Lukisan laskar Korawa (kiri) berhadapan dengan laskar Pandawa. Lukisan ini dibuat sekitar abad ke-17 atau ke-18, berasal dari Mewar, Rajasthan.

Korawa (Dewanagari: เค•เฅŒเคฐเคต;ย ,IAST:ย Kaurava,;ย ejaan alternatif: Kurawa) adalah istilah dalam bahasa Sanskerta yang dipakai untuk merujuk kepada suatu kumpulan tokoh dalam wiracarita Hindu Mahabharata. Dalam bahasa Sanskerta, kata Kaurava berarti "keturunan [raja] Kuru", seorang raja dalam legenda India yang dikisahkan sebagai leluhur bagi para tokoh Mahabharata. Selain Mahabharata, istilah tersebut juga ditemukan dalam beberapa kitab-kitab lain yang memuat legenda Hindu, contohnya Purana.

Dalam budaya pewayangan Jawa yang telah mengadaptasi susastra Hindu, istilah ini merujuk kepada kelompok antagonis dalam Mahabharata, sedangkan kelompok protagonisnya ialah Pandawa (keturunan Pandu). Maka dari itu, istilah Korawa identik sebagai musuh bebuyutan para Pandawa.

Dalam kisah Mahabharata, kata "Korawa" awalnya dipakai untuk menyebut keturunan Kuru atau anggota Dinasti Kuru, yang berlatar belakang keraton Hastinapura di India Utara. Secara khusus, makna kata tersebut menyempit menjadi "anak-anak Dretarastra", karena Dretarastra merupakan pangeran sulung di Dinasti Kuru, sebelum lahirnya Pandawa. Dalam Mahabharata, jumlah para Korawa (sebagai anak Dretarastra) ialah seratus dua orang; seratus satu orang dilahirkan oleh Gandari, sedangkan yang seorang lagi dilahirkan oleh dayang-dayangnya. Yang terkemuka adalah Duryodana, Dursasana, Wikarna, dan Yuyutsu. Hampir seluruh Korawa berjenis laki-laki, kecuali seorang (anak perempuan Gandari), yang bernama Dursilawati atau Dursala.

Pengertian

sunting

Istilah Korawa (ejaan IAST: Kaurava) yang digunakan dalam kitab Mahabharata memiliki dua pengertian:

  • Arti luas: Korawa merujuk kepada seluruh keturunan Kuru (เค•เฅเคฐเฅ). Kuru adalah nama seorang maharaja yang merupakan keturunan Bharata, dan menurunkan tokoh-tokoh besar dalam wiracarita Mahabharata. Dalam pengertian ini, Pandawa juga termasuk Korawa, dan kadang kala disebut demikian dalam Mahabharata, khususnya pada beberapa bagian awal.
  • Arti sempit: Korawa merujuk kepada garis keturunan Kuru yang lebih tua. Istilah ini hanya terbatas untuk anak-anak Dretarastra, sebab Dretarastra merupakan putra sulung Wicitrawirya (keturunan Raja Kuru), yang berhak menjadi raja menurut urutan kelahiran tetapi digantikan oleh adiknya, Pandu, karena Dretarastra buta. Istilah ini tidak mencakup anak-anak Pandu, yang mendirikan garis keturunan baru, yaitu para Pandawa.

Riwayat singkat

sunting

Dalam Mahabharata diceritakan bahwa Gandari, istri Dretarastra, menginginkan putra. Kemudian ia memohon kepada Byasa, seorang pertapa sakti yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Dinasti Kuru. Akhirnya permohonan Gandari terkabul sehingga ia pun hamil. Namun setelah sekian lama, kandungannya belum juga lahir. Sementara itu, iparnya yang bernama Kunti sudah melahirkan putra bernama Yudistira. Gandari pun iri setelah mendengar kabar tersebut, lalu ia frustrasi sambil memukul-mukul kandungannya. Akhirnya air ketuban pun pecah. Setelah melalui masa persalinan, yang lahir dari rahimnya hanyalah segumpal daging. Byasa kemudian memotong-motong daging tersebut menjadi seratus bagian dan memasukkannya ke dalam guci, yang kemudian ditanam ke dalam tanah selama satu tahun. Setelah satu tahun, guci tersebut dibuka kembali dan dari dalam setiap guci, munculah bayi laki-laki. Yang pertama muncul adalah Duryodana, diiringi oleh Dursasana, dan saudaranya yang lain.

Seluruh putra-putra Dretarastra tumbuh menjadi pria yang gagah-gagah, bergelar atiratha, dan semuanya menikah saat dewasa.[1] Mereka memiliki lima saudara sepupu yang disebut "Pandawa" (Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa), yaitu kelima putra Pandu, saudara tiri ayah mereka. Meskipun mereka bersaudara, Duryodana yang merupakan saudara tertua para Korawa, selalu merasa iri terhadap Pandawa, terutama si sulung Yudistira yang hendak dicalonkan menjadi raja di Hastinapura. Perselisihan pun timbul dan memuncak pada sebuah pertempuran akbar di Kurukshetra, India Utara.

Setelah pertarungan sengit berlangsung selama delapan belas hari, seratus putra Dretarastra gugur, termasuk cucu-cucunya. Yang terakhir gugur dalam pertempuran tersebut adalah Duryodana, saudara sulung para Korawa. Sebelumnya, adiknya yang bernama Dursasana yang gugur di tangan Bima. Yuyutsu, putra Dretarastra yang lahir dari seorang dayang-dayang, adalah satu-satunya Korawa yang selamat dari pertarungan di Kurukshetra karena memihak para Pandawa. Ia melanjutkan garis keturunan ayahnya, serta membuatkan upacara bagi para saudara dan teman-temannya yang gugur di medan perang Kurukshetra.

Silsilah

sunting
ย 
ย 
Ambika
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
Byasa
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
Ambalika
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
Gandari
ย 
ย 
ย 
Dretarastra
ย 
ย 
ย 
pelayan
ย 
Kunti
ย 
ย 
ย 
Pandu
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
Madri
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
ย 
100ย putra
ย 
Dursilawati
ย 
Yuyutsu
ย 
Yudistira
ย 
Bima
ย 
Arjuna
ย 
Nakula
ย 
Sadewa

Keterangan
  • Kotak biru: Anak-anak kandung Dretarastra yang dikenal sebagai "Korawa".
  • Kotak hijau: Anak-anak kandung Pandu yang dikenal sebagai "Pandawa".

