Gaia
Gaia, ilustrasi dari buku karya Roscher (1884) berdasarkan relief peninggalan Romawi di Karthago.
Genderwanita
Afiliasiprotogenoi
MitologiYunani
PlanetBumi
Simboltanah
Keluarga
Orang tuaKhaos
SaudaraTartaros, Eros, Erebos, Niks
SuamiUranus, Pontos, dan Tartaros
AnakUranus, Pontos, para Urea, para Titan, para Kiklops, para Hekatonkhires, Keto, Euribia, Forkis, Nereus, Thaumas, dan Tifon
Padanan
HinduPertiwi, Bhudewi
RomawiTerra

Gaia (bahasa Yunani Kuno: ฮ“ฮฑแฟ–ฮฑ Gaia, bentuk puitis dari bahasa Yunani Kuno: ฮ“แฟ† Gฤ“ "tanah"/"bumi") adalah dewi perwujudan dari bumi dalam mitologi Yunani. Sebagai protogenoi pertama yang muncul di alam semesta setelah Khaos, Gaia dikenal sebagai "Ibu dari Semua"; melalui hubungannya dengan Uranus, Gaia melahirkan para Titan, Cyclops, dan Hekatonkhires; melalui hubungannya dengan Pontos, ia melahirkan para dewa-dewi laut. Di Mitologi Romawi, Gaia dikenal dengan nama Terra Mater/Tellus.

Dalam Mitologi

sunting

Hesiodos

sunting

Dalam Theogonia, Hesiodos menyebutkan bahwa Gaia adalah protogenoi, yaitu dewa-dewi Yunani yang pertama muncul di dunia, kedua, setelah Khaos dan disusul oleh Tartaros (lubang dalam), Eros (cinta), Erebos (kegelapan), dan Niks (malam). Sebagai perwujudan bumi, Gaia menjadi fondasi bagi surga yang nantinya akan menjadi Olimpus.[1] Kemudian, melalui partenogenesis, Gaia melahirkan Uranus (langit) yang menutupinya "di segala sisi".[2] Ia juga melahirkan Pontos (laut) dan para Urea (bukit-bukit) dengan cara yang sama.[3] Selanjutnya, Gaia melakukan persetubuhan dengan Uranus dan melahirkan para Kiklops: Arges, Brontes, dan Sterodes,[4] para Hekatonkhires: Briarios, Kottos, dan Gies,[5] serta para Titan: Okeanos, Koios, Krios, Hiperion, Iapetos, Theia, Rea, Themis, Mnemosine, Foibe, Thetis, dan Kronos.[6]

Uranus tidak menyukai Kiklops dan Hekatonkhires karena bentuk mereka yang buruk rupa, sehingga dia menyembunyikan mereka di Tartaros. Karena Tartaros adalah usus Gaia, hal ini menyebabkan rasa sakit yang mendalam padanya. Karenanya, Gaia membentuk sebuah sabit dari batu api abu-abu (Adamantin) dan memerintahkan para Titan untuk membalaskan dendamnya pada Uranus dan membebaskan anak-anaknya dari Tartaros. Hanya Kronos, Titan termuda yang sangat tidak menyukai sifat penuh gairah ayahnya, yang berani melakukan tugas tersebut. Ketika Uranus sedang bersetubuh dengan Gaia, Kronos memotong alat kelamin Uranus dengan sabit adamantin tersebut. Dari tetesan darah Uranus menetes ke bumi lahir para Erinyes, para Gigant, dan para Meliai, sementara dari testis Uranus yang tenggelam di laut lahir Afrodit.[7] Namun, Kronos tidak menepati janjinya pada Gaia untuk membebaskan para Kiklops dan Hekatonkhires, dia bersama para Titan lainnya malah merebut kekuasaan dunia dan menetapkan Kampe sebagai penjaga di Tartaros. Hal ini membuat Gaia tidak puas. Dia dan Uranus meramalkan pada Kronos bahwa kelak anak-anak Kronos akan merebut kekuasannya seperti dia pernah merebut kekuasaan dari Uranus. Karena ramalan ini, Kronos memakan kelima anak hasil perkawinannya dengan Rea. Rea yang sedang mengandung anak keenamnya, Zeus, meminta bantuan Gaia dan Uranus. Gaia-pun mengambil cucunya dan merawatnya hingga dewasa, sementara Rea memberikan sebuah batu sebagai pengganti Zeus.[8] Dengan saran Gaia,[9] Zeus memaksa ayahnya untuk memuntahkan saudara-saudaranya: Poseidon, Hades, Hera, Demeter, dan Hestia. Ia kemudian membebaskan para Kiklops dan Hekatonkhires yang membantunya merebut kekuasan dari para Titan.

Setelah berhasil menang, Zeus mengurung para Titan di Tartaros dengan Hekatonkhires sebagai penjaga mereka. Sekali lagi Gaia tidak puas, kali ini karena perlakuan Zeus pada anaknya. Gaia memberi tantangan pada Olimpus lagi;[10] ia bersetubuh dengan Tartaros dan melahirkan Tifon, seekor monster yang menyerang Olimpus dan hampir menang melawan Zeus, tetapi Zeus akhirnya berhasil melawan Tifon dan membuangnya ke Tartaros. Masih tidak puas, Gaia memberikan tantangan terakhirnya pada Olimpus; kali ini dia memerintahkan para Gigant, dipimpin oleh Alkyoneus, untuk berperang melawan dewa-dewi Olimpus dalam perang yang bernama Gigantomakhia. Dengan bantuan Herakles, seorang pahlawan anak dari Zeus dan seorang manusia, serta berbagai dewa minor lainnya seperti para Moirai dan Hekate, mereka berhasil membunuh seluruh Gigant dan memenangkan Gigantomakhia. Setelah semua kejadian ini, Gaia mengadakan perjanjian bahwa dia tidak akan mengusik urusan Olimpus lagi.

