Anjing bertelinga pendek[1] (Atelocynus microtis), yang dalam bahasa Inggris dikenal sebagai short-eared dog,[2][3] adalah spesies canidae yang sulit dijumpai dan endemik di lembah Amazon.[2][4] Meskipun dikenal dengan sebutan "short-eared dog" yang secara harfiah berarti "anjing bertelinga pendek" atau "ghost dog" yang berarti "anjing hantu", nyatanya spesies ini bukanlah anjing. Hewan ini hanya memiliki hubungan kekerabatan dalam keluarga canidae (kerabat anjing, rubah, mbetapa) dan merupakan satu-satunya spesies yang termasuk dalam genus Atelocynus.[4][5]
| Anjing bertelinga pendek
| |
|---|---|
| Atelocynus microtis | |
| Status konservasi | |
| Hampir terancam | |
| IUCN | 6924 |
| Taksonomi | |
| Kelas | Mammalia |
| Ordo | Carnivora |
| Famili | Canidae |
| Genus | Atelocynus |
| Spesies | Atelocynus microtis P.L. Sclater, 1883 |
| Tata nama | |
| Protonim | Canis microtis |
| Subspecies | |
| |
| Distribusi | |
Etimologi
suntingUalaka berasal dari kata uรกlaca (nama spesies ini di habitat aslinya) dari bahasa Yucuna.[6]
Sejarah evolusi dan spesies terdekat
sunting
Setelah terbentuknya Tanah Genting Panama pada akhir zaman tersier, sekitar 2,5 juta tahun yang lalu pada periode pliosen, kelompok canidae mulai bermigrasi dari Amerika Utara ke benua bagian selatan sebagai hasil dari fenomena yang dikenal sebagai Pertukaran Besar Amerika. Nenek moyang ualaka beradaptasi dengan kehidupan di hutan hujan tropis, mengembangkan berbagai ciri morfologi dan anatomi yang dibutuhkan untuk bertahan hidup di lingkungan tersebut. Meskipun ualaka memiliki sedikit kesamaan dengan mbetapa, sebenarnya kerabat terdekat mereka yang masih ada saat ini adalah maikong.[7] Ualaka merupakan spesies yang paling berbeda dengan canidae lainnya.[6]
Saat ini, terdapat dua spesies ualaka yang telah diidentifikasi, yaitu [4] A. m. microtis dan A. m. sclateri.
Agihan dan habitat
sunting
Ualaka dapat ditemukan di hutan hujan Amazon, yang terletak di Amerika Selatan, tepatnya di negara-negara seperti Brasil, Bolivia, Peru, Kolombia, Ekuador, dan mungkin juga Venezuela.[4] Ada sebuah laporan akan terlihatnya tiga hewan berbadan ramping seperti anjing di wilayah Provinsi Dariรฉn, Panama pada tahun 1984 oleh seorang ahli biologi yang bernama Sigi Weisel dan seorang penduduk asli dari Suku Embera di Panama: kehadiran spesies langka ini di Panama bisa dimungkinkan karena habitat hutan yang luas yang menutupi wilayah ini.[3] Ualaka hidup di berbagai lingkungan hutan hujan dan lebih menyukai daerah yang jarang dijamah manusia. Hewan ini tinggal di hutan dataran rendah yang dikenal dengan nama Floresta Amazรดnica dan hutan terra firme serta di hutan rawa, rumpun bambu dan hutan pegunungan.[8] Ualaka tergolong hewan yang soliter. Mereka lebih senang tinggal di bawah naungan pepohonan, juga menghindari interaksi dengan manusia dan interaksi dengan hewan lainnya.[9]
Karakteristik
sunting

Hewan ini memiliki kaki yang pendek, telinga yang kecil, tubuh yang ramping, serta ekor yang tebal. Moncongnya mirip dengan moncong rubah. Sebagian cakar pada ualaka dilengkapi dengan selaput yang memudahkan hewan ini untuk beradaptasi dengan habitatnya yang umumnya adalah lingkungan akuatik.[10]
Warnanya bervariasi mulai dari gelap hingga abu-abu kemerahan, dan bisa juga tampak hampir biru tua, coklat kopi, abu-abu gelap, atau bahkan abu-abu kastanye yang membaur menjadi hitam. Bulu hewan ini pendek, terdiri dari lapisan yang tebal dan kasar.[6] Dada hewan ini terlihat agak sempit, dengan warna gelap di bagian toraks yang berpadu dengan nuansa lebih cerah dan kemerahan di sisi perutnya.
Pola makan
suntingCanidae jenis ini umumnya adalah karnivora, dengan ikan, serangga, dan mamalia kecil menjadi bagian utama dari diet mereka. Sebuah penelitian yang dilaksanakan di Stasiun Biologi Cocha Cashu di Peru mengenai proporsi berbagai jenis makanan dalam pola makan hewan ini menghasilkan temuan sebagai berikut:
Perilaku dan perkembangbiakan
suntingSpesies ini menampilkan berbagai perilaku unik yang tidak lazim ditemukan pada canidae lainnya. Betina dari spesies ini memiliki ukuran yang sekitar sepertiga lebih besar dibandingkan jantannya. Sementara itu, jantan yang penuh semangat akan menyemprotkan cairan yang dihasilkan oleh kelenjar di ekornya. Mereka cenderung memilih gaya hidup soliter di kawasan hutan dan menghindari keberadaan manusia di habitat alaminya. Apabila merasa gelisah, jantan akan mengangkat bulu-bulu di punggungnya sebagai sebuah respon.[11]
Umur dan kehamilan pada ualaka masih menjadi misteri. Meskipun begitu, mereka mencapai kematangan seksual pada usia tiga tahun. Hal itu terbilang relatif terlambat jika dibandingkan dengan spesies canidae lainnya.[12]
Ancaman, kelangsungan hidup, dan masalah ekologi
suntingAnjing liar merupakan ancaman serius bagi populasi ualaka. Mereka dapat menyebarkan penyakit anjing dan rabies pada populasi ualaka. Di samping itu, ualaka juga sangat terpengaruh oleh hilangnya habitat mereka oleh anjing-anjing liar ini.
