yang nantinya akan dicampur dengan boh kruet.[1]

Sejarah Bloh Apui

sunting

Sejarah Bloh Apui mulai tercatat pada tahun 1945, pada masa itu Kegiatan Bloh Apui dipimpin oleh Tgk. Husen (Tu Bumei Husen) yang merupakan Teungku Meunasah Gampong Leukeun dan juga Guru Pengajian Malam, selain itu Tu Bumei Husen Juga merupakan seorang Pawang Harimau. Oleh Tu Bumei Husen Ilmu Bloh Apui kemudian diwariskan kepada anak โ€“ anak serta keponakan beliau, hingga kini sampailah kepada generasi cucu โ€“cucu beliau.[1]

Bloh Apui dahulu sering dilakukan rutin pada bulan Shafar beriringan dengan meujalateh sebagai ritual tulak bala dan ditutup dengan kanduri apam (upacara tradisional). Meujalateh biasanya dilakukan tujuh malam berturut โ€“ turut, malam terakhir diiringi dengan acara bloh apui dan kanduri apam. Usai shalat magrib berjamaah di masjid Tgk. Imum Chik memimpin rombongan meujalateh yang beranggotakan laki โ€“ laki dewasa, pemuda dan anak โ€“ anak untuk mengelilingi Gampong dengan membawa obor sambil membacakan doa dan zikir โ€“ zikir. Sementara di tengah jalur yang nantinya akan dilewati oleh rombongan meujalateh, Tgk Meunasah sedang berzikir diatas tumpukan kayu yang sedang dimakan api. Setelah semua kayu menjadi bara Tgk Meunasah dibantu oleh beberapa orang merapikan bara api dan meyemburkannya dengan ie neurajah serta menjaga bara tetap meyala. Saat rombongan meujalateh tiba dilokasi, mereka langsung berjalan dalam bara api dengan tertip dan tanpa adaya peraan ragu takut terbakar. Selanjutnya rombongan kembali ke masjid dan mengakhiri ritual meujalateh dengan shalat Isya berjamaah. Setelah shalat Isya semua masyarakat yang mengikuti rangkaian upacara tersebut menyantap apam yang sudah mereka bawa dari rumah masing โ€“ masing.[1][2]

Perkembangan Bloh Apui

sunting

Pada masa kini, Ritual Meujalateh, Bloh Apui dan Kanduri Apam sering dilakukan secara terpisah. Hal ini dikarenakan perkembangan zaman yang menyebabkan generasi sekarang kurang tertarik dengan acara โ€“ acara tradisional dan menganggapnya sebagai budaya kuno. Menurut pemahaman masyarakat setempat, selain sebagai upacara tradisional bloh apui juga sebagai salah satu upaya pengobatan tradisional. Dengan berjalan dalam bara api dapat meringankan, menyembuhkan serta mencegah berbagai penyakit medis. Masyarakat setempat percaya bloh apui serupa dengan pijat refleksi kaki yang dapat melancarkan peredaran darah, menghilangkan stres, nyeri tulang dan sebagainya.[1]

Upaya pelestarian

sunting

Berbagai kegiatan kesenian Bloeh Apui merupakan bagian dari upaya untuk melestarikan dan memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada masyarakat luas. Diharapkan kegiatan serupa akan terus digelar guna memperkuat apresiasi terhadap seni dan budaya tradisional.[2]

Referensi

sunting
  1. ^ a b c d e f Aceh, Budaya. "Cagar Budaya Aceh". Budaya Aceh. Diakses tanggal 2025-11-21.
  2. ^ a b c "Kesenian 'Bloeh Apui' Aceh Barat Memukau Penonton". rri.co.id. 09-11-2023. Diakses tanggal 21-11-2025. ;

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Daftar Warisan Budaya Takbenda Indonesia

Ekspresi Lisan Bahasa Kluet Rateb Meuseukat Rateb Minsa Beude Trieng Bloh Apui Adat Istiadat Masyarakat, Ritus, dan Perayaan-Perayaan Sulubayung Kemahiran