Samaweda atau Samaveda (Sanskerta: เคธเคพเคฎเคตเฅ‡เคฆ, sฤmaveda), yang berakar dari kata "sฤman" (nyanyian)[1] dan "weda" (pengetahuan), adalah salah satu dari Catur Weda. Samaweda merupakan himpunan mantra-mantra yang diberi tanda nada untuk dinyanyikan dalam berbagai irama. Sebagian besar isi Sama Weda diambil dari Reg Weda, perbedaannya hanya terdapat pada puji-pujian.

Dengan total 1875 mantra, sebagian besar isi Samaweda diambil dari Regweda tetapi disusun sesuai dengan urutan dibawakannya oleh penyanyi pada saat upacara.[2] Ada hanya sekitar 75 mantra unik dalam weda ini.[3]

Yang menyanyikan mantra dari Samaweda disebut sebagai Udgatara (udgฤtแน›i).[4]

Sama Weda juga berisi himne-himne yang khusus disusun untuk dinyanyikan dalam upacara keagamaan.[5]

Samaveda banyak dipengaruhi oleh melodi dan irama, dengan tujuan agar doa-doa tersebut dapat dipahami dan diterima oleh alam semesta dan para dewa.

Struktur dan pembagian

sunting

Samaweda adalah yang terpendek dari keempat Weda dan berhubungan erat dengan Regweda. Samaweda, seperti Weda lainnya, berisi lapisan-lapisan teks dengan Samhita sebagai lapisan paling lama dan Upanisad sebagai lapisan paling baru. Samhita-nya dianggap sebagai koleksi independen, tetapi memiliki banyak mantra dari Samhita Regweda.[6]

Samaweda berfungsi tidak hanya sebagai teks untuk dibaca tetapi juga sebagai notasi musik untuk didengar โ€” sebuah sintesis musik, suara, makna, dan spiritualitas. Tanda nada di manuskrip Samaweda melestarikan suaranya dan mengingatkan melodi kuno.[7]

Tema utama dan filosofi

sunting

Upanisad-upanisad dalam Samaweda menekankan pentingnya susila sebagai dasar untuk pengetahuan spiritual dan kesadaran diri. Mantra di Samaweda mengandung simbolisme, suara, musik, alam semesta dan berbagai aspek spiritual. Dewa Indra (เค‡เคจเฅเคฆเฅเคฐ), Agni (เค…เค—เฅเคจเคฟ), dan Soma (เคธเฅ‹เคฎ) dipujakan, tetapi sering kali mantra-mantra itu tampak sebagai pemujaan kepada Yang Mahakuasa.[6]

Upanisad di dalam Samaweda

sunting

Dua upanisad utama yang tertanam di dalam Samaweda adalah Chฤndogya Upaniแนฃad[8] dan Kena Upaniแนฃad.[9] Konsep ฤ€tman (diri sejati) dan Brahman (realitas absolut) dalam kedua teks ini menekankan kesatuan semua makhluk.

Chฤndogya Upaniแนฃad

sunting
Kutipan Samaweda dari manuskrip yang bertanggal bertanggal abad ke-12
Kutipan Samaweda dalam bahasa Sanskerta dengan tanda baca di manuskrip yang bertanggal abad ke-12.

Chฤndogya Upaniแนฃad menyentuh semadi, susila, alam semesta, dan hubungan antara ฤ€tman dan Brahman. Topik utama termasuk semadi pada suku kata suci 'Om' (เฅ), diskusi tentang konsep kebaikan dan kejahatan, sifat dharma, dan berbagai tahap kehidupan (ฤล›rama). Di dalam Chฤndogya Upaniแนฃad juga terdapat pernyataan terkenal "Tat Tvam Asi" (เคคเคคเฅ เคคเฅเคตเคฎเฅ เค…เคธเคฟ), yang menekankan kesatuan jiwa individu dengan semangat kosmik.

Upanisad ini berkaitan dengan gagasan tentang Yang Mahatinggi, kekuatan mistik, yang terkandung dalam kata Brahman dan Atman dan bagaimana kedua entitas ini menyatu satu sama lain dan menjadi identik.[10]

Teks Chฤndogya Upaniแนฃad di bagian 8.15.1 berisi salah satu referensi paling awal tentang ahimsa.[11]

Kena Upaniแนฃad

sunting

Kena Upaniแนฃad terdiri dari dua bagian: bagian pertama yang berisi prosa lama dan bagian kedua yang berisi mantra-mantra baru. Kata "kena" dalam bahasa Sanskerta berarti "oleh siapa",[12] dan ini adalah kata pertama dalam serangkaian pertanyaan yang ada dalam Upanishad ini. Melalui serangkaian pertanyaan filosofis, teks ini mengeksplorasi konsep tentang siapa yang menggerakkan atau mendorong pikiran untuk berpikir, nafas untuk bergerak keluar, dan ucapan untuk diucapkan. Perwujudan apa yang berada di balik mata dan telinga? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut mengarah pada diri sejati yang berada di luar pikiran dan indera tetapi merupakan perwujudan yang olehnya pikiran dan indera beroperasi.[13]

Kena Upaniแนฃad menyoroti pentingnya memahami dua jenis pengetahuan: empiris (yang dapat dipelajari) dan konseptual (intuitif), dengan fokus pada pemahaman Brahman. Brahman digambarkan sebagai esensi di luar persepsi indrawi, bukan objek penyembahan tetapi sebagai inti yang memungkinkan persepsi dan pemahaman.