Daftar nama

sunting

Nama-nama seratus Korawa versi Mahabharata terdapat dalam buku Adiparwa, bab Sambhawaparwa bagian CXVII dan LXVII, yang diterjemahkan oleh Kisari Mohan Ganguli dari bahasa Sanskerta ke bahasa Inggris (The Mahabharata of Krishna Dvaipayana Vyasa).[1][2][3] Nama dalam aksara Dewanagari disalin dari Mahabharata berbahasa Sanskerta,[4] berasal dari berkas digital yang disusun oleh Prof. Muneo Tokunaga dari Kyoto dan disunting oleh John D. Smith.[5]

Daftar nama para Korawa juga terdapat dalam teks Adiparwa berbahasa Jawa Kuno yang diterbitkan ulang oleh I Gusti Putu Phalgunadi, seorang ahli di bidang sastra Jawa Kuno, dan disertai dengan terjemahan dalam bahasa Inggris.[6] Namun nama-nama tokoh Korawa di dalam naskah yang digunakan Phalgunadi tidak lengkap, dan kadang-kadang berbeda dengan nama dalam Mahabharata dari India yang memakai bahasa Sanskerta. Kemudian Phalgunadi melengkapinya dengan nama-nama yang ia dapatkan dari Mahabharata versi bahasa Sanskerta.[6]

Karena adanya beberapa versi naskah Mahabharata, maka ada beberapa versi nama yang ditampilkan bersamaan dalam tabel di bawah ini. Dalam versi wayang kulit, daftar nama para Korawa disusun sesuai urutan abjad, bukan urutan kelahiran.

