Sonokeling
Pohon sonokeling, Dalbergia latifolia
Darmaga, Bogor
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Plantae
Klad: Tracheophyta
Klad: Angiospermae
Klad: Eudikotil
Klad: Rosidae
Ordo: Fabales
Famili: Fabaceae
Genus: Dalbergia
Spesies:
D.ย latifolia
Nama binomial
Dalbergia latifolia
Roxb. (1799)[1]

Sonokeling atau sanakeling adalah nama sejenis pohon penghasil kayu keras dan indah, anggota dari suku Fabaceae. Kayunya yang berbobot sedang dan berkualitas tinggi itu dalam perdagangan dikenal sebagai Indian rosewood, Bombay blackwood atau Java palisander (Ingg.), palisandre de lโ€™Inde (Prc.); dalam klasifikasi Indonesia digolongkan sebagai kayu sonokeling.[2] Di Jawa, dikenal varian yang dinamai sonobrit dan sonosungu.

Pengenalan

sunting
Pepagan pohon tua

Pohon berukuran sedang hingga besar, tingginya 20-40 m dengan gemang mencapai 1,5โ€“2 m. Tajuk lebat berbentuk kubah, menggugurkan daun. Pepagan berwarna abu-abu kecoklatan, sedikit pecah-pecah membujur halus.[3]

Daun majemuk menyirip gasal, dengan 5-7 anak daun yang tak sama ukurannya, berseling pada porosnya. Anak daun berbentuk menumpul (obtusus) lebar, hijau di atas dan keabu-abuan di sisi bawahnya.[3]

Daun majemuk

Bunga-bunga kecil, 0,5-1 cm panjangnya, terkumpul dalam malai di ketiak. Buah polong berwarna coklat, lanset memanjang, meruncing di pangkal dan ujungnya. Berisi 1-4 butir biji yang lunak kecoklatan, polong tidak memecah ketika masak.[3]

Persebaran dan ekologi

sunting
Tegakan muda

Di Indonesia, sonokeling hanya didapati tumbuh liar di hutan-hutan Jawa Tengah dan Jawa Timur pada ketinggian di bawah 600 mdpl, terutama di tanah-tanah yang berbatu, tidak subur, dan kering secara berkala. Tumbuh berkelompok, tetapi tidak terlalu banyak, di hutan-hutan musim yang menggugurkan daun-daunnya di waktu kemarau.[4]

Sebaran alami sonokeling lainnya adalah anak-benua India, mulai dari kaki Pegunungan Himalaya hingga ujung selatan semenanjung, terutama di hutan-hutan monsun yang kering di wilayah-wilayah Karnataka, Kerala, dan Tamil Nadu, di Ghats Barat. Meskipun demikian, tumbuhan ini hidup baik di daerah dengan curah hujan antara 750 โ€“ 5.000ย mm pertahun; di atas aneka jenis tanah, walau lebih menyukai tanah-tanah yang dalam dan lembap, yang memiliki drainase baik.[3]

Pemanfaatan

sunting

Sonokeling terutama dimanfaatkan kayunya, yang memiliki pola-pola yang indah, ungu bercoret-coret hitam, atau hitam keunguan berbelang dengan coklat kemerahan. Kayu ini biasa digunakan untuk membuat mebel, almari, serta aneka perabotan rumah berkelas tinggi. Venirnya yang bernilai dekoratif digunakan untuk melapisi permukaan kayu lapis mahal. Karena sifatnya yang baik, kayu sonokeling juga sering digunakan untuk membuat barang ukiran dan pahatan, barang bubutan, alat-alat musik dan olahraga, serta perabot kayu bengkok seperti gagang payung, tongkat jalan dan lain-lain.[2]

Kayu ini juga kuat dan awet, sehingga tidak jarang digunakan dalam konstruksi seperti untuk kusen, pintu dan jendela, serta untuk membuat gerbong kereta api. Atau untuk peralatan seperti gagang kapak, palu, bajak dan garu, serta untuk mesin-mesin giling-gilas.[2] Selain itu, sonokeling dipakai pula dalam pembuatan lantai parket.

Sonokeling merupakan salah satu tanaman agroforestri yang populer di Indonesia. Pohon ini ditanam dalam sistem tumpangsari, diselingi dengan aneka tanaman pangan seperti padi ladang, jagung, ubi kayu, atau kacang-kacangan. Sonokeling juga menjadi pohon penyusun wanatani, bercampur dengan mangga, nangka, sirsak, jambu biji dan lain-lain. Daun-daun sonokeling dimanfaatkan untuk pakan ternak dan pupuk hijau.[3] Perakaran sonokeling bersifat mengikat nitrogen, dan dengan demikian dapat memperbaiki kesuburan tanah.

