Stasiun Kedundang
P06

Bangunan baru stasiun yang sudah beroperasi per 18 Agustus 2021.
Lokasi
Koordinat7°52′51″S 110°5′41″E / 7.88083°S 110.09472°E / -7.88083; 110.09472
Ketinggian+11 m
Operator
Letak
Jumlah peronSatu peron sisi yang agak tinggi
Jumlah jalur4
  • jalur 2: sepur lurus arah Kutoarjo
  • jalur 3: sepur lurus arah Yogyakarta sekaligus sepur raya percabangan jalur lintas Bandara YIA
  • jalur 4: sepur raya dari dan ke Bandara YIA
LayananHanya untuk penyusulan antarkereta api serta pengontrolan wesel percabangan menuju Bandara YIA.
Konstruksi
Jenis strukturAtas tanah
Informasi lain
Kode stasiun
KlasifikasiIII/kecil[2]
Sejarah
Ditutup21 Juli 2007
Dibangun kembali2020
Tanggal penting
Dibuka kembali18 Agustus 2021[a][3]
Fasilitas dan teknis
Jenis persinyalan
Lokasi pada peta
Peta
Sunting kotak info
Sunting kotak info • L • B
Info templat
Bantuan penggunaan templat ini

Stasiun Kedundang (KDG) adalah stasiun kereta api kelas III/kecil yang terletak di Kalurahan Kulur, Kapanéwon Temon, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Stasiun yang terletak pada ketinggian +11 m ini termasuk dalam Daerah Operasi VI Yogyakarta dan merupakan stasiun yang lokasinya paling barat di Kabupaten Kulon Progo dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Walaupun diberi nama Kedundang, stasiun ini secara administratif tidak terletak di Kalurahan Kedundang, tetapi di sebelah utara kalurahan tersebut dan berbatasan di stasiun ini.

Sejarah

sunting

Stasiun Kedundang yang terletak di lintas antara Stasiun Wates dengan Stasiun Wojo ini sempat dinonaktifkan mulai tanggal 21 Juli 2007, dimaksudkan untuk efisiensi setelah dibukanya jalur ganda lintas Yogyakarta-Kutoarjo, karena fungsi awalnya hanya sebagai stasiun persilangan antarkereta api sewaktu masih menggunakan jalur rel tunggal.[4] Dahulu sekitar 2 km ke arah timur stasiun ini, sebelum Stasiun Wates, terdapat Halte Pakualam yang berlokasi di Hargorejo, Kokap, Kulon Progo.

Kondisi bangunan lama

sunting

Bangunan lama Stasiun Kedundang memiliki arsitektur yang mirip dengan Stasiun Sukoharjo, Stasiun Winongo, Stasiun Palbapang, dan Stasiun Bantul, yaitu ciri khas desain atap dan lubang ventilasi udara yang berbentuk bulat. Stasiun ini diperkirakan juga dibangun saat pembangunan jalur rel Yogyakarta-Maos-Cilacap pada kurun waktu tahun 1887 oleh perusahaan kereta api negara pemerintah Hindia Belanda, Staatsspoorwegen. Saat masih aktif, stasiun ini terakhir memiliki tiga jalur kereta api dengan jalur 1 yang lama merupakan sepur lurus.[5]

Bangunan lama stasiun yang memiliki gaya khas era Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI) tersebut memiliki beberapa ruangan, diantaranya ruang tunggu penumpang, ruang pelayanan tiket, ruang kepala stasiun, dan ruang PPKA yang tampaknya dibangun belakangan karena bentuk bangunannya berbeda dengan bentuk asli (bangunan stasiun ini bergaya 1950-an).

Selama masa-masa nonaktifnya, kondisi jendela, pintu, lantai, dan ruang tunggu mulai rusak karena sudah tidak ada yang merawat untuk membersihkan stasiun. Masih terdapat juga toilet, sumur, gardu persinyalan blok, dan dua rumah dinas DKA. Pada sebelah barat stasiun terdapat perlintasan sebidang dengan nomor pos jaga 667. Papan nama stasiun versi Perumka saat itu juga masih terpasang.

Pengoperasian kembali

sunting

Sehubungan dengan pembangunan Bandara Internasional Yogyakarta di Temon, Kulon Progo, muncul wacana untuk mengaktifkan kembali Stasiun Kedundang sebagai stasiun sub penghubung untuk menuju bandara.[6][7] Terkait dengan hal tersebut, bangunan lama stasiun beserta seluruh fasilitas dan rumah dinas, kecuali gardu persinyalan blok intermediet, sudah dirobohkan karena terkena dampak pembangunan jalur baru stasiun tersebut menuju bandara YIA.

