Orientasi seksual adalah pola ketertarikan romantis dan/atau ketertarikan seksual pribadi yang menerus kepada lawan jenis atau lawan gender yang cocok anatomis genital manusia, sesama jenis atau sesama gender yang tidak cocok anatomis, pada kedua jenis kelamin, maupun pada lebih dari satu gender.

Meski dalam definisi orientasi seksual yang menyebutkan sebagai "-dan/atau keterlibatan dengan ketertarikan romantis", definisi yang menggabungkan unsur romantis ini sering dinilai tumpang tindih dan membingungkan dengan terminologi orientasi romantis. Hubungan antara ketertarikan seksual dan ketertarikan romantis sendiri masih dalam perdebatan, dan belum sepenuhnya dipahami.[1][2]

Sebagai contoh, pendefinisian orientasi seksual aseksual, tolak ukur penentu masuk kategori aseksualitas hanya melihat kekuatan ketertarikan seksual tanpa melibatkan kekuatan ketertarikan romantis. Tidak lagi melihat ke dalam ketertarikan seksual dalam orientasi seksual, orientasi romantis sering dianggap sebagai ukuran ketertarikan yang lebih berguna daripada orientasi seksual untuk aseksual. [3][4] Kategori orientasi ini masing-masing terpisah. Romantis memiliki dimensinya sendiri (pada Orientasi romantis) yang mempunyai definisi berbeda atau berkonteks tunggal mengenai kasih sayang atau cinta tanpa melibatkan "ketertarikan seksual".

Pola-pola orientasi seksual tersebut umumnya dikategorikan sebagai heteroseksualitas, homoseksualitas, dan biseksualitas.[5][6][7]Sementara itu, aseksualitasโ€”yakni ketiadaan atau sedikitnya ketertarikan seksual kepada orang lainโ€”terkadang diidentifikasikan sebagai kategori keempat.[8][9] Kategori tersebut merupakan aspek-aspek dari identitas seksual, klasifikasi dan terminologi yang lebih bernuansa.[7]

Menurut Asosiasi Psikologis Amerika, orientasi seksual "juga merujuk pada rasa identitas diri seseorang yang didasarkan pada ketertarikan tersebut, perilaku-perilaku yang terkait dengannya, serta keanggotaan dalam suatu komunitas bersama dengan orang-orang yang memiliki ketertarikan serupa".[10][11] Androfilia dan ginefilia adalah istilah yang digunakan dalam ilmu perilaku untuk menggambarkan orientasi seksual sebagai alternatif dari konseptualisasi gender biner. Androfilia menggambarkan ketertarikan seksual terhadap maskulinitas; sedangkan ginefilia mernggambarkan ketertarikan seksual terhadap femininitas.[12] Istilah "preferensi seksual" sebagian besar beririsan dengan orientasi seksual, akan tetapi kedua hal tersebut umumnya dapat dibedakan dalam penelitian psikologi.[13] Individu yang mengidentifikasi diri mereka sebagai biseksual bisa saja lebih memilih untuk berpasangan dengan salah satu jenis kelamin dibandingkan dengan jenis kelamin lain. Preferensi seksual umumnya juga menunjukan pilihan secara sukarela pada derajat tertentu,[13][14][15] sedangkan orientasi seksual bukan merupakan pilihan.[16][17][18] Namun pernyataan ini kembali membuat pertentangan dan tumpang tindih dengan teori Fluiditas seksual (oleh Lisa M. Diamond), dimana bisa terjadinya satu atau lebih perubahan dalam seksualitas atau identitas seksual (kadang-kadang dikenal sebagai identitas orientasi seksual). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa beberapa orang mungkin mengalami perubahan dalam orientasi seksual mereka, dan ini lebih mungkin terjadi pada wanita daripada pria.[19] Ini berarti ketertarikan seksual seseorang tidak selalu tetap dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk perubahan internal seperti perkembangan emosional dan psikologis. Fluiditas seksual menekankan bahwa orientasi seksual tidak selalu bersifat tetap atau biner, tetapi dapat lebih dinamis dan fleksibel. Perkembangan psikologis/mental juga memainkan peran penting dalam fluditas identitas orientasi seksual. [20]

