Artikel ini memberikan informasi dasar tentang topik kesehatan. |
| Data klinis | |
|---|---|
| Nama dagang | Colsancetine, Erlamycetin, Pentamycetin, Reco, Chloromycetin, lainnya[1] |
| AHFS/Drugs.com | monograph |
| MedlinePlus | a608008 |
| License data |
|
| Kategori kehamilan |
|
| Rute pemberian | Topikal (tetes mata), melalui mulut, IV, IM |
| Kode ATC | |
| Status hukum | |
| Status hukum | |
| Data farmakokinetika | |
| Bioavailabilitas | 75–90% |
| Pengikatan protein | 60% |
| Metabolisme | Hati |
| Waktu paruh eliminasi | 1,6-3,3 jam |
| Ekskresi | Ginjal (5-15%), feses (4%) |
| Pengenal | |
| |
| Nomor CAS | |
| PubChem CID | |
| DrugBank | |
| ChemSpider | |
| UNII | |
| KEGG | |
| ChEBI | |
| ChEMBL | |
| CompTox Dashboard (EPA) | |
| ECHA InfoCard | 100.000.262 |
| Data sifat kimia dan fisik | |
| Rumus | C11H12Cl2N2O5 |
| Massa molar | 323.1320 g/mol |
| Model 3D (JSmol) | |
| |
| |
| (verify) | |
Kloramfenikol merupakan antibiotik yang ditemukan pada tahun 1947[3] dari kultur Streptomyces venezuelae yang tidak diproduksi secara sintetik. Kloramfenikol merupakan antibakteri pertama yang berspektrum luas, dengan mekanisme kerja menghambat sintesis protein dan bersifat bakteriostatik.[4]
Kegunaan (Indikasi)
suntingKloramfenikol biasa digunakan untuk mengobati diare yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Kloramfenikol juga digunakan sebagai obat tetes mata untuk mengobati konjungtivitis.[5]
Dosis
suntingPenggunaan oral, injeksi intravena, atau infus: 50 mg/kg bb/hari dibagi dalam 4 dosis (pada infeksi berat seperti septikemia dan meningitis, dosis dapat digandakan dan segera diturunkan bila terdapat perbaikan klinis).
Dosis anak: epiglotitis hemofilus, meningitis purulenta, 50–100 mg/kg bb/hari dalam dosis terbagi. BAYI di bawah 2 minggu: 25 mg/kg bb/hari (dibagi dalam 4 dosis); 2 minggu—1 tahun: 50 mg/kg bb/hari (dibagi 4 dosis).[6]
Efek Samping
suntingAnemia Aplastik
suntingEfek samping paling serius dari pengobatan kloramfenikol adalah anemia aplastik (AA). Efek ini jarang terjadi tetapi terkadang berakibat fatal. Risiko AA cukup tinggi sehingga alternatif pengobatan harus dipertimbangkan dengan serius. Pengobatan tersedia tetapi mahal. Tidak ada cara untuk memprediksi siapa yang mungkin atau tidak mungkin menderita efek samping ini. Efek ini biasanya terjadi beberapa minggu atau bulan setelah pengobatan dihentikan, dan predisposisi genetik mungkin berperan. Tidak diketahui apakah pemantauan jumlah sel darah pasien dapat mencegah perkembangan anemia aplastik, tetapi pasien disarankan untuk melakukan pemeriksaan jumlah sel darah dasar dengan pemeriksaan ulang setiap beberapa hari selama pengobatan.[7] Kloramfenikol harus dihentikan jika jumlah sel darah lengkap menurun. Risiko tertinggi terjadi pada kloramfenikol oral (memengaruhi 1 dari 24.000–40.000)[8] dan risiko terendah terjadi pada versi tetes mata (memengaruhi kurang dari satu dari 224.716 resep).[9]
Penekanan sumsum tulang
suntingKloramfenikol dapat menyebabkan penekanan sumsum tulang selama pengobatan, yang merupakan efek toksik langsung obat pada mitokondria manusia.[10] Efek ini pertama kali bermanifestasi sebagai penurunan kadar hemoglobin, yang terjadi cukup dapat diprediksi setelah dosis kumulatif 20 g diberikan. Anemia sepenuhnya dapat dipulihkan setelah obat dihentikan dan tidak memprediksi perkembangan anemia aplastik pada masa mendatang. Studi pada tikus menunjukkan bahwa kerusakan sumsum tulang yang ada dapat memperparah kerusakan sumsum tulang akibat efek toksik kloramfenikol.[11]
Leukemia
suntingLeukemia (kanker darah atau sumsum tulang) ditandai dengan peningkatan abnormal sel darah putih yang belum matang. Risiko leukemia pada anak meningkat, seperti yang ditunjukkan dalam kajian kasus–kontrol di Cina,[12] dan risikonya meningkat seiring lamanya pengobatan.