Sejak 18 Agustus 2021, stasiun ini resmi dioperasikan kembali ditandai dengan switch-over persinyalan elektrik.[3] Bangunan stasiun lama yang berada di sisi selatan jalur rel sudah digantikan dengan bangunan baru di sisi utara jalur rel. Sistem persinyalan blok intermediate yang digunakan di stasiun ini selama masa nonaktifnya kini telah dibongkar dan digantikan dengan sistem persinyalan elektrik produksi Len Industri. Stasiun ini kembali memiliki tiga jalur kereta api dengan jalur 1 merupakan sepur lurus arah Kutoarjo, jalur 2 merupakan sepur lurus arah Yogyakarta sekaligus sepur raya percabangan jalur lintas bandara tersebut, dan jalur 3 juga merupakan sepur raya seperti halnya jalur 2. Kemudian pada tahun 2022, dibangun satu jalur belok baru di dekat ruang PPKA baru sehingga jumlah jalur bertambah menjadi empat. Jalur belok baru tersebut dijadikan sebagai jalur 1 yang baru sehingga penomoran jalur-jalur eksisting di stasiun ini diubah dengan menambah semua nomor jalurnya dengan angka satu.

Saat ini Stasiun Kedundang hanya melayani persusulan antar kereta api serta pengaturan wesel menuju Bandara Internasional Yogyakarta.

Kontroversi

sunting

Pada saat pembangunan jalur percabangan kereta api menuju Bandar Udara Internasional Yogyakarta, Kementerian Perhubungan RI (Kemenhub RI) turut melakukan reaktivasi terhadap Stasiun Kedundang. Pada prosesnya, diketahui bahwa bangunan lama yang dulunya dibangun oleh Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI) setelah terjadinya perang kemerdekaan tersebut dihancurkan secara total oleh Kemenhub RI. Kemenhub RI beralasan bahwa penghancuran tersebut dilakukan agar dapat mengakomodasi pembangunan sepur simpang menuju Bandar udara Internasional Yogyakarta.[8]

Bangunan lama dari Stasiun Kedundang merupakan Bangunan Cagar Budaya (BCB) yang ditetapkan melalui Surat Keputusan (SK) Bupati Kulon Progo Nomor 586/A/2018 dan berada di Tanah Pakualaman. Bangunan lama tersebut diganti dengan bangunan baru yang terletak di sisi utara dari Jalur kereta api Cilacap–Yogyakarta, dan tidak memiliki rancang bangun yang identik dengan bangunan lama.[8]

Pemerintah melalui BPCB DIY menyayangkan tindakan sewenang-wenang tersebut, pihak BPCB kemudian menerjunkan polisi khusus cagar budaya untuk mengamati penghancuran BCB Stasiun Kedundang. Bangunan baru Stasiun Kedundang beroperasi sejak 18 Agustus 2021 bersamaan dengan pengoperasian Percabangan YIA.[8]

Lebih lanjut, disebutkan bahwa penghancuran tersebut juga tidak memperoleh izin/kesepahaman dari Kadipaten Pakualaman. Pakar berpendapat, pihak Kadipaten dapat meminta pertanggungjawaban kepada pihak yang terlibat, diantaranya Kemenhub RI, Kereta Api Indonesia dan Pemerintah Daerah Kulon Progo atas tindakan tersebut. Meski demikian, belum ada tindak lanjut atas pelanggaran tersebut.[9]

Insiden

sunting

Pada tanggal 8 April 2025 sekitar pukul 10.30 WIB,[10] Commuter Line Prambanan Ekspres nomor KA 502 relasi KutoarjoYogyakarta mengalami mogok di KM 503+2 antara Kedundang–Wojo. Kereta tersebut berhenti di dekat rumah PPKA atau rumah sinyal Stasiun Kedundang. Penumpang dievakuasi ke luar dari kereta dan selanjutnya menunggu rangkaian pengganti yang didatangkan dari Yogyakarta untuk kembali melanjutkan perjalanan.[11] Penumpang kereta api tersebut mengatakan bahwa keterlambatan sekitar 2 jam.[12]

Galeri

sunting

Catatan

sunting
  1. ^ Pengaktifan sinyal blok tertutup dan penonaktifan sinyal blok intermediate. Kereta api bandara menuju Stasiun YIA belum beroperasi kala itu.