Meski belum ada satu teori pun mengenai penyebab orientasi seksual yang mendapat dukungan luas, para ilmuwan lebih tertarik pada teori-teori biologis.[21][16][22] Terdapat lebih banyak bukti yang mendukung penyebab-penyebab biologis dan non-sosial dari orientasi seksualโ€”dibandingkan dengan penyebab sosialโ€”khususnya pada laki-laki.[21][23][24] Hipotesis utama yang banyak didukung ialah hipotesis yang melibatkan lingkungan pranatal, terkhususnya efek organisasional hormon-hormon pada otak janin.[21][22] Tidak ada bukti substantif yang menunjukan bahwa pola asuh ataupun pengalaman masa kecil berperan dalam perkembangan orientasi seksual.[21][25] Para ilmuwan percaya bahwa itu disebabkan oleh interaksi kompleks dari pengaruh genetik, hormonal.[16][26][27] Namun bukti ilmiah terbaru menjawab hipotesis genetik sejak awal 1990, pada penelitian dengan 500.000 individu atau 100 kali lebih besar dari penelitian genetik sebelumnya, faktor genetik dan kromosom terbantahkan.[28][29] Di berbagai budaya, sebagian besar orang adalah heteroseksual, dan minoritas orang memiliki orientasi homoseksual dan biseksual.[21][23]:โ€Š8โ€Š[30]:โ€Š9โ€“10โ€Š

Penelitian beberapa dekade memang menunjukkan bahwa orientasi seksual seseorang dapat berada dalam suatu kontinum. Ujung satu spektrumnya adalah ketertarikan eksklusif pada lawan jenis, dan ujung spektrum lain adalah ketertarikan eksklusif pada sesama jenis. Orientasi seksual suatu individu dapat berada di titik manapun dalam spektrum tersebut.[31][32] Namun dalam perkembangan penelitian terbaru, konsep kontinum ini lemah, terlalu sederhana, dan terbantahkan.[33][29]

Orientasi seksual dipelajariโ€”utamanya dalam bidang biologi, antropologi, dan psikologi (termasuk seksologi). Orientasi seksual juga merupakan bidang subjek dalam sosiologi, sejarah (termasuk perspektif konstruktivisme sosial), dan hukum.[34]

Penelitian Perilaku

sunting

Mewakili masa yang berlangsung, perkembangan penelitian menemukan hubungan psikopatologi dengan orientasi non-hetero atau atraktif eksklusif untuk jenis kelamin yang sama, menunjukan berisiko memiliki gangguan masalah kejiwaan pengendalian impuls saraf otak seksual.[35][36] Perilaku Gangguan perilaku seksual kompulsif telah diidentifikasi sebagai korelasi risiko seksual di antara homoseksual dan biseksual ke HIV/AIDS.[37] Di Amerika, homoseksual atau non-hetero juga merupakan angka pengidap HIV/AIDS paling paling tinggi dan mayoritas infeksi,[38][39] dengan jumlah lebih tinggi 2 sampai 3 kali lipat angka penularan heteroseksual[38][39] atau 70%.[40] Bukti medis lain menunjukkan bahwa orientasi non-hetero merupakan populasi yang berisiko tinggi untuk infeksi Hepatitis A. [41] Laporan non-penelitian lain, di indonesia, orang yang berkembang menjadi kejahatan predator anak atau Pedofilia terhadap anak jenis kelamin laki-laki rata-rata adalah homoseksual, dan sedikit kategori biseksual.[42][43][44][45][46][47][48][49][50][51][52][53][54][55][56]

Diagnosis

sunting

Diagnosis mengenai homoseksual yang tidak diinginkan dan diharapkan, bahkan disalahartikan sebagai adanya respons fisiologis homoseksualitas, bernama HOCD.[57] Orang yang diketahui tidak ingin menjadi homoseksual atau menyadari sesuatu hal buruk tentang homoseksualnya,[58] hingga rasa bersalah.[59][60] Ada beberapa data yg menjelaskan โ€˜tidak sesuai dengan yg diinginkan individu tersebutโ€™.[61] Dan data lain juga mengatakan, yang sudah menjadi homoseksual namun merasa โ€˜tidak nyaman'.[62]