Nilainya yang tinggi telah mendorong pemanenan yang berlebihan, sehingga populasi alami pohon ini menghadapi kepunahan. Oleh sebab itu, sejak 1998 Badan Konservasi Dunia IUCN telah memasukkan Dalbergia latifolia ke dalam kategori Rentan (VU, vulnerable).[5]

Sifat-sifat kayu

sunting

Sonokeling tergolong ke dalam kayu keras dengan bobot sedang hingga berat. Berat jenisnya antara 0,77-0,86 pada kadar air sekitar 15%. Teksturnya cukup halus, dengan arah serat lurus dan kadang kala berombak. Kayu ini juga awet; tahan terhadap serangan rayap kayu kering dan sangat tahan terhadap jamur pembusuk kayu.[2]

Kayu terasnya berwarna coklat agak lembayung gelap, dengan coreng-coreng coklat sangat gelap hingga hitam. Kayu gubal berwarna keputih-putihan hingga kekuningan, 3โ€“5ย cm tebalnya, terbedakan dengan jelas dari kayu teras.[2]

Kayu sonokeling agak sukar dikerjakan dengan tangan, tetapi sangat mudah dengan mesin. Kayu ini dapat diserut sehingga permukaannya licin; dan dapat pula dikupas dan diiris untuk membuat venir dekoratif. Kayu ini juga dapat dibubut, disekerup dan dipelitur dengan hasil yang baik. Namun, kayu ini sukar diberi bahan pengawet.[2]

Jenis yang berkerabat

sunting

Sonosiso (Dalbergia sissoo Roxb. ex Benth.) adalah kerabat dekat sonokeling, yang menghasilkan kayu yang hampir serupa kualitasnya; dalam perdagangan dikenal sebagai kayu sonosissoo atau secara umum dimasukkan ke dalam kelompok rosewood.[2]

Marga Dalbergia sendiri meliputi lebih kurang 100 jenis, yang menyebar di kawasan tropika dan ugahari di semua benua. Sebagian besar jenis (70 spesies) didapati di Asia, dengan pusat keanekaragaman di sekitar Himalaya. Kebanyakan berupa perdu atau liana berkayu, sebanyak 18 jenisnya berupa pohon yang menghasilkan kayu yang berharga.[2]

Referensi

sunting
  1. ^ Roxburgh, W. 1799. Pl. Corom. 2: 7, t. 113.
  2. ^ a b c d e f g h Soerianegara, I. dan RHMJ. Lemmens (eds.). 2002. Sumber Daya Nabati Asia Tenggara 5(1): Pohon penghasil kayu perdagangan yang utama. PROSEA โ€“ Balai Pustaka. Jakarta. ISBN 979-666-308-2. Hal. 159-165
  3. ^ a b c d e NFTA. 1994. Dalbergia latifolia: a high-valued Indian rosewood. NFTA 94-04. Waimanalo.
  4. ^ Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia, jil. 2. Yay. Sarana Wana Jaya, Jakarta. Hal. 995-996.
  5. ^ World Conservation Monitoring Centre (1998). Dalbergia latifolia. 2006 IUCN Red List of Threatened Species. IUCN 2006. Diakses 15 Dec 2008. Terdaftar sebagai Vulnerable (VU A1cd v2.3)

Pranala luar

sunting

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Jati

mereka dengan mahoni (Swietenia mahogany), akasia (Acacia villosa), dan sonokeling (Dalbergia latifolia). Daerah Gunung Kidul kini berubah menjadi lahan

Kota Madiun

Boko IV Pasar Winongo, Jl. Minak Kuncar Pasar Bunga, Jl. Dawuhan Pasar Sonokeling, Jl. Mayjen Sungkono Pasar Josenan, Jl. Cokrobasonto Pasar Gamasoru, Jl

Banyuwangi, Banyuwangi

Penganten (Tukangkayu) Sidopekso (Temenggungan) Singasari (Tamanbaru) Sonokeling (Sumberrejo) Sritanjung (Kepatihan, Temenggungan) Sriwijaya (Tamanbaru)

Cokelat sampang

) adalah corak warna cokelat tua kemerahan yang menyerupai warna kayu sonokeling. "Daftar Istilah Warna - Repositori Institusi Kementerian Pendidikan dan

Daftar kayu di Indonesia

Sonokembang Pterocarpus indicus Willd. Angsana, Linggua, Nala, Candana 24. Sonokeling Dalbergia latifolia Roxb. Linggota, sono sungu, sonobrits 25. Sungkai

Monumen Soerjo

monumen dengan 23 jenis tanaman langka seperti citradora, sawo kecik, sonokeling, cendana, dan masih banyak jenis tanaman langka lainnya. Terdapat pula

Daftar pohon

nigra) Hawar hibrida (Populus x canadensis) Ramin Redcedar (Toona ciliata) Sonokeling (Dalbergia spp.) Sala (Shorea robusta) Cendana (Santalum album) Sasafras

Hutan tropis musiman

chinensis), terisi (A. lebbekoides), siwalan (Borassus flabellifer), sonokeling (Dalbergia latifolia), kesambi (Schleichera oleosa), walikukun (Schoutenia