Versi Mahabharata

sunting
Ke- Nama Dewanagari IAST
1 Duryodana เคฆเฅเคฐเฅเคฏเฅŠเคงเคจ Duryodhana
2 Yuyutsu[a] เคฏเฅเคฏเฅเคคเฅเคธเฅ Yuyutsu
3 Dursasana เคฆเฅเคƒเคถเคพเคธเคจ Duแธฅล›ฤsana
4 Dursaha เคฆเฅเคƒเคธเคน Duแธฅsaha
5 Dursala เคฆเฅเคƒเคถเคฒ Duแธฅล›ala
6 Jalasanda เคœเคฒเคธเค‚เคง Jalasaแนƒdha
7 Sama เคธเคฎ Sama
8 Saha เคธเคน Saha
9 Winda เคตเคฟเคจเฅเคฆ Vinda
10 Anuwinda เค…เคจเฅเคตเคฟเคจเฅเคฆ Anuvinda
11 Durdarsa เคฆเฅเคฐเฅเคงเคฐเฅเคท Durdharแนฃa
12 Subahu เคธเฅเคฌเคพเคนเฅ Subฤhu
13 Duspradarsana เคฆเฅเคทเฅเคชเฅเคฐเคงเคฐเฅเคทเคฃ Duแนฃpradharแนฃaแน‡a
14 Durmarsana เคฆเฅเคฐเฅเคฎเคฐเฅเคทเคฃ Durmarแนฃaแน‡a
15 Durmuka เคฆเฅเคฐเฅเคฎเฅเค– Durmukha
16 Duskarna เคฆเฅเคทเฅเค•เคฐเฅเคฃ Duแนฃkarแน‡a
17 Karena เค•เคฐเฅเคฃ Karแน‡a
18 Wiwingsati เคตเคฟเคตเคฟเค‚เคถเคคเคฟ Viviแนƒล›ati
19 Wikarna เคตเคฟเค•เคฐเฅเคฃ Vikarแน‡a
20 Sala เคธเคฒ Sala
21 Satwa เคธเคคเฅเคต Satva
22 Sulocana เคธเฅเคฒเฅŠเคšเคจ Sulocana
23 Citra เคšเคฟเคคเฅเคฐ Citra
24 Upacitra เค‰เคชเคšเคฟเคคเฅเคฐ Upacitra
25 Citraksa เคšเคฟเคคเฅเคฐเคพเค•เฅเคท Citrฤkแนฃa
26 Carucitra เคšเคพเคฐเฅเคšเคฟเคคเฅเคฐ Cฤrucitra
27 Sarasana เคถเคฐเคพเคธเคจ ลšarฤsana
28 Durmada เคฆเฅเคฐเฅเคฎเคฆ Durmada
29 Duspragaha[4]/Durwigaha[1] เคฆเฅเคทเฅเคชเฅเคฐเค—เคพเคน Duแนฃpragฤha
30 Wiwitsu เคตเคฟเคตเคฟเคคเฅเคธเฅ Vivitsu
31 Wikata/Wikatanana[1] เคตเคฟเค•เคŸ Vikaแนญa
32 Urnanaba เคŠเคฐเฅเคฃเคจเคพเคญ ลชrแน‡anฤbha
33 Sunaba เคธเฅเคจเคพเคญ Sunฤbha
34 Nanda/Nandaka[1] เคจเคจเฅเคฆ Nanda
35 Upanandaka เค‰เคชเคจเคจเฅเคฆเค• Upanandaka
36 Citrabana เคšเคฟเคคเฅเคฐเคฌเคพเคฃ Citrabฤแน‡a
37 Citrawarma เคšเคฟเคคเฅเคฐเคตเคฐเฅเคฎเคพ Citravarmฤ
38 Suwarma เคธเฅเคตเคฐเฅเคฎเคพ Suvarmฤ
39 Durwimocana เคฆเฅเคฐเฅเคตเคฟเคฎเฅŠเคšเคจ Durvimocana
40 Ayobahu เค…เคฏเฅŠเคฌเคพเคนเฅ Ayobฤhu
41 Mahabahu เคฎเคนเคพเคฌเคพเคนเฅ Mahฤbฤhu
42 Citrangga เคšเคฟเคคเฅเคฐเคพเค™เฅเค— Citrฤแน…ga
43 Citrakundala เคšเคฟเคคเฅเคฐเค•เฅเคฃเฅเคกเคฒ Citrakuแน‡แธala
44 Bimawega เคญเฅ€เคฎเคตเฅ‡เค— Bhฤซmavega
45 Bimabala เคญเฅ€เคฎเคฌเคฒ Bhฤซmabala
46 Balaki เคฌเคฒเคพเค•เฅ€ Balฤkฤซ
47 Balawardana เคฌเคฒเคตเคฐเฅเคงเคจ Balavardhana
48 Ugrayuda เค‰เค—เฅเคฐเคพเคฏเฅเคง Ugrฤyudha
49 Bimakarma/Bima[1] เคญเฅ€เคฎเค•เคฐเฅเคฎเคพ Bhฤซmakarmฤ
50 Kanakaya เค•เคจเค•เคพเคฏ Kanakฤya
51 Dredayuda เคฆเฅƒเคขเคพเคฏเฅเคง Dแน›แธhฤyudha
52 Dredawarma เคฆเฅƒเคขเคตเคฐเฅเคฎเคพ Dแน›แธhavarmฤ
53 Dredakesatra เคฆเฅƒเคขเค•เฅเคทเคคเฅเคฐ Dแน›แธhakแนฃatra
54 Somakirti เคธเฅŠเคฎเค•เฅ€เคฐเฅเคคเคฟ Somakฤซrti
55 Anudara เค…เคจเฅ‚เคฆเคฐ Anลซdara
56 Dredasanda เคฆเฅƒเคขเคธเค‚เคงเฅŠ Dแน›แธhasaแนƒdha
57 Jarasanda เคœเคฐเคพเคธเค‚เคง Jarฤsaแนƒdha
58 Satyasanda เคธเคคเฅเคฏเคธเค‚เคง Satyasaแนƒdha
59 Sada เคธเคฆ Sada
60 Suwaka เคธเฅเคตเคพเค• Suvฤka
61 Ugrasrawa เค‰เค—เฅเคฐเคถเฅเคฐเคตเคพ Ugraล›ravฤ
62 Aswasena[4]/Ugrasena[1] เค…เคถเฅเคตเคธเฅ‡เคจ Aล›vasena
63 Senani เคธเฅ‡เคจเคพเคจเฅ€ Senฤnฤซ
64 Dusparajaya เคฆเฅเคทเฅเคชเคฐเคพเคœเคฏ Duแนฃparฤjaya
65 Aparajita เค…เคชเคฐเคพเคœเคฟเคค Aparฤjita
66 Panditaka[4]/Kundasayi[1] เคชเคฃเฅเคกเคฟเคคเค• Paแน‡แธitaka
67 Wisalaksa เคตเคฟเคถเคพเคฒเคพเค•เฅเคท Viล›ฤlฤkแนฃa
68 Durawara/Duradara[1] เคฆเฅเคฐเคพเคตเคฐ Durฤvara
69 Dredahasta เคฆเฅƒเคขเคนเคธเฅเคค Dแน›แธhahasta
70 Suhasta เคธเฅเคนเคธเฅเคค Suhasta
71 Batawega เคตเคพเคคเคตเฅ‡เค— Vฤtavega
72 Suwarca เคธเฅเคตเคฐเฅเคš Suvarca
73 Adityaketu เค†เคฆเคฟเคคเฅเคฏเค•เฅ‡เคคเฅ ฤ€dityaketu
74 Bahwasi เคฌเคนเฅเคตเคพเคถเฅ€ Bahvฤล›ฤซ
75 Nagadanta เคจเคพเค—เคฆเคจเฅเคค Nฤgadanta
76 Ugrayayin[4] เค‰เค—เฅเคฐเคฏเคพเคฏเคฟเคจเฅ Ugrayฤyin
77 Kawaci เค•เคตเคšเฅ€ Kavacฤซ
78 Nisanggi[4]/Kratana[1] เคจเคฟเคทเค™เฅเค—เฅ€ Niแนฃaแน…gฤซ
79 Pasi[4]/Kunda[1] เคชเคพเคถเฅ€ Pฤล›ฤซ
80 Dandadara[4]/Kundadara[1] เคฆเคฃเฅเคกเคงเคพเคฐ Daแน‡แธadhฤra
81 Danurgraha[4]/Danurdara[1] เคงเคจเฅเคฐเฅเค—เฅเคฐเคน Dhanurgraha
82 Ugra เค‰เค—เฅเคฐ Ugra
83 Bimarata เคญเฅ€เคฎเคฐเคฅ Bhฤซmaratha
84 Wirabahu เคตเฅ€เคฐเคฌเคพเคนเฅ Vฤซrabฤhu
85 Alolupa เค…เคฒเฅŠเคฒเฅเคช Alolupa
86 Abaya เค…เคญเคฏ Abhaya
87 Rodrakarma เคฐเฅŒเคฆเฅเคฐเค•เคฐเฅเคฎเคพ Raudrakarmฤ
88 Dredarata เคฆเฅƒเคขเคฐเคฅ Dแน›แธharatha
89 Anadresya เค…เคจเคพเคงเฅƒเคทเฅเคฏ Anฤdhแน›แนฃya
90 Kundabedi เค•เฅเคฃเฅเคกเคญเฅ‡เคฆเฅ€ Kuแน‡แธabhedฤซ
91 Birawi เคตเคฟเคฐเคพเคตเฅ€ Virฤvฤซ
92 Dirgalocana เคฆเฅ€เคฐเฅเค˜เคฒเฅŠเคšเคจ Dฤซrghalocana
93 Pramata[1] เคชเฅเคฐเคฎเคฅ Pramatha
94 Pramati[1] เคชเฅเคฐเคฎเคฅเคฟ Pramathi
95 Dirgaroma[1] เคฆเฅ€เคฐเฅเค˜เคฐเฅ†เคฎ Dฤซrgharoma
96 Dirgabahu เคฆเฅ€เคฐเฅเค˜เคฌเคพเคนเฅ Dฤซrghabฤhu
97 Mahabahu เคฎเคนเคพเคฌเคพเคนเฅ Mahฤbฤhu
98 Wyudoru เคตเฅเคฏเฅ‚เคขเฅŠเคฐเฅ Vyลซแธhoru
99 Kanakadwaja เค•เคจเค•เคงเฅเคตเคœ Kanakadhvaja
100 Kundasi เค•เฅเคฃเฅเคกเคพเคถเฅ€ Kuแน‡แธฤล›ฤซ
101 Wirajasa เคตเคฟเคฐเคœเคพเคถ Virajฤล›a
102 Dursilawati/Dursala[a] เคฆเฅเคƒเคถเคฒเคพ Duhล›alฤ