Awal istilah

sunting

Istilah Orientasi seksual di perkenalan oleh John Money, salah satu ilmuwan pertama yang mempelajari pengalaman psikologis dari kebingungan seksual.[63] Dikenal juga sebagai pedofilia dan Pro-pedofilia sebagai orientasi seksual, dan eksperimen sunat penuh anak terhadap pengembangan gender yang kemudian bunuh diri pada umur 38 tahun akibat trauma perlakuannya.[64]

Lihat pula

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ L. M, Diamond (2003). "What does sexual orientation orient? A biobehavioral model distinguishing romantic love and sexual desire". Psychological Review. 110 (1): 173โ€“192. doi:10.1037/0033-295X.110.1.173. ISSNย 1939-1471. PMIDย 12529061.
  2. ^ Houdenhove, Ellen Van; Gijs, Luk; T'Sjoen, Guy; Enzlin, Paul (April 21, 2014). "Asexuality: A Multidimensional Approach". The Journal of Sex Research. 52 (6): 669โ€“678. doi:10.1080/00224499.2014.898015. ISSNย 0022-4499. PMIDย 24750031. S2CIDย 35875780.
  3. ^ Richards, Christina; Barker, Meg (2013). Sexuality and Gender for Mental Health Professionals: A Practical Guide. SAGE. hlm.ย 124โ€“127. ISBNย 1-4462-9313-0. Diakses tanggal July 3, 2014.
  4. ^ Cerankowski, Karli June; Milks, Megan (2014). Asexualities: Feminist and Queer Perspectives. Routledge. hlm.ย 89โ€“93. ISBNย 1-134-69253-6. Diakses tanggal July 3, 2014.
  5. ^ "Sexual Orientation & Homosexuality". American Psychological Association. 2020. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal February 16, 2019. Diakses tanggal February 6, 2020.
  6. ^ "Sexual Orientation". American Psychiatric Association. Diarsipkan dari asli tanggal July 22, 2011. Diakses tanggal January 1, 2013.
  7. ^ a b "Definitions Related to Sexual Orientation and Gender Diversity in APA Documents" (PDF). American Psychological Association. 2015. hlm.ย 6. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal January 22, 2021. Diakses tanggal February 6, 2020. Sexual orientation refers to the sex of those to whom one is sexually and romantically attracted. [...] [It is] one's enduring sexual attraction to male partners, female partners, or both. Sexual orientation may be heterosexual, same-sex (gay or lesbian), or bisexual. [...] A person may be attracted to men, women, both, neither, or to people who are genderqueer, androgynous, or have other gender identities. Individuals may identify as lesbian, gay, heterosexual, bisexual, queer, pansexual, or asexual, among others. [...] Categories of sexual orientation typically have included attraction to members of one's own sex (gay men or lesbians), attraction to members of the other sex (heterosexuals), and attraction to members of both sexes (bisexuals). While these categories continue to be widely used, research has suggested that sexual orientation does not always appear in such definable categories and instead occurs on a continuum [...]. Some people identify as pansexual or queer in terms of their sexual orientation, which means they define their sexual orientation outside of the gender binary of 'male' and 'female' only.
  8. ^ Marshall Cavendish Corporation, ed. (2009). "Asexuality". Sex and Society. Vol.ย 2. Marshall Cavendish. hlm.ย 82โ€“83. ISBNย 978-0-7614-7905-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal October 16, 2015. Diakses tanggal February 2, 2013.
  9. ^ Bogaert, AF (April 2015). "Asexuality: What It Is and Why It Matters". The Journal of Sex Research. 52 (4): 362โ€“379. doi:10.1080/00224499.2015.1015713. PMIDย 25897566. S2CIDย 23720993.
  10. ^ "Sexual Orientation & Homosexuality". American Psychological Association. 2020. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal February 16, 2019. Diakses tanggal February 6, 2020.
  11. ^ "Case No. S147999 in the Supreme Court of the State of California, In re Marriage Cases Judicial Council Coordination Proceeding No. 4365(...) โ€“ APA California Amicus Briefย โ€” As Filed" (PDF). p. 33 n. 60 (p. 55 per Adobe Acrobat Reader);citation per id., Brief, p. 6 n. 4 (p. 28 per Adobe Acrobat Reader). hlm.ย 30. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal January 18, 2012. Diakses tanggal March 13, 2013. Pemeliharaan CS1: Lain-lain (link)