Sumber lain

sunting

Zeus menyembunyikan Elara, salah satu dari kekasihnya, dari Hera dengan menyembunyikannya dibawah bumi. Anaknya dengan Elara, raksasa Titias, sering disebut sebagai anak dari Gaia, dewa bumi, dan Elara.

Gaia juga membuat Aristaios abadi.

Gaia dipercaya oleh beberapa sumber merupakan dewa original di balik Orakel Delfi. Dia menurunkan kekuatannya pada, tergantung oleh sumbernya, Poseidon, Apollo atau Themis. Apollo adalah yang paling diketahui sebagai kekuatan orakel di balik Delphi, diketahui lama sebelum waktu dari Homer, membunuh anak Gaia Pithton disana dan menyerap kekuatan khtonik. Hera menghukum Apollo dengan mengirimkannya pada Raja Admetos sebagai gembala selama sembilan tahun.

Sumpah yang diucapkan dalam nama Gaia, dalam Yunani kuno, merupakan sumpah yang mengikat semuanya.

Dalam seni klasik Gaia dihadirkan dalam dua cara. Pada lukisan vas Athena dia ditunjukkan sebagai wanita yang setengah timbul dari bumi, sering kali dalam pose menyerahkan bayi Erikhtonios (raja kota Athena) pada dewi Athena untuk diasuh.

Pada mosaik dia ditampilkan sebagai wanita yang berbaring di atas tanah dikelilingi oleh Karpi, bayi dewa dari buah bumi.

Pasangan dan keturunan

sunting

Gaia adalah dewa yang mencerminkan Bumi dan berikut adalah anak-anaknya seperti yang tertulis pada berbagai mitos. Beberapa berhubungan secara konsisten, beberapa hanya pernah disebutkan dalam variasi minor dalam mitos:

Catatan

sunting
  1. ^ Hesiod, Theogony 116โ€“118 Diarsipkan 2020-10-03 di Wayback Machine..
  2. ^ Hesiod, Theogony 126โ€“128 Diarsipkan 2021-01-25 di Wayback Machine..
  3. ^ Hesiod, Theogony 129โ€“132 Diarsipkan 2021-01-26 di Wayback Machine..
  4. ^ Hesiod, Theogony 139โ€“146 Diarsipkan 2021-01-26 di Wayback Machine..
  5. ^ Hesiod, Theogony 147โ€“153 Diarsipkan 2021-01-26 di Wayback Machine..
  6. ^ Hesiod, Theogony 132โ€“138 Diarsipkan 2021-01-26 di Wayback Machine..
  7. ^ Hesiod, Theogony 154โ€“200 Diarsipkan 2023-04-09 di Wayback Machine..
  8. ^ Hesiod, Theogony 453โ€“491 Diarsipkan 2021-01-06 di Wayback Machine..
  9. ^ Hesiod, Theogony 626 Diarsipkan 2021-01-26 di Wayback Machine..
  10. ^ Hesiod, Theogony 820โ€“880 Diarsipkan 2023-06-27 di Wayback Machine..

Pranala luar

sunting

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Garis waktu peristiwa jauh di masa depan

(2000). "Reduction of biosphere life span as a consequence of geodynamics". Tellus B. 52 (1): 94โ€“107. Bibcode:2000TellB..52...94F. doi:10.1034/j.1600-0889

Pertiwi

Bumi Mantra Om Bhumhaya Namah Wahana Sapi, Gajah Keluarga Pasangan Dyaus Pita (Menurut pada Weda) Padanan Nordik Jรถrรฐ Romawi Tellus Mater Yunani Gaia

Daftar dewa-dewi Romawi

dari Tellus. Tempestas, salah satu dewi badai atau perubahan cuaca mendadak, biasanya disebut dalam bentuk jamak sebagai Tempestates Terra Mater atau

Romawi Kuno

novus, yang belum lama terjun ke bidang politik berkat sokongan keluarga Metellus, tampil menjadi salah seorang tokoh pemimpin Republik Romawi, ketika terpilih

Lambang unsur

diberikan. Atom antimateri dilambangkan dengan garis di atas lambung pasangan materinya, jadi misalnya H adalah lambang untuk antihidrogen. Berikut ini adalah

Daftar organisasi lingkungan

Coalition (SEAC) Surfrider Foundation Sustainable Silicon Valley (SSV) Tellus Institute Texas Campaign for the Environment The Big Green Bus The Conservation

Kemiripan antara mitologi Etruria, Yunani, dan Romawi

Amor Kupido / Amor cinta ฮ•ฯฯฮฟฯ‚ (Euros) Eurus Vulturnus ฮ“ฮฑฮฏฮฑ Gaia Terra / Tellus Tera tanah atau bumi ฮ“ฮฑฮปฮนฮฝฮธฮนฮฌฯ‚ Galanthis / Galinthias Galinthis Musang ฮ†ฮดฮทฯ‚

Perang Punik I

gajah-gajah, mendekati tembok kota Panormus. Panglima Romawi, Lucius Caecilius Metellus, mengerahkan prajurit-prajurit penggempur untuk mengacaukan pasukan Kartago