Soemitro Djojohadikoesoemo
Sumitro Djojohadikusumo ca 1973
Menteri Negara Riset Indonesia ke-3
Masa jabatan
28 Maret 1973ย โ€“ 28 Maret 1978
PresidenSoeharto
Sebelum
Pendahulu
Suhadi Reksowardojo (sebagai Menteri Badan Riset Nasional, 1966)
Pengganti
B. J. Habibie
Sebelum
Menteri Perdagangan Indonesia ke-7
Masa jabatan
6 Juni 1968ย โ€“ 28 Maret 1973
PresidenSoeharto
Sebelum
Pendahulu
M. Jusuf
Sebelum
Masa jabatan
6 September 1950ย โ€“ 27 April 1951[a]
PresidenSoekarno
Perdana MenteriMohammad Natsir
Menteri Keuangan Indonesia ke-8
Masa jabatan
12 Agustus 1955ย โ€“ 24 Maret 1956
PresidenSoekarno
Perdana MenteriBurhanuddin Harahap
Sebelum
Pendahulu
Ong Eng Die
Sebelum
Masa jabatan
3 April 1952ย โ€“ 30 Juli 1953
PresidenSoekarno
Perdana MenteriWilopo
Sebelum
Pendahulu
Jusuf Wibisono
Pengganti
Ong Eng Die
Sebelum
Informasi pribadi
Lahir(1917-05-29)29 Mei 1917
Gombong, Hindia Belanda
Meninggal9 Maret 2001(2001-03-09) (umurย 83)
Jakarta, Indonesia
MakamTaman Pemakaman Umum Karet Bivak
Partai politikPartai Sosialis Indonesia (1950โ€“1960)
Suami/istri
โ€‹
(m.ย 1945)โ€‹
HubunganSoedradjad Djiwandono
(menantu)
Anak4, termasuk Prabowo Subianto dan Hashim Djojohadikusumo
Orang tua
Almamater
Pekerjaan
  • Politikus
  • ekonom
Dikenal karenaPenggagas Rencana Soemitro dan program Benteng
Tanda tanganTanda tangan Sumitro Djojohadikusumo
Sunting kotak info
Sunting kotak infoย โ€ข Lย โ€ข B
Bantuan penggunaan templat ini

Sumitro Djojohadikusumo (EVO: Soemitro Djojohadikoesoemo; 27 Mei 1917ย โ€“ย 9 Maret 2001) adalah seorang negarawan Indonesia dan salah satu ekonom paling berpengaruh di negara tersebut. Ia memegang jabatan menteri di bawah Presiden Soekarno dan Soeharto secara bergantian antara tahun 1950 dan 1978. Selama kariernya di pemerintahan, Sumitro menjabat sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan, Menteri Keuangan, dan Menteri Riset dalam lima kabinet yang berbeda. Ia juga pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Ekonomi di Universitas Indonesia.

Lahir dalam keluarga Jawa, ia menempuh studi ekonomi di Sekolah Ekonomi Belanda di Rotterdam, Belanda, dan tetap tinggal di sana sepanjang Perang Dunia II. Sekembalinya ke Indonesia setelah perang, ia ditugaskan dalam misi diplomatik negara tersebut di Amerika Serikat, di mana ia berupaya menggalang dana dan menarik perhatian internasional dalam perjuangan melawan kolonialisme Belanda. Setelah penyerahan kedaulatan sebagai hasil dari Konferensi Meja Bundar Belanda-Indonesia tahun 1949โ€”yang turut ia hadiriโ€”ia bergabung dengan Partai Sosialis dan menjadi Menteri Perdagangan dan Perindustrian dalam Kabinet Natsir. Ia menerapkan program proteksionis bernama Program Benteng, serta menyusun sebuah rencana ekonomi yang bertujuan mewujudkan industrialisasi nasional. Sumitro kemudian menjabat sebagai Menteri Keuangan dalam kabinet-kabinet Perdana Menteri Wilopo dan Burhanuddin Harahap selama era Sukarno. Sepanjang tahun 1950-an, Sumitro mendukung investasi asing sebuah sikap yang tidak populer pada masa itu yang lantas membuatnya berselisih dengan kaum nasionalis dan komunis.

Selama Orde Lama, Soemitro merupakan salah satu menteri yang mendukung masuknya modal dan investor asing ke Indonesia. Karena ini, dia ditekan oleh Soekarno dan politikus-politikus Partai Komunis Indonesia selama era Djuanda, yang menyebabkan Soemitro bergabung ke Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatra. Peranan Soemitro dalam PRRI dilangsungkan dari luar Indonesia melalui aktivitasnya menggalang dana dan dukungan luar negeri. Setelah PRRI ditumpas, Soemitro tidak pulang sampai tahun 1967, setelah Soeharto menjadi presiden. Soeharto mengundangnya kembali ke Indonesia dan mengangkat Soemitro menjadi Menteri Perdagangan dan Industri, dan belakangan sebagai Menteri Riset. Banyak bekas muridnya di Universitas Indonesia juga terlibat dalam pemerintah Soeharto, dan lebih dikenal sebagai mafia Berkeley. Soemitro tetap aktif di bidang ekonomi setelah tidak menjadi menteri, dan sering mengkritik kebijakan ekonomi pemerintah sebelum krisis moneter melanda Indonesia.

Akibat perbedaan politik dan tuduhan korupsi, Sumitro melarikan diri dari Jakarta dan bergabung dengan gerakan pemberontakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia pada akhir tahun 1950-an. Dianggap sebagai salah satu pemimpin gerakan tersebut, ia beroperasi dari luar negeri, menjalin hubungan dengan organisasi intelijen asing Barat sembari menggalang dana dan dukungan internasional. Setelah kekalahan gerakan tersebut, Sumitro tetap berada di pengasingan sebagai kritikus vokal terhadap Sukarno, terus menyuarakan tuntutan demi jatuhnya pemerintahan saat itu. Setelah penggulingan Soekarno dan pembentukan Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto, Sumitro diundang untuk kembali dari pengasingan dan pada tahun 1967 diangkat sebagai Menteri Perdagangan. Dalam jabatan ini, Sumitro menetapkan kebijakan yang mendukung industrialisasi melalui impor barang modal dan pembatasan ekspor bahan mentah. Ia terlibat dalam perencanaan ekonomi tingkat tinggi Indonesia, bersama dengan banyak mantan mahasiswanya dari Universitas Indonesia.

Setelah terjadi ketidaksepakatan kebijakan dengan Soeharto pada awal tahun 1970-an, Sumitro dialihtugaskan sebagai Menteri Riset sebelum akhirnya diberhentikan sepenuhnya dari jabatan pemerintahan. Sepanjang era Orde Baru, Sumitro memanfaatkan koneksi asing dan politiknya untuk membangun kepentingan bisnis swasta yang substansial serta menancapkan kehadiran politik bagi keluarganya. Seiring putranya, Prabowo Subianto, bergabung dengan militer dan menikahi putri Soeharto, Sumitro juga terus berkarya sebagai seorang ekonom yang memiliki pengaruh tertentu sepanjang tahun 1980-an. Menjelang terjadinya Krisis finansial Asia 1997, ia mulai menyerukan deregulasi ekonomi yang lebih luas, namun tetap teguh pada struktur politik Orde Baru. Setelah wafatnya, anak-anak dan cucu-cucunya tetap memegang peranan berpengaruh dalam kancah politik Indonesia, dengan putranya Prabowo yang kemudian menjadi Presiden Indonesia kedelapan.