  12. ^ Schmidt J (2010). Migrating Genders: Westernisation, Migration, and Samoan Fa'afafine, p. 45 Ashgate Publishing, Ltd., ISBN 978-1-4094-0273-2
  13. ^ a b "Avoiding Heterosexual Bias in Language" (PDF). American Psychological Association. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal August 13, 2012. Diakses tanggal July 19, 2011.
  14. ^ Friedman, Lawrence Meir (1990). The republic of choice: law, authority, and culture. Harvard University Press. hlm.ย 92. ISBNย 978-0-674-76260-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 February 2022. Diakses tanggal 8 January 2012.
  15. ^ Heuer, Gottfried (2011). Sexual revolutions: psychoanalysis, history and the father. Taylor & Francis. hlm.ย 49. ISBNย 978-0-415-57043-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 February 2022. Diakses tanggal 8 January 2011.
  16. ^ a b c Frankowski BL; American Academy of Pediatrics Committee on Adolescence (June 2004). "Sexual orientation and adolescents". Pediatrics. 113 (6): 1827โ€“32. doi:10.1542/peds.113.6.1827. PMIDย 15173519. Diarsipkan dari asli tanggal 2013-03-20.
  17. ^ Gloria Kersey-Matusiak (2012). Delivering Culturally Competent Nursing Care. Springer Publishing Company. hlm.ย 169. ISBNย 978-0-8261-9381-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal November 30, 2016. Diakses tanggal February 10, 2016. Most health and mental health organizations do not view sexual orientation as a 'choice.'
  18. ^ Lamanna, Mary Ann; Riedmann, Agnes; Stewart, Susan D (2014). Marriages, Families, and Relationships: Making Choices in a Diverse Society. Cengage Learning. hlm.ย 82. ISBNย 978-1-305-17689-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal November 30, 2016. Diakses tanggal February 11, 2016. The reason some individuals develop a gay sexual identity has not been definitively established ย โ€“ nor do we yet understand the development of heterosexuality. The American Psychological Association (APA) takes the position that a variety of factors impact a person's sexuality. The most recent literature from the APA says that sexual orientation is not a choice that can be changed at will, and that sexual orientation is most likely the result of a complex interaction of environmental, cognitive and biological factors...is shaped at an early age...[and evidence suggests] biological, including genetic or inborn hormonal factors, play a significant role in a person's sexuality (American Psychological Association 2010).
  19. ^ *Bailey, J. Michael; Vasey, Paul; Diamond, Lisa; Breedlove, S. Marc; Vilain, Eric; Epprecht, Marc (2016). "Sexual Orientation, Controversy, and Science". Psychological Science in the Public Interest. 17 (2): 45โ€“101. doi:10.1177/1529100616637616. PMIDย 27113562. Diarsipkan dari asli tanggal 2019-12-02. Diakses tanggal 2022-07-19. Sexual fluidity is situation-dependent flexibility in a person's sexual responsiveness, which makes it possible for some individuals to experience desires for either men or women under certain circumstances regardless of their overall sexual orientation.... We expect that in all cultures the vast majority of individuals are sexually predisposed exclusively to the other sex (i.e., heterosexual) and that only a minority of individuals are sexually predisposed (whether exclusively or non-exclusively) to the same sex.
    • Seth J. Schwartz; Koen Luyckx; Vivian L. Vignoles (2011). Handbook of Identity Theory and Research. Springer Science & Business Media. hlm.ย 652. ISBNย 978-1441979889. Diakses tanggal February 18, 2016. Modern scholarship examining the stability of sexual orientation also seems to support our conceptualizations of sexual orientation, sexual orientation identity, and sexual identity (e.g., Diamond, 2003a; Horowitz & Necomb, 2001; Rosario, Schrimshaw, Hunter, & Braun, 2006, see Savin-Williams, Chapter 28, this volume). Specifically, some dimensions of sexual identity, such as relationships, emotions, behaviors, values, group affiliation, and norms, appear to be relatively fluid; by contrast, sexual orientation [i.e., an individual's patterns of sexual, romantic, and affectional arousal and desire for other persons based on those persons' gender and sex characteristics (APA Task Force on Appropriate Therapeutic Responses to Sexual orientation, 2009)] has been suggested to be stable for a majority of people across the lifespan (Bell, Weinberg, & Hammersmith, 1981; Ellis & Ames, 1987; Haldeman, 1991; Money, 1987).