Versi pewayangan Jawa

sunting
  1. Agrariyin
  2. Agrasara
  3. Bimaratha
  4. Bimasuwala
  5. Bogadenta[b]
  6. Bomawikata
  7. Carucitra
  8. Cedhakapuspa
  9. Citrabaya
  10. Citraboma
  11. Citradharma
  12. Citradirgantara
  13. Citrakala
  14. Citraksa[b]
  15. Citraksi[b]
  16. Citrakunda
  17. Citrakundala
  18. Citramarma
  19. Citrasanda
  20. Citrasena
  21. Citrasurti
  22. Citrawicitra
  23. Citrayuda
  24. Danurdara
  25. Darmajahi
  26. Darmayuda
  27. Dirgabahu
  28. Dirgacitra
  29. Dirgasura
  30. Dredawarma
  31. Durasa
  32. Durdara
  33. Durgahamong
  34. Durganda
  35. Durgandasena
  36. Durgangsa
  37. Durganta
  38. Durgantara
  39. Durgapati
  40. Durgempo
  41. Durjaya
  42. Durkaruno
  43. Durmagati[b]
  44. Durmanggala
  45. Durmuka
  46. Durnetra
  47. Durpakempa
  48. Dursaha
  49. Dursahesa
  50. Dursasana[b]
  51. Dursaya
  52. Dursilawati
  53. Durwimocana
  54. Duryuda
  55. Duryudana (Suyudana)[b]
  56. Dusadara
  57. Dusprajaya
  58. Gardapati
  59. Gardapura
  60. Hanudara
  61. Jalasaha
  62. Jayaboma
  63. Jayadarma
  64. Jayapermeya
  65. Jayasakti
  66. Jayasusena
  67. Jayasuwirya
  68. Jayawikata
  69. Kartadenda
  70. Kartamarma (Kertawarma)[b]
  71. Kertipeya
  72. Kratana
  73. Naranurwenda
  74. Permeya
  75. Rupacitra
  76. Satrunjaya
  77. Satrusaha
  78. Senacitra
  79. Sudarga
  80. Sudirga
  81. Sulacana
  82. Suradurma
  83. Surasudirga
  84. Surtayu[b]
  85. Surtayuda
  86. Surtayuni
  87. Susena
  88. Swaradenta
  89. Swikandini
  90. Swikerna
  91. Tokayo
  92. Upacitra
  93. Wahkawaca
  94. Widandini[b]
  95. Wikarpa
  96. Wikataboma
  97. Wiryajaya
  98. Wiwingsati
  99. Wresaya
  100. Yudakarti

Sloka Sanskerta

sunting

Berikut ini adalah nama-nama anggota Korawa sebagaimana yang tertulis dalam bentuk sloka pada naskah Mahabharata berbahasa Sanskerta, dengan aksara Dewanagari. Teks disalin dari berkas digital yang disusun oleh Prof. Muneo Tokunaga dari Kyoto dan disunting oleh John D. Smith.[5]