Masa muda

sunting
refer to caption
Sumitro (berdiri, ketiga dari kiri) dalam tim sepak bola pelajar Indonesia (1939)

Sumitro lahir di Kebumen pada tanggal 27 Mei 1917. Ia adalah anak sulung dari Margono Djojohadikusumo, seorang pejabat tinggi dalam pemerintahan kolonial Hindia Belanda, dan kelak menjadi pendiri Bank Negara Indonesia,[1][2] and Siti Katoemi Wirodihardjo.[3] Keluarga Djojohadikusumo merupakan bagian dari lapisan bawah nigrat Jawa.[4] Ia belajar di Europeesche Lagere School (sekolah yang biasanya melayani anak-anak Eropa), kemudian Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (sekolah untuk penduduk asli Indonesia yang akan menjadi pegawai negeri) di Banyumas.[5]

Setelah menyelesaikan pendidikan menengah pada tahun 1935, ia memulai studi perguruan tinggi di Sekolah Ekonomi Belanda di Rotterdam.[2] Setelah meraih gelar sarjananya pada tahun 1937, ia kemudian mengambil kursus selama satu tahun di bidang filsafat dan sejarah di Universitas Sorbonne.[2][6] Dalam otobiografinya, Sumitro mengklaim bahwa ia ingin bergabung dengan Brigade Internasional dalam Perang Saudara Spanyol dan sempat bergabung sebentar di sebuah kamp pelatihan di Catalonia, namun ia ditolak karena usianya terlalu muda.[7] Dalam sebuah kenangan pada tahun 1986, Sumitro menyatakan bahwa ia justru mulai menggalang dana demi perjuangan Republik Spanyol.[8] Selama masa studinya, ia bergabung dengan sebuah organisasi mahasiswa Indonesia yang bertujuan mempromosikan seni dan budaya Indonesia.[9]

Ia sedang menyelesaikan disertasinya di Rotterdam pada bulan Mei 1940 ketika pasukan Jerman menginvasi Belanda, dan selama Pengeboman Rotterdam, ia nyaris tewas akibat sebuah bom Luftwaffe yang menghancurkan salah satu dinding kamarnya.[10] Ia tetap menyelesaikan disertasinya, "Layanan Kredit Rakyat selama Depresi", dan meraih gelar doktornya pada tahun 1943.[2] Hal ini menjadikannya orang Indonesia pertama yang meraih gelar PhD di bidang ekonomi.[11] Selama tahap-tahap akhir perang di Eropa, setelah menyelesaikan studinya, ia turut membantu menyalurkan bantuan kepada para pelaut Indonesia yang terlantar di Rotterdam. Sementara itu, organisasi mahasiswa "Perhimpoenan Indonesia" (yang bukan merupakan bagian darinya) turut serta dalam Gerakan Perlawanan Belanda, terutama dengan menyebarkan pamflet-pamflet anti-Nazi.[12] Sebelum perang, Sumitro telah memutuskan untuk tidak bergabung dengan asosiasi tersebut karena adanya kaum komunis, seperti Abdulmadjid Djojoadiningrat.[6] Karena tidak dapat kembali ke Indonesia selama masa perang, ia menghabiskan waktunya mempelajari ekonomi Indonesia.[13]

Revolusi Nasional

sunting

Revolusi Awal

sunting
refer to caption
Sumitro (duduk, paling kiri) selama Konferensi Meja Bundar Belandaโ€“Indonesia pada tahun 1949

Setelah berakhirnya Perang Dunia II, Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.[14] Sumitro sempat bergabung dengan delegasi Belanda yang ikut serta dalam pertemuan pertama Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) di London pada Januari 1946 sebagai penasihat menteri luar negeri Belanda, Eelco van Kleffens.[15][16][17] Menurut laporan-laporan Inggris, Sumitro telah disertakan dalam delegasi tersebut guna memberikan kesan yang baik bagi pemerintah Belanda, namun ia menjadi kecewa dan memutuskan untuk kembali ke tanah airnya.[18] Sebaliknya, sebuah laporan Indonesia menyatakan bahwa Sumitro tidak bertindak untuk mendukung pemulihan kekuasaan Belanda, dan bahwa ia menghadiri pertemuan tersebut guna menilai suasana internasional terkait kemerdekaan Indonesia.[17] Selama pertemuan tersebut, Ukraina, Uni Soviet, dan Mesir mengajukan rancangan resolusi yang menyerukan keterlibatan PBB di Indonesia, namun hal ini ditolak Sumitro meyakini bahwa hal ini disebabkan oleh ketiadaan delegasi Indonesia dalam pertemuan tersebut.[17] Pengalaman singkat Sumitro di Dewan Keamanan memungkinkannya untuk memberi tahu nasionalis Indonesia lainnya tentang prosedur-prosedur di dalamnya,[19] setelah ia kembali ke Jawa pada bulan Maret 1946.[15][16]

Ia bergabung dengan pemerintahan Republik Indonesia yang baru saja dibentuk, yang telah menyatakan kemerdekaannya dari kekuasaan kolonial Belanda, dengan Soekarno sebagai presiden. Sumitro menjadi asisten Perdana Menteri Sutan Sjahrir dan kemudian bekerja di Kementerian Keuangan.[20] Pada saat itu, pasukan Belanda di bawah Pemerintahan Sipil Hindia Belanda telah kembali ke Indonesia untuk mengambil alih kendali, namun pada awalnya mereka hanya berhasil menguasai beberapa kota pesisir.[21] Pada akhir Juni 1946, Sumitro menjadi bagian dari rombongan Sjahrir di Surakarta ketika kelompok tersebut diculik oleh satuan-satuan tentara yang tidak puas, yang dipimpin oleh Mayor Jenderal Sudarsono, komandan sebuah divisi di dalam Tentara Indonesia.[22] Selama perebutan kekuasaan politik dan upaya kudeta yang terjadi kemudian, kelompok tersebut dipindahkan ke Yogyakarta; para penculik mereka berencana memaksa Sukarno untuk memberhentikan Sjahrir dan membentuk kabinet baru, karena Sudarsono menganggap pendekatan diplomatik Sjahrir terhadap pihak Belanda terlalu lunak. Akibat kegagalan upaya penculikan terhadap menteri lain, Amir Sjarifuddin, sebagian besar prajurit Sudarsono gagal hadir di istana Sukarno; hanya para tawanan dan segelintir pasukan yang berada di sana bersama Sudarsono. Sukarno menolak tuntutan-tuntutan tersebut, Sudarsono ditangkap, dan Sjahrir beserta kelompoknya dibebaskan. [22][23]

Kemudian pada tahun 1946 Sumitro ditugaskan ke delegasi pengamat Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai wakil kepala misi dan menteri plenipotensi untuk urusan ekonomi,[2][24] sementara ia secara tidak resmi terlibat dalam penggalangan dana.[25] Ia akan tetap berada di pos penugasan ini hingga tahun 1950.[2][24] Di tengah revolusi yang sedang berlangsung, pihak Belanda telah melarang pengiriman barang keโ€”atau segala bentuk ekspor produk pertanian dariโ€”pelabuhan-pelabuhan yang dikuasai oleh pasukan Republik. Pada dasarnya, tindakan ini merupakan sebuah embargo terhadap wilayah-wilayah yang dikuasai Indonesia, dan Sumitro diberi tugas untuk menyiasati embargo tersebut. Pada suatu kesempatan di tahun 1947, sebuah kapal kargo Amerika, SS Martin Behrman, yang mengangkut muatan dari kota Cirebon yang berada di bawah kendali Indonesia disita oleh pasukan Marinir Belanda. Sumitro telah mengatur pelayaran kapal tersebut meskipun ia memperkirakan bahwa pihak Belanda akan menyitanya, sebab delegasi Indonesia memperhitungkan bahwa perhatian media yang akan timbul dari peristiwa itu akan sangat berharga. Penyitaan kapal tersebut memicu kemarahan dari Serikat Maritim Nasional, dan penyelidikan oleh Kongres Amerika Serikat sempat dipertimbangkan, hingga akhirnya kapal itu dibebaskan. Sumitro mengutip pernyataan Sjahrir yang berbunyi, "Kita kehilangan muatan senilai 3 juta dolar, namun kita tidak akan mampu membayar untuk mendapatkan perhatian publik seperti ini."[26] Selama berada di Amerika Serikat, Sumitro juga menandatangani kontrak dengan pengusaha Amerika Serikat, Matthew Fox, untuk membentuk Indonesianโ€“American Corporation, sebuah agen perdagangan bilateral untuk beberapa komoditas di antara kedua negara dengan lisensi berjangka sepuluh tahun.[27][28]