    • Dennis Coon; John O. Mitterer (2012). Introduction to Psychology: Gateways to Mind and Behavior with Concept Maps and Reviews. Cengage Learning. hlm.ย 372. ISBNย 978-1111833633. Diakses tanggal February 18, 2016. Sexual orientation is a deep part of personal identity and is usually quite stable. Starting with their earliest erotic feelings, most people remember being attracted to either the opposite sex or the same sex. [...] The fact that sexual orientation is usually quite stable doesn't rule out the possibility that for some people sexual behavior may change during the course of a lifetime.
    • American Psychological Association (2012). "Guidelines for Psychological Practice With Lesbian, Gay, and Bisexual Clients" (PDF). American Psychologist. 67 (1): 10โ€“42. doi:10.1037/a0024659. PMIDย 21875169. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2019-06-16. Diakses tanggal June 23, 2019. [S]ome research indicates that sexual orientation is fluid for some people; this may be especially true for women (e.g., Diamond, 2007; Golden, 1987; Peplau & Garnets, 2000). [...] Therapeutic efforts to change sexual orientation have increased and become more visible in recent years (Beckstead & Morrow, 2004). Therapeutic interventions intended to change, modify, or manage unwanted nonheterosexual orientations are referred to as "sexual orientation change efforts" (SOCE; APA, 2009b). [...] Reviews of the literature, spanning several decades, have consistently found that efforts to change sexual orientation were ineffective (APA, 2009b; Drescher, 2001; Haldeman, 1994; T. F. Murphy, 1992).
    • Eric Anderson; Mark McCormack (2016). "Measuring and Surveying Bisexuality". The Changing Dynamics of Bisexual Men's Lives. Springer Science & Business Media. hlm.ย 47. ISBNย 978-3-319-29412-4. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-07-22. Diakses tanggal June 22, 2019. [R]esearch suggests that women's sexual orientation is slightly more likely to change than men's (Baumeister 2000; Kinnish et al. 2005). The notion that sexual orientation can change over time is known as sexual fluidity. Even if sexual fluidity exists for some women, it does not mean that the majority of women will change sexual orientations as they age โ€“ rather, sexuality is stable over time for the majority of people.
  20. ^ Savin-Williams, R.C.; Joyner, K.; Rieger, G. (2012). "Prevalence and stability of self-reported sexual orientation identity during young adulthood". Archives of Sexual Behavior. 41 (1): 1โ€“8. doi:10.1007/s10508-012-9913-y. PMIDย 22302504. S2CIDย 43225099.
  21. ^ a b c d e Bailey JM, Vasey PL, Diamond LM, Breedlove SM, Vilain E, Epprecht M (2016). "Sexual Orientation, Controversy, and Science". Psychological Science in the Public Interest. 17 (21): 45โ€“101. doi:10.1177/1529100616637616. PMIDย 27113562.
  22. ^ a b Bogaert, Anthony F.; Skorska, Malvina N. (2020-03-01). "A short review of biological research on the development of sexual orientation". Hormones and Behavior. 119: 104659. doi:10.1016/j.yhbeh.2019.104659. ISSNย 0018-506X. PMIDย 31911036.
  23. ^ a b LeVay, Simon (2017). Gay, Straight, and the Reason Why: The Science of Sexual Orientation. Oxford University Press. ISBNย 9780199752966. OLย 26246092M โ€“ via Open Library.
  24. ^ Balthazart, Jacques (2012). The Biology of Homosexuality. Oxford University Press. ISBNย 9780199838820. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 January 2021. Diakses tanggal 27 July 2019.
  25. ^ "Submission to the Church of England's Listening Exercise on Human Sexuality". The Royal College of Psychiatrists. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 October 2015. Diakses tanggal 13 June 2013.