Sindrom bayi abu-abu
suntingPenggunaan kloramfenikol intravena telah dikaitkan dengan sindrom bayi abu-abu.[13] Fenomena ini terjadi pada bayi baru lahir karena mereka belum memiliki enzim hati yang berfungsi penuh (yaitu UDP-glukuronil transferase), sehingga kloramfenikol tetap tidak dimetabolisme dalam tubuh.[14] Hal ini menyebabkan beberapa efek samping termasuk hipotensi dan sianosis. Kondisi ini dapat dicegah dengan menggunakan obat pada dosis yang direkomendasikan, dan memantau kadar darah.[15][16][17]
Reaksi Hipersensitivitas
suntingDemam, ruam makular dan vesikular, angioedema, biduran, dan anafilaksis dapat terjadi. Reaksi Herxheimer telah terjadi selama terapi untuk demam tifoid.[18]
Reaksi Neurotoksik
suntingSakit kepala, depresi ringan, kebingungan mental, dan delirium telah dilaporkan pada pasien yang menerima kloramfenikol. Neuritis optik dan perifer telah dilaporkan, biasanya setelah terapi jangka panjang. Jika hal tersebut terjadi, penggunaan obat ini harus segera dihentikan.[18] Diteorikan bahwa ini disebabkan oleh efek kloramfenikol pada metabolisme vitamin B, khususnya B-12.[19]
Sindrom Mielodisplastik
suntingMeskipun jarang, paparan kloramfenikol dikaitkan dengan beberapa kasus sindrom mielodisplastik. Terdapat laporan mengenai respons positif terhadap pengobatan imunosupresif.[20]
Kontraindikasi
suntingKloramfenikol tidak boleh digunakan pada wanita hamil, menyusui, dan pasien porfiria.[6]
Peringatan
suntingHindari pemberian berulang dan jangka panjang. Turunkan dosis pada gangguan fungsi hati dan ginjal. Lakukan hitung jenis sel darah sebelum dan secara berkala selama pengobatan. Pada neonatus dapat menimbulkan grey baby syndrome. (Periksa kadar dalam plasma.)[6]
Referensi
sunting- ^ Woods, Adrienne L. (2008). Delmar nurse's drug handbook (Edisi 2009). Clifton Park, N.Y.: Delmar. hlm. 296. ISBN 9781428361065. Diarsipkan dari asli tanggal 2016-03-05.
- ^ "Chloramphenicol". PubChem. Diarsipkan dari asli tanggal 2016-11-15.
- ^ Oxford Handbook of Infectious Diseases and Microbiology. OUP Oxford. hlm. 56. ISBN 9780191039621.
- ^ C., Sweetman, Sean (2009). Martindale : the complete drug reference (Edisi 36th ed). London: Pharmaceutical Press. ISBN 9780853698401. OCLC 317669736. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
- ^ DrugBank, ed. (2017-09-01). "Chloramphenicol". DrugBank.
- ^ a b c "5.1.8.1 Kloramfenikol | PIO Nas". pionas.pom.go.id. Diarsipkan dari asli tanggal 2017-09-22. Diakses tanggal 2017-09-21.