Pembicaraan Diplomatik

sunting

Menyusul Operasi Kraai pada tahun 1948โ€”sebuah ofensif Belanda berskala besar terhadap wilayah-wilayah yang dikuasai Republik, yang berhasil menangkap sebagian besar pimpinan Indonesia, Sumitro dan para anggota delegasi Indonesia di PBB (yang dipimpin oleh L. N. Palar) memegang peranan vital dalam menjaga kesadaran internasional mengenai situasi di Indonesia.[24] Sebelumnya, delegasi Indonesia sempat diabaikan, namun operasi militer tersebut menempatkan Indonesia di pusat perhatian; dan setelah mengadakan pertemuan dengan Wakil Menteri Luar Negeri Robert A. Lovett, Sumitro menggelar konferensi pers yang diliput secara menonjol oleh media Amerika. The New York Times, misalnya, menerbitkan secara utuh sebuah memorandum dari Sumitro yang mengecam tindakan Belanda dan menyerukan penghentian bantuan Amerika (yakni Rencana Marshall) kepada Belanda.[29][30] Sumitro kemudian memimpin Kedutaan Besar Indonesia di Amerika Serikat sebagai Kuasa Usaha ad interim,[31] serving from 9 January[32] hingga penyerahan surat kepercayaan oleh duta besar pertama Ali Sastroamidjojo pada tanggal 20 Februari 1950.[33]

Selama negosiasi akhir mengenai penyerahan kedaulatan Indonesia, Sumitro memimpin subkomite ekonomi dan keuangan. Dalam negosiasi tersebut, sementara pihak Belanda memperhitungkan bahwa pihak Indonesia harus menanggung utang warisan dari pemerintah Hindia Belanda yang berjumlah lebih dari 6 miliar gulden, Sumitro justru berpendapat sebaliknya: bahwa sebagian besar dari utang tersebut (sekitar 2 miliar gulden) timbul guna membiayai upaya Belanda melawan pasukan Indonesia selama masa revolusi, dan oleh karena itu tidak seharusnya ditanggung oleh pemerintah Indonesia. Sebaliknya, ia memperhitungkan bahwa pemerintahlah Belanda yang justru berutang sebesar 500 juta gulden kepada Indonesia. Pihak Belanda akhirnya menyepakati untuk tidak memasukkan pengeluaran militer tersebut, dan tercapailah kesepakatan bahwa pemerintah Indonesia akan bertanggung jawab atas utang sebesar 4,3 miliar gulden (yang pada saat itu setara dengan US$1,13 miliar) yang wajib dilunasi sepenuhnya paling lambat Juli 1964.[34][35][36] Sumitro ingin menegosiasikan penurunan utang lebih lanjut, namun keputusannya dikesampingkan oleh Wakil Presiden Mohammad Hatta.[37] Hatta kembali mengesampingkan Sumitro terkait persoalan kedaulatan atas Nugini Barat,[38] dan mengenai terpilihnya De Javasche Bank, bank sentral kolonial, sebagai bank sentral Indonesia menggantikan Bank Negara Indonesia yang beraliran nasionalis (didirikan oleh ayahnya, Margono, pada tahun 1946)[39]).[40]

Menteri Kabinet

sunting

Menteri Perindustrian dan Akademisi

sunting

Setelah pengakuan kedaulatan, Soemitro ditunjuk sebagai Menteri Perdagangan dan Industri dalam Kabinet Natsir, sebagai anggota Partai Sosialis Indonesia (PSI) yang dipimpin Sjahrir.[41][42] Kebijakan ekonomi Soemitro berfokus ke program industrialisasi, berlawanan dengan arah Menteri Keuangan saat itu, Syafruddin Prawiranegara, yang lebih mengarah ke pengembangan pertanian. Soemitro menyusun Rencana Urgensi Perekonomian (alias "Sumitro Plan") yang diterbitkan pada bulan April 1951 (setelah jatuhnya Kabinet Natsir). Rencana ini mencakup penggunaan uang negara untuk membangun sejumlah fasilitas industri di pulau Jawa dan Sumatra dalam dua tahun, termasuk pembangunan kembali sejumlah pabrik yang rusak karena perang.[43] Dalam implementasinya, tidak ada pabrik terencana yang sudah berdiri setelah dua tahun tersebut, sehingga jangka rencana tersebut diperpanjang menjadi tiga tahun.[44][45]

Selama masa Kabinet Natsir, Soemitro juga berkeliling Eropa, khususnya di Belanda, untuk menarik investasi asing dalam mendirikan pabrik di Indonesia.[46] Salah satu program Soemitro lainnya merupakan Program Benteng, yakni suatu program yang mengatur lisensi impor barang tertentu yang harus dimiliki oleh pengusaha "pribumi", meskipun Soemitro sendiri sebenarnya lebih menyukai mekanisme pasar bebas.[47] Setelah jatuhnya Kabinet Natsir, Soemitro menjadi dekan kedua Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI), setelah dekan sebelumnya Soenarjo Kolopaking mengundurkan diri.[48][49] Ia menjabat sebagai dekan antara 1951 sampai 1957. Selama masa jabatannya, Soemitro mengundang sejumlah akademisi dari Belanda karena kurangnya staf pengajar di UI. Soemitro juga mendirikan Lembaga Pendidikan Ekonomi dan Masyarakat (sekarang LPEM FEUI) yang belakangan sering diberdayakan untuk merumuskan kebijakan ekonomi. Program afiliasi antara FE UI dan fakultas ekonomi Universitas California, Berkeley juga dicetuskan oleh Soemitro.[48] Dengan sokongan dana Ford Foundation, Soemitro mengirimkan sejumlah mahasiswa Indonesia ke Amerika Serikat dalam program pertukaran (mahasiswa Indonesia ke AS dan dosen AS ke Indonesia) untuk memperluas wawasan pemikiran ekonomi di Indonesia, yang sebelumnya didominasi pandangan-pandangan ekonomis dari Eropa.[50] Awalnya Soemitro juga mencoba menjalin hubungan pertukaran dengan Sekolah Ekonomi dan Ilmu Politik London, tetapi karena British Council menolak memberikan beasiswa, rencana ini dibatalkan.[51]

Di pertengahan tahun 1951, Soemitro mengundang mantan Menteri Keuangan Jerman Nazi Hjalmar Schacht ke Indonesia untuk meneliti situasi ekonomi nasional dan memberikan rekomendasi.[52] Soemitro juga turut serta dalam proses nasionalisasi De Javasche Bank, bekas bank sentral Hindia Belanda.[53] Selain itu, dalam periode ini Soemitro juga sering berdebat secara tertulis dengan Syafruddin mengenai pandangan-pandangan ekonomi mereka โ€” sembari kedua pihak juga mengkritik kebijakan ekonomi pemerintah.[54] Menurut Soemitro, standar kehidupan dalam struktur ekonomi agraria yang didukung Syafruddin cenderung rendah, dan Soemitro juga tidak setuju dengan kebijakan penghematan anggaran Syafruddin.[55] Meskipun begitu, kedua tokoh ini sepakat bahwa investasi asing diperlukan untuk pengembangan ekonomi Indonesia, meskipun banyak tokoh nasionalis pada masa itu menolak investor luar negeri.[56] Soemitro juga mendukung program transmigrasi pemerintah, dengan catatan diperlukannya pengembangan industri di kawasan-kawasan baru.[57]

Menteri Keuangan

sunting
Soemitro sebagai Menteri Keuangan, 1954.