Sloka
Aksara Dewanagari Alih aksara
  1. เคœเคฏเฅ‡เคทเฅเค เคพเคจเฅเคœเฅเคฏเฅ‡เคทเฅเค เคคเคพเค‚ เคคเฅ‡เคทเคพเค‚ เคจเคพเคฎเคงเฅ‡เคฏเคพเคจเคฟ เคšเคพเคญเคฟเคญเฅŠ
    เคงเฅƒเคคเคฐเคพเคทเฅเคŸเฅเคฐเคธเฅเคฏ เคชเฅเคคเฅเคฐเคพเคฃเคพเคฎ เค†เคจเฅเคชเฅ‚เคฐเฅเคตเฅเคฏเฅ‡เคฃ เค•เฅ€เคฐเฅเคคเคฏ
  2. เคฆเฅเคฐเฅเคฏเฅŠเคงเคจเฅŠ เคฏเฅเคฏเฅเคคเฅเคธเฅเคถ เคš เคฐเคพเคœเคจ เคฆเฅเคƒเคถเคพเคธเคจเคธ เคคเคฅเคพ
    เคฆเฅเคƒเคธเคนเฅŠ เคฆเฅเคƒเคถเคฒเคถ เคšเฅˆเคต เคœเคฒเคธเค‚เคงเคƒ เคธเคฎเคƒ เคธเคนเคƒ
  3. เคตเคฟเคจเฅเคฆเคพเคจเฅเคตเคฟเคจเฅเคฆเฅŒ เคฆเฅเคฐเฅเคงเคฐเฅเคทเคƒ เคธเฅเคฌเคพเคนเฅเคฐ เคฆเฅเคทเฅเคชเฅเคฐเคงเคฐเฅเคทเคฃเคƒ
    เคฆเฅเคฐเฅเคฎเคฐเฅเคทเคฃเฅŠ เคฆเฅเคฐเฅเคฎเฅเค–เคถ เคš เคฆเฅเคทเฅเค•เคฐเฅเคฃเคƒ เค•เคฐเฅเคฃ เคเคต เคš
  4. เคตเคฟเคตเคฟเค‚เคถเคคเคฟเคฐ เคตเคฟเค•เคฐเฅเคฃเคถ เคš เคœเคฒเคธเค‚เคงเคƒ เคธเฅเคฒเฅŠเคšเคจเคƒ
    เคšเคฟเคคเฅเคฐเฅŠเคชเคšเคฟเคคเฅเคฐเฅŒ เคšเคฟเคคเฅเคฐเคพเค•เฅเคทเคถ เคšเคพเคฐเฅ เคšเคฟเคคเฅเคฐเคƒ เคถเคฐเคพเคธเคจเคƒ
  5. เคฆเฅเคฐเฅเคฎเคฆเฅŠ เคฆเฅเคทเฅเคชเฅเคฐเค—เคพเคนเคถ เคš เคตเคฟเคตเคฟเคคเฅเคธเฅเคฐ เคตเคฟเค•เคŸเคƒ เคธเคฎเคƒ
    เคŠเคฐเฅเคฃเฅ เคจเคพเคญเคƒ เคธเฅเคจเคพเคญเคถ เคš เคคเคฅเคพ เคจเคจเฅเคฆเฅŠเคชเคจเคจเฅเคฆเค•เฅŒ
  6. เคธเฅ‡เคจเคพเคชเคคเคฟเคƒ เคธเฅเคทเฅ‡เคฃเคถ เคš เค•เฅเคฃเฅเคกเฅŠเคฆเคฐ เคฎเคนเฅŠเคฆเคฐเฅŒ
    เคšเคฟเคคเฅเคฐเคฌเคพเคฃเคถ เคšเคฟเคคเฅเคฐเคตเคฐเฅเคฎเคพ เคธเฅเคตเคฐเฅเคฎเคพ เคฆเฅเคฐเฅเคตเคฟเคฎเฅŠเคšเคจเคƒ
  7. เค…เคฏเฅŠ เคฌเคพเคนเฅเคฐ เคฎเคนเคพเคฌเคพเคนเฅเคถ เคšเคฟเคคเฅเคฐเคพเค™เฅเค—เคถ เคšเคฟเคคเฅเคฐเค•เฅเคฃเฅเคกเคฒเคƒ
    เคญเฅ€เคฎเคตเฅ‡เค—เฅŠ เคญเฅ€เคฎเคฌเคฒเฅŠ เคฌเคฒเคพเค•เฅ€ เคฌเคฒเคตเคฐเฅเคงเคจเคƒ
  8. เค‰เค—เฅเคฐเคพเคฏเฅเคงเฅŠ เคญเฅ€เคฎเค•เคฐเฅเคฎเคพ เค•เคจเค•เคพเคฏเฅเคฐ เคฆเฅƒเคขเคพเคฏเฅเคงเคƒ
    เคฆเฅƒเคขเคตเคฐเฅเคฎเคพ เคฆเฅƒเคขเค•เฅเคทเคคเฅเคฐเคƒ เคธเฅŠเคฎเค•เฅ€เคฐเฅเคคเคฟเคฐ เค…เคจเฅ‚เคฆเคฐเคƒ
  9. เคฆเฅƒเคขเคธเค‚เคงเฅŠ เคœเคฐเคพเคธเค‚เคงเคƒ เคธเคคเฅเคฏเคธเค‚เคงเคƒ เคธเคฆเคƒ เคธเฅเคตเคพเค•
    เค‰เค—เฅเคฐเคถเฅเคฐเคตเคพ เค…เคถเฅเคตเคธเฅ‡เคจเคƒ เคธเฅ‡เคจเคพเคจเฅ€เคฐ เคฆเฅเคทเฅเคชเคฐเคพเคœเคฏเคƒ
  10. เค…เคชเคฐเคพเคœเคฟเคคเคƒ เคชเคฃเฅเคกเคฟเคคเค•เฅŠ เคตเคฟเคถเคพเคฒเคพเค•เฅเคทเฅŠ เคฆเฅเคฐเคพเคตเคฐเคƒ
    เคฆเฅƒเคขเคนเคธเฅเคคเคƒ เคธเฅเคนเคธเฅเคคเคถ เคš เคตเคพเคคเคตเฅ‡เค—เคธเฅเคตเคฐเฅเคšเคธเฅŒ
  11. เค†เคฆเคฟเคคเฅเคฏเค•เฅ‡เคคเฅเคฐ เคฌเคนเฅเคต เค†เคถเฅ€เคจเคพเค—เคฆเคจเฅเคคเฅŠเค—เฅเคฐ เคฏเคพเคฏเคฟเคจเฅŒ
    เค•เคตเคšเฅ€ เคจเคฟเคทเค™เฅเค—เฅ€ เคชเคพเคถเฅ€ เคš เคฆเคฃเฅเคกเคงเคพเคฐเฅŠ เคงเคจเฅเคฐ เค—เคฐเคนเคƒ
  12. เค‰เค—เฅเคฐเฅŠ เคญเฅ€เคฎ เคฐเคฅเฅŠ เคตเฅ€เคฐเฅŠ เคตเฅ€เคฐเคฌเคพเคนเฅเคฐ เค…เคฒเฅŠเคฒเฅเคชเคƒ
    เค…เคญเคฏเฅŠ เคฐเฅŒเคฆเฅเคฐเค•เคฐเฅเคฎเคพ เคš เคคเคฅเคพ เคฆเฅƒเคขเคฐเคฅเคธ เคคเคฐเคฏเคƒ
  13. เค…เคจเคพเคงเฅƒเคทเฅเคฏเคƒ เค•เฅเคฃเฅเคก เคญเฅ‡เคฆเฅ€ เคตเคฟเคฐเคพเคตเฅ€ เคฆเฅ€เคฐเฅเค˜เคฒเฅŠเคšเคจเคƒ
    เคฆเฅ€เคฐเฅเค˜เคฌเคพเคนเฅเคฐ เคฎเคนเคพเคฌเคพเคนเฅเคฐ เคตเคฏเฅ‚เคขเฅŠเคฐเฅเคฐ เค•เคจเค•เคงเฅเคตเคœเคƒ
  14. เค•เฅเคฃเฅเคกเคพเคถเฅ€ เคตเคฟเคฐเคœเคพเคถ เคšเฅˆเคต เคฆเฅเคƒเคถเคฒเคพ เคš เคถเคคเคพเคงเคฟเค•เคพ
    เคเคคเคฆ เคเค•เคถเคคเค‚ เคฐเคพเคœเคจ เค•เคจเฅเคฏเคพ เคšเฅˆเค•เคพ เคชเคฐเค•เฅ€เคฐเฅเคคเคฟเคคเคพ
  1. jyeแนฃแนญhฤnujyeแนฃแนญhatฤแนƒ teแนฃฤแนƒ nฤmadheyฤni cฤbhibho
    dhแน›tarฤแนฃแนญrasya putrฤแน‡ฤm ฤnupลซrvyeแน‡a kฤซrtaya
  2. duryodhano yuyutsuล› ca rฤjan duแธฅล›ฤsanas tathฤ
    duแธฅsaho duแธฅล›alaล› caiva jalasaแนƒdhaแธฅ samaแธฅ sahaแธฅ
  3. vindฤnuvindau durdharแนฃaแธฅ subฤhur duแนฃpradharแนฃaแน‡aแธฅ
    durmarแนฃaแน‡o durmukhaล› ca duแนฃkarแน‡aแธฅ karแน‡a eva ca
  4. viviแนƒล›atir vikarแน‡aล› ca jalasaแนƒdhaแธฅ sulocanaแธฅ
    citropacitrau citrฤkแนฃaล› cฤru citraแธฅ ล›arฤsanaแธฅ
  5. durmado duแนฃpragฤhaล› ca vivitsur vikaแนญaแธฅ samaแธฅ
    ลซrแน‡u nฤbhaแธฅ sunฤbhaล› ca tathฤ nandopanandakau
  6. senฤpatiแธฅ suแนฃeแน‡aล› ca kuแน‡แธodara mahodarau
    citrabฤแน‡aล› citravarmฤ suvarmฤ durvimocanaแธฅ
  7. ayobฤhur mahฤbฤhuล› citrฤแน…gaล› citrakuแน‡แธalaแธฅ
    bhฤซmavego bhฤซmabalo balฤkฤซ balavardhanaแธฅ
  8. ugrฤyudho bhฤซmakarmฤ kanakฤyur dแน›แธhฤyudhaแธฅ
    dแน›แธhavarmฤ dแน›แธhakแนฃatraแธฅ somakฤซrtir anลซdaraแธฅ
  9. dแน›แธhasaแนƒdho jarฤsaแนƒdhaแธฅ satyasaแนƒdhaแธฅ sadaแธฅ suvฤk
    ugraล›ravฤ aล›vasenaแธฅ senฤnฤซr duแนฃparฤjayaแธฅ
  10. aparฤjitaแธฅ paแน‡แธitako viล›ฤlฤkแนฃo durฤvaraแธฅ
    dแน›แธhahastaแธฅ suhastaล› ca vฤtavegasuvarcasau
  11. ฤdityaketur bahvฤล›ฤซnฤgadantograyฤyinau
    kavacฤซ niแนฃaแน…gฤซ pฤล›ฤซ ca daแน‡แธadhฤro dhanur grahaแธฅ
  12. ugro bhฤซma ratho vฤซro vฤซrabฤhur alolupaแธฅ
    abhayo raudrakarmฤ ca tathฤ dแน›แธharathas trayaแธฅ
  13. anฤdhแน›แนฃyaแธฅ kuแน‡แธa bhedฤซ virฤvฤซ dฤซrghalocanaแธฅ
    dฤซrghabฤhur mahฤbฤhur vyลซแธhorur kanakadhvajaแธฅ
  14. kuแน‡แธฤล›ฤซ virajฤล› caiva duแธฅล›alฤ ca ล›atฤdhikฤ
    etad ekaล›ataแนƒ rฤjan kanyฤ caikฤ prakฤซrtitฤ
Catatan
  1. ^ a b Dalam kitab Mahabharata, para Korawa (putra Dretarastra dan Gandari) yang utama berjumlah seratus, tetapi mereka masih mempunyai saudara tiri dan saudari pula. Putri Dretarastra dan Gandari bernama Dursilawati atau Dursala (beda dengan Dursala adik laki-laki Duryodana). Korawa yang tidak dilahirkan oleh Gandari ialah Yuyutsu; ibunya seorang wanita waisya bernama Sugada.
  2. ^ a b c d e f g h i Dalam kisah pewayangan, tidak semua tokoh Korawa dikenal oleh masyarakat, karena hanya beberapa tokoh saja yang sering muncul dalam pedalangan.