  26. ^ Mary Ann Lamanna; Agnes Riedmann; Susan D Stewart (2014). Marriages, Families, and Relationships: Making Choices in a Diverse Society. Cengage Learning. hlm.ย 82. ISBNย 978-1305176898. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-07-03. Diakses tanggal February 11, 2016. The reason some individuals develop a gay sexual identity has not been definitively established ย โ€“ nor do we yet understand the development of heterosexuality. The American Psychological Association (APA) takes the position that a variety of factors impact a person's sexuality. The most recent literature from the APA says that sexual orientation is not a choice that can be changed at will, and that sexual orientation is most likely the result of a complex interaction of environmental, cognitive and biological factors...is shaped at an early age...[and evidence suggests] biological, including genetic or inborn hormonal factors, play a significant role in a person's sexuality (American Psychological Association 2010).
  27. ^ Gail Wiscarz Stuart (2014). Principles and Practice of Psychiatric Nursing. Elsevier Health Sciences. hlm.ย 502. ISBNย 978-0323294126. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-07-03. Diakses tanggal February 11, 2016. No conclusive evidence supports any one specific cause of homosexuality; however, most researchers agree that biological and social factors influence the development of sexual orientation.
  28. ^ Ganna, Andrea; Verweij, Karin J. H.; Nivard, Michel G.; Maier, Robert; Wedow, Robbee; Busch, Alexander S.; Abdellaoui, Abdel; Guo, Shengru; Sathirapongsasuti, J. Fah (2019-08-30). "Large-scale GWAS reveals insights into the genetic architecture of same-sex sexual behavior". Science (dalam bahasa Inggris). 365 (6456): eaat7693. doi:10.1126/science.aat7693. ISSNย 0036-8075. PMCย 7082777. PMIDย 31467194. Pemeliharaan CS1: Format PMC (link)
  29. ^ a b "There is no 'gay gene.' There is no 'straight gene.' Sexuality is just complex, study confirms". PBS NewsHour (dalam bahasa American English). 2019-08-29. Diakses tanggal 2022-09-02.
  30. ^ Balthazart, Jacques (2012). The Biology of Homosexuality. Oxford University Press. ISBNย 9780199838820. OLย 16142775W โ€“ via Open Library.
  31. ^ "Sexual Orientation & Homosexuality". American Psychological Association. 2020. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal February 16, 2019. Diakses tanggal February 6, 2020.
  32. ^ "Sexual orientation, homosexuality and bisexuality". American Psychological Association. 2008 [2008]. Diarsipkan dari asli tanggal August 8, 2013. Diakses tanggal August 10, 2013.
  33. ^ * Ganna A, Verweij KJ, Nivard MG, Maier R, Wedow R, Busch AS, etย al. (August 2019). "Large-scale GWAS reveals insights into the genetic architecture of same-sex sexual behavior". Science. 365 (6456): eaat7693. doi:10.1126/science.aat7693. PMCย 7082777. PMIDย 31467194.
  34. ^ Cruz, David B. (1999). "Controlling Desires: Sexual Orientation Conversion and the Limits of Knowledge and Law" (PDF). Southern California Law Review. 72 (5): 1297โ€“400. PMIDย 12731502. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2017-09-19. Diakses tanggal 2015-05-21.
  35. ^ Bล‘the, Beรกta; Bartรณk, Rรฉka; Tรณth-Kirรกly, Istvรกn; C. Reid, Rory; D. Griffiths, Mark (2018). "Hypersexuality, Gender, and Sexual Orientation: A Large-Scale Psychometric Survey Study". Archives of Sexual Behavior. 47 (8): 2265โ€“2276. doi:10.1007/s10508-018-1201-z.
  36. ^ M.P, Kafka (24 November 2009). "Hypersexual disorder: A proposed diagnosis for DSM-V". Archives of Sexual Behavior. 39 (2): 377โ€“400. doi:10.1007/s10508-009-9574-7.
  37. ^ Yeagley, Emily; Hickok, Andrew; A Bauermeister, Josรฉ (2014). "Hypersexual behavior and HIV sex risk among young gay and bisexual men". Journal of Sex Research. 51 (8): 882โ€“92. doi:10.1080/00224499.2013.818615.
  38. ^ a b "HIV in the United States and Dependent Areas | Statistics Overview | Statistics Center | HIV/AIDS | CDC". www.cdc.gov (dalam bahasa American English). 2022-03-31. Diakses tanggal 2022-08-30.