Soemitro ditunjuk sebagai Menteri Keuangan dalam Kabinet Wilopo.[41][58] Kementerian Keuangan pada masa itu masih mencakup sejumlah besar pegawai berkebangsaan Belanda, dan menurut Soemitro, para pegawai ini ahli dalam administrasi tetapi tidak paham ilmu ekonomi.[59] Selama masa Wilopo, proses nasionalisasi Bank Indonesia selesai, dan Soemitro mewajibkan semua anggota dewan direksi BI berkebangsaan Indonesia.[60] Ia juga memperluas cakupan program Benteng dari sekitar 10 persen produk impor menjadi lebih dari 50 persen.[61] Ini dilakukan meskipun Soemitro sendiri tahu bahwa implementasi program Benteng bermasalah, dan Soemitro sendiri berkomentar bahwa sebagian besar pengusaha yang diuntungkan program Benteng bisa saja hanya "parasit".[62]

Kabinet Wilopo jatuh pada tahun 1953, dan beberapa tokoh gagal membentuk kabinet setelahnya. Soemitro ditunjuk sebagai Menteri Keuangan dalam kabinet yang diajukan oleh Burhanuddin Harahap, tetapi penunjukan Soemitro ditentang oleh Partai Nasional Indonesia sehingga Burhanuddin mengembalikan mandatnya. Akhirnya, Soemitro digantikan oleh Ong Eng Die dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo I.[63] Selama masa Ali, Soemitro menjadi kritik pemerintah dan menuduh bahwa kebijakan kabinet tersebut bertujuan untuk mengusir modal asing dari Indonesia โ€” khususnya perusahaan Belanda.[64] Ia kembali menjadi Menteri Keuangan dalam Kabinet Burhanuddin Harahap pada tahun 1955.[65][66] Karena inflasi yang merajalela pada masa itu, Soemitro memutuskan untuk mengakhiri program Benteng demi stabilisasi ekonomi.[67]

Program Soemitro selama masa kabinet Burhanuddin mencakup pengurangan belanja pemerintah yang mengurangi defisit anggaran, dan perlahan inflasi mulai terkendali.[68] Karena jatuhnya kekuatan PSI setelah pemilu 1955, Soemitro mempertanyakan kepemimpinan Sjahrir atas partai tersebut.[69] Soemitro dikirimkan ke Jenewa pada akhir tahun 1955 untuk merundingkan urusan Irian Barat, dan meskipun proses negosiasi perlahan mulai bergerak, tekanan politik dalam negeri menghentikan proses tersebut pada bulan Januari 1956. Kecewa atas tindakan pemerintah, para delegasi Indonesia di Jenewa โ€” Soemitro, Menteri Kesehatan Johannes Leimena, dan Menteri Luar Negeri Ide Anak Agung Gde Agung โ€” sempat berniat untuk mengundurkan diri dari jabatan mereka.[70] Beberapa bulan sebelum jatuhnya kabinet Burhanuddin, Soemitro meminjamkan dana pemerintah ke sejumlah perusahaan-perusahaan yang terkait partai-partai politik. Tindakan ini memicu partai-partai oposisi untuk menuntut pembubaran kabinet Burhanuddin lebih cepat dari yang terjadwalkan.[71] Para menteri dalam kabinet Burhanuddin, termasuk Soemitro, tidak diikutsertakan dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo II.[72]

Soemitro dianggap sebagai menteri paling berkuasa dari PSI selama era Demokrasi Liberal.[73] Dalam makalah yang diterbitkan tahun 1952, Soemitro menjabarkan tujuan kebijakannya, yakni meningkatkan konsumsi dan investasi dalam negeri sembari memperbaiki neraca dagang negara. Meskipun begitu, ia menambahkan bahwa pemerintah Indonesia masa itu tidak cukup kuat secara administratif untuk meluncurkan program intervensi langsung dalam ekonomi.[74] Soemitro juga mendukung investasi asing โ€” setelah disumpah sebagai menteri dalam kabinet Wilopo, ia berkomentar bahwa mengusir investor asing sama saja "menggali kubur sendiri".[75] Soemitro juga melobi para investor asing tersebut untuk mengembangkan sumber daya manusia Indonesia dengan iming-iming keringanan pajak.[76]

Pemberontakan dan pengasingan

sunting

Bergabung dengan pemberontakan

sunting

Selama masa Kabinet Djuanda, Presiden Soekarno secara terbuka bertentangan dengan ekonom-ekonom yang belajar di institusi "barat", termasuk Soemitro. Soekarno dalam hal ini didukung oleh Partai Komunis Indonesia yang dipimpin D.N. Aidit. Aidit menuduh bahwa Soemitro memihak "imperialisme dan feodalisme", sembari memegang pandangan bahwa kebijakan ekonomi pro-investor Soemitro tidak sesuai dengan masyarakat Indonesia yang pada masa itu kebanyakan masyarakat desa. Aidit menyalahkan kemiskinan di Indonesia kepada asing, kapitalis dan tuan tanah yang memburu rente, dan bukan karena rendahnya investasi domestik seperti pendapat Soemitro.[77] Soemitro sendiri disalahkan karena membiarkan pihak-pihak kapitalis asing masuk ke Indonesia.[78] Sepanjang bulan Mei 1957, Soemitro dipanggil dua kali oleh pihak kepolisian karena tuduhan korupsi (terkait penggalangan dana PSI untuk Pemilu 1955)[79] dan karena hubungan Soemitro dengan seorang pengusaha yang dipenjara karena kasus suap. Ia dipanggil untuk ketiga kalinya pada tanggal 8 Mei 1957,[80] tetapi ia memutuskan untuk tidak datang dan bersembunyi. Awalnya, Soemitro bersembunyi di rumah kawannya di Tanah Abang, sebelum berpindah ke Pulau Sumatra dengan bantuan Sjahrir.[81]

Selama Soemitro di Sumatra, ia dikunjungi sejumlah politikus PSI yang mencoba membujuknya untuk tidak bergabung dengan gerakan anti-pemerintah di sana, sampai akhirnya Soemitro memutuskan untuk tidak bertemu lagi dengan utusan-utusan PSI tersebut.[81] Pada tanggal 13 Mei 1957,[80] Soemitro tiba di Sumatra Tengah dan mulai menjalin hubungan dengan Dewan Banteng. Dalam bulan-bulan berikutnya, hubungan antara pemimpin-pemimpin Dewan Banteng dan pemerintah pusat semakin memanas, dan tawaran kompromi yang mencakup kembalinya sejumlah tokoh "moderat" seperti Hatta ke pemerintah ditolak.[82] Sejumlah tokoh partai Masyumi, seperti Syafruddin Prawiranegara dan Mohammad Natsir, belakangan bergabung dengan Soemitro di Sumatra.[83] Soemitro mulai bepergian ke luar negeri untuk menggalang dukungan sembari menjalin hubungan dengan wartawan dan pemerintah asing, termasuk dengan pihak Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) di Singapura.[80] Pada bulan September 1957, setelah pertemuan dengan sejumlah kolonel-kolonel anti pemerintah, Soemitro mengirimkan tuntutannya ke pemerintah pusat: desentralisasi, pencopotan Kepala Staf TNI Angkatan Darat Abdul Haris Nasution, kembalinya Hatta dalam struktur pemerintahan, dan pelarangan "komunisme internasional".[84] Hubungan Soemitro dengan pihak Amerika Serikat kemungkinan meningkatkan kepercayaan diri pihak anti-pemerintah dalam membentuk tuntutan mereka.[85] Setelah pertemuan berikutnya di Padang, Soemitro mengirimkan laporan hasil pertemuan tersebut ke pihak Amerika Serikat yang menggambarkan Dewan Banteng sebagai barisan anti-komunisme. Soemitro berencana untuk membiayai pergerakan tersebut dari pendapatan ekspor hasil bumi dari Sumatra.[86]