Korawa signifikan

sunting

Banyak anggota Korawa yang disebutkan dalam kitab Mahabharata hanya bersifat trivial dan sebagai deretan nama saja, demikian pula dalam lakon pewayangan. Namun, beberapa anggota Korawa mendapatkan posisi atau perwatakan yang menonjol dalam suatu plot cerita/babak pewayangan, dan beberapa di antaranya dikisahkan sebagai tokoh yang signifikan dalam jalan cerita. Beberapa nama di antaranya disajikan dalam daftar di bawah ini, baik yang terdapat dalam kitab Mahabharata berbahasa Sanskerta, maupun yang dikisahkan dalam lakon pewayangan Jawa.

Anuwinda

sunting

Anuwinda atau Anuwenda adalah salah satu Korawa yang tercatat dalam naskah-naskah Mahabharata berbahasa Sanskerta maupun terjemahannya. Tokoh ini tidak mendapatkan banyak cerita dalam Mahabharata, tetapi ia dikisahkan sebagai seorang patih dalam pewayangan Jawa. Menurut pewayangan, ia merupakan saudara kesayangan Widandini, anggota Korawa yang lain. Widandini berhasil mengalahkan raja negeri Purantara lalu mengangkat dirinya sebagai penguasa di sana, sementara Anuwinda diangkat sebagai patih. Dalam Bharatayuddha (Perang Kurukshetra), Anuwinda gugur di tangan Arjuna.

Aparajita

sunting

Aparajita, menurut kitab Bhismaparwa, adalah Korawa yang memiliki hidung yang tampan. Dalam perang Kurukshetra, ia bertarung dengan sengit melawan Bima. Pada perang pada hari kedelapan, bersama dengan Adityaketu, Panditaka, Wisalaksa, Kundara, dan Wahwasin (Bahwasi), ia menyerbu Bima dengan hujan panah. Namun Bima tidak kalah oleh serangan mereka. Dengan sepucuk anak panah, Bima memenggal kepala Aparajita.

Bomawikata

sunting

Bomawikata merupakan salah satu Korawa versi pewayangan. Namanya tidak terdapat dalam Mahabharata berbahasa Sanskerta. Bomawikata memiliki hubungan yang sangat erat dengan saudaranya yang bernama Wikataboma. Mereka berdua merupakan saudara tunggal guru dan hidup dalam satu jiwa. Artinya apabila yang satu di antara mereka mati dan dilangkahi saudara yang masih hidup, maka yang mati akan hidup kembali. Karena kesaktiannya itu, dalam perang Bharatayuda ketika Resi Drona menjadi Senapati Agung Kurawa dengan tata gelar perangnya (Cakraswandana), Wikataboma dan Bomawikata diangkat menjadi senapati pengapit. Sepak terjang mereka sangat menakutkan keluarga Pandawa. Tapi akhirnya Wikataboma dan Bomawikata tewas dalam peperangan melawan Bima. Kepala mereka diadu kumba (saling dibenturkan) hingga hancur, dan keduanya mati secara bersamaan.

