| Nama | |
|---|---|
| Nama lain
Benzina; Ligroin ringan; Minyak bumi ringan; "peter"; Eter petroleum; Petroleum eter
| |
| Penanda | |
| ChemSpider |
|
| Nomor EC | |
| Nomor RTECS | {{{value}}} |
| UNII | |
CompTox Dashboard (EPA)
|
|
| Sifat | |
| Massa molar | 82,2 g/mol |
| Penampilan | Cairan yang mudah menguap, bening, tidak berwarna dan tidak berfluoresensi |
| Densitas | 0,653 g/mL |
| Titik lebur | < −73 °C (−99 °F; 200 K) |
| Titik didih | 42–62 °C (108–144 °F; 315–335 K) |
| tidak larut | |
| Kelarutan dalam Etanol | larut |
| Tekanan uap | 31 kPa (20 °C) |
| Indeks bias (nD) | 1,370 |
| Viskositas | 0,46 mPa·s |
| Bahaya | |
| Piktogram GHS | |
| Keterangan bahaya GHS | {{{value}}} |
| H225, H304, H315, H336, H411 | |
| P210, P243, P273, P301+P310, P301+P330+P331, P303+P361+P353, P403+P235 | |
| Titik nyala | < 0 °C (32 °F; 273 K) |
| 24.611 °C (44.332 °F; 24.884 K) | |
| Ambang ledakan | 1,4–5,9 % |
Threshold limit value (TLV)
|
300 ppm (1370 mg/m3) 8 jam TWA (TWA) |
| Dosis atau konsentrasi letal (LD, LC): | |
LC50 (konsentrasi median)
|
3400 ppm (pada tikus, 4 jam) |
| Batas imbas kesehatan AS (NIOSH): | |
PEL (yang diperbolehkan)
|
100 ppm (400 mg/m3) 8 jam TWA |
REL (yang direkomendasikan)
|
100 ppm (400 mg/m3) 10 jam TWA |
IDLH (langsung berbahaya)
|
1000 ppm |
| Senyawa terkait | |
Senyawa terkait
|
Ligroin, benzina minyak bumi, spiritus minyak bumi, pelarut Stoddard, nafta, spiritus putih |
Kecuali dinyatakan lain, data di atas berlaku pada suhu dan tekanan standar (25 °C [77 °F], 100 kPa). | |
| Referensi | |
Eter minyak bumi (disebut juga dengan eter petroleum atau petroleum eter) adalah fraksi minyak bumi yang terdiri dari hidrokarbon alifatik dan mendidih dalam kisaran 35–60 °C, dan umumnya digunakan sebagai pelarut laboratorium.[4] Meskipun namanya "eter minyak bumi", tetapi sebenarnya bukanlah eter.
Properti
suntingPetroleum eter sebagian besar terdiri dari hidrokarbon alifatik dan biasanya rendah aromatik. Eter ini umumnya dihidrodesulfurisasi dan dapat dihidrogenasi untuk mengurangi jumlah hidrokarbon aromatik dan hidrokarbon tak jenuh lainnya.[5]
Standar
suntingDIN 51630 memiliki titik didih awal di atas 25 °C, dan titik didih akhirnya hingga 80 °C.[5]
Keamanan
suntingKebakaran harus dipadamkan dengan busa, karbon dioksida, bahan kimia kering, atau karbon tetraklorida.[2]
Campuran nafta yang disuling pada titik didih yang lebih rendah memiliki keteruapan yang lebih tinggi, dan secara umum tingkat toksisitas yang lebih tinggi daripada fraksi titik didih yang lebih tinggi.[6]
Paparan berlebih akibat inhalasi terutama menyebabkan efek pada sistem saraf pusat (SSP) berupa sakit kepala, pusing, mual, kelelahan, dan gangguan koordinasi. Secara umum, toksisitas lebih terasa pada eter petroleum yang mengandung konsentrasi senyawa aromatik yang lebih tinggi. n-Heksana menyebabkan kerusakan akson pada saraf tepi.[3]
Kontak dengan kulit dapat menyebabkan dermatitis kontak alergi.[3]
Sulingan yang berasal dari petroleum belum terbukti bersifat karsinogenik pada manusia.[6] Eter petroleum terdegradasi dengan cepat di tanah dan air.[3]
Referensi
sunting- ^ Dieter Stoye (2007), "Solvents", Ullmann's Encyclopedia of Industrial Chemistry (Edisi 7th), Wiley, hlm. 41
- ^ a b N. Irving Sax, ed. (1957), "Petroleum Spirits", Dangerous Properties of Industrial Materials, Reinhold, hlm. 996–997
- ^ a b c d Patricia J Beattie (2005), "Petroleum Ether", Encyclopedia of Toxicology, vol. 3 (Edisi 2nd), Elsevier, hlm. 375–376
- ^ David R. Lide, ed. (2010), CRC Handbook of Chemistry and Physics (Edisi 90th), CRC Press, hlm. 2–60
- ^ a b Alan Phenix (2007), "Generic Hydrocarbon Solvents: a Guide to Nomenclature" (PDF), WAAC Newsletter, 29 (2)
- ^ a b Stephen R Clough (2005), "Petroleum Distillates", Encyclopedia of Toxicology, vol. 3 (Edisi 2nd), Elsevier, hlm. 372–375