Jatuhnya PRRI

sunting

Soemitro telah menjalin hubungan dengan pihak pemerintah AS, Britania Raya, Malaya Britania, Filipina, dan Thailand di akhir tahun 1957, ditambah lagi dengan perusahaan-perusahaan Belanda dan Taiwan.[87] Pihak Dewan Banteng telah memperoleh ribuan pucuk senjata, dari dana hasil penjualan sumber daya alam dan bantuan tunai asing yang ditambahkan lagi oleh pengiriman senjata langsung dari Amerika Serikat.[88] Dalam pertemuan di Sungai Dareh, para tokoh Masyumi beserta Soemitro bertemu dengan para perwira, tetapi pemberontakan belum diluncurkan karena keengganan Panglima Kodam IV/Sriwijaya, Kolonel Barlian, untuk ikut serta.[89] Setelah pertemuan di Sungai Dareh, Soemitro berangkat ke Eropa untuk terus menggalang dana dan berbicara dengan media asing.[89]

Dalam wawancara-wawancaranya, Soemitro menyampaikan tuntutan-tuntutan dari Dewan Banteng.[89] Semakin lama tuntutan dan ancaman Soemitro terhadap pemerintah pusat semakin keras, dan pada tanggal 2 Februari 1958 Soemitro di Jenewa mengancam kemungkinan pecahnya perang saudara[90] yang menurutnya akan menggulingkan Soekarno dalam sepuluh hari saja.[91] Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dideklarasikan di Padang pada tanggal 15 Februari 1958, dibawah pimpinan Syafruddin Prawiranegara selaku perdana menteri, dan Soemitro dijadikan Menteri Perdagangan dan Komunikasi dalam kabinetnya.[92] Keesokan harinya, pada tanggal 16 Februari, Soekarno memerintahkan penangkapan tokoh-tokoh PRRI termasuk Soemitro.[93]

Tidak lama setelah PRRI dideklarasikan, pemerintah pusat telah berhasil merebut kembali kota-kota besar seperti Padang dan Pekanbaru. Setelah jatuhnya Bukittinggi, Syafruddin menunjuk Soemitro menjadi Pelaksana Tugas Menteri Luar Negeri, dan menempatkan Soemitro di Manado beserta kelompok Permesta.[94] Soemitro tidak setuju dengan deklarasi "Republik Persatuan Indonesia" oleh pihak PRRI di Sumatra pada bulan Februari 1960, karena ia tidak menyukai bentuk negara federal dan enggan bekerja sama dengan kelompok pemberontakan Negara Islam Indonesia.[95][96] Setelah penumpasan PRRI, Soemitro memutuskan untuk tetap tinggal di luar negeri.[97] Keterlibatan Soemitro dalam PRRI menyebabkan pengucilan bekas murid-muridnya di UI, termasuk banyak mahasiswa yang telah belajar ke luar negeri.[98] Selama tinggal di luar negeri, Soemitro kebanyakan bekerja sebagai konsultan di Singapura.[99] Ia juga beberapa kali bepergian ke Eropa, dan ia bertemu Sjahrir di Swiss ketika Sjahrir dirawat disana.[100] Soemitro juga sempat tinggal di Malaysia dan di Bangkok, Thailand.[101] Sembari di Malaysia, Soemitro menulis mengenai sejarah ekonomi negara itu untuk mencari nafkah,[102] sembari menjalin hubungan dengan sejumlah perwira militer anti-komunis sewaktu Konfrontasi Indonesiaโ€“Malaysia.[103]

Orde Baru

sunting
Soemitro saat menjabat Menteri Riset, 1973

Setelah Soekarno jatuh dan digantikan oleh Soeharto, sejumlah bekas murid Soemitro seperti Widjojo Nitisastro, Mohammad Sadli, dan Emil Salim ditunjuk sebagai menteri atau penasihat dalam pemerintah.[104][105] Soeharto menugaskan Ali Murtopo untuk memulangkan Soemitro ke Indonesia, dan Ali bertemu dengan Soemitro untuk membujuknya pulang di Bangkok pada bulan Maret 1967. Soemitro setuju untuk pulang, dan ia kembali secara rahasia pada pertengahan tahun 1967 karena kekhawatiran pemerintah akan simpatisan Orde Lama.[106] Soemitro diangkat menjadi Menteri Perdagangan dan Industri dalam Kabinet Pembangunan I pada tanggal 10 Juni 1968.[107]

Sebagai Menperindag di era Orde Baru, Soemitro mengimplementasikan sejumlah kebijakan dagang yang bertujuan untuk mendorong ekspor atau menekan impor produk tertentu.[107] Sebagai contoh, Soemitro mendirikan beberapa badan yang mengatur kualitas dan ekspor komoditas kopi dan kopra,[108] sembari melarang ekspor karet alam berkualitas rendah untuk mendorong hilirisasi industri karet.[109] Soemitro juga mendorong pengurangan impor barang konsumsi dan peningkatan impor barang modal, dan bea masuk ditingkatkan sebagai pendapatan pemerintah.[110] Kabinet Pembangunan I ini juga mencakup Mafia Berkeley, sekumpulan ekonom yang belajar di universitas-universitas barat dan sebagian pernah menjadi murid Soemitro.[107][111] Selain sebagai Menperindag, Soemitro juga menjadi salah satu penasihat ekonomi Soeharto.[112]

Pada tahun 1973, Soemitro dijadikan Menteri Riset dalam Kabinet Pembangunan II.[113] Ada sejumlah pihak yang beranggapan bahwa perombakan ini disebabkan adanya pertidaksetujuan antara Soemitro dan Soeharto dalam kebijakan ekonomi.[114] Dalam kapasitasnya sebagai Menteri Riset, Soemitro memulai program penelitian nasional dalam bidang ekonomi yang melibatkan fakultas-fakultas ekonomi berbagai universitas di Indonesia, dengan tujuan membantu penyusunan program ekonomi pemerintah. Hal ini dilakukan Soemitro karena kekhawatirannya bahwa Rencana Pembangunan Lima Tahun Soeharto kurang memperhitungkan tren-tren dan kondisi ekonomi jangka panjang di Indonesia. Meskipun program ini berguna untuk pemerintah, Soemitro digantikan oleh B. J. Habibie dalam Kabinet Pembangunan III sehingga program tersebut dihentikan.[113]

Di luar kariernya dalam struktur pemerintah, Soemitro juga terlibat dalam dunia usaha. Bersama dengan Mochtar Lubis, ia mendirikan Indoconsult Associates pada tahun 1967. Indoconsult Associates merupakan salah satu firma konsultan bisnis pertama di Indonesia.[115] Soemitro juga terlibat dalam naiknya Grup Astra sejak tahun 1968, ketika Soemitro membantu grup tersebut memperoleh lisensi importir tunggal mobil Toyota. Keluarga Tjia pendiri Astra telah menjalin hubungan dengan Soemitro sejak jaman Orde Lama.[116] Soemitro sempat menjabat presiden komisaris Astra pada tahun 1992.[117] Dalam karier akademiknya, Soemitro menjadi salah satu pendiri organisasi akademis East Asian Economic Association (Asosiasi Ekonomi Asia Timur) pada tahun 1984, dan ditunjuk secara aklamasi menjadi ketua umum pertama organisasi tersebut.[118]