  39. ^ a b "Basic Statistics | HIV Basics | HIV/AIDS | CDC". www.cdc.gov (dalam bahasa American English). 2022-06-21. Diakses tanggal 2022-08-30.
  40. ^ June 02, Content Source: HIV govDate last updated:; 2021 (2021-06-02). "U.S. Statistics". HIV.gov (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-08-30. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)
  41. ^ ร€ngel, Gasch-Gallรฉn; Ibรกรฑez-Tomรกs, Eduardo (2021). "sexual practices and the risk of Hepatitis A in men who have sex with men in Spain. Journal of Nursing Management". Journal of Nursing Management. 29 (1): 32โ€“42. doi:10.1111/jonm.13179.
  42. ^ "Cabuli 4 Pelajar, PNS Kepsek Gay Ditangkap Saat Dirawat di Rumah Sakit". tagar.id. 4 December 2017.
  43. ^ Setiawan, Aries (20 Februari 2020). "Predator Seks Anak Laki-laki di Tulungagung Ternyata Aktivis HIV/AIDS - VIVA". VIVA.co.id.
  44. ^ "Ketua Ikatan Gay Tulungagung Ditangkap Usai Cabuli 11 Anak". CNN Indonesia. 20 Jan 2020.
  45. ^ "Cabuli 3 Siswa, Guru Homo di Sulsel Dihukum 15 Bulan Penjara". detikcom. 04 Des 2013.
  46. ^ "Mengaku Gay, Pelaku Sodomi Anak SD di Badung Tak Menyesal". baliexpress.jawapos.com. 4 March 2020.
  47. ^ Divianta, Dewi (05 Mar 2020). Mahbub, Harun (ed.). "Parah! Seorang Gay di Bali Sodomi Bocah SD Sebanyak 44 Kali". Liputan6.com.
  48. ^ "Mahasiswa Homoseksual Cabuli 4 Anak Laki-laki". jatimnow.com. 24 Agu 2018.
  49. ^ Kuwado, Fabian Januarius (29 April 2013). Soebijoto, Hertanto (ed.). "Penyodomi Belasan Bocah Diduga Homoseksual". Kompas.com.
  50. ^ "Anak-anak Dijual Ke Komunitas Gay Lewat Facebook Dan Twitter". rmol.id. 31 Agustus 2016.
  51. ^ Natalia (28 Juli 2018). "Pria Ini Gagal Nikah, Jadi Gay lalu Cabuli Anak Kecil". JPNN.com.
  52. ^ "CABULI EMPAT ANAK KARENA TERINSPIRASI GRUP KOMUNITAS GAY DI MEDSOS". rimpolrestabessurabaya.com. 25 Agustus 2018.[pranala nonaktif permanen]
  53. ^ Mulyono, Yakub (09 Nov 2015). "Pria ini Cabuli Bocah Laki-laki yang Numpang Mandi di Rumahnya". detikcom.
  54. ^ "Pemuda Gay Lecehkan 12 Remaja Laki-Laki, Jerat Korban dengan Foto Perempuan di Medsos". inews.id. Senin, 27 Desember 2021.
  55. ^ Riswan, Oris (Senin 05 Mei 2014). "Pelaku Kekerasan Seksual Terhadap Anak Bisa 'Cicipi' 120 Korban". Okezone.com.
  56. ^ "Suka Sesama Jenis, Pria ini Cabuli Anak di Kosnya". suarasurabaya.net. 27 Juli 2018.
  57. ^ "Homosexual OCD Symptoms and HOCD Treatment Options". Center for Treatment of Anxiety & Mood Disorders (dalam bahasa Inggris).
  58. ^ Bhatia, Manjeet S.; Kaur, Jaswinder (2015-1). "Homosexual Obsessive Compulsive Disorder (HOCD): A Rare Case Report". Journal of Clinical and Diagnostic Researchย : JCDR. 9 (1): VD01 โ€“ VD02. doi:10.7860/JCDR/2015/10773.5377. ISSNย 2249-782X. PMCย 4347158. PMIDย 25738067.
  59. ^ Coimbra-Gomes, Elvis; Motschenbacher, Heiko (2019). "Language, normativity, and sexual orientation obsessive-compulsive disorder (SO-OCD): A corpus-assisted discourse analysis". Language in Society. 48 (4): 565. ISSNย 0047-4045.
  60. ^ "HOCD: What It Is, Signs, & Treatments". Choosing Therapy (dalam bahasa American English).
  61. ^ "Sexual Orientation OCD (HOCD) โ€ข Treatment โ€ข CalOCD" (dalam bahasa American English). 2019-05-28.
  62. ^ Igartua, Karine J. (Fall 2015). "[Distinguishing normal identity formation process for sexual minorities from obsessive compulsive disorder with sexual orientation obsessions]". Sante Mentale Au Quebec. 40 (3): 129โ€“144. ISSNย 0383-6320. PMIDย 26966852.
  63. ^ "John William Money, 84, Sexual Identity Researcher, Dies". archive.ph. ..."He was the first scientist to provide a language to describe the psychological dimensions of human sexual identity; no such language had existed before," -- Dr. Kenneth J. Zucker, psychologist in chief at the Centre for Addiction and Mental Health in Toronto. and "... He was among the first scientists to study the psychological experience of sexual confusion and to grasp possible ways to relieve suffering."
  64. ^ Slatz, Anna (2022-01-24). "John Money: The Pro-Pedophile Pervert Who Invented "Gender"". Reduxx (dalam bahasa Inggris (Britania)).