Citraksa

sunting

Citraksa tercatat dalam berbagai versi daftar Korawa berbahasa Sanskerta. Menurut pewayangan Jawa, ia mempunyai saudara kembar, yaitu Citraksi. Sering dikisahkan dalam cerita pedalangan, Citraksa dan Citraksi mempunyai sifat dan karakter yang sama, seperti gagap dalam berbicara sehingga sering menjadi bahan ejekan bagi Patih Sengkuni, serta tindakannya yang dinilai grusa-grusu. Dalam peperangan di luar Bharatayuddha, Citraksa dan Citraksi sering menjadi bulan-bulanan anak-anak Pandawa seperti Antareja, Antasena, Gatotkaca, Abimanyu dan lain-lain.

Citrayuda

sunting

Citrayuda merupakan salah satu Korawa versi pewayangan. Namanya tidak terdapat dalam Mahabharata berbahasa Sanskerta. Citrayuda memiliki perwatakan: lucu, banyak akal, pandai bicara dan suka mencela. Sebagai murid Resi Drona, Citrayuda juga mahir dalam olah keprajuritan mempermainkan senjata gada dan lembing. Pada saat berlangsungnya perang Bharatayuda, Citrayuda tampil memimpin pasukan balatentara Kurawa mendampingi senapati perang Resi Drona. Ia bersama Citraksa, Surtayu, Citrakundala dan Dirgalasara tewas dalam peperangan melawan Arya Wratsangka, senapati perang Pandawa, putra Prabu Matswapati dari negara Wirata.

Dirgabahu

sunting

Dirgabahu dikenal dalam pewayangan sebagai Raden Dirgabahu atau Arya Dirgabahu. Namanya tercatat dalam beberapa versi daftar nama Korawa berbahasa Sanskerta. Dalam kisah pewayangan Jawa, Dirgabahu muncul dalam cerita pewayangan dengan lakon Kresna Duta, dengan akhir riwayat diceritakan bahwa ia tewas setelah terinjak-injak oleh Brahalasewu (Raksasa perwujudan dari Prabu Kresna) bersama saudara yang lain yaitu Jalasaha, Citramarma, dan Widandini.

Durmagati

sunting

Durmagati merupakan salah satu Korawa versi pewayangan. Namanya tidak terdapat dalam Mahabharata berbahasa Sanskerta. Dalam pewayangan, ia diceritakan sebagai salah satu Korawa yang paling kocak apabila sedang dimainkan/dibawakan sifatnya oleh dalang. Tokoh ini merupakan tokoh ciptaan pujangga Jawa, dan tidak ditemukan dalam naskah kitab Mahabharata dari India. Durmagati mempunyai badan yang lebih pendek dan gemuk dari kebanyakan saudara-saudaranya, dengan ciri khas leher yang sangat pendek dan kepala seperti tertekan ke bawah sehingga wajahnya menengadah ke atas.

Dursasana

sunting

Dursasana merupakan adik Duryodana, pemimpin para Korawa. Ia dikenal sebagai Korawa yang nomor dua di antara seratus Korawa. Tokoh ini mendapat peran signifikan dalam Sabhaparwa (kitab kedua Mahabharata), yang mengisahkan permainan dadu antara lima Pandawa melawan seratus Korawa. Dropadi, istri para Pandawa menjadi budak para Korawa setelah dipertaruhkan dalam permainan tersebut. Merasa sebagai pemilik budak, Dursasana berusaha melucuti pakaian Dropadi secara paksa, tetapi tidak berhasil berkat pertolongan Kresna. Peristiwa itu memperkeruh permusuhannya dengan Bima. Pada akhirnya, ia dibunuh oleh Bima dalam perang di Kurukshetra pada hari ke-16.

Dursilawati

sunting

Dursilawati atau Dursala adalah satu-satunya Korawa yang berjenis kelamin perempuan. Ia merupakan adik bungsu dari Duryodana, pemimpin para Korawa. Ia menikah dengan Raja Sindhu bernama Jayadrata.

Duryodana

sunting

Duryodana atau Suyodana adalah tokoh antagonis yang utama dalam wiracarita Mahabharata. Duryodana merupakan yang pertama di antara seratus Korawa. Duryodana menikah dengan putri Prabu Citranggada dari Kalinga dan mempunyai dua anak, masing-masing bernama Laksmanakumara (Lesmana Mandrakumara) dan Laksmana (Lesmanawati). Meskipun nama istri Duryodana tidak disebutkan secara khusus dalam naskah Mahabharata berbahasa Sanskerta, tetapi ia disebut Banumati dalam cerita rakyat India, atau Banowati dalam lakon pewayangan Jawa.[7]

Widandini

sunting

Widandini atau Arya Widandini merupakan salah satu Korawa versi pewayangan. Namanya tidak terdapat dalam Mahabharata berbahasa Sanskerta. Dalam pewayangan, ia dikisahkan berwatak keras hati, cerdik pandai dan angkuh. Ia pandai dalam mempergunakan senjata gada dan trisula. Dengan kesaktiannya ia berhasil merebut negara Purantara dan mengangkat dirinya menjadi raja bergelar Prabu Windandini. Adik kesayangannya Anuwinda diangkat menjadi patih negara Purantara. Pada saat berlangsungnya perang Bharatayuddha, Prabu Widandini diangkat sebagai senapati perang Korawa dan mengerahkan seluruh balatentara negara Purantara ke medan perang Kurukshetra. Prabu Widandini dan Anuwinda gugur dalam pertempuran melawan Arjuna.

Wikarna

sunting

Wikarna disebut-sebut sebagai Korawa yang ketiga (setelah Duryodana dan Dursasana), tetapi dalam sumber lainnya diindikasikan bahwa ia menempati peringkat ketiga dari segi reputasi di antara seratus Korawa. Wikarna adalah satu-satunya Korawa yang membela Putri Dropadi, sebelum putri tersebut hendak ditelanjangi oleh Dursasana saat permainan dadu di selenggarakan di Hastinapura. Namun pembelaannya tidak dianggap oleh para Korawa dan Karna. Saat perang Kurukshetra, ia gugur di tangan Bima.