Soemitro sering dianggap sebagai ekonom Indonesia yang paling berpengaruh, baik selama periode Orde Lama maupun Orde Baru.[16][119][120][121] Setelah tidak lagi menjabat menteri, ia mulai khawatir akan struktur fundamental ekonomi Indonesia di bawah Soeharto. Meskipun industrialisasi berjalan cepat, Soemitro melihat munculnya kepentingan-kepentingan yang menguasai sejumlah industri, dan tidak setuju dengan kebijakan dagang pemerintah yang dianggapnya terlalu proteksionis.[122] Ekonomi Indonesia pada masa itu dianggapnya rapuh dan hanya terlihat kuat di permukaan.[123] Meskipun pengaruhnya dalam pemerintahan sudah turun drastis, ia mengkritik sejumlah kebijakan pemerintah seperti program mobil nasional Timor dan para "pemburu rente". Setelah krisis finansial Asia menghantam Indonesia pada 1997-1998, Soemitro menyalahkan korupsi dan institusi-institusi nasional bermasalah atas kerasnya dampak krisis tersebut di Indonesia.[122]

Pandangan

sunting

Selama di Rotterdam, Soemitro banyak membaca tulisan pemikir ekonomi seperti Karl Marx, Joseph Schumpeter, Eugen von Bรถhm-Bawerk, Irving Fisher, dan lainnya.[124] Ia juga terpengaruh oleh para pemikir dari Fabian Society.[125] Meskipun secara ideologis Soemitro tidak menyukai pembatasan perdagangan, ia juga menganggap bahwa kondisi politik dalam negeri tidak memungkinkan perdagangan bebas. Kebijakan Soemitro selama menjabat sebagai menteri di era Orde Lama menurutnya bertujuan untuk mengurangi pengaruh Belanda dalam ekonomi Indonesia.[126] Soemitro mengaku bahwa pertentangannya dengan Syafruddin Prawiranegara terjadi karena Soemitro melihat kebijakan Syafruddin sebagai kelanjutan dari pemerintah kolonial.[127] Dalam pandangan Soemitro, ekonomi kolonial Indonesia terbagi menjadi dua: ekonomi agraris yang ala kadarnya, dan ekonomi kapitalis yang terhubung dengan sistem perdagangan internasional. Untuk mengembangkan ekonomi, Soemitro mengikuti teori ekonomi William Arthur Lewis yang menyatakan bahwa pemerintah harus mendukung industrialisasi demi meningkatkan produktivitas tenaga kerja.[128] Demi industrialisasi ini, Soemitro menjadi pendukung investasi asing, asalkan investasi tersebut disertai partisipasi modal dalam negeri, peningkatan sumber daya manusia, dan penginvestasian kembali sebagian laba dalam ekonomi Indonesia.[129]

Karena Soemitro mengejar industrialisasi dan menyukai teknokrasi, ia lebih condong ke Blok Barat di Perang Dingin dan juga menjadi anti-komunis. Meskipun Soemitro secara politik berada di bawah naungan Partai Sosialis, ia tidak setuju dengan paham sosialisme demokratis yang umum di kalangan tokoh partai tersebut.[125] Soemitro juga mendukung bentuk usaha koperasi untuk memajukan ekonomi pedesaan.[130] Mengenai kebijakan pemerintah, Soemitro mendukung anggaran yang berimbang karena kekhawatirannya bahwa anggaran dapat dihabiskan oleh politikus tanpa disiplin fiskal. Meskipun begitu, anggaran pembangunan dianggapnya penting dan ia menolak pemangkasan anggaran tersebut.[131] Karena kondisi ekonomi dan birokrasi Indonesia yang masih muda pada masanya, Soemitro berkesimpulan bahwa cara terbaik untuk memeratakan ekonomi adalah melalui serikat pekerja yang kuat, bukan melalui perpajakan.[132]

Kehidupan pribadi

sunting
refer to caption
Orang tua Sumitro bersama keempat anak Sumitro pada tahun 1963.

Dua saudara laki-laki Sumitro, Subianto dan Sujono, aktif dalam gerakan pemuda Indonesia dan keduanya tewas dalam Pertempuran Lengkong pada tahun 1946.[133] Ia menikahi Dora Marie Sigar, yang ditemuinya selama berada di Belandaโ€”pada tanggal 7 Januari 1945. Mereka berasal dari etnis dan agama yang berbeda, Dora adalah seorang Kristen Manado, sedangkan Sumitro adalah seorang Muslim Jawa.[134] Pasangan itu memiliki empat anak,[135] termasuk Presiden Indonesia saat ini yang ke-8, Prabowo Subianto dan pengusaha Hashim Djojohadikusumo.[136] Dari keempat anaknya, dua orang beragama Islam (namun salah satunya kemudian menjadi penganut Kristen Protestan yang lahir baru), dan dua orang beragama Kristen (yang keduanya beralih ke agama Katolik Roma setelah menikah dengan suami mereka masing-masing, seorang Katolik Jawa dan seorang pria Prancis, mengingat keduanya terlahir dan dibesarkan sebagai penganut Protestan).[137] Keluarganya telah mengikuti Sumitro ke pengasingan menyusul kekalahan PRRI.[138]

Keluarga Sumitro sering kali digambarkan sebagai sebuah dinasti politik; keterlibatan mereka dalam politik bermula dari ayahnya, Margono, dan merentang hingga empat generasiโ€”mencakup para legislator pasca-Suharto seperti Rahayu Saraswati dan Aryo Djojohadikusumo (keduanya merupakan anak-anak Hashim).[139] Prabowo juga menikahi Titiek Soeharto, salah satu putri Soeharto, meskipun mereka bercerai setelah lima belas tahun.[140] Menyusul pemberhentian Prabowo dari militer akibat keterlibatannya dalam penculikan para aktivis pada akhir tahun 1990-an, Sumitro menulis untuk membela putranya, serta menuduh Wiranto (atasan Prabowo) atau B. J. Habibie (wakil presiden pada saat itu) telah menimpakan kesalahan kepada Prabowo.[141] Adik Sumitro, Sukartini Djojohadikusumo, menjadi centenarian Indonesia pada tahun 2019.[142]

Sumitro adalah pemain tenis yang antusias dan perokok berat.[143] Ia telah menulis 130 buku dan artikelโ€”sebagian besar mengenai masalah ekonomiโ€”antara tahun 1942 dan 1994, serta menerbitkan otobiografinya pada tahun 2000.[144] Ia meninggal dunia sesaat setelah tengah malam pada tanggal 9 Maret 2001 di Rumah Sakit Dharma Nugraha di Rawamangun, Jakarta Timur, akibat gagal jantung. Ia telah menderita penyakit jantung dan aterosklerosis selama beberapa waktu.[16][144] Ia dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak.[145]

Penghargaan

sunting

Ia menerima penghargaan baik dari dalam dan luar negeri[146]