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Homoseksualitas

ketertarikan romantis dan/atau seksual atau perilaku antara individu berjenis kelamin atau gender yang sama. Sebagai orientasi seksual, homoseksualitas mengacu

Biologi dan orientasi seksual

Hubungan antara biologi dan orientasi seksual merupakan sebuah subjek penelitian ilmiah yang masih terus berlangsung. Meskipun para ilmuwan masih belum

Lesbian

mengarahkan orientasi seksualnya kepada sesama perempuan. Istilah ini juga merujuk kepada perempuan yang mencintai perempuan baik secara fisik, seksual, emosional

Orientasi seksual ego-distonik

Orientasi seksual ego-distonik adalah penyakit kejiwaan ego-distonik yang terjadi ketika seseorang memiliki orientasi atau ketertarikan seksual yang tidak

Keperawanan

tidak berpengalaman dalam hubungan seksual, tetapi saat ini tidak hanya sebatas itu. Seseorang yang berorientasi heteroseksual bisa beranggapan bahwa

Lingkungan dan orientasi seksual

mengenai lingkungan dan orientasi seksual adalah penelitian yang mencari kemungkinan pengaruh lingkungan dalam pembentukan orientasi seksual. Beberapa peneliti

Seksualitas manusia

reproduksi manusia, termasuk siklus respons seksual manusia. Orientasi seksual seseorang adalah pola ketertarikan seksual mereka terhadap lawan jenis dan/atau

Biseksualitas

antara ketertarikan seksual dan ketertarikan romantis, dan belum sepenuhnya dipahami. Mengingat dalam patokan orientasi seksual, Aseksual disebutkan