Orang-orang Ojibwe

Animisme (dari bahasa Latin anima atau "roh") adalah kepercayaan kepada makhluk halus dan roh merupakan asas kepercayaan agama yang mula-mula muncul di kalangan manusia purba.[1] Kepercayaan animisme memercayai bahwa setiap benda di Bumi ini (seperti kawasan tertentu, gua, pohon atau batu besar), mempunyai jiwa yang mesti dihormati agar roh tersebut tidak mengganggu manusia.[2]

Selain daripada jiwa dan roh yang mendiami di tempat-tempat yang dinyatakan di atas, kepercayaan animisme juga memercayai bahwa roh orang yang telah mati bisa masuk ke dalam tubuh hewan. Roh-roh orang yang telah mati juga bisa memasuki tubuh babi atau harimau dan dipercayai akan membalas dendam orang yang menjadi musuh bebuyutan pada masa hidupnya. Bahkan hal tersebut dipercayai sampai turun temurun.

Kepercayaan ini berbeda dengan kepercayaan reinkarnasi seperti yang terdapat pada agama Hindu dan Buddha, di mana dalam reinkarnasi, jiwa tidak pindah langsung ke tubuh hewan lain yang hidup, melainkan melalui proses kelahiran kembali kedunia dalam bentuk kehidupan baru. Pada agama Hindu dan Buddha juga terdapat konsep Hukum karma yang berbeda dengan kepercayaan animisme ini.

Etimologi

sunting

Istilah "animisme" berasal dari bahasa Latin yaitu anima atau animae. Kata ini berarti pernapasan atau roh.[3] Pengembangan konsep dari animisme ialah adanya jiwa atau roh pada tiap-tiap benda hidup maupun benda mati. Keberadaan ini kemudian membuat penganut animisme memuliakan benda-benda. Tujuaan pemuliaan ini agar benda-benda tersebut tidak memberikan gangguan kepada manusia, tetapi memberikan keberuntungan. Dalam animisme, tiap benda diyakini mampu memberikan manfaat dan pertolongan.[4]

Referensi

sunting
  1. ^ Prabowo, Gama (2020). Gischa, Serafica (ed.). "Sistem Kepercayaan Manusia Purba Masa Praaksara". Kompas.com. Diakses tanggal 20 Januari 2021.
  2. ^ "Struktur Upacara dan Fungsi Pertunjukkan Tari Asyeik Dalam Pengobatan di Dusun Empih Kecamatan Sungai Bungkal Kota Sungai Penuh". E-Jurnal Sendratasik. 7 (1): 62. 2018. ISSNย 2302-3201.
  3. ^ Lubis, Dahlia (2019). Aliran Kepercayaan atau Kebatinan (PDF). Medan: Perdana Publishing. hlm.ย 30. ISBNย 978-623-7160-60-1. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. ^ Kasno (2018). Salsabila, Intan (ed.). Filsafat Agama (PDF). Surabaya: Alpha. hlm.ย 33. ISBNย 978-602-6681-18-8. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Lihat pula

sunting

Pranala luar

sunting

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Kejawen

adalah tradisi budaya Jawa, yang terdiri dari perpaduan antara aspek-aspek Animisme, Buddha, Islam, dan Hindu. Hal ini berakar pada sejarah dan religiusitas

Animisme di Malaysia

Praktik animisme di Malaysia masih aktif dan dipraktikkan secara terbuka atau tertutup tergantung pada jenis ritual animisme dilakukan. Beberapa bentuk

Indonesia

membuktikan bahwa peradaban dan ajaran asli Indonesia berakar pada sistem animisme dan dinamisme. Tepatnya pada filosofi penghormatan terhadap roh nenek moyang

Tarumanagara

menyebutkan bahwa pada awal abad ke-5 M, di Ye-Po-Ti banyak orang Brahmana dan animisme. Pada tahun 414 M Fa-Hien datang ke tanah Jawa untuk membuat catatan sejarah

Kepercayaan tradisional di Sulawesi

Kepercayaan tradisional di Sulawesi merujuk pada kepercayaan tradisional yang dianut oleh masyarakat di Pulau Sulawesi. Berikut ini daftar kepercayaan

Hayu

tersebut, di mana 70,29% beragama Hindu dan 23,61% menganut kepercayaan animisme. Bahasa Hayu telah didokumentasikan oleh ahli linguistik Boyd Michailovsky

Bambu Gila

Ideomotor. Bambu Gila telah dikenal sejak masyarakat Maluku masih menganut animisme dan dinamisme. Selain sebagai permainan rakyat, Bambu Gila juga digunakan

Spiritualisme

spiritualisme, spiritisme merupakan keturunan langsung atau pengembangan dari animisme โ€œyang percaya bahwa semua benda dan kejadian alam berjiwaโ€, dan dinamisme