Dalam Negeri

sunting

Luar Negeri

sunting

Catatan

sunting
  1. ^ Sebagai Menteri Perdagangan dan Perindustrian

Referensi

sunting

Kutipan

sunting
  1. ^ Menteri Keuangan 1991, hlm.ย 55.
  2. ^ a b c d e f Thee Kian Wie 2001, hlm.ย 173.
  3. ^ Katoppo 2000, hlm.ย 2.
  4. ^ Hadiz & Robison 2004, hlm.ย 62.
  5. ^ Katoppo 2000, hlm.ย 3.
  6. ^ a b Niwandhono 2021, hlm.ย 167.
  7. ^ Katoppo 2000, hlm.ย 15.
  8. ^ Djojohadikusumo 1986, hlm.ย 29.
  9. ^ Poeze, Dijk & van der Meulen 2008, hlm.ย 275.
  10. ^ Katoppo 2000, hlm.ย 21.
  11. ^ Webster 2011, hlm.ย 262.
  12. ^ Poeze, Dijk & van der Meulen 2008, hlm.ย 317.
  13. ^ Niwandhono 2021, hlm.ย 168.
  14. ^ Anderson 2006, hlm.ย 83โ€“84.
  15. ^ a b Katoppo 2000, hlm.ย 38.
  16. ^ a b c d "Sumitro Dies at 84 of Heart Failure". The Jakarta Post. 10 Maret 2001. Diarsipkan dari asli tanggal 20 Mei 2014. Diakses tanggal 12 Desember 2021.
  17. ^ a b c Isnaeni, Hendri F. (14 Desember 2011). "Dari Ukraina untuk Indonesia". Historia. Diakses tanggal 7 Januari 2023.
  18. ^ British Documents on Foreign Affairs: Reports and Papers from the Foreign Office Confidential Print. From 1951 through 1956. Asia, 1951โ€“1956. Part V. Series E (dalam bahasa Inggris). LexisNexis. 2008. hlm.ย 323. ISBNย 978-0-88692-723-3.
  19. ^ Foray 2021, hlm.ย 128.
  20. ^ Fakih 2015, hlm.ย 214.
  21. ^ Anderson 2006, hlm.ย 132โ€“135.
  22. ^ a b Anderson 2006, hlm.ย 382โ€“385.
  23. ^ Anderson 2006, hlm.ย 396โ€“401.
  24. ^ a b c Kahin 2003, hlm.ย 339.
  25. ^ Foray 2021, hlm.ย 138.
  26. ^ Gardner 2019, hlm.ย 30โ€“31.
  27. ^ Thuแปท 2019, hlm.ย 110.
  28. ^ Niwandhono 2021, hlm.ย 170.
  29. ^ Gardner 2019, hlm.ย 84.
  30. ^ Walz, Jay (21 Desember 1948). "INDONESIANS URGE U.S. HALT DUTCH AID; Envoy Calls for Political and Economic Help to Republic in Talk With Lovett". The New York Times (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 11 Mei 2022.
  31. ^ Gardner 2019, hlm.ย 98.
  32. ^ Diplomatic List (dalam bahasa Inggris). Department of State. 1950. hlm.ย 83.
  33. ^ "Letters of Credence". The Department of State Bulletin. 13 Maret 1950. hlm.ย 411. Diakses tanggal 23 Agustus 2025.
  34. ^ Kahin 2003, hlm.ย 439โ€“443.
  35. ^ Thee Kian Wie 2012, hlm.ย 39.
  36. ^ Thee Kian Wie 2003, hlm.ย 8.
  37. ^ Thee Kian Wie 2012, hlm.ย 40.
  38. ^ Gardner 2019, hlm.ย 91.
  39. ^ "Siapa Margono Djojohadikusumo Pendiri BNI, Apa Hubungannya dengan Prabowo?". Tempo. 6 Juli 2024. Diakses tanggal 12 November 2024.
  40. ^ "Sumitro Cemburu pada Simatupang". Historia. 17 Oktober 2024. Diakses tanggal 12 November 2024.
  41. ^ a b Lindblad 2008, hlm.ย 44.
  42. ^ Thuแปท 2019, hlm.ย 122.
  43. ^ Thee Kian Wie 2012, hlm.ย 143.
  44. ^ Lindblad 2008, hlm.ย 80-81.
  45. ^ Thuแปท 2019, hlm.ย 141-144.
  46. ^ Thuแปท 2019, hlm.ย 137.
  47. ^ Thee Kian Wie 2012, hlm.ย 29.
  48. ^ a b Thee Kian Wie 2001, hlm.ย 174 โ€“ 176.
  49. ^ Thuแปท 2019, hlm.ย 124.
  50. ^ Gardner 2019, hlm.ย 193 โ€“ 194.
  51. ^ Niwandhono 2021, hlm.ย 185.
  52. ^ Thuแปท 2019, hlm.ย 138.
  53. ^ Lindblad 2008, hlm.ย 108.
  54. ^ Thee Kian Wie 2012, hlm.ย 46.
  55. ^ Thee Kian Wie 2012, hlm.ย 51 โ€“ 56.
  56. ^ Thee Kian Wie 2012, hlm.ย 62.
  57. ^ Thee Kian Wie 2012, hlm.ย 60ย โ€“ 61.
  58. ^ Feith 2006, hlm.ย 229.
  59. ^ Thee Kian Wie 2012, hlm.ย 8.
  60. ^ Lindblad 2008, hlm.ย 111.
  61. ^ Lindblad 2008, hlm.ย 129.
  62. ^ Thee Kian Wie 2012, hlm.ย 33.
  63. ^ Feith 2006, hlm.ย 331 โ€“ 339.
  64. ^ Lindblad 2008, hlm.ย 179.
  65. ^ Feith 2006, hlm.ย 419 โ€“ 420.
  66. ^ Thuแปท 2019, hlm.ย 126.
  67. ^ Thuแปท 2019, hlm.ย 147.
  68. ^ Setiono 2008, hlm.ย 758.
  69. ^ Feith 2006, hlm.ย 479.
  70. ^ Feith 2006, hlm.ย 450-455.
  71. ^ Feith 2006, hlm.ย 458.
  72. ^ Feith 2006, hlm.ย 467.
  73. ^ Mrรกzek 2018, hlm.ย 406.
  74. ^ Schrikker & Touwen 2015, hlm.ย 206.
  75. ^ Lindblad 2008, hlm.ย 171.
  76. ^ Lindblad 2008, hlm.ย 172 โ€“ 173.
  77. ^ Schrikker & Touwen 2015, hlm.ย 218-220.
  78. ^ Schrikker & Touwen 2015, hlm.ย 224.
  79. ^ "Dugaan Korupsi Menteri Sumitro". Historia. 17 November 2017. Diakses tanggal 13 Desember 2021.
  80. ^ a b c Kahin & Kahin 1997, hlm.ย 70-71.
  81. ^ a b Mrรกzek 2018, hlm.ย 450.
  82. ^ Kahin 1999, hlm.ย 196-197.
  83. ^ Gardner 2019, hlm.ย 142.
  84. ^ Kahin 1999, hlm.ย 198.
  85. ^ Kahin & Kahin 1997, hlm.ย 72-73.
  86. ^ Kahin & Kahin 1997, hlm.ย 103.
  87. ^ Kahin & Kahin 1997, hlm.ย 105-106.
  88. ^ Kahin & Kahin 1997, hlm.ย 120.
  89. ^ a b c Kahin 1999, hlm.ย 206-207.
  90. ^ Kahin 1999, hlm.ย 208-209.
  91. ^ Kahin & Kahin 1997, hlm.ย 137.
  92. ^ Kahin & Kahin 1997, hlm.ย 140.
  93. ^ Kahin & Kahin 1997, hlm.ย 145.
  94. ^ Kahin & Kahin 1997, hlm.ย 197.
  95. ^ Kahin & Kahin 1997, hlm.ย 202.
  96. ^ Kahin 1999, hlm.ย 224.
  97. ^ Gardner 2019, hlm.ย 162.
  98. ^ Thuแปท 2019, hlm.ย 168.
  99. ^ Garrett & Barkley 1971, hlm.ย 134.
  100. ^ Mrรกzek 2018, hlm.ย 490.
  101. ^ Katoppo 2000, hlm.ย 252.
  102. ^ Djojohadikusumo 1986, hlm.ย 32.
  103. ^ Niwandhono 2021, hlm.ย 194.
  104. ^ Gardner 2019, hlm.ย 250.
  105. ^ Ichimura 2016, hlm.ย 442.
  106. ^ Tempo 2020, hlm.ย 36-39.
  107. ^ a b c Rice 1969, hlm.ย 183-187.
  108. ^ Rice 1969, hlm.ย 188-192.
  109. ^ Rice 1969, hlm.ย 193.
  110. ^ Rice 1969, hlm.ย 199-200.
  111. ^ Hill 2011, hlm.ย 118.
  112. ^ Kementerian Keuangan 1991, hlm.ย 62.
  113. ^ a b Thee Kian Wie 2001, hlm.ย 178-179.
  114. ^ Hill 2011, hlm.ย 226.
  115. ^ Hill 2011, hlm.ย 122.
  116. ^ Setiono 2008, hlm.ย 1032.
  117. ^ Katoppo 2000, hlm.ย 308-316.
  118. ^ Ichimura 2016, hlm.ย 443.
  119. ^ Gardner 2019, hlm. 162: "Sumitro Djojohadikusumo, Indonesia's premier economist".
  120. ^ Thee Kian Wie 2012, hlm. 43: "The four most influential economic policymakers in the period of 1950โ€“57 were undoubtedly Sumitro, Sjafruddin, Hatta, and Djuanda.".
  121. ^ Rice 1969, hlm. 183: "Dr. Sumitro Djojohadikusumo, probably Indonesia's most prominent economist.".
  122. ^ a b Thee Kian Wie 2001, hlm.ย 179-180.
  123. ^ Kementerian Keuangan 1991, hlm.ย 56.
  124. ^ Djojohadikusumo 1986, hlm.ย 29-30.
  125. ^ a b Niwandhono 2021, hlm.ย 165-166.
  126. ^ Djojohadikusumo 1986, hlm.ย 35-36.
  127. ^ Niwandhono 2021, hlm.ย 177.
  128. ^ Niwandhono 2021, hlm.ย 173-176.
  129. ^ Rice 1983, hlm.ย 68.
  130. ^ Rice 1983, hlm.ย 64.
  131. ^ Djojohadikusumo 1986, hlm.ย 36.
  132. ^ Rice 1983, hlm.ย 79.
  133. ^ Purdey 2016, hlm.ย 379.
  134. ^ Katoppo 2000, hlm.ย 394โ€“395.
  135. ^ Katoppo 2000, hlm.ย 411.
  136. ^ Ahsan, Ivan Aulia (30 Mei 2018). "Jatuh Bangun Dinasti Djojohadikusumo dalam Politik Indonesia". tirto.id. Diakses tanggal 15 Desember 2021.
  137. ^ "Cerita Hashim Soal Latar Belakang Agama Keluarga Prabowo Beragam". Tempo. 28 Januari 2019. Diakses tanggal 22 Maret 2024.
  138. ^ Purdey 2016, hlm.ย 373.
  139. ^ Purdey 2016, hlm.ย 374โ€“375.
  140. ^ Ichimura 2016, hlm.ย 440.
  141. ^ Matanasi, Petrik (13 Februari 2019). "Sumitro Pernah Bela Prabowo, Seperti Mien Uno Bela Sandiaga". tirto.id. Diakses tanggal 9 Juli 2022.
  142. ^ Erwanti, Marlinda Oktavia. "Prabowo Kunjungi Adik Sang Ayah, Sukartini Djojohadikusumo". detiknews. Diakses tanggal 2023-06-22.
  143. ^ Katoppo 2000, hlm.ย 408.
  144. ^ a b "Sumitro Djojohadikusumo Meninggal Dunia". liputan6.com. 9 Maret 2001. Diakses tanggal 11 Mei 2022.
  145. ^ Suditomo, Kurie (29 Oktober 2003). "Sumitro Minta Dimakamkan Secara Sederhana". Tempo. Diakses tanggal 15 Desember 2021.
  146. ^ "Detail Kabinet Menteri - Situs Web Kepustakaan Presiden-Presiden Republik Indonesia". kepustakaan-presiden.perpusnas.go.id. Diakses tanggal 2022-12-24.
  147. ^ Daftar WNI yang Mendapat Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera tahun 1959 s.d. 2003 (PDF). Diakses tanggal 4 Oktober 2021.
  148. ^ "Senarai Penuh Penerima Darjah Kebesaran, Bintang dan Pingat Persekutuan Tahun 1977" (PDF).
  149. ^ Administrator (1992-09-05). "Mendapat anugerah". Tempo (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2023-04-25.

