Studi keberlanjutan adalah bidang interdisipliner yang mempelajari prinsip dan praktik keberlanjutan serta pembangunan berkelanjutan. Bidang ini mengintegrasikan geografi, pertanian, kebijakan lingkungan, etika, ekologi, arsitektur lanskap, perencanaan perkotaan, ekonomi, manajemen sumber daya alam, sosiologi, dan antropologi.[1]

Sejarah

sunting

Pembentukan awal

sunting

Gagasan mengenai keberlanjutan mulai berkembang pada abad ke-19 sebagai tanggapan terhadap eksploitasi sumber daya alam selama Revolusi Industri, ketika peningkatan penggunaan batu bara, minyak, dan besi menyebabkan perubahan lingkungan dalam skala yang lebih luas.[2] Organisasi konservasi seperti Lembaga Nasional Audbon (1886) dan Sierra Club (1892) dibentuk untuk melindungi satwa liar dan kawasan alami. Lacey Act tahun 1900 ditetapkan sebagai undang-undang federal pertama di Amerika Serikat yang mengatur perdagangan satwa liar.[3]

Pada awal abad ke-20 kegiatan pelestarian dipopulerkan oleh tokoh-tokoh publik seperti Gene Stratton-Porter. Penelitian ilmiah yang dilakukan George Washington Carver dan Marie Curie berkontribusi pada perkembangan praktik pertanian dan energi yang kemudian dihubungkan dengan konsep keberlanjutan.[4][5] Pada periode yang sama, Presiden Amerika Serikat Theodore Roosevelt menetapkan sejumlah taman nasional dan kawasan lindung, dengan total luasan lebih dari 230 juta acre, yang turut meningkatkan perhatian publik terhadap isu konservasi.[6]

Pada dekade 1980-an perhatian terhadap batas ekologi global mengalami peningkatan. Brundtland Commission (1983โ€“1987) merumuskan definisi pembangunan berkelanjutan melalui Brundtland Report (1987), yaitu pembangunan yang memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.[7][8]

Perkembangan

sunting

Konferensi Tingkat Tinggi Bumi Perserikatan Bangsa Bangsa (UN Earth Summit) tahun 1992 di Rio de Janeiro menghasilkan Konvensi Kerangka Kerja Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNFCCC), yang kemudian menjadi dasar penetapan target pengurangan emisi dalam Protokol kyoto pada 1997.[7] Perjanjian tersebut membentuk kerangka kerja internasional untuk penanganan perubahan iklim, meskipun tingkat ratifikasi dan pencapaiannya berbeda antar negara anggota. Pada 2015, Majelis Umum PBB menetapkan tujuh belas Tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) dengan target pencapaian global pada 2030.[9]

Pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21, penelitian mengenai keberlanjutan menyoroti perlunya kerangka penilaian yang mencakup dimensi ekonomi, lingkungan, sosial, dan kelembagaan. Kajian pada periode ini juga mempertimbangkan penggunaan perspektif jangka panjang, penerapan pendekatan kehati-hatian, serta analisis terkait keadilan intra dan antargenerasi.[10]

Referensi

sunting
  1. ^ "The Growing Field of Sustainability Studies". HuffPost (dalam bahasa American English). 2012-02-13. Diakses tanggal 2025-11-22.
  2. ^ "The Dark Side Of Industrial Revolution: Environmental Destruction - Massive Earth Foundation" (dalam bahasa American English). 2024-12-21. Diakses tanggal 2025-11-22.
  3. ^ Smola, Travis (2022-02-14). "How Our Favorite Game Species Barely Survived Overhunting". Wide Open Spaces (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-11-22.
  4. ^ McAtee, Charlie (2024-01-29). "Gene Stratton-Porter: A Hoosier Renaissance Woman". Indiana Historical Society (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-11-22.
  5. ^ "George Washington Carver: Prolific Inventor Known as the "Peanut Man"". Biography (dalam bahasa American English). 2024-01-24. Diakses tanggal 2025-11-22.
  6. ^ "Theodore Roosevelt and Conservation - Theodore Roosevelt National Park (U.S. National Park Service)". www.nps.gov (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-22.
  7. ^ a b "History and Sustainability". www.histecon.magd.cam.ac.uk. Diakses tanggal 2025-11-22.
  8. ^ Du Pisani Professor of History, Jacobus A. (2006-06-01). "Sustainable development โ€“ historical roots of the concept". Environmental Sciences. 3 (2): 83โ€“96. doi:10.1080/15693430600688831. ISSNย 1569-3430.
  9. ^ dpicampaigns. "Take Action for the Sustainable Development Goals". United Nations Sustainable Development (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-11-22.
  10. ^ Gasparatos, Alexandros; El-Haram, Mohamed; Horner, Malcolm (2008-05-01). "A critical review of reductionist approaches for assessing the progress towards sustainability". Environmental Impact Assessment Review. 28 (4): 286โ€“311. doi:10.1016/j.eiar.2007.09.002. ISSNย 0195-9255.

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Maia Estianty

mendukungnya, dengan syarat ia melanjutkan studinya di universitas negeri. Maia mendaftar di Universitas Indonesia, pertama di program studi Sastra Belanda dan kemudian

Amran Sulaiman

menengah atas negeri di Lappariaja pada tahun 1989. Setelah menyelesaikan studi dasarnya, Amran belajar ilmu pertanian di Universitas Hasanuddin Makassar

Sri Bintang Pamungkas

Jawa Tengah dan melanjutkan studi ke Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung hingga lulus pada tahun 1971. Tahun 1979, ia melanjutkan studi ke Universitas

Dody Hanggodo

untuk melanjutkan studinya di SMP Negeri 2 Temanggung (1978โ€“1981) dan SMA Kolese De Britto Yogyakarta (1981โ€“1984). Setelah lulus SMA, ia melanjutkan studinya

Novalia Pishesha

luar negeri. Dengan dukungan keluarga dan kerja keras, ia berhasil melanjutkan studi ke City College of San Francisco, sebelum akhirnya mendapatkan beasiswa

Bahlil Lahadalia

angkot saat duduk di bangku SMA. Setelah lulus, ia memutuskan untuk melanjutkan studinya di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Port Numbay di Jayapura dan lulus

Soepomo

Europeesche Lagere School (ELS) di Boyolali. Ia lulus pada tahun 1920, dan melanjutkan studinya ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Surakarta. Pada tahun

Lingkungan

akibat pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan yang mengesampingkan keberlanjutan fungsi lingkungan hidup. Hal ini menjadi tantangan dalam meningkatkan