Hutan-hutan di Amerika Selatan yang dulunya rindang kini mengalami gangguan yang begitu serius dan mengkhawatirkan. Hampir tak ada lagi habitat alami yang tersisa, kecuali di area-area yang setiap hari terancam oleh aktivitas pemukiman maupun penambangan. Kehadiran manusia turut menyumbang pada kepunahan ualaka dengan merusak habitat alami mereka dan mengganggu ekosistem hutan hujan tropis secara keseluruhan.
Status konservasi
suntingUalaka saat ini telah masuk dalam daftar hampir terancam oleh IUCN.[2] Sayangnya, belum ada penelitian ekologi dan genetik yang menyeluruh yang dilakukan terhadap spesies ini.
Referensi
sunting- ^ Safira, Nur Aulia (6 Maret 2024). "6 Fakta Anjing Bertelinga Pendek". IDN Times. Diakses tanggal 12 Mei 2026.
- ^ a b c d Leite-Pitman, M.R.P.; Williams, R.S.R. (2011). "Atelocynus microtis". 2011: e.T6924A12814890. doi:10.2305/IUCN.UK.2011-2.RLTS.T6924A12814890.en. ;
- ^ a b Rosa, Carlos L. de la; Nocke, Claudia C. (2010-06-28). A Guide to the Carnivores of Central America: Natural History, Ecology, and Conservation (dalam bahasa Inggris). University of Texas Press. ISBNย 978-0-292-78951-7.
- ^ a b c d Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref>tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernamamsw3 - ^ "The Amazon's 'Ghost Dogs' Face 30 Percent Habitat Loss". Smithsonian magazine (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-03-01.
- ^ a b c Renata Leite Pitman; Robert S.R. Williams (2004). "The short eared dog (Atelocynus microtis) (Sclater, 1883)". Dalam Claudio Sillero-Zubiri; Michael Hoffmann; David W. Macdonald (ed.). Canids: Foxes, Wolves, Jackals and Dogs: Status Survey and Conservation Action Plan (Edisi 2004). IUCN, World Conservation Union. hlm.ย 26โ31. ISBNย 9782831707860.
- ^ Chavez, D.E.; Gronau, I.; Hains, T.; Dikow, R.B.; Frandsen, P.B.; Figueirรณ, H.V.; Garcez, F.S.; Tchaicka, L.; de Paula, R.C.; Rodrigues, F.H.G.; Jorge, R.S.P.; Lima, E.S.; Songsasen, N.; Johnson, W.E.; Eizirik, E.; Koepfli, K.P.; Wayne, R.K. (2022). "Comparative genomics uncovers the evolutionary history, demography, and molecular adaptations of South American canids". Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America. 119 (34): e2205986119. Bibcode:2022PNAS..11905986C. doi:10.1073/pnas.2205986119. PMCย 9407222. PMIDย 35969758.
- ^ "Atelocynus microtis (Short-eared Dog, Short-eared Fox, Small-eared Dog, Small-eared Zorro)". redlist.org. Diakses tanggal 2015-10-05.
- ^ Giaimo, Cara (4 Mei 2020). "The ghost dogs of the Amazon get a bit less mysterious". The New York Times (dalam bahasa American English). ISSNย 0362-4331. Diakses tanggal 13 Mei 2020.
- ^ "Atelocynus microtis: Information". ADW: Animal Diversity (animaldiversity.ummz.umich.edu). University of Michigan. Diakses tanggal 2015-10-05.
- ^ "Ecology and conservation of the short-eared dog (Atelocynus microtis)". Peru: Estaciรณn Biolรณgica Cocha Cashu [Cocha Cashu Biological Station]. Diarsipkan dari asli tanggal 16 Oktober 2012. Diakses tanggal 10 Juli 2024 โ via Duke University (duke.edu).
- ^ "Short-eared dog? Uncovering the secrets of one of the Amazon's most mysterious mammals". Mongabay Environmental News (dalam bahasa American English). 28 Juli 2014. Diakses tanggal 25 Juli 2020.
Bacaan lanjutan
sunting- Alderton, David (1998). Foxes, Wolves and Wild Dogs of the World. UK: Blandford Press.
- Nowak, Ronald (2005). Walker's Carnivores of the World. Baltimore, MD: The Johns Hopkins University Press.
Pranala luar
sunting- IUCN/SSC Canid Specialist Group: Small Eared Zorro
- Pro-carnivoros
- Ecology and conservation of the short-eared dog by WildCru
- Studies with a tame short-eared dog by Maria Renata Leite
- Atelocynus microtis Research and Conservation by M. R. Pitman Leite
- PHOTOS: Short-Eared Dog Caught in Camera Trap
- Short-eared Dog video by Wink Gross di YouTube
- Short haired Dog Video 25 May 2014 National Geographic