- ^ Hammett-Stabler CA, Johns T (May 1998). "Laboratory guidelines for monitoring of antimicrobial drugs. National Academy of Clinical Biochemistry". Clinical Chemistry. 44 (5): 1129–1140. doi:10.1093/clinchem/44.5.1129. PMID 9590397.
- ^ Wallerstein RO, Condit PK, Kasper CK, Brown JW, Morrison FR (June 1969). "Statewide study of chloramphenicol therapy and fatal aplastic anemia". JAMA. 208 (11): 2045–2050. doi:10.1001/jama.208.11.2045. PMID 5818983.
- ^ Lancaster T, Swart AM, Jick H (February 1998). "Risk of serious haematological toxicity with use of chloramphenicol eye drops in a British general practice database". BMJ. 316 (7132): 667. doi:10.1136/bmj.316.7132.667. PMC 28473. PMID 9522792.
- ^ Yunis AA (September 1989). "Chloramphenicol toxicity: 25 years of research". The American Journal of Medicine. 87 (3N): 44N – 48N. PMID 2486534.
- ^ Morley A, Trainor K, Remes J (April 1976). "Residual marrow damage: possible explanation for idiosyncrasy to chloramphenicol". British Journal of Haematology. 32 (4): 525–531. doi:10.1111/j.1365-2141.1976.tb00955.x. PMID 1259934. S2CID 40234293.
- ^ Shu XO, Gao YT, Linet MS, Brinton LA, Gao RN, Jin F, Fraumeni JF (October 1987). "Chloramphenicol use and childhood leukaemia in Shanghai". Lancet. 2 (8565): 934–937. doi:10.1016/S0140-6736(87)91420-6. PMID 2889862. S2CID 3217082.
- ^ McIntyre J, Choonara I (2004). "Drug toxicity in the neonate". Biology of the Neonate. 86 (4): 218–221. doi:10.1159/000079656. PMID 15249753. S2CID 29906856.
- ^ Piñeiro-Carrero VM, Piñeiro EO (April 2004). "Liver" (PDF). Pediatrics. 113 (4 Suppl): 1097–1106. doi:10.1542/peds.113.S3.1097. PMID 15060205. S2CID 264867934. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2021-08-28. Diakses tanggal 2012-01-09.
- ^ Feder HM (September 1986). "Chloramphenicol: what we have learned in the last decade". Southern Medical Journal. 79 (9): 1129–1134. doi:10.1097/00007611-198609000-00022. PMID 3529436.
- ^ Mulhall A, de Louvois J, Hurley R (November 1983). "Chloramphenicol toxicity in neonates: its incidence and prevention". British Medical Journal. 287 (6403): 1424–1427. doi:10.1136/bmj.287.6403.1424. PMC 1549666. PMID 6416440.
- ^ Forster J, Hufschmidt C, Niederhoff H, Künzer W (April 1985). "[Need for the determination of chloramphenicol levels in the treatment of bacterial-purulent meningitis with chloramphenicol succinate in infants and small children]". Monatsschrift Kinderheilkunde (dalam bahasa Jerman). 133 (4): 209–213. PMID 4000136.
- ^ a b "Drug Insert from DailyMed". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 April 2014. Diakses tanggal 18 April 2014.
- ^ Ramilo O, Kinane BT, McCracken GH (May 1988). "Chloramphenicol neurotoxicity". The Pediatric Infectious Disease Journal (dalam bahasa American English). 7 (5): 358–359. doi:10.1097/00006454-198805000-00015. PMID 3380586.
- ^ Arber C, Buser A, Heim D, Gratwohl A, Tichelli A, Passweg JR (March 2006). "Cyclosporine-responsive thrombocytopenia in a patient with chloramphenicol-associated myelodysplastic syndrome". Eur J Haematol (dalam bahasa American English). 76 (3): 255–257. doi:10.1111/j.0902-4441.2005.00593.x. PMID 16451398.