Selain itu, upanisad ini menekankan pencerahan diri, menjelaskan berbagai aspek keberadaan dan hubungan antara dewa (seperti Agni (เค…เค—เฅเคจเคฟ), Vayu (เคตเคพเคฏเฅ), dan Indra (เค‡เคจเฅเคฆเฅเคฐ)) dan Brahman melalui alegori. Dalam epilognya, Kena Upaniแนฃad menekankan hidup etis sebagai dasar pengetahuan spiritual dan kesadaran diri.

Referensi

sunting
  1. ^ "เคธเคพเคฎเคจเฅ". Wiktionary, the free dictionary (dalam bahasa Inggris). 2023-11-07.
  2. ^ ""ะกะะœะะ’ะ•ะ”ะ" | ัั‚ะพ... ะงั‚ะพ ั‚ะฐะบะพะต "ะกะะœะะ’ะ•ะ”ะ"?". ะกะปะพะฒะฐั€ะธ ะธ ัะฝั†ะธะบะปะพะฟะตะดะธะธ ะฝะฐ ะะบะฐะดะตะผะธะบะต (dalam bahasa Rusia). Diakses tanggal 2023-11-27.
  3. ^ "INDIAN EDUCATIONAL SYSTEM IN THE VEDIC PERIOD" (PDF). Shanlax International Journal of Arts, Science and Humanities: 98.
  4. ^ "Agama Hindu". Agama Hindu. Diakses tanggal 2023-11-27.
  5. ^ "Google". www.google.com. Diakses tanggal 2025-01-14.
  6. ^ a b "Samaveda | Vedic Heritage Portal". vedicheritage.gov.in. Diakses tanggal 2023-11-27.
  7. ^ Katz, Ruth (1974). "On "Nonsense" Syllables as Oral Group Notation". The Musical Quarterly. 60 (2): 187โ€“194. ISSNย 0027-4631.
  8. ^ The Chandogya Upanishad of the Samaveda (dalam bahasa Sanskerta). Sucharoo Press. 1873.
  9. ^ Misra, Munindra (2017-10-09). Kena Upanishad: From: Sama Veda (dalam bahasa Inggris). Osmora Incorporated. ISBNย 978-2-7659-3049-5.
  10. ^ Oldenberg, Hermann (1991). The Doctrine of the Upaniแนฃads and the Early Buddhism (dalam bahasa Inggris). Motilal Banarsidass Publ. ISBNย 978-81-208-0830-0.
  11. ^ www.wisdomlib.org (2019-01-04). "Chandogya Upanishad, Verse 8.15.1 (English and Sanskrit)". www.wisdomlib.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2023-11-27.
  12. ^ "เค•เคฟเคฎเฅ". Wiktionary, the free dictionary (dalam bahasa Inggris). 2023-09-17.
  13. ^ "Knowledge-Centered Tradition in India: From Ancient to the Modern Times" (PDF). The Icfai Journal of History and Culture. II (1): 13.

Lihat pula

sunting

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Sastra Hindu

terbagi atas empat bagian yang dikenal dengan Catur Veda, Rgveda, Yajurveda, Samaveda dan Atharvaveda. Veda tertua adalah Rgveda memuat lebih dari 1000 sloka

Agama Hindu

cara-cara yang baru. Ada empat kitab Weda, yaitu Regweda (แนšgveda), Samaweda (Sฤmaveda), Yajurweda (Yajurveda), dan Atharwaweda (Atharvaveda). Kitab Regweda adalah

Devanagari Extended

adalah blok Unicode yang mengandung tanda-tanda kantilasi untuk penulisan Samaveda, dan tanda nasalisasi untuk aksara Devanagari. Devanagari dalam Unicode

Sakha (veda)

Mandukayana, Yajurveda memiliki 42 - 44, bahkan ada yang beranggapan 68, Samaveda memiliki 12 sakha, Atharvaveda memiliki 9 sakha. Di antara sekian banyak

Mahakarya Warisan Budaya Lisan dan Takbenda Manusia

suci agama Hindu yang terdiri dari empat bagian utama Rgveda, Yajurveda, Samaveda, dan Atharvaveda. Isi kitab Weda dilantunkan sebagai nyanyian yang indah