Wikataboma

sunting

Wikataboma merupakan salah satu Korawa versi pewayangan. Namanya tidak terdapat dalam Mahabharata berbahasa Sanskerta. Dalam pewayangan, ia dikisahkan memiliki hubungan yang sangat erat dengan saudaranya yang bernama Bomawikata. Mereka berdua merupakan saudara tunggal guru dan hidup dalam satu jiwa. Artinya apabila yang satu di antara mereka mati dan dilangkahi saudara yang masih hidup, maka yang mati akan hidup kembali. Karena kesaktiannya itu, dalam perang Bharatayuda ketika Resi Drona menjadi Senapati Agung Kurawa dengan tata gelar perangnya (Cakraswandana), Wikataboma dan Bomawikata diangkat menjadi senapati pengapit. Sepak terjang mereka sangat menakutkan keluarga Pandawa. Tapi akhirnya Wikataboma dan Bomawikata tewas dalam peperangan melawan Bima. Kepala mereka diadu kumba (saling dibenturkan) hingga hancur, dan keduanya mati secara bersamaan.

Wisalaksa

sunting

Wisalaksa adalah nama salah satu Korawa yang tercatat dalam naskah-naskah Mahabharata berbahasa Sanskerta maupun terjemahannya. Dalam buku Mahabharata ke-6 (Bhismaparwa) dikisahkan bahwa ia enggan dibunuh oleh Bima, selain Wikarna. Dalam perang Kurukshetra, ia memihak Duryodana. Saat peperangan menginjak hari kedelapan, ia dan saudara-saudaranya mencoba mengalahkan Bima dengan serangan panah bertubi-tubi. Hal itu membuat Bima sangat marah sehingga ia membalas serangan para Korawa dengan garang. Saat menghadapi Wisalaksa, Bima tidak marah. Ia berpikir sejenak. Setelah mengenang berbagai kejadian yang dialaminya pada masa lalu, maka Bima tidak segan untuk membunuh Wisalaksa. Dengan tiga batang anak panah, ia memenggal kepala Wisalaksa.

Wiwingsati

sunting

Wiwingsati adalah nama salah satu Korawa yang tercatat dalam naskah-naskah Mahabharata. Ia sering disebut sebagai kesatria Korawa yang kerap berada di sisi Duryodana dan membantunya dalam invasi ke kerajaan Matsya. Dalam perang Kurukshetra, ia terlibat dalam pertarungan sengit melawan Bima dan putranya, Sutasoma. Pada akhirnya, ia gugur di tangan Bima. Kematiannya diratapi oleh Gandari, tercatat dalam kitab Striparwa. Dalam kitab, Gandari menyebutnya sebagai seorang pangeran yang berpenampilan muda dan tampan.

Wresaya

sunting

Wresaya atau Raden Dredasetra merupakan salah satu Korawa versi pewayangan. Namanya tidak terdapat dalam Mahabharata berbahasa Sanskerta. Dalam pewayangan, ia dikisahkan memiliki watak keras hati, cerdik, pandai, licik, tetapi pandai dalam olah ketrampilan mempergunakan senjata khususnya gada, karena dia juga merupakan murid Resi Drona. Ia kemudian mengembara, setelah terpental dalam peristiwa timbangan (adu berat badan antara Korawa melawan keluarga Pandawa), dan kesaktiannya membuatnya berhasil merebut negara Glagahtinalang, dan mengangkat diri sebagai raja begelar Prabu Wresaya. Saat perang Bharatayuddha, ia menjadi senapati perang pihak Korawa, tetapi tewas di tangan Bima dengan tubuh hancur oleh hantaman Gada Rujakpala.

Yuyutsu

sunting

Yuyutsu adalah seorang tokoh protagonis dari wiracarita Mahabharata. Ia merupakan satu-satunya Korawa yang tidak dilahirkan oleh Ratu Gandari. Ibunya merupakan pelayan Ratu Gandari yang bernama Sugada, berasal dari kasta waisya. Ia adalah satu-satunya Korawa yang memihak Pandawa dalam perang Kurukshetra (Bharatayuddha), dan merupakan satu-satunya putra Dretarastra yang bertahan hidup sampai perang tersebut berakhir. Setelah Yudistira makzul, para Pandawa pensiun dari kehidupan duniawi (sanyasin), lalu Yuyutsu diangkat menjadi penasihat raja muda Parikesit, cucu Arjuna.

Lihat pula

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p Kisari Mohan Ganguli, "SECTION CXVII (Sambhava Parva continued)", The Mahabharata of Krishna Dvaipayana Vyasa, Sacred-Text.com
  2. ^ The Mahabharata of Krishna-Dwaipayana Vyasa (Complete)
  3. ^ Kisari Mohan Ganguli, "SECTION LXVII (Sambhava Parva continued)", The Mahabharata of Krishna Dvaipayana Vyasa, Sacred-Text.com
  4. ^ a b c d e f g h i "Chapter 108", The Mahabharata in Sanskrit - Book 1, Sacred-Text.com, This the Sanskrit text of the Mahabharata in Sanskrit. This is derived from electronic files created by Prof. Muneo Tokunaga of Kyoto and edited by John D. Smith.
  5. ^ a b "Parallel Devanagari and Romanization", The Mahabharata in Sanskrit, Sacred-Text.com, This text has been cross-referenced with Ganguli's English translation on a book-by-book basis. However, due to the mismatch in number of chapters per book, it was not possible to cross-reference this at the chapter level.
  6. ^ a b I Gusti Putu Phalgunadi (1990), Indonesian Mahฤbhฤrata: ร‚di Parva, The First Book, New Delhi: International Academy of Indian Culture and Aditya Prakashan, hlm.ย 186โ€“189
  7. ^ Sharma, Arvind (2007). Essays on the Mahฤbhฤrata (dalam bahasa Inggris). Motilal Banarsidass Publishe. ISBNย 978-81-208-2738-7.

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Daftar tokoh dalam Mahabharata

tersebut, mereka dikaruniai putra yang diberi nama Suhotra. Wikarna (เคตเคฟเค•เคฐเฅเคฃ Vikarแน‡a) adalah salah satu Korawa, yaitu para putra Dretarastra dan Gandari. Wikarna

Wikarna

Wikarna (Dewanagari: เคตเคฟเค•เคฐเฅเคฃ;ย ,IAST:ย Vikarแน‡a, เคตเคฟเค•เคฐเฅเคฃ), dalam wiracarita Mahabharata, adalah salah satu di antara seratus Korawa, yaitu para putra Dretarastra

Tamerlan Thorell

(1870โ€“73). "1163-1164 (Nordisk familjebok / Uggleupplagan. 28. Syrten-vikarna - Tidsbestรคmning)". runeberg.org (dalam bahasa Swedia). 1919. Diakses tanggal