Referensi

sunting
  1. ^ Grafik Perjalanan Kereta Api pada Jaringan Jalur Kereta Api Nasional di Jawa Tahun 2025 (PDF). Bandung: Kereta Api Indonesia (Persero). 2024-12-30. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2025-01-27 – via Direktorat Jenderal Perkeretaapian.
  2. ^ a b Buku Informasi Direktorat Jenderal Perkeretaapian 2014 (PDF). Jakarta: Direktorat Jenderal Perkeretaapian, Kementerian Perhubungan Indonesia. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 1 Januari 2020.
  3. ^ a b Alfadillah. "Kereta Api Bandara YIA Diprediksi Beroperasi September 2021". kumparan. Diakses tanggal 2021-08-23.
  4. ^ "Dua Stasiun KA Daop VI Yogyakarta Ditutup Selamanya". Tempo (dalam bahasa Inggris). 2007-06-16. Diarsipkan dari asli tanggal 2019-03-30. Diakses tanggal 2018-12-09.
  5. ^ Lampiran Surat Keputusan Direktur Jenderal Perkeretaapian No. SK.02/DJKA/K.2/01/06
  6. ^ Media, Harian Jogja Digital (2018-09-17). "Proyek Kereta Bandara, Pemdes di Temon Belum Peroleh Sosialisasi". Harianjogja.com. Diakses tanggal 2018-12-09.
  7. ^ "Kedundang Bakal Jadi Stasiun Sub Penghubung Bandara Baru". Tribun Jogja. 2016-02-29. Diakses tanggal 2018-12-09.
  8. ^ a b c "Babak Baru Perobohan Bangunan Cagar Budaya Kulon Progo, BPCB DIY Terjunkan Polisi Khusus". Tribunjogja.com. Diakses tanggal 2025-04-16.
  9. ^ Syarif, M. Adil (2024-05-14). "Stasiun Kedundang Dibongkar, Pakar Nilai PT KAI Bisa Dijerat Pidana". JPNN. Yogyakarta. Diakses tanggal 2025-04-16.
  10. ^ KOMPASTV (2025-04-08), Kereta Prameks Mogok di Kulon Progo, Begini Dampak yang Dirasakan Penumpang, diakses tanggal 2025-04-17
  11. ^ "Kereta Prameks Kutoarjo- Yogyakarta Mogok di Jalan, Ratusan Penumpang Terlantar Di Atas Rel 2 Jam". Tempo. 2025-04-08. Diakses tanggal 2025-04-17.
  12. ^ KOMPASTV (2025-04-08), Kereta Prameks Mogok di Kulon Progo, Begini Dampak yang Dirasakan Penumpang, diakses tanggal 2025-04-17
Stasiun sebelumnya Piktogram dari KA Jarak Jauh Lintas Kereta Api Indonesia Stasiun berikutnya
Wojo Cilacap–Yogyakarta Wates
menuju Yogyakarta
Yogyakarta International Airport
Terminus
Cilacap–Yogyakarta
Percabangan menuju YIA
Terminus

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Bandar Udara Internasional Yogyakarta

sepanjang 5,4 kilometer dari Stasiun Kedundang, Kulon Progo menuju Bandara YIA. Sementara antara Stasiun Kedundang dan Stasiun Yogyakarta menggunakan rel

Commuter Line Prambanan Ekspres

antara Stasiun Wates dan Stasiun Wojo pada pukul 10.30 WIB. Posisi mogoknya Commuter Line Prambanan Ekspres berada di jalur satu Stasiun Kedundang. Penumpang

Lin Yogyakarta International Airport

sebagian besar hingga Stasiun Wojo dan sebagian kecil hingga Stasiun Kebumen mulai Mei 2019. Kereta api ini berhenti di hampir semua stasiun pemberhentian penumpang

Jalur kereta api Cilacap–Yogyakarta

memutuskan menutup dua stasiun karena sudah tidak lagi melayani penumpang dan lokasinya yang tidak strategis, yaitu Stasiun Kedundang dan Montelan. Secara

Kereta api Bengawan

Bengawan menambah pemberhentian di Stasiun Cikarang Mulai 1 Maret 2022. Kereta api Bengawan menambah pemberhentian di Stasiun Pegaden Baru Mulai 1 Juni 2023

Stasiun Gedangan (Grobogan)

stasiun ini mirip dengan stasiun-stasiun di Daerah Operasi VI Yogyakarta, yaitu Stasiun Bantul, Palbapang, Winongo, Kedundang, Sukoharjo, Wojo, maupun

Stasiun Yogyakarta International Airport

Total Rp1,1 triliun digelontorkan untuk proyek ini. Stasiun ini berjarak 5,4 km dari Stasiun Kedundang dan dibangun dengan struktur layang. Konstruksi Jalur

Stasiun Wojo

lurus untuk arah Cilacap. Gaya bangunan stasiun mirip dengan yang ada di Stasiun Bantul, Palbapang, Winongo, Kedundang, Sukoharjo, maupun Rewulu, salah satunya