Sumber

sunting
Jabatan politik
Didahului oleh:
Suhadi Reksowardojo (1966)
sebagai Menteri Lembaga Research Nasional
Menteri Negara Riset Indonesia
1973โ€“1978
Diteruskanย oleh:
B. J. Habibie
sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi
Didahului oleh:
M. Jusuf
Menteri Perdagangan Indonesia
1968โ€“1973
Diteruskanย oleh:
Radius Prawiro
Didahului oleh:
Ong Eng Die
Menteri Keuangan Indonesia
1955โ€“1956
Diteruskanย oleh:
Jusuf Wibisono
Didahului oleh:
Jusuf Wibisono
Menteri Keuangan Indonesia
1952โ€“1953
Diteruskanย oleh:
Ong Eng Die
Didahului oleh:
Tandiono Manu
Menteri Perdagangan dan Perindustrian Indonesia
1950โ€“1951
Diteruskanย oleh:
Sujono Hadinoto
Jabatan akademik
Didahului oleh:
Soenarjo Kolopaking
Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
1951โ€“1957
Diteruskanย oleh:
Djokosoetono


๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Soemitro Sastrodihardjo

Jenderal TNI (Purn.) Soemitro Sastrodihardjo atau lebih dikenal dengan nama Soemitro (13 Januari 1927ย โ€“ย 10 Mei 1998) adalah seorang jenderal yang berpengaruh

Poerbonegoro Soemitro Kolopaking

Raden Adipati Arya Poerbonegoro Soemitro Kolopaking adalah bupati Kabupaten Banjarnegara sejak tahun 1927 hingga 1945. Dia terpilih menjadi seorang anggota

Soemitro

Soemitro atau Sumitro dapat merujuk pada: Soemitro Djojohadikoesoemo (1917โ€“2001), ekonom dan politikus Indonesia. Soemitro Sastrodihardjo (1927โ€“1998),

Dora Marie Sigar

sebagai seorang wanita yang terdidik dan berkomitmen. Dora bertemu dengan Soemitro Djojohadikoesoemo, seorang ekonom, dalam sebuah pertemuan yang diselenggarakan

Hashim Djojohadikusumo

dan filantropis asal Indonesia. Hashim adalah anak bungsu dari pasangan Soemitro Djojohadikoesoemo dan Dora Marie Sigar, serta adik dari Presiden Indonesia

Prabowo Subianto

sebagai Presiden Indonesia ke-8 pada tanggal 20 Oktober 2024. Ayah Prabowo, Soemitro Djojohadikoesoemo (1917โ€“2001), berasal dari Gombong, Kebumen. Ia adalah

Hamengkubuwana II

Djojohadikoesoemo, cicit dari BPH Martosono, pendiri Bank Negara Indonesia Soemitro Djojohadikoesoemo, putra Margono dan keturunan ke-4 dari BPH Martosono

Partai Sosialis Indonesia

anggotanya, Soemitro Djojohadikusumo, memberi penekanan pada program pembangunan daerah, industri kecil, dan koperasi. Akan tetapi, karena